Di Balik Cuplikan ‘Native Son’

Native Son bercerita tentang seorang pemuda kulit hitam bernama Bigger Thomas yang hidup di ujung selatan kota Chicago yang sarat akan kemiskinan dan kekerasan di tahun 1930an bersama keluarga dan teman-temannya.

Native Son mengangkat tema segregasi ras dan dengan lantang mengajukan serangkaian keberatan serta tuduhan tajam terhadap kaum kulit putih yang berlaku semena-mena terhadap kaum kulit hitam. Novel ini mengetengahkan isu antar kelas, antar kaum minoritas versus mayoritas, antar keberpihakan politik, dan antar manusia.

Cuplikan ‘Native Son’

Krrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinng!

Jam weker itu berdering di tengah sebuah kamar gelap nan sunyi. Kemudian terdengar derik ranjang, disusul oleh teriakan lantang seorang wanita yang tak sabaran:

“Bigger, matikan benda terkutuk itu!”

Gerutu kesal mengikuti denting kecil tombol jam weker. Sepasang kaki telanjang diseret melintasi lantai kayu. Dering jam weker mendadak mati.

“Nyalakan lampu, Bigger.”

Surat Untuk Pembaca: Uji Coba Lotus Audio

Sebelumnya saya ingin berterima kasih sebesar-besarnya atas dukungan kalian selama ini terhadap Fiksi Lotus. Tidak terasa sudah empat tahun blog ini berdiri di tengah gerombolan blog-blog lain di dunia maya yang menawarkan 1001 rasa, informasi, dan pengetahuan. Saya juga ingin memperkenalkan Lotus Audio. Proyek independen yang saya kerjakan sendiri di waktu senggang. Inti dari proyek ini adalah pembacaan cerita pendek, agar bisa dinikmati dengan cara yang berbeda. Setiap episode akan diunggah ke YouTube dalam renggang waktu yang mudah-mudahan tidak terlalu muluk, yaitu sebulan sekali. Kalian boleh memberi usulan cerita mana dari arsip Fiksi Lotus yang ingin dibacakan dan saya akan mencoba untuk membacakannya pada setiap episode.

Proses Kreatif #3: Italo Calvino

Pada teorinya, saya ingin menulis sepanjang hari. Namun di pagi hari saya pasti mencari-cari alasan untuk menghindari pekerjaan saya: saya keluar rumah, belanja, membeli surat kabar. Biasanya, saya pasti menghabiskan pagi saya untuk hal-hal di luar menulis; lalu saya baru mulai menulis di sore hari. Saya adalah penulis yang biasa bekerja di siang hari, tetapi karena saya selalu membuang waktu saya di pagi hari, saya kini berubah jadi penulis sore hari. Saya bisa saja menulis di malam hari, tapi itu artinya saya harus mengorbankan waktu tidur saya. Dan saya berusaha menghindari itu. – ITALO CALVINO

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 737 pengikut lainnya.