Chitra Divakaruni

(diterjemahkan oleh Jessica Huwae)

Aku bukan tipe orang yang suka menempelkan stiker. Bemper mobilku pada dasarnya polos, tidak ada pernak-pernik imut menggantung di kaca spion; dan kaus-kaus yang kukenakan juga selalu berwarna polos tanpa logo ataupun kutipan-kutipan humor di atasnya.

Aku menganggap aneh tetanggaku yang menggantung papan tanda dengan dekorasi tupai (tupai?!) di rumahnya, menyatakan “Keluarga Waterfords Tinggal di Sini.” Kuakui, sekali, karena desakan keluarga, aku pernah menempel spanduk di kaca belakang mobil untuk menyatakan bahwa anakku mendapatkan gelar kehormatan di Sekolah Dasar West View. Tapi aku memasangnya asal saja, di bagian luar, dengan selotip berkualitas jelek — dan tentu saja aku lega ketika angin meniupnya hingga lepas.

Aku punya anggapan kuno bahwa kehidupan pribadi seharusnya tetap berada di ranah yang personal. Bahwa nilai-nilai dan keyakinan diri seharusnya dijalani, bukan dipamerkan.

Akan tetapi setelah serangan teroris 11 September, aku mendapati diriku memasang bendera kebangsaan Amerika di depan rumahku, sama seperti yang dilakukan tetangga-tetanggaku lainnya — keluarga Waterfords, Chan dan Siddiqi.

Aku melakukan hal itu untuk pertama kali, dan sama sekali tak menyangka akan begitu tersentuh olehnya. Memegang bendera merah, putih dan biru berbentuk persegi panjang itu di tanganku membuatku menyadari bagaimana Amerika — negara yang kudatangi sebagai gadis imigran berusia 19 tahun dari India — begitu berarti bagiku. Bagaimana selama bertahun-tahun nilai-nilai yang dipegang negara ini — kebebasan, kesetaraan, keadilan, toleransi, upaya mengejar kebahagiaan untuk semua — telah meresap ke dalam diriku dan membentuk jati diriku. Bagaimana aku dipersiapkan untuk berjuang, dengan caraku yang sunyi, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Aku bayangkan ada begitu banyak warga imigran yang tersebar di seluruh penjuru negeri tengah melakukan hal serupa, memasang bendera kebangsaan Amerika Serikat tinggi-tinggi guna menunjukkan kecintaan kami terhadap negara ini, juga kedukaan kami terhadap mereka yang nyawanya habis diberangus teror. Secara tak langsung, para korban itu adalah saudara kami juga — dan oleh sebab itu aku terhenyak sesaat oleh rasa kebersamaan yang begitu kuat dan langka.

Namun, di balik rasa patriotik yang intens dan tulus itu, terdapat juga perasaan gamang. Aku melihat betapa sejak kejadian 11 September ada perlawanan terhadap mereka yang tampil dengan ciri-ciri seorang Muslim atau berparas ke-Timur-Tengahan. Warga asal dan keturunan Asia Selatan sepertiku juga telah jadi sasaran kebencian dan diskriminasi SARA. Tak sedikit kaum Sikh yang dipukuli atau bahkan ditembak mati hanya gara-gara mengenakan turban atau tampil dengan wajah berjanggut; sementara para wanita berkerudung acapkali dituding sebagai istri-istri para teroris; dan para pengusaha dalam setelan jas dan dasi sering diminta turun dari pesawat karena warna kulit mereka membuat kru pesawat was-was.

Belum lama ini, di luar sebuah toko kelontong tak jauh dari tempat tinggalku, seorang pria meneriaku dan anak-anakku, menggunakan kata-kata ofensif yang tak akan aku ulangi: “Dasar Ay-rab, pulang sana ke negaramu!”

Komunitas kami telah mengambil langkah-langkah pencegahan. Para pemimpin komunitas menyarankan kami untuk tidak mengenakan pakaian etnis, tidak keluar pada malam hari, dan tidak bepergian seorang diri.

Secarik email juga diedarkan, menginstruksikan kami bahwa respons terbaik saat kami merasa diserang adalah dengan mengangkat dua jari di udara seraya membentuk simbol damai, lalu berseru, “Tuhan memberkati Amerika!”

Email yang sama juga menyarankan kami untuk memasang bendera kenegaraan (lebih besar dan mahal lebih baik) di rumah, di tempat usaha dan di mobil keluarga: “untuk menunujukkan pada orang Amerika bahwa kalian berada di pihak mereka.”

Orang Amerika? Tidak salah? Aku adalah orang Amerika! Aku pikir kami berada di sisi yang sama.

Bendera yang kupasang (berukuran kecil dan tidak mahal) bukanlah merupakan respons dari surat eletronik tersebut. Tapi tetap saja, begitu aku memasang bendera, aku dihajar oleh kenyataan bahwa tak peduli selama apapun aku — atau anak-anakku yang lahir di California — tinggal di negara ini, setiap ada konflik besar dengan bangsa lain, maka kami akan selalu kena batunya.

Kasus yang sama juga terjadi ketika krisis tawanan Iran meluap di media. Lagi, saat terjadi perang di Teluk Persia. Beberapa sahabatku, warga Amerika keturunan Jepang, dengan pahit mengingat periode saat sanak-saudara mereka ditahan di kamp konsentrasi; sementara sahabatku yang merupakan warga Amerika keturunan Cina juga mengingat perdebatan soal pesawat pengintai yang terjadi baru-baru ini. Dan terlepas dari kapan hal itu terjadi, kami — orang Amerika yang tidak terlihat seperti orang Amerika — harus menanggung beban untuk membuktikan patriotisme kami. Atau akan ada konsekuensinya.

Saat aku menaikkan bendera, aku bertanya-tanya apakah tindakanku ini dimotivasi oleh ancaman “konsekuensi” tersebut. Aku bertanya-tanya apakah bendera yang kupasang sama saja seperti tanda yang dipasang orang-orang Yahudi di rumah mereka pada era Musa untuk meluputkan mereka dari Malaikat Kegelapan. Karena pada saat ini para pengikut Malaikat Kegelapan itu ada di antara kita. Aku lihat sendiri bagaimana mereka mengaum lantang sambil menyusuri jalan-jalan perumahan tempat tinggal kami yang rata-rata didiami oleh warga keturunan.

Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang menumpangi truk terbuka, bukan warga lingkungan kami, dengan wajah-wajah asing. Mereka menglakson dan berteriak lantang seraya membanting setir ke arah trotoar setiap mereka melihat orang-orang yang penampilannya tidak mereka sukai. Bagian belakang mobil mereka ditempeli stiker-stiker bertuliskan “Bokong Bin Laden Adalah Milik Kami”. Dan tersangkut di pucuk antena radio kendaraan mereka ada bendera Amerika Serikat yang berkibar gagah seolah mengiringi aksi mereka secara patriotik.

Apakah mereka penyebab para tetangga Afganistan-ku — wanita-wanita berjilbab yang dulu secara malu-malu sering melambai ke arahku saat kami mengantar anak-anak kami ke sekolah — sudah berminggu-minggu tidak terlihat di luar rumah? Penyebab salah satu dari suami-suami mereka menjemput dan menggiring semua anak-anak keturunan Afghanistan di sekitar lingkungan tempat tinggal kami ke dalam mobil van, lalu mengantar mereka ke sekolah tepat sebelum bel pelajaran berbunyi?

Ketika aku menaikkan bendera, aku mendapati sedikit pergerakan di jendela rumah yang berseberangan dengan rumahku. Seseorang sedang memerhatikanku dari sela tirainya. Mungkin itu Nadia, wanita yang tinggal di rumah itu. Aku penasaran apa yang dia pikirkan mengenai aksiku ini, apakah hal ini membuatnya khawatir? Apakah dalam pikirannya, bendera yang kupasang menghubungkanku dengan para pemilik bendera lainnya, orang-orang yang bertekun menjunjung hidup ala Amerika?

Aku turun dan menatap benderaku. Di luar semua keraguanku, bendera itu berkibar dengan indahnya. Dan aku bangga bahwa kita memiliki satu sama lain. Aku berpikir untuk membiarkannya tetap terpasang di sana sampai krisis ini selesai (semoga segera dan dengan cara sedamai mungkin). Aku akan membiarkannya terus terpasang sebagai pengingat bahwa ada berbagai jenis orang Amerika yang tinggal di negara ini — dan kita harus menyediakan tempat bagi siapa saja di bawah bendera kita. Bahwa warna kulit tidaklah menentukan patriotisme — atau kurangnya patriotisme. Dan terlebih, kita tidak akan pernah bisa dengan sungguh-sungguh mencintai negara kita, tanpa mencintai sesama warga negara kita — pria dan wanita. Semuanya. FL

 

Mei 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Chitra Divakaruni. Tidak untuk ditukar, digandakan, ataupun dijual.

 


 

#CATATAN:

> Esai ini bertajuk The Reluctant Patriot karya CHITRA DIVAKARUNI dan pertama kali terbit di LA Times pada tanggal 21 Oktober 2001.

>> CHITRA DIVAKARUNI adalah penulis, penyair dan pengajar kepenulisan kreatif berkebangsaan India-Amerika yang telah menerbitkan sejumlah buku dan menulis beberapa karya opera. Di antara buku-bukunya yang paling menuai pujian adalah The Mistress of Spices, Arranged Marriage dan The Palace of Illusions.

>>> JESSICA HUWAE adalah penulis fiksi dan non-fiksi asal Indonesia. Di antara karya-karyanya adalah Work It, Girl; Soulmate.com; Skenario Remang-Remang; Galila; dan Javier.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: