Shiga Naoya

Di Utsunomiya, aku berkata kepada seorang teman, “Aku akan mampir ke tempatmu dalam perjalananku kembali dari Nikko.” Dia membalas, “Ajak aku sekalian — aku akan menemanimu ke Nikko.”

Saat itu, meski di bulan Agustus, cuaca terasa sangat panas. Aku memilih naik kereta yang berangkat pukul 4:20 sore dan berencana untuk turun di stasiun tidak jauh dari tempat tinggal temanku. Kereta itu bertujuan ke Aomori. Begitu aku tiba di Stasiun Ueno, segerombolan orang terlihat mengerumuni pintu gerbang tempat penjualan tiket. Aku pun segera bergabung dengan mereka.

Ketika bel berdentang, pintu gerbang itu langsung dibuka dari dalam. Suara alat pembolong tiket mulai mengisi ruangan, berdecak tanpa henti. Orang-orang meringis seraya menarik koper-koper mereka yang terhimpit di antara pagar; dan sejumlah orang terdorong keluar dari gerombolan antrian panik berusaha untuk menyeruak masuk kembali ke dalam gerombolan yang sama; namun tidak sedikit yang menghalang-halangi mereka — ini bukan hal yang aneh di tengah keramaian stasiun kereta.

Seorang polisi yang berdiri di belakang si penjual tiket mengamati masing-masing pembeli dengan tatapan kesal. Dan mereka yang berhasil membeli tiket bergegas ke arah peron dengan langkah kecil nan cepat. Seraya mengabaikan panggilan para portir yang berbunyi: “Banyak kursi kosong di gerbong depan, banyak kursi kosong di gerbong depan”, para penumpang justru mengerumuni gerbong-gerbong terdekat. Dengan tujuan menduduki gerbong terdepan kereta, aku buru-buru melewati kerumunan penumpang yang saling berdesakkan.

Seperti yang kuduga, gerbong-gerbong di bagian depan kereta nyaris kosong melompong. Aku menumpangi kompartemen terakhir di gerbong paling depan. Orang-orang yang gagal mendapatkan tempat duduk di gerbong-gerbong belakang segera menyusul ke gerbong yang sama. Namun, hanya ada tempat untuk sebagian dari mereka saja. Waktu berangkat hampir tiba. Baik di gerbong depan maupun belakang, terdengar suara pintu-pintu yang tergeser menutup, dibarengi oleh bunyi klik yang menandai bahwa pintu-pintu itu telah tertutup rapat. Seorang portir, yang baru saja hendak menutup pintu kompartemen yang kutumpangi, mengangkat tangannya di udara.

“Di sini, nyonya. Sebelah sini.” Ia menarik pintu itu hingga terbuka lagi dan menunggu. Seorang wanita berambut tipis dan berkulit pucat, yang usianya kira-kira sekitar dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun, dengan seorang bayi di punggung, dan sebelah tangan memegang seorang bocah laki-laki, masuk ke dalam kompartemenku. Kereta yang kami tumpangi mulai bergerak.

Wanita itu duduk di sisi yang agak jauh, di dekat jendela, di mana matahari sore sedang memancarkan cahaya temaram. Hanya itu satu-satunya kursi kosong yang tersisa.

“Ibu. Minggir.” Bocah laki-laki itu berusia tujuh tahun, dan ia mengerutkan dahi ketika ia berbicara kepada wanita tersebut.

“Di sini panas.” Wanita itu berkata dengan nada lemah, seraya menurunkan bayinya dari balik punggung.

“Aku suka udara panas.”

“Bila kau duduk dekat sinar matahari, nanti pakaian dalam yang kau kenakan akan terasa gatal.”

“Terus kenapa?” Bocah itu menatap ibunya dengan mata mendelik, seraya menunjukkan ekspresi menantang.

“Taki.” Sang ibu mendekatkan wajahnya dengan wajah bocah tersebut. “Perjalanan kita masih jauh. Kalau pakaian dalam yang kau kenakan terasa gatal, Ibu tidak tahu harus bagaimana. Ibu akan sangat sedih. Kau adalah anak yang baik. Tolong dengarkan nasihat Ibu. Nanti sebentar lagi pasti akan tersedia kursi yang tidak terkena sinar matahari. Begitu kursi itu tersedia, kau akan duduk di sana. Kau mengerti?”

“Kepalaku pening sekali,” tutur si bocah, memaksa agar keinginannya dikabulkan. Ibunya menunjukkan ekspresi sedih.

“Ibu tidak tahu harus bagaimana.”

Tiba-tiba aku angkat suara:

“Duduk di sini saja.” Aku menggeser posisi dudukku agar merapat ke jendela. “Di sini tidak terkena sinar matahari.”

Bocah itu melempar tatapan kurang bersahabat ke arahku. Dasar bocah pucat berkepala datar, umpatku dalam hati. Ia membuatku merinding. Hidung dan telinganya sama-sama tersumpal kapas.

“Oh, Anda baik sekali.” Seutas senyum tergurat di wajah sang ibu yang tadinya sedih, kemudian dengan sebelah tangan ia menyentuh punggung si bocah, seolah hendak mendorongnya ke dekatku. “Taki, ucapkan terima kasih. Duduklah di tempat yang disediakan Tuan ini.”

“Ayo.” Kugamit tangan bocah itu dan membimbingnya agar duduk di sampingku. Dengan ekspresi aneh, bocah tersebut sesekali memandangiku, namun setelah beberapa saat berlalu, pandangannya beralih ke pemandangan di luar jendela kereta.

“Coba, jangan alihkan pandanganmu dari sana. Takutnya nanti ada debu yang melayang ke matamu.”

Bahkan saat aku mengatakan itu, si bocah tidak menjawab. Waktu berlalu, dan kami tiba di Uruwa. Di sini, dua orang yang duduk di hadapanku turun dari kereta. Sang ibu menempati kursi mereka lengkap bersama tas kopernya. Aku menyebutnya “koper”, meski nyatanya yang dibawa wanita itu tak lebih dari sekadar tas kain yang biasa diselempangkan di pundak, sekaligus selembar selendang.

“Ayo, Taki, duduk di dekat Ibu. Terima kasih banyak, Tuan.” Wanita itu menundukkan kepalanya dengan sopan ke arahku. Bayi yang sedari tadi tertidur karena diayun oleh pergerakan kereta, kini terbangun dan mulai menangis.

“Sudah, sudah, jangan menangis.” Sang ibu kini mengayun bayinya di atas pangkuan, seraya berusaha menenangkannya. “Chi-chi-ka, chi-chi-ka.” Sayangnya, tangisan bayi itu malah semakin jadi. Ia terbaring telentang di atas pangkuan ibunya. “Oh, sudah, sudah, jangan menangis,” sang ibu mengulang perkataannya, lalu: “Ibu punya sesuatu yang lezat untukmu.”

Dengan satu tangan, wanita itu mengambil sebentuk permen buah dari dalam tas kain miliknya. Tapi itu tidak cukup untuk menenangkan sang bayi. Di sampingnya, si bocah, dengan wajah kesal, bertanya:

“Ibu. Bagaimana denganku?”

“Ambil saja satu untuk dirimu sendiri.” Seraya membuka balutan kimono yang ia kenakan, wanita itu mulai menyusui bayinya. Diambilnya selembar sapu tangan sutra yang sudah sedikit bernoda dari balik obi yang mengikat pinggangnya, lalu ia gunakan sapu tangan tersebut untuk menutupi buah dadanya.

Si bocah memasukkan sebelah tangan ke dalam tas kain milik ibunya dan mulai merogoh-rogoh isinya.

“Hey. Ini bukan permen yang aku mau.” Bocah itu menggeleng.

“Masa? Permen apa yang kau mau?”

“Permen kristal.”

“Ibu tidak membawa permen kristal.”

“Payah! Payah sekali kalau Ibu tidak membawa permen kristal,” gerutu si bocah dengan napas memburu.

“Masih ada permen lain di dalam tas Ibu. Ambil saja. Jangan nakal. Permen lainnya juga enak, kok.”

Bocah itu mengangguk malas. Kini giliran sang ibu untuk merogoh kembali ke dalam tas kain. Wanita itu mengeluarkan empat butir permen dan menempatkannya di telapak tangan bocah tersebut.

“Mau lagi.” Sang ibu pun menambahkan dua butir permen.

Kenyang minum susu, bayi di atas pangkuan wanita itu mulai bermain-main dengan sisir berbentuk kulit kerang dan berwarna hitam yang terjatuh dari helaian rambut sang ibu. Namun, tak lama kemudian, bayi tersebut berusaha memasukkan sisir tadi ke dalam mulutnya sendiri.

“Jangan begitu.” Sang ibu menahan tangan bayinya, dan bayi itu menoleh ke arah tangan yang tertahan dengan mulut terbuka lebar. Dua gigi berukuran mini dan berwarna putih susu terlihat jelas di bagian gusi bawah.

“Ya. Anak baik…” bujuk sang ibu dengan suara melantun, seraya memegangi sebutir permen buah yang terjatuh ke atas pangkuannya, tepat di hadapan wajah sang bayi. Bayi itu, yang sedari tadi sibuk mengulum suara “aa, aa,” pelan-pelan menatap butiran permen buah dengan mata jereng. Ia melepas sisir dari tangan mungilnya yang buntat, kemudian dengan tangan yang sama ia menggenggam butiran permen buah. Lalu, sambil memegang butiran permen, bayi itu berusaha menjejalkan tangannya sendiri ke dalam mulut. Tetesan air liur menggantung dari bibirnya.

Dengan posisi berbaring yang agak miring, wanita itu mengecek selangkangan sang bayi. Nampaknya agak basah.

“Aku harus mengganti popoknya,” kata sang ibu, seolah kepada dirinya sendiri. Lalu, kepada bocah lelaki di sampingnya:

“Taki. Biar Ibu duduk di tempatmu sebentar. Ibu harus mengganti popok adikmu.”

“Oh, tidak! Aku tidak suka kalau begitu caranya, Ibu.” Dengan bibir cemberut, bocah itu bangkit dari duduknya.

“Duduk sini saja.” Sekali lagi, aku memberikan ruang yang sebelumnya diduduki bocah tersebut.

“Anda baik sekali, Tuan. Bocah ini memang suka nakal. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau dia sedang berulah seperti ini.” Wanita itu melempar seutas senyum lemah, seolah dia lelah menangani bocah itu seorang diri.

“Mungkin itu disebabkan oleh hidung dan telinganya.”

“Permisi.” Seraya membalikkan tubuh, wanita itu mengambil sebentuk popok kering dan beberapa lembar kertas minyak untuk membungkus popok yang kotor.

“Memang iya,” ujar wanita itu.

“Sejak kapan dia bermasalah dengan hidung dan telinganya?”

“Sejak lahir. Kata dokter, hal itu disebabkan oleh kebiasaan minum-minum ayahnya; tapi saya penasaran apa kelakuannya disebabkan oleh sesuatu yang tidak beres di kepalanya.”

Sang bayi, dengan kepala yang tersandar di atas kursi, menatap ke langit-langit kompartemen tanpa melihat apa-apa. Sambil melambai-lambaikan kedua tangan, ia bersuara. “Aa, aaa.” Wanita itu bergegas mengganti popok bayinya dan menyimpan popok yang kotor, lantas ia menggendong bayi tersebut dalam pelukannya.

“Terima kasih banyak… Taki, kemarilah.”

“Tidak apa. Kau bisa tetap duduk di sini,” kataku. Namun bocah itu segera bangkit berdiri tanpa mengucapkan apa-apa. Begitu ia mengambil tempat di hadapanku, bocah itu menyandarkan kepala ke jendela kereta dan menatap keluar.

“Oh, tidak sopan sekali.” Wanita itu meminta maaf kepadaku, dengan nada sedikit mengasihaniku.

Setelah beberapa saat berlalu, aku bertanya: “Di mana kalian akan turun?”

“Hokkaido. Ke sebuah tempat yang bernama Abashiri. Saya dikabari bahwa tempatnya sangat jauh dan sulit dijangkau.”

“Di distrik apa?”

“Kitami.”

“Itu memang jauh sekali. Setidaknya lima hari lagi baru sampai di sana.”

“Kata orang bahkan kalau kami mengambil jalan pintas, perjalanan itu akan memakan waktu seminggu.”

Kereta yang kami tumpangi kini melenggang keluar dari Mamada. Dari kedalaman hutan yang mengelilingi rel kereta, kicauan jangkrik terdengar sungguh keras. Matahari telah terbenam. Para penumpang yang duduk menghadap ke sisi barat kereta segera menaikkan tirai penghalang sinar matahari. Udara sejuk berembus masuk. Helai rambut si bayi yang halus dan pendek bergetar ditiup angin. Ia terlelap di dalam pelukan ibunya. Dua atau tiga ekor lalat beterbangan di dekat mulut si bayi yang agak terbuka. Wanita itu, yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, sesekali menghalau lalat-lalat tersebut dengan kibasan sapu tangan. Tidak lama setelah itu, ia membereskan barang-barangnya, dan membaringkan si bayi yang terlelap.

Kemudian wanita itu mengambil dua atau tiga lembar kartu pos, beserta sebatang pensil, dari dalam tas kainnya. Ia mulai menulis. Hanya saja, ia tidak bisa menulis banyak.

“Ibu.” Bocah yang kini lelah memandangi pemandangan di luar kereta kembali angkat suara. Ia terlihat mengantuk.

“Apa lagi?”

“Apa masih jauh?”

“Ya, masih jauh sekali. Jika kau mengantuk, bersandarlah pada Ibu dan tidurlah.”

“Aku tidak mengantuk.”

“Kalau begitu bacalah buku bergambarmu.”

Bocah itu mengangguk pelan. Dari dalam tas kainnya, sang ibu mengeluarkan empat atau lima buku dan majalah. Dengan patuh, bocah tersebut mulai membolak-balik halaman-halaman buku dan majalah itu. Aku bersandar di tempat dudukku dan sambil menatap sepasang ibu dan anak tersebut, yang satu memandangi halaman buku, dan yang lain sibuk menulis di atas lembaran kartu pos, aku tersadar bahwa keduanya memiliki bentuk mata yang sama.

Hal seperti ini mengejutkanku—misalnya saat berada di dalam angkutan umum, aku memandangi seorang anak yang duduk bersama kedua orangtuanya—bagaimana dalam wajah seorang anak kecil, ciri-ciri dua orang yang begitu berbeda satu dengan lainnya, dari sisi si wanita, maupun si lelaki, bisa hadir begitu harmonis, menyatu. Pertama, aku akan mengamati bahwa si anak dan ibunya sungguh mirip antara satu dengan yang lain. Lantas, mengamati si anak dan ayahnya, mereka juga sungguh mirip antara satu dengan yang lain. Kemudian, saat aku mengamati si ibu dan ayah, aku menemui betapa aneh bahwa keduanya sama sekali tidak memiliki kemiripan antara satu dengan yang lain.

Mengingat hal tersebut, aku jadi membayangkan diriku sebagai ayah dari bocah di hadapanku itu. Dan aku juga membayangkan seperti apa kehidupannya sekarang.

Dari pengamatanku terhadap bocah itu, dan daya imajinasiku yang simpang-siur, aku dengan mudah dapat membayangkan wajah dan penampilan suami wanita tersebut. Di sekolah tempatku menuntut ilmu dulu, ada seorang pemuda berdarah bangsawan, Magaki, yang tidak terlalu jauh di atasku tingkat pendidikannya, namun terpisah dariku sekitar lima, enam tahun. Aku teringat akan pemuda itu. Ia juga seorang peminum berat. Ketika dia sedang mabuk, bicaranya selalu tinggi. Pemuda itu bertubuh besar, berwajah pucat dan berhidung mancung, namun ia tidak penah belajar. Setelah gagal lulus ujian sebanyak dua atau tiga kali, ia berhenti sekolah atas kemauannya sendiri. Tidak lama setelah perang antara Rusia dan Jepang berakhir, aku melihat namanya tertera di koran sebagai presiden sebuah perusahaan yang bernama Perusahaan Saham Gabungan Joshy Hemp. Tapi setelah itu, aku tak tahu lagi bagaimana kabarnya.

Karena mendadak teringat akan Magaki, aku penasaran apakah suami wanita di hadapanku itu serupa dengan pemuda yang ada dalam ingatanku. Namun Magaki adalah seorang pembual. Dia bukan orang yang sulit mencari teman. Bahkan bisa dibilang bahwa dia adalah orang yang ramah dengan selera humor yang lumayan. Meski, tentunya, sifat semacam itu tidak sepenuhnya bisa diandalkan. Bahkan orang yang paling ramah sekalipun, setelah melalui serangkaian kegagalan, bisa berubah jadi orang yang sulit diajak hidup bersama. Dia bisa jadi pemurung. Dan dia bisa jadi lelaki yang cenderung melampiaskan kekesalannya terhadap seorang istri yang lemah, dan rumah tangga yang berantakan.

Apa tidak mungkin ayah bocah itu berperilaku sama?

Wanita itu mengenakan kimono musim panas, yang meskipun sudah terlihat tua, namun terbuat dari bahan sutra tipis dengan tali obi berwarna biru-keabuan. Dari kimono yang ia kenakan, aku bisa membayangkan bentuk tubuh wanita itu yang pastinya sangat menggoda saat muda dulu, saat dia baru menikah. Aku juga bisa membayangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya setelah itu.

Kereta yang kami tumpangi terus melaju cepat, melewati Oyama, melewati Koganei, melewati Ishibashi. Di luar jendela, pemandangan yang terbentang mulai terlihat gelap.

Ketika wanita itu selesai menulis di atas dua lembar kartu pos, si bocah berkata:

“Ibu. Aku harus ke belakang.” Di gerbong ini tak ada toilet.

“Apa kau tak bisa menahannya sebentar lagi?” tanya sang ibu, bingung. Bocah itu mengernyitkan dahinya, lalu menangguk.

Sambil meletakkan sebelah lengan di pundak bocah itu, wanita tersebut menatap berkeliling, namun tidak tahu harus melakukan apa.

“Sebentar lagi, ya?” kata wanita itu untuk menenangkan si bocah. Tetapi bocah itu berkata bahwa dia tidak tahan lagi. Tubuhnya gemetar.

Sesaat kemudian, kereta yang kami tumpangi tiba di Sunomiya. Wanita itu berbicara dengan masinis kereta, tapi sang masinis berkata bahwa tak ada cukup waktu perhentian di stasiun ini untuk pergi ke toilet. Maka mereka harus menunggu sampai tiba di stasiun berikutnya. Stasiun yang dimaksud adalah Utsunomiya, di mana kereta yang kami tumpangi akan berhenti selama delapan menit.

Sampai kereta itu tiba di Utsunomiya, wanita itu pasti kebingungan setengah mati. Sang bayi, yang sedari tadi tertidur, tiba-tiba kembali terbangun. Wanita itu buru-buru menyodorkan payudaranya, seraya mengulang kalimat yang sama:

“Sebentar lagi, sebentar lagi.” Aku tersadar bahwa apabila wanita ini tidak mati di tangan suaminya, dia akan mati di tangan bocah itu.

Dengan deru hampa, kereta yang kami tumpangi memasuki stasiun tepat di samping peron. Sebelum kereta itu berhenti, bocah di hadapanku melipat tubunya ke depan sambil memegangi perut. “Ayo, ayo cepat!”

“Kita turun sekarang,” ujar sang ibu, seraya meletakkan bayinya di atas kursi duduk dan mendekatkan wajahnya di dekat wajah sang bayi. “Jangan nakal, dan tunggu kami kembali dengan sabar.” Dengan itu, wanita tersebut menoleh ke arahku. “Saya minta maaf karena telah merepotkan Anda, boleh saya titip bayi ini sebentar?”

“Tentu saja,” jawabku.

Kereta itu akhirnya berhenti total. Aku buru-buru membukakan pintu. Bocah tersebut melompat keluar, ke atas peron.

“Jangan nakal, ya.” Namun sang bayi, begitu ibunya baru saja hendak beranjak pergi, merentangkan tangan ke arah punggung wanita itu dan berteriak sekencang-kencangnya seolah ia baru saja disulut api.

“Ya ampun.” Sang ibu terlihat ragu sesaat, lantas ia meraih tali obi yang mungil dan terbuat dari sutra Hakata dari dalam tas kain. Dililitnya tali obi di bawah lengan si bayi, kemudian diangkatnya bayi itu agar bersandar di balik punggungnya. Lalu wanita itu mengambil selembar sapu tangan katun dan meletakkannya di tengkuk lehernya sendiri. Dengan gesit wanita itu mengikat tali obi yang melilit tubuh bayinya, lalu ia menyelempangkan bayi tersebut di sisi tubuhnya sebelum beranjak turun dari kereta, ke atas peron. Aku ikut turun di belakangnya, dan berkata:

“Ini perhentian saya.”

“Oh…begitu?” Meski ia tampak terkejut, namun wanita itu segera menundukkan kepalanya secara formal.

“Terima kasih atas segala bantuan Anda.”

Kami berjalan beriringan melewati kerumunan penumpang di atas peron.

“Maaf, bolehkah saya menitipkan kartu pos ini kepada Anda?” Seraya bertanya, wanita itu merogoh ke dalam bagian depan kimono yang ia kenakan, berusaha mengambil lembaran-lembaran kartu pos yang disimpanya di sana. Hanya saja, tali obi yang terselempang di dadanya menyulitkan gerak tangannya. Akhirnya dia berhenti.

“Ibu. Ada apa?” Bocah itu membalikkan tubuhnya dan berbicara kepada wanita tersebut dengan nada kesal.

“Tunggu sebentar.” Dengan dagu tertunduk, wanita itu berusaha untuk melonggarkan bagian depan kimono yang ia kenakan. Telinganya berangsur memerah gara-gara tekanan tangannya di depan dada. Lalu, aku melihat betapa sapu tangannya, yang renyuk karena gesekan tali obi, telah turun ke pundaknya. Tanpa berkata-kata, aku melarikan sebelah tangan ke pundak wanita itu untuk meratakan sapu tangan tersebut. Wanita itu terkejut dan mengangkat wajahnya.

“Sapu tangan Anda kusut, jadi saya …” Kurasakan pipiku memanas.

“Maaf. Silakan,” kata wanita itu. Aku meratakan sapu tangannya, namun wanita itu hanya berdiri dalam diam.

Ketika aku menarik tanganku dari pundaknya, lidahku terasa kelu. Dan wanita itu kembali angkat suara: “Saya sungguh minta maaf.”

Di sana, di atas peron, tanpa menanyakan nama satu sama lain, kami berpisah.

Aku melangkah ke pintu masuk stasiun seraya menjinjing dua lembar kartu pos. Ada sebentuk kotak surat yang terpasang pada dinding stasiun. Aku merasakan keinginan untuk membaca tulisan yang tertera pada sepasang kartu pos itu. Aku juga merasa bahwa tak ada salahnya bagiku untuk melakukan hal tersebut.

Aku terdiam, ragu-ragu; tapi ketika aku tiba di depan kotak surat itu, aku menjatuhkan kedua kartu pos ke dalamnya dengan sisi yang bertuliskan alamat penerima menghadap ke atas. Begitu aku menjatuhkan kartu-kartu pos itu ke dalam kotak surat, aku ingin mengambilnya lagi. Aku sempat mengintip alamat yang tertera di atas kartu pos. Keduanya ditujukan ke Tokyo. Yang satu mencantumkan nama seorang wanita, yang lain mencantumkan nama seorang laki-laki. FL

2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Shiga Naoya. Tidak untuk dijual, ditukar, ataupun digandakan.


#CATATAN:

> Cerita pendek ini berjudul 網走まで』を発表 atau dalam Bahasa Inggris “To Abashiri” karya SHIGA NAOYA dan pertama kali terbit pada tahun 1908.

>> SHIGA NAOYA adalah seorang sastrawan Jepang yang aktif di masa pemerintahan Kaisar Hirohito.

#POIN DISKUSI:

  1. Apa kesan kalian terhadap pembukaan cerita?
  2. Bagian mana dari cerita ini yang bagi kalian paling mengena? Kenapa?
  3. Apa yang kalian tangkap dari cara bertutur tokoh utama?
  4. Seberapa besar faktor “lokalitas” dalam cerita ini dan apa pengaruhnya bagi cerita?

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

9 Comment on “Menuju Abashiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: