John Cheever

Hari Natal adalah waktu yang menyedihkan. Kalimat tersebut terlintas di benak Charlie begitu ia terbangun oleh suara jam weker yang meraung seolah tanpa henti; dan kalimat itu juga yang akhirnya memberikan ‘nama’ pada perasaan yang semalam suntuk sempat memberatkan hatinya. Langit di luar jendela kamar tampak hitam. Charlie bangkit duduk di atas ranjang dan menarik seutas tali yang menggantung di depan hidung untuk menyalakan bohlam lampu. Natal adalah hari yang paling menyedihkan dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun, pikirnya. Dari jutaan orang yang tinggal di New York, batin Charlie pada diri sendiri, hanya aku yang harus bangun pada pukul 6 pagi di Hari Natal sambil memerangi udara dingin—hanya aku.

Charlie pun berpakaian dan menuruni anak tangga ke lantai bawah rumah kos-kosan. Ia mendengar dengkuran tidur penghuni rumah lainnya; dan satu-satunya lampu yang menyala adalah lampu yang semalam lupa dimatikan. Tak lama kemudian, Charlie menyantap sarapan pagi di sebuah tenda makanan yang buka sepanjang malam. Lalu ia naik kereta ke tengah kota. Dari Third Avenue, ia berjalan ke arah Taman Central Park. Di saat itu, Park Avenue masih terlihat gelap. Lampu jalan yang bersinar terang justru menunjukkan jendela-jendela perumahan yang hitam kelam. Jutaan warga masih tertidur lelap, dan karena itu seisi kota nampak seperti kota mati, seolah kiamat telah datang dan kota ini ditelantarkan begitu saja.

Charlie mendorong pintu kaca di sebuah gedung apartemen di mana selama enam bulan terakhir ia bekerja sebagai operator lift. Lalu dia berjalan melintasi area lobi yang tampak anggun menuju ke kamar ganti di belakang. Charlie mengenakan seragam berupa rompi bergaris dengan kancing yang terbuat dari logam kuningan, dasi palsu, sepasang celana panjang dengan garis biru memanjang di samping, serta sebuah mantel. Operator lift yang berjaga semalam suntuk tampak tengah mendengkur di atas kursi kecil di dalam gerbong lift. Charlie membangunkannya. Operator yang berjaga malam itu kemudian mengabarkan kepada Charlie dengan suara parau bahwa operator yang bertugas di siang hari tidak bisa masuk kerja hari itu. Berarti Charlie juga tidak akan punya waktu untuk makan siang nanti—karena banyak penghuni apartemen yang akan meminta bantuannya untuk memanggilkan taksi.

Charlie baru bertugas selama beberapa menit ketika tiba panggilan dari Lantai 14—seorang wanita bernama Mrs. Hewing yang terkenal tak bermoral. Mrs. Hewing belum tidur; dan dia mengendarai gerbong lift hanya dengan mengenakan gaun panjang dan sebentuk mantel berbulu. Ia menggiring dua ekor anjing. Charlie mengoperasikan gerbong lift sampai ke lantai dasar, lalu memandangi Mrs. Hewing yang melangkah santai keluar gedung bersama anjing-anjing itu. Mrs. Hewing membawa anjing-anjingnya ke bahu jalan; dan ia tak lama-lama di luar. Selang waktu beberapa menit, wanita itu kembali masuk ke dalam gerbong lift dan minta dibawa kembali ke Lantai 14. Di lantai yang dituju, seraya melangkah keluar dari gerbong lift, Mrs. Hewing berkata: “Selamat Natal, Charlie.”

“Buatku ini bukan hari yang menyenangkan, Mrs. Hewing,” kata Charlie. “Menurutku Natal adalah hari tersedih sepanjang tahun, tapi bukan karena orang-orang tidak murah hati—aku justru sering diberi tips menjelang Hari Natal. Tapi aku tinggal seorang diri di sebuah kamar kos dan aku tidak punya keluarga di sini. Jadi bagiku Natal adalah saat yang menyedihkan.”

“Aku turut menyesal, Charlie,” kata Mrs. Hewing. “Aku juga tidak punya keluarga. Sedih juga hidup sebatang kara, ya?” Wanita itu memanggil anjing-anjingnya dan mengikuti langkah mereka ke dalam unit apartemen. Charlie menutup pintu gerbong lift dan melaju turun.

Di tengah suasana hening, Charlie menyulut sebatang rokok. Radiator pemanas yang terletak di basement bergetar menghantarkan udara panas ke seisi gedung apartemen, disusul oleh dengung halus yang menandakan perpindahan uap panas dari satu ruangan ke ruangan lain—pertama di area lobi, lantas terus ke atas hingga mencakupi keenam belas lantai gedung. Tapi ini adalah pergerakan mesin yang sama sekali tidak membantu meringankan beban kesepian dan emosional yang tengah mendera Charlie.

Udara gelap di luar pintu kaca kini berubah nuansa jadi kebiruan; namun warna itu datangnya tak diundang, entah dari mana, dan kini menggantung di atas permukaan jalan. Cahaya kebiruan itu membuat Charlie tambah sedih; karena perlahan-lahan ia menerangi jalan-jalan kota yang kosong—menunjukkan deretan pohon Natal yang terpajang di sana-sini. Charlie ingin menangis.

Sebuah taksi berhenti di depan gedung apartemen dan pasangan suami-istri Walser beranjak keluar dari pintu belakang kendaraan dalam keadaan mabuk dan masih mengenakan baju pesta. Charlie pun melakukan tugasnya dan mengantar mereka ke tingkat penthouse. Pasangan suami-istri itu membuat Charlie merenungkan perbedaan antara kehidupannya di kamar kos dan kehidupan para penghuni apartemen di tingkat tertinggi. Sungguh mengenaskan.

Menjelang pagi, biasanya para jemaat gereja mulai menggunakan lift gedung; namun pagi itu hanya tiga orang saja yang turun. Kemudian beberapa orang lain ikut menyusul sekitar pukul delapan; meski sebagian besar penghuni apartemen masih tertidur. Sementara wangi daging babi asap dan seduhan kopi mulai tercium di dalam gerbong lift.

Beberapa menit setelah pukul sembilan, seorang suster melaju turun bersama seorang anak kecil. Keduanya berkulit kecokelatan dan Charlie tahu benar bahwa belum lama ini mereka baru saja kembali dari acara liburan keluarga di Bermuda. Charlie belum pernah berkunjung ke sana, karena dia adalah seorang tahanan yang harus mendekam selama delapan jam sehari di kandang lift yang juga tertahan di dalam corong lift yang memanjang dari lantai satu sampai enam belas.

Selama sepuluh tahun belakangan Charlie bekerja sebagai operator lift di berbagai gedung apartemen. Menurut estimasinya, jarak dari lantai dasar sampai ke lantai tertinggi gedung sekitar 0.2 kilometer. Dan ketika dia menghitung jarak yang telah ia tempuh di dalam gerbong lift selama sepuluh tahun terakhir (ribuan kilometer), Charlie membandingkannya dengan jarak perjalanan yang dapat ditempuhnya dengan kendaraan. Ribuan kilometer itu bisa ia habiskan berkendara sampai ke Kepulauan Karibia, lalu berhenti di sebuah pantai koral di Bermuda. Maka Charlie menyimpulkan bahwa ‘perjalanan’ dia dan orang-orang yang tinggal di apartemen tempatnya bekerja sebenarnya sama saja. Hanya sifatnya yang berbeda: seolah bukan kukungan gerbong lift yang menghalangi kebebasannya, melainkan tekanan hidup yang berbanding jauh. Tekanan hidup yang memotong sayap-sayap mimpinya.

Charlie masih terus memikirkan hal tersebut ketika keluarga DePauls, di Lantai 9, memanggilnya. Mereka juga mengucapkan Selamat Natal kepadanya.

“Terima kasih,” kata Charlie sambil menemani pasangan itu turun ke lantai dasar. “Tapi ini bukan hari raya yang menggembirakan untukku. Natal adalah hari yang menyedihkan bagi orang yang tak ber-uang sepertiku. Aku hidup sendiri di kamar kos. Aku tidak punya keluarga.”

“Lantas kau merayakan Natal dengan siapa, Charlie?” tanya Mrs. DePaul.

“Aku tidak pernah merayakan Natal,” kata Charlie. “Paling-paling aku merayakannya dengan makan roti isi.”

“Oh, Charlie!” Mrs. DePaul adalah seorang wanita gemuk dengan hati yang mudah tersentuh; dan kesedihan Charlie seakan mengempiskan suasana kegembiraan hari raya yang telah dinanti. “Seandainya kami bisa merayakan Natal bersama-mu,” ujar wanita itu. “Kau tahu, aku berasal dari Vermont; dan di masa kecilku, keluargaku selalu mengundang banyak orang ke rumah untuk merayakan Natal. Tukang pos, guru sekolah, siapa saja yang tak punya sanak-keluarga selalu diundang untuk merayakan Natal di rumah keluargaku. Seandainya saja kami bisa melakukan hal itu untukmu. Dan, sebenarnya, kami akan dengan senang hati mengundangmu untuk ikut merayakan Natal bersama keluarga kami. Tapi, sayang, kau tidak bisa meninggalkan tugasmu sebagai operator lift ini, kan? Begini saja—begitu Mr. DePaul selesai memotong hidangan bebek panggang di atas meja, aku akan memanggilmu. Aku akan menyiapkan nampan berisi makanan lezat untukmu, dan aku mau kau berkunjung ke unit apartemen kami untuk menikmati santapan makan malam bersama.”

Charlie berterima kasih kepada mereka, walau sedikit terkejut terhadap kebaikan hati mereka. Namun, ia juga bertanya-tanya: saat kerabat dan kawan telah tiba di pintu mereka nanti siang, apakah mereka akan ingat untuk memanggilnya?

Tak lama, Mrs. Gadshill yang sudah tua memanggilnya. Ketika wanita itu mengucapkan Selamat Natal, Charlie menundukkan kepala.

“Ini bukan hari raya yang menyenangkan untukku, Mrs. Gadshill,” kata Charlie. “Natal adalah hari yang menyedihkan untuk orang yang tak ber-uang sepertiku. Aku tidak punya keluarga. Aku tinggal sendirian di kamar kos.”

“Aku juga tidak berkeluarga, Charlie,” kata Mrs. Gadshill. Wanita itu berbicara terus-terang, namun sopan-santunnya terasa dipaksakan. “Maksudku, hari ini tak ada keluarga yang akan berkunjung. Aku punya tiga orang anak, tapi tak seorang pun yang mau berkunjung ke New York untuk merayakan Natal bersamaku. Aku mengerti kesulitan mereka. Tidak mudah bepergian jauh bersama anak-anak kecil di masa liburan seperti sekarang, meskipun saat aku muda dulu, aku tak punya masalah membawa anak-anakku pergi berlibur. Tapi masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda, dan aku tidak bisa memaksakan kehendakku hanya karena aku tidak mau mengerti kesulitan mereka. Aku tahu perasaanmu, Charlie. Aku juga merayakan Natal tanpa keluarga. Aku juga kesepian seperti dirimu.”

Pidato Mrs. Gadshill tidak menggerakkan hati Charlie sama sekali. Mungkin wanita itu kesepian, tapi Mrs. Gadshil tinggal di unit apartemen berkamar sepuluh dan memiliki tiga orang pembantu, serta uang dan permata yang berlimpah. Di daerah perkampungan, banyak sekali anak-anak miskin yang dengan senang hati akan menerima makanan sisa yang biasa dibuang oleh para pembantu Mrs. Gadshill. Kemudian Charlie memikirkan nasib anak-anak miskin itu. Ia duduk di sebuah kursi di area lobi dan terus memikirkan nasib mereka.

Nasib anak-anak itu justru lebih mengenaskan dari dia. Sejak awal musim gugur, semua warga dan toko-toko telah mengantisipasi datangnya Hari Natal dengan iklan, kegiatan dan produk yang sengaja ditujukan bagi anak-anak. Setelah perayaan Thanksgiving dilewati, suasana Natal semakin jadi. Di seluruh pelosok negeri, suasana Natal tak bisa dihindari (memang sengaja diatur seperti itu). Rangkaian ranting dan dekorasi dipasang di mana-mana; bel-bel gereja berdentang dan pepohonan di taman menggambarkan suasana Natal yang meriah dan syahdu. Sinter Klas juga berjaga di setiap sudut jalan dengan kostum lengkap. Sementara semua gambar di majalah, koran dan jendela toko menjanjikan kepada semua anak-anak bahwa bila mereka tidak nakal, maka mereka akan mendapatkan apa saja yang mereka minta. Bahkan bila anak-anak itu tidak bisa membaca, mereka takkan mungkin melewatkan suasana itu.

Semangat Natal tersemat dalam setiap ons udara yang mereka hirup, hingga nantinya menyatu dengan tubuh dan pikiran mereka. Setiap kali mereka jalan-jalan di tengah kota, mereka akan melihat deretan mainan mahal yang dipajang di jendela etalase toko; lalu mereka akan menulis surat kepada Sinter Klas, dan orang tua mereka akan berjanji untuk mengirimkan surat itu lewat kantor pos. Tapi setelah anak-anak itu terlelap, surat-surat itu dibakar di atas kompor. Dan saat Natal tiba di pagi hari—apa yang akan dikatakan para orang tua kepada anak-anak miskin itu: bahwa Sinter Klas hanya datang mengunjungi anak-anak kaya, atau Sinter Klas lupa mencatat nama anak-anak yang telah berbuat baik sepanjang tahun? Bagaimana para orang tua itu harus menghadapi wajah anak-anak mereka yang penuh harap, sementara nantinya mereka hanya sanggup menghadiahkan sebuah balon atau permen hisap?

Saat tengah berjalan pulang dari apartemen tempat kerjanya beberapa malam lalu, Charlie melihat seorang wanita dan seorang anak kecil perempuan melintasi jalan Fifty-ninth Street. Anak itu menangis. Charlie menduga anak itu tengah menangis, dia tahu anak itu menangis, karena anak itu telah melihat mainan yang dipajang di jendela etalase toko dan tidak mengerti kenapa tidak satu pun dari mainan itu boleh jadi miliknya. Menurut pengamatan Charlie, ibu anak kecil itu mungkin bekerja sebagai pembantu, atau pelayan. Dan ia membayangkan keduanya pulang ke kamar kos seperti miliknya, dengan dinding berwarna hijau dan tanpa dilengkapi pemanas. Charlie juga membayangkan mereka merayakan Malam Natal dengan menyantap sup kalengan.

Lamunan Charlie semakin jadi. Ia membayangkan gadis kecil itu menggantung kaus kaki yang telah lusuh sebelum tidur; dan ia membayangkan wanita itu merogoh ke dalam tas tangannya sambil menimbang apa yang bisa ia masukkan ke dalam kaus kaki yang digantung putrinya. Namun lamunan itu terganggu oleh dering bel dari Lantai 11. Charlie buru-buru melaju naik, dan begitu pintu gerbong lift terbuka, ia mendapati Mr. dan Mrs. Fuller sudah menunggu.

Ketika pasangan itu mengucapkan Selamat Natal, Charlie membalas: “Ini bukan hari raya yang menyenangkan untukku, Mrs. Fuller. Natal adalah hari yang menyedihkan bagi orang yang tak ber-uang.”

“Apa kau punya anak, Charlie?” tanya Mrs. Fuller.

“Ada empat yang masih hidup,” jawab Charlie. “Dua sudah meninggal.” Kebohongan ini terdengar penuh keyakinan dan sempat mengejutkan dirinya sendiri. “Mrs. Leary, istriku, adalah wanita cacat,” tambahnya.

“Sedih sekali, Charlie,” kata Mrs. Fuller. Wanita itu baru saja hendak melangkah keluar dari gerbong lift ketika mereka tiba di lantai dasar, lantas ia membalikkan tubuh. “Aku ingin memberikan sesuatu untuk anak-anakmu, Charlie,” kata Mrs. Fuller. “Mr. Fuller dan aku harus pergi dulu sekarang, tapi nanti saat kami kembali, aku ingin memberikan sesuatu untuk anak-anakmu.”

Charlie berterima kasih kepada mereka. Lalu, bel di Lantai 4 berdering dan Charlie kembali melaju ke atas untuk menjemput keluarga Weston.

“Ini bukan hari raya yang menyenangkan untukku,” ucap Charlie saat pasangan itu mengucapkan Selamat Natal kepadanya. “Natal adalah hari yang menyedihkan bagi orang tak ber-uang. Aku tinggal seorang diri di kamar kos.”

“Kasihan sekali dirimu, Charlie,” ujar Mrs. Weston. “Aku mengerti perasaanmu. Di masa perang, ketika Mr. Weston sedang tugas di medan perang, aku juga mengalami kesepian di Hari Natal. Aku bahkan tidak memasang pohon Natal, dan tidak mau merayakan Natal. Aku hanya memasak telur orak-arik dan duduk di meja makan sambil menangis.” Mr. Weston yang sudah duluan melangkah ke area lobi segera memanggil istrinya dengan tidak sabar. “Aku sangat mengerti perasaanmu, Charlie,” kata Mrs. Weston.

Di siang hari, harum masakan di dalam corong lift telah berubah dari daging sapi asap dan seduhan kopi ke daging bebek dan rusa panggang. Suasana di dalam apartemen pun berubah meriah, sarat akan persiapan hari raya yang ditandai dengan pesta domestik. Anak-anak dan suster mereka telah kembali dari Taman Central Park. Kerabat dan saudara mulai berdatangan diantar oleh mobil limosin. Sebagian besar tamu yang melintasi area lobi tampak menenteng paket-paket hadiah yang telah dibungkus rapi dengan kertas kado warna-warni; dan mereka juga mengenakan mantel berbulu yang mahal dengan setelan pakaian baru.

Charlie terus mengeluh kepada siapa saja yang mengucapkan Selamat Natal padanya; mengubah cerita hidupnya dari seorang bujangan yang kesepian sampai seorang ayah yang miskin, dan bolak-balik seperti itu. Suasana hatinya berubah-ubah setiap saat; namun suasana melankoli yang ia ciptakan, dan curahan simpati yang ia dapatkan, tetap tidak bisa membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya.

Pada pukul setengah dua siang, terdengar panggilan bel dari Lantai 9. Ketika Charlie tiba di lantai itu, ia mendapati Mr. DePaul berdiri di pintu unit apartemen sambil memegang sebuah alat kocok minuman berikut sebentuk gelas kosong.

“Ini untuk menambah suasana riang di Hari Natal, Charlie,” kata Mr. DePaul, seraya menuangkan minuman ke dalam gelas kosong tadi. Lalu seorang pembantu muncul dengan sebuah nampan berisi segala macam masakan yang telah ditutup rapi, diikuti oleh Mrs. DePaul yang beranjak dari ruang tamu.

“Selamat Natal, Charlie,” ujar wanita itu. “Aku sengaja minta Mr. DePaul untuk memotong sajian utama kami [bebek panggang] lebih cepat, supaya kau juga bisa menikmatinya. Aku juga sengaja tidak menempatkan makanan penutup di atas nampan, karena takut meleleh. Jadi nanti saat makanan penutup dihidangkan, kami akan memanggilmu lagi.”

“Dan apalah artinya Hari Natal tanpa hadiah?” kata Mr. DePaul. Dengan itu, pria tersebut mengeluarkan sebentuk kotak pipih dan besar dari dalam kamar, serta meletakkannya di atas nampan yang tertutup.

“Kalian membuat Hari Natal ini jadi lebih meriah untukku,” kata Charlie. Matanya mulai berkaca-kaca. “Terima kasih banyak.”

“Selamat Natal! Selamat Natal!” seru pasangan Mr. dan Mrs. DePaul. Mereka memandangi Charlie saat ia masuk ke dalam gerbong lift bersama makanan dan hadiah pemberian mereka. Sampai di bawah, Charlie meletakkan nampan makanan dan bingkisan yang diterimanya ke dalam kamar ganti. Di atas nampan ada semangkuk sup, sepiring ikan dengan kuah krim, dan sepotong bebek panggang.

Tak lama, terdengar lagi panggilan bel lain. Tapi sebelum beranjak dari kamar ganti itu, Charlie membuka kotak kado pemberian pasangan Mr. dan Mrs. DePaul. Isinya adalah selembar mantel tidur. Kebaikan hati pasangan itu, berikut minuman yang disajikan sebelumnya, sukses memicu suasana hati yang ceria. Maka dengan gembira Charlie mengendarai gerbong lift ke Lantai 12.

Sampai di sana, pembantu Mrs. Gadshil berdiri di depan pintu unit apartemen dengan sebentuk nampan, dan Mrs. Gadshill berdiri di belakang pembantunya. “Selamat Natal, Charlie!” ujar Mrs. Gadshill.

Charlie berterima kasih kepada wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca. Dalam perjalanannya kembali ke bawah, Charlie menenggak segelas anggur sherry yang disediakan di atas nampan pemberian Mrs. Gadshill. Selain itu, masih ada sepiring sajian utama. Charlie menyantap potongan domba panggang dengan tangan. Tak lama, bel kembali berdering. Charlie mengusap bibir dengan tisu dan segera melaju ke Lantai 11.

“Selamat Natal, Charlie,” ujar Mrs. Fuller. Wanita itu berdiri di depan pintu unit apartemen dengan lengan dipenuhi bermacam bingkisan yang terbungkus dengan kertas perak, seperti adegan iklan. Mr. Fuller berdiri di samping istrinya sambil merangkul pundak Mrs. Fuller. Mereka berdua terlihat seolah mereka hendak menangis.

“Ini ada sedikit hadiah untuk anak-anakmu di rumah,” ujar Mrs. Fuller. “Ada hadiah juga untuk istrimu, dan untuk dirimu sendiri. Selain itu, kalau kau bisa meletakkan barang-barang ini di dalam gerbong lift sesaat, aku akan membawakan nampan makanan untukmu sebentar lagi.”

Maka Charlie membawa barang-barang itu ke dalam gerbong lift, dan melangkah kembali ke depan unit apartemen keluarga Fuller untuk mengambil nampan makanan.

“Selamat Natal, Charlie!” ujar Mr. dan Mrs. Fuller begitu Charlie menutup pintu gerbong lift.

Seperti tadi, Charlie membawa nampan makanan dan bingkisannya ke dalam kamar ganti. Ia membuka kotak hadiah yang bertuliskan namanya dan menemukan sebentuk dompet berkulit buaya di dalamnya. Di sudut dompet ada inisial Mr. Fuller tercetak di sana. Sementara itu, sajian yang disediakan keluarga Fuller juga berupa daging bebek. Charlie mencoba sepotong kecil dari hidangan itu dengan tangan, lalu menenggak anggur sherry untuk menyegarkan mulut. Pada saat bersamaan, bel kembali berdering.

Charlie kembali melaju ke atas. Kali ini yang memanggilnya adalah keluarga Weston.

“Selamat Natal, Charlie!” kata mereka, sambil memberikan secangkir eggnog, sepiring daging kalkun panggang dan sekotak hadiah. Mereka juga memberikan selembar mantel tidur. Setelah itu, Lantai 7 membunyikan bel. Dan ketika Charlie naik ke atas, ia kembali mendapatkan nampan makanan dan sejumlah bingkisan mainan. Setelah itu, Lantai 14 membunyikan bel. Ketika Charlie tiba di sana, ia mendapati Mrs. Hewing sedang berdiri di koridor mengenakan gaun malam seraya menenteng sepatu bot penunggang kuda di satu tangan dan beberapa lembar dasi di tangan lain. Wanita itu tampaknya habis menangis dan minum-minum.

“Selamat Natal, Charlie,” ujar Mrs. Hewing dengan lembut. “Aku ingin memberikan sesuatu untukmu; dan aku memikirkanmu sejak pagi. Aku sudah membongkar seisi apartemenku dan hanya menemukan ini yang bisa kuberikan untukmu. Hanya ini barang-barang peninggalan Mr. Brewer. Kurasa mungkin kau tidak butuh sepatu bot penunggang kuda, tapi siapa tahu kau butuh dasi?”

Charlie menerima pemberian dasi dari Mrs. Hewing seraya mengucapkan terima kasih dan bergegas kembali ke gerbong lift karena bel telah berdering tiga kali.

Sampai pukul tiga sore, Charlie sudah menerima empat belas nampan makanan yang diletakkan berjajar di meja dan lantai kamar ganti—namun bel terus berdering. Begitu ia baru mulai mencicipi sajian di satu nampan, ia harus bangkit dan mengambil nampan lain. Dan ia sedang menikmati daging sapi panggang pemberian keluarga Parson ketika ia dipanggil untuk mengambil suguhan makanan penutup dari keluarga DePaul.

Charlie mengunci pintu kamar ganti, karena menurutnya amal adalah hal yang sangat pribadi sifatnya. Oleh sebab itu, bila teman-temannya tahu bahwa mereka bukan satu-satunya yang bermurah hati kepadanya hari ini, maka mereka akan kecewa. Hidangan yang telah dia terima bermacam-macam: ada bebek, kalkun, ayam, burung pegar, burung belibis dan burung dara. Ada ikan trout, salmon, kerang kipas dimasak krim, daging lobster, kepiting, ikan muda dan tiram. Ada puding plum, pie daging cincang, krim coklat, es krim yang telah meleleh, kue lapis, Torten, éclair, dan dua potong kue bolu berlapiskan krim manis.

Bingkisan yang diterimanya juga tak kalah beragam: mantel tidur, dasi, pin manset, kaus kaki, sapu tangan—dan salah satu penghuni apartemen sempat menanyakan ukuran lehernya sebelum memberikan tiga potong kemeja berwarna hijau. Ada juga sebuah teko kaca yang diisi penuh dengan teh melati campur madu, empat botol pelembab aftershave, pembatas rak buku yang terbuat dari batu pualam, serta selusin pisau steak. Gempuran amal yang telah ia siasati kini memenuhi kamar ganti itu dan membuatnya ragu—seolah ia telah menyentuh kehangatan hati para wanita yang pada akhirnya akan menguburnya dalam tumpukkan makanan dan mantel tidur.

Charlie menyantap sajian yang kini ada di hadapannya dengan lamban, karena masing-masing porsi tergolong sangat besar, seolah kesepian yang ia rasakan hendak diredam dengan selera makan yang luar biasa. Dia juga belum membuka hadiah yang dipersembahkan untuk anak-anak bayangannya; tapi ia telah menghabiskan semua minuman yang disediakan. Di sekelilingnya terlihat ampas cocktail Martini, Manhattan, Old-Fashion, sampanye, eggnog, Bronx dan Side Car.

Wajah Charlie bersinar. Ia mencintai dunia, dan dunia membalas cintanya. Saat merenungi kehidupannya, kini Charlie melihat cahaya yang luar biasa hangat dan kaya, dipenuhi oleh pengalaman menarik dan para sahabat berhati besar. Ia kini melihat pekerjaannya sebagai seorang operator lift—melaju naik-turun melewati ruang yang berjarak puluhan meter—membutuhkan keberanian dan kecerdasan seorang penerbang. Semua keterbatasan dalam hidupnya—dinding kamarnya yang berwarna hijau dan masa penggangguran yang berlangsung selama berbulan-bulan—kini telah sirna.

Kemudian, meski tak ada yang memanggil, Charlie masuk ke dalam gerbong lift dan dengan kecepatan penuh melaju naik ke tingkat penthouse, lalu kembali turun ke lantai dasar, naik-turun, lagi dan lagi, untuk menguji keahliannya menguasai ruang vertikal.

Saat tengah mondar-mandir, bel berdering di Lantai 12 dan Charlie berhenti cukup lama untuk menjemput Mrs. Gadshill. Begitu lift melaju turun, Charlie melepas tangannya dari tuas pengendali dengan penuh kegembiraan, seraya berteriak, “Ayo, bersiaplah, Mrs. Gadshill! Kita akan melompat naik-turun!”

(Saat tuas pengendali dilepas, lift itu melaju turun dengan kecepatan tinggi.)

Mrs. Gadshill memekik ketakutan. Lalu, entah kenapa, wanita itu duduk di lantai gerbong lift. Mengapa wajahnya pucat, batin Charlie; kenapa dia duduk di lantai? Mrs. Gadshill memekik lagi. Charlie pun terpaksa menghentikan permainannya dan mengatur laju gerbong lift hingga tiba perlahan-lahan di lantai dasar, lalu dengan cekatan membukakan pintu. “Maaf jika aku menakutimu, Mrs. Gadshill,” kata Charlie pelan. “Aku hanya bercanda.” Mrs. Gadshill memekik lagi. Kemudian wanita itu berlari keluar dari area lobi, berteriak mencari pengawas operasional gedung.

Sang pengawas akhirnya memecat Charlie dan mengoperasikan gerbong lift itu sendiri. Kabar tentang pemecatannya mengejutkan Charlie untuk sesaat. Itu adalah kekejaman pertama yang ia alami di Hari Natal. Charlie duduk di kamar ganti sambil menggigit paha ayam panggang. Alkohol tidak lagi bisa membantunya, dan meski suasana hati yang sedih dan gundah belum menguasainya—ia bisa merasakan kedatangannya dari jauh. Makanan dan hadiah yang berlimpah mulai membuatnya merasa bersalah dan tak berharga. Ia sangat menyesali kebohongan yang telah ia sampaikan berulang-kali. Ia adalah pria lajang dengan kebutuhan sederhana. Ia telah menyalah-gunakan kebaikan hati para penghuni gedung apartemen. Harga dirinya tak bersisa.

Lantas, dalam kondisi setengah mabuk, Charlie terpikir akan sosok Ibu Kos dan ketiga anak-anaknya yang kurus kering. Ia membayangkan mereka tengah duduk di kamar sempit yang terletak di basement. Keceriaan Hari Natal telah pergi menjauh dari mereka. Bayangan ini mendorong Charlie untuk bangkit berdiri. Sadar bahwa ia ada dalam posisi di mana ia bisa memberikan sesuatu, bahkan membawa kebahagiaan kepada orang lain—membuatnya gembira lagi.

Ia mengambil sebentuk karung yang biasa digunakan untuk mengumpulkan sampah, dan mulai mengisinya dengan tumpukkan bingkisan yang diberikan oleh para penghuni gedung apartemen. Pertama, ia memisahkan bingkisan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Lalu, ia mengumpulkan bingkisan yang ditujukan untuk anak-anak imajiner dalam pikirannya. Charlie bekerja secepat mungkin bak penumpang ketinggalan kereta, tak sabar ingin melihat kegembiraan yang akan menghampiri wajah anak-anak Ibu Kos saat ia tiba nanti. Ia segera mengganti pakaian. Kemudian, didorong oleh kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, Charlie memikul karung itu di pundaknya seperti seorang Sinter Klas. Ia keluar lewat pintu belakang gedung dan menumpang taksi ke bagian timur kota.

Ibu Kos dan anak-anaknya baru saja menghabiskan santapan daging kalkun pemberian Klub Partai Demokrat yang berbasis di New York. Mereka sudah kekenyangan ketika Charlie datang mengetuk pintu sambil berteriak, “Selamat Natal!” Ia menarik karung di belakangnya dan menjatuhkan semua bingkisan yang ada di dalamnya ke atas lantai ruang tamu. Ada boneka dan mainan musik, blok susun-susunan, alat menjahit, kostum Indian, dan sebuah alat tenun—bagi Charlie, kedatangannya itu membawa keceriaan yang luar biasa di dalam kamar basement yang biasanya muram. Setelah separuh tumpukkan hadiah dibuka, Charlie memberikan sebuah mantel mandi kepada si Ibu Kos. Lalu, di kamarnya sendiri, Charlie melihat hadiah-hadiah yang telah diberikan untuknya.

Nah, masalahnya, anak-anak Ibu Kos sudah menerima banyak sekali bingkisan sebelum Charlie datang—hingga mereka kebingungan menerima hadiah tambahan. Namun karena wanita itu mengerti benar bahwa amal adalah hal yang sifatnya pribadi, maka ia membiarkan anak-anaknya membuka sejumlah bingkisan di hadapan Charlie. Tapi begitu Charlie pergi, si Ibu Kos berdiri di antara anak-anaknya dan sejumlah bingkisan yang belum dibuka.

“Kalian sudah dapat cukup banyak hadiah,” ujar wanita itu. “Kalian sudah dapat bagian kalian. Lihat saja barang-barang yang kalian miliki sekarang. Separuh saja belum sempat kalian mainkan. Mary Anne, kau bahkan belum sempat melihat boneka yang diberikan oleh Departemen Kebakaran untukmu. Hal yang harus kita lakukan sekarang adalah menyumbangkan semua bingkisan yang belum dibuka kepada orang-orang miskin di Jalan Hudson Street—keluarga Deckkers. Mereka tak punya apa-apa.”

Cahaya terang hinggap di wajah si Ibu Kos ketika ia sadar bahwa dia bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain, bahwa dia bisa membuat orang lain bahagia, serta membantu orang yang lebih  membutuhkan.

Dan seperti Mrs. DePaul dan Mrs. Weston dan bahkan Charlie sendiri—begitu bingkisan tersebut tiba di tangan Mrs. Deckker, wanita itu justru memikirkan kondisi keluarga Shanon yang lebih melarat. Hal pertama yang dirasakannya adalah kasih sayang, diikuti oleh keinginan untuk beramal dan diikuti oleh kekuatan yang entah datangnya dari mana. Mrs. Deckker pun segera mengumpulkan anak-anaknya.

“Ayo,” katanya. “Bantu Ibu membawa semua barang-barang ini. Cepat, cepat, cepat.”—Karena hari sudah semakin gelap, dan ia sadar bahwa di Hari Natal ada ikatan khusus yang menyatukan hati semua manusia di dunia dengan semangat amal. Dan hari ini nyaris berakhir. Mrs. Deckker merasa lelah setelah seharian mengurus anak-anaknya, tapi dia tidak bisa berhenti, tidak mau berhenti.

2012 © Fiksi Lotus dan John Cheever. Tidak untuk digandakan, ditukar atau diperjual-belikan.

————-

 

# CATATAN:

> Kisah ini bertajuk Christmas Is A Sad Season For The Poor karya JOHN CHEEVER dan pertama kali diterbitkan di jurnal The New Yorker pada tahun 1949.

>> JOHN CHEEVER adalah seorang penulis asal Amerika Serikat yang sering disandingkan dengan Anton Chekhov. Kumpulan cerita pendeknya, The Stories of John Cheever, telah memenangkan Penghargaan Pulitzer dan National Book Critics Circle Award. Tema-tema yang sering diangkatnya adalah dualitas kepribadian dalam diri manusia yang tak jarang saling berlawanan. Ia telah menulis puluhan novel dan kumpulan cerita pendek.

 

# POIN DISKUSI:

  1. Kesan apa yang kamu dapatkan saat membaca paragraf pembuka cerita?
  2. Kalau kamu bisa membayangkan karakter Charlie, seperti apa kira-kira bentuk fisik yang timbul dalam bayangan kamu?
  3. Kenapa Mrs. Gadshill memekik ketakutan ketika Charlie berusaha untuk mencandainya?
  4. Apa tanggapan kamu tentang ending cerita? Apakah kalian sempat menebak ending-nya akan seperti itu? Jelaskan.
  5. Dibandingkan dengan Pemberian Sang Magi karya O. Henry, apa pendapat kalian tentang cerita ini?

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

10 Comment on “Natal Adalah Hari Muram Bagi Orang Miskin

  1. Ping-balik: 3 Cara Membuat Cerita Pendek Anda Tetap Pendek | Indonovel.com

  2. Ping-balik: CERPEN = CERITA PENDEK | MY MAGICAL MYSTERY TOUR

  3. Ping-balik: 3 Cara Menjaga Agar Cerpen Anda Tetap Pende | Yuanita Erma Zakiya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: