Richard Bausch

 

– Apakah kau bahagia?

– Mmm.

– Aku sangat menikmatinya.

– Apakah kau menikmatinya?

– Aku senang.

– Aku sangat senang.

– Sudah berapa lama ini aku sangat menderita.

– Apa kau kepanasan?

– Sangat kepanasan.

– Apakah kau mencintaiku?

– Menurutmu?

– Apakah kau menikmati pengalaman kita barusan?

– Kau sangat lembut terhadapku.

– Lembut?

– Cuma itu? Lembut?

– Itu suatu pujian, Larry. Itu artinya kau lebih baik dari laki-laki pada umumnya. Kenapa sih kau selalu tidak percaya diri?

– Aku bukan tidak percaya diri. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku telah memuaskanmu.

– Kau memuaskanku.

– Hanya itu yang ingin kuketahui.

– Maksudku, pertanyaanku kan tidak rumit.

– Ya, ya, ya.

– Ellen?

– Apa?

– Tidak ada apa-apa.

– Ayo, katakan saja.

– Kalau menurutmu aku lebih baik dari yang lain, kenapa kau tidak bilang begitu dari awal?

– Apa kau sedang mengujiku?

– Oke, maaf. Aku hanya berharap kita bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama. Belakangan ini aku sungguh merana. Kau tak tahu apa rasanya.

– Kurasa aku tahu apa rasanya.

– Bukan maksudku untuk mengatakan bahwa kau tidak merana juga.

– Bagus.

– Tapi aku tidak bisa menahan emosi yang bergejolak dalam diriku. Aku dihantui rasa bersalah terhadap Janice dan anak-anak. Aku takut mereka akan melihat ketidakbahagiaan di wajahku. Aku sangat berharap bisa menemukan cara yang tepat untuk jujur terhadap Janice dan menyudahi pernikahan kami.

– Aku ingin bertemu denganmu lebih dari sekali seminggu.

– Larry, jangan.

– Aku tahu kau sibuk.

– Aduuh! Udah deh.

– Aku tahu tidak mudah bagimu untuk mencari waktu yang tepat. Maaf kalau aku terlalu menuntut.

– Larry, kenapa sih kau harus merengek seperti itu?

– Kan aku sudah minta maaf.

– Bisa tidak kita diam sebentar? Please?

– Maafkan aku.

– Apa kau merasa nyaman?

– Sudah kubilang aku nyaman.

– Baiklah.

– Aku serius, Larry. Bisa tidak kita memejamkan mata sebentar? Aku mengantuk. Aku sedang tidak ingin ngobrol.

– Belakangan ini kau jarang bicara denganku.

– Apa gunanya kita bicara?

– Kok kasar begitu?

– Soalnya setiap kali kita bicara, hanya itu-itu saja yang kita bicarakan. Kau selalu bercerita tentang betapa menderitanya dirimu, lalu betapa khawatirnya dirimu terhadap Janice dan anak-anak; dan aku bercerita tentang hidupku, tentang kesibukanku.

– Apa kau menyindirku?

– Aduuuuh!

– Aku juga serius, Ellen.

– Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Sungguh. Aku hanya ingin tidur sebentar. Boleh?

– Boleh.

– Aku sih tidak bisa tidur.

– Kenapa yakin sekali?

– Aku kenal tubuhku.

– Ellen?

– Apaaa?

– Tidak ada apa-apa.

– Apa?

– Tidak jadi. Konyol soalnya.

– Sudah, katakan saja. Aku juga tahu kau akan mengatakan sesuatu yang konyol.

– Tapi kau ingin tidur.

– Ayolah, Larry. Katakan.

– Apa yang ingin kau katakan?

– Bukan apa-apa sih. Cuma – aku hanya tidak mengerti – beda loh antara lembut, menyenangkan, dan berbeda dari laki-laki lain. Ketiganya memiliki arti yang tidak sama.

– Sudah kubilang konyol kan?

– Apa sih yang kau cari sebenarnya? Menurutku percintaan kita di ranjang baik-baik saja. Menyenangkan. Lembut. Semuanya. Selama dua bulan terakhir aku selalu datang kemari untuk menemuimu di hari Jumat. Tidak ada yang berubah. Mengerti?

– Heran, paranoid amat.

– Maaf.

– Tapi apa menurutmu aku seorang kekasih yang lembut atau menyenangkan?

– Duh, pilih deh salah satu. Itu jawabannya.

– Kau juga tidak terlalu jelas.

– Apa lagi yang harus dijelaskan?

– Sudah, lupakan.

– Apa-apaan sih kau ini?

– Aku cuma tanya. Dan jawabanmu rancu. Lembut dan menyenangkan itu dua hal yang berbeda.

– Apa sekarang kita sedang belajar menggunakan bahasa yang baik dan benar?

– Aku hanya ingin menjelaskan kepadamu bahwa itu dua kata yang berbeda—itu saja kok.

– Ampun deh! Kau lembut. Menyenangkan. Luar biasa. Mengguncang dunia. Aku sampai lupa surga-akherat.

– Puas?

– Ayolah. Apakah aku baru saja menyinggung perasaan pahlawanku?

– Jangan kelitiki aku.

– Segitu saja ketahananmu?

– Ellen, stop.

– Aku kan sedang mengelitikimu. Harusnya kau kegelian.

– Aku sedang tidak mood untuk bercanda. Berhentilah mengelitikiku.

– Oke.

– Dan jangan marah.

– Aku tidak marah.

– Maaf.

– Semua ini sangat konyol.

– Terserah apa katamu, Tuan.

– Kenapa kau jadi menyebalkan begitu?

– Ellen?
– Sayang, coba pikir deh. Sepertinya kita agak ketinggalan kereta kalau membicarakan apakah kehidupan seks kita ada masalah atau tidak sekarang.

– Oh, jadi kita punya masalah?

– Grrrrrr!

– Tidak ada istilah ketinggalan kereta kalau kita membicarakan tentang kehidupan seks.

– Bukan itu maksudku. Ampun deh. Tolong nyalakan sebatang rokok untukku.

– Lantas apa maksudmu?

– Tolong nyalakan sebatang rokok untukku.

– Tidak kusangka hari ini akan berakhir seperti ini.

– Aku hanya menyatakan apa yang ada dalam pikiranku.

– Ellen?

– Apa?

– Apa kau pernah membayangkan dia saat kita—sedang berduaan seperti ini?

– Hentikan, Larry.

– Sudah kukatakan. Aku hanya menyatakan apa yang ada dalam pikiranku.

– Kau sungguh konyol.

– Kenapa sih kau harus bawa-bawa dia?

– Kalau begitu kau memang masih memikirkan dia.

– Ini bukan film, Larry.

– Aku tahu.

– Kenapa kau bilang ini bukan film? Apa maksudmu?

– Entahlah. Lupakan saja.

– Menurutmu aku terlalu mendramatisir suasana?

– Tidakkah menurutmu reaksiku cukup normal? Mengingat situasi kita sekarang?

– Aku benar-benar tidak mau membahas hal ini.

– Oke, biar aku yang jujur. Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia.

– Kau? Kau memikirkan dia?

– Tentu saja.

– Saat kita—selagi kita—

– Setiap saat. Tentu saja.

– Ya Tuhan.

– Nyalakan sebatang rokok untukku.

– Memang kau serius tidak pernah memikirkan dia? Tidak sedetik pun?

– Dia tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku bahkan sulit mengingat wajahnya saat dia ada di sampingku.

– Dan kau tidak pernah—membandingkan?

– Membandingkan apa?

– Tidak apa-apa.

– Ya ampun, Larry.

– Jangan marah dong.

– Dengar, aku tidak pernah memikirkan dia. Oke?

– Di tahun-tahun awal pernikahan kalian, dia sering curhat kepadaku.

– Tentang apa?

– Ah, lupakan saja.

– Aduh, kau ini sedang membicarakan apa sih? Apa yang dia ceritakan padamu?

– Lupakan saja, oke? Bukan apa-apa.

– Kalau bukan apa-apa, untuk apa kau tutupi?

– Kau mau ke mana?

– Mau mengambil rokok.

– Biar aku yang ambil.

– Nih.

– Sekarang ceritakan padaku. Apa saja yang dia ceritakan kepadamu, Larry?

– Dia itu kan adikku. Pria juga sering membicarakan pengalaman seksual—ya pokoknya tentang seks lah.

– Maksudmu dia menceritakan kepadamu tentang semua yang kami lakukan berdua? Oh, Tuhan! Beri aku contoh.

– Sudahlah. Aku tidak mau mengungkitnya.

– Telat. Sekarang aku penasaran. Ayo, cerita.

– Jangan menangis.

– Aku tidak menangis. Ceritakan padaku.

– Dia—ya, pokoknya—dia bilang kau suka melakukan seks oral terhadapnya. Dan kau juga sangat … mudah terangsang.

– Mudah terangsang.

– Kau juga suka berteriak saat sedang—

– Ampuuuun. Ini baru lucu. Ini lelucon klasik.

– Larry?

– Ya?

– Kau sungguh brengsek—kau tahu itu?

– Aku tahu. Aku minta maaf. Kejadian itu sudah lama sekali. Dan seperti yang kubilang pria suka saling berbagi.

– Ya, tapi—oke, coba kutelaah lagi apakah pemahamanku benar. Dari apa yang diceritakan Joe terhadapmu … sekarang kau merasa bahwa aku sama sekali berbeda dengan apa yang kau harapkan. Begitu?

– Bukan itu! Kok jadi—

– Tapi itu kan yang ada dalam benakmu? Kau memikirkan apa yang diceritakan Joe terhadapmu?

– Entahlah.

– Semua laki-laki sama saja. Bajingan.

– Jangan gitu dong. Hanya karena aku dan adikku senang berbagi pengalaman bukan berarti kami bajingan.

– Apa kau tidak pernah berpikir bahwa Joe membohongimu? Bahwa jika dia sehebat yang dia ceritakan kepadamu mungkin aku takkan berpikir untuk selingkuh denganmu?

– Apa itu sebabnya kita—

– Wah, ini pembicaraan paling menarik dalam hidupku.

– Coba katakan padaku: menurut cerita yang kau dengar dari Joe, apa kira-kira yang bagimu belum kupenuhi?

– Hentikan, Ellen. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku bisa memuaskanmu seperti—ah, sudahlah. Lupakan.

– Tidak, tidak. Ini menarik, lho. Kau ingin tahu apakah kau sebaik Joe, kan?

– Aku hanya ingin memastikan bahwa aku bisa memuaskanmu. Apa aku salah?

– Dan semua ini tidak ada hubungannya dengan egomu sebagai laki-laki?

– Tolong jangan bawa-bawa isu feminis sekarang.

– Aku juga ingin tahu pendapatmu.

– Oke. Menurutku tidak ada hubungannya sama sekali dengan egoku sebagai laki-laki.

– Kau bahkan tidak bisa menilai apakah aku terpuaskan atau tidak saat kita sedang bercinta?

– Oke. Sebaiknya kita hentikan perdebatan ini.

– Lho, kan kau yang mengungkit semua ini. Kau yang merasa terganggu.

– Itu karena aku penasaran! Dan Joe adalah adikku.

– Sejak kapan kau jadi sentimental begini?

– Sentimental atau tidak—aku dan dia masih punya hubungan darah.

– Jangan pergi, Ellen. Please.

– Kapan terakhir kali kau berhubungan dengan adikmu? Toh kerjanya hanya – memerintahmu saja dan mengejekmu karena penghasilanmu jauh lebih kecil dari penghasilannya.

– Ingat tidak waktu aku tertarik pada segala hal yang ada hubungannya dengan astronomi dan tiba-tiba dia membelikanku sebuah teleskop dan kita mulai mengamati bintang-bintang di angkasa sambil membuat kalkulasi kita sendiri, mengikuti peredaran benda-benda terang yang bertebaran di langit luas? Ingat itu?

– Ya.

– Suatu malam aku mengamati alam semesta dengan teleskop tersebut dan aku mendadak sadar bahwa jarak antara bintang-bintang di angkasa sama dengan jarak antara aku dan dia. Masalahnya bukan terletak di hubungan seks kami. Karena saat itu hubungan percintaan kami baik-baik saja. Setidaknya itu yang kupikir.

– Baik-baik saja? Bukan lembut atau menyenangkan.

– Kau serius menanyakan hal ini padaku?

– Maaf. Itu hanya lelucon, Ellen. Kenapa kau tegang sekali sih?

– Aku ini tidak bercanda. Aku sedang berusaha menceritakan hal yang serius kepadamu. Tentu saja aku tegang.

– Kalau ini sebuah film, kurasa aku pasti akan berusaha mendorongmu untuk membunuh adikmu. Dan aku mau kau melakukannya seperti kecelakaan.

– Ya Tuhan.

– Kenapa tidak? Banyak pembunuhan seperti itu. Kita bisa seperti karakter di drama Hamlet.

– Cinta segitiga yang klasik.

– Hentikan.

– Hey, Larry. Aku kan cuma iseng. Aku bawel karena aku bahagia.

– Lagipula kenapa kau menikahinya?

– Karena aku mencintainya.

– Kau pikir kau mencintainya.

– Aku memang mencintainya.

– Oke. Maaf.

– Apa kau bisa memaafkanku?

– Aku tidak tahu orang macam apa kau pikir aku ini.

– Semua ini sungguh aneh bagiku. Dan aku tidak bisa berhenti memikirkan Joe.

– Maksudmu kau tidak bisa berhenti memikirkan apa yang Joe ceritakan kepadamu tentang diriku?

– Aku menyesal telah mengatakan itu kepadamu tadi. Aku tidak membicarakan hal itu sekarang.

– Kau juga membicarakan semua pengalaman seksualmu berasama Janice?

– Hentikan, Ellen.

– Ayo, ceritakan saja padaku. Beri aku contoh hal-hal apa lagi yang kau bicarakan dengan Joe.

– Entahlah. Waktu aku masih tinggal di Texas, Joe pernah mampir berkunjung. Usia pernikahan kalian baru setahun kalau tidak salah. Dia tampak senang. Dia menceritakan hal-hal yang kalian lakukan bersama. Tempat-tempat yang kalian kunjungi. Dari foto-foto yang dia tunjukkan kepadaku, kau juga tampak bahagia.

– Memang aku bahagia.

– Sudah sepuluh tahun kami menikah. Apa kau pikir selama itu aku merasa tersiksa?

– Aduh, Larry.

– Aku hanya merasa bersalah terhadap Joe.

– Dia bahagia. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Dia sibuk jalan-jalan. Dia sibuk bersenang-senang dengan para sahabatnya. Hidupnya diatur sesuai dengan seleranya. Kau tahu apa yang dia katakan kepadaku di ulangtahun pernikahan kami tahun lalu? Dia bilang dia tidak yakin apakah dia seratus persen heteroseksual seperti laki-laki lain. Coba bayangkan.

– Apa maksudnya?

– Dia tidak merasa tertarik terhadapku secara seksual. Dia sudah berbulan-bulan tidak menyentuhku. Apa harus kujelaskan semua ini secara detail? Kau mau kuceritakan bagaimana kehidupan seks kami sepuluh tahun lalu saat kami baru berusia 25 tahun?

– Tidak, jangan—ayolah. Maafkan aku. Jangan menangis.

– Aku tidak menangis.

Anyway, semua ini tidak ada hubungannya dengan Joe.

– Aku ingin berhenti membicarakan Joe.

– Kau yang menyebut-nyebut namanya tadi.

– Jangan marah dong. Please.

– Kalau gitu bisakah kau menikmati situasi kita apa adanya tanpa harus membahas sesuatu dengan berbelit-belit? Kau seperti orang depresi.

– Aku takut.

– Aku serius. Aku takut.

– Takut apa? Takut terhadap Joe? Dia sedang ada di luar kota dan takkan kembali sampai minggu depan.

– Aku takut terhadapmu.

– Rasanya aku seperti berada jauh darimu. Ada tembok tebal di antara kita. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu. Aku tidak tahu apa artiku untukmu.

– Kau lebih memilih aku meraung-raung dan mengatakan betapa aku tidak bisa hidup tanpamu?

– Itu maumu?

– Aku tidak tahu apa yang kumau. Kau itu seperti obat, dan aku tidak bisa melepasmu. Tapi kadang-kadang aku merasa—entah bagaimana aku mengekspresikan hal ini—seperti—kau bisa dengan mudah menyingkirkan aku.

– Aku sering merasa seperti itu.

– Kasihan sekali kau, Larry.

– Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.

– Sekarang kau juga menginginkan aku untuk memberikanmu keyakinan terhadap hubungan kita.

– Apa salahnya dengan mengatakan kepada seseorang bahwa kau mencintai mereka?

– Itu maumu?

– Lupakan saja.

– Aku serius. Tadi kita memperdebatkan isu apakah kau sama seksinya dengan Joe; atau lebih tepatnya apakah aku berpikir kau sama seksinya dengan Joe.

– Lupakan saja, oke?

– Apa kau takut mendengar jawabanku yang sebenarnya?

– Bukankah kau tadi sudah menjawabnya?

– Oke, kenapa kau setuju untuk berhubungan denganku dari awal?

– Semua ini terjadi begitu saja, Larry. Tidak ada perencanaan dari pihakku ataupun pihakmu.

– Bukankah begitu?

– Rasanya memang begitu.

– Lantas kenapa harus dipertanyakan?

– Tadi katamu kau mengamati bintang-bintang di langit lewat teleskop dan menemukan bahwa jarak di antara mereka—

– Apa kita akan terus membicarakan hal ini sepanjang malam?

– Kenapa kau belum menceraikan Joe?

– Aku mungkin akan melakukan itu. Suatu hari.

– Kenapa tidak sekarang?

– Apa kau mau aku melakukan itu?

– Apa itu maumu?

– Setelah itu, kemana aku harus pergi?

– Kau bisa pergi bersamaku.

– Aku sudah ada di sini bersamamu sekarang.

– Tapi kita bisa menikah, Ellen.

– Oh, please. Bisa tidak kita ganti topik pembicaraan kita? Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.

– Kau tidak percaya terhadapku?

– Memang tidak tega rasanya meninggalkan Janice dan anak-anak. Tapi rasanya aku siap. Kalau aku bisa hidup bersamamu, rasanya aku siap.

– Begitu ya? Kau rasa kau siap?

– Sebenarnya kau siap atau tidak?
– Kan sudah kubilang, rasanya aku siap.

– Kau sungguh menyebalkan. Plin-plan.

– Aku yakin aku siap.

– Ah, keyakinan.

– Kenapa kau harus sarkastik begitu sih, Ellen?

– Aku tahu, mari kita bicara tentang bintang-bintang di langit yang melintasi angkasa gelap. Mari kita bicara tentang planet Jupiter dan Mars, Larry.

– Kau sungguh sarkastik.

– Aku hanya ingin mengganti topik pembicaraan.

– Baiklah. Kita ganti topik pembicaraan kita.

– Kalau itu maumu. Kita ganti topik pembicaraan kita.

– Itu mauku.

– Apa yang mau kau bicarakan?

– Tunggu sebentar. Aku sedang berpikir.

– Luar biasa.

– Bisa kan kau tunggu sebentar?

– Ellen?

– Hmm.

– Apa kau pernah mengira kita akan berakhir di sini?

– Aku tidak pernah berpikir kita akan berakhir di sini. Kenapa nada bicaramu negatif sekali?

– Tapi kau tahu maksudku, kan?

– Oke, sayang. Ini jawabanku: aku tidak pernah mengira kita akan melakukan semua ini. Kau benar.

– Perasaanku juga begitu.

– Sekarang bisakah kita tidur sebentar?

– Maaf.

– Berhentilah meminta maaf. Kau orang paling bersalah yang kutahu. Sadarkah kau berapa kali sehari kau meminta maaf?

– Kau benar, sayang. Aku min—ya ampun. Mulai lagi.

– Aku sungguh menderita, Ellen.

– Ya Tuhan.

– Oke, aku takkan membicarakannya lagi.

– Kau janji?

– Aku janji, sayang. Sungguh.

– Terima kasih.

– Kurasa sebaiknya sebentar lagi aku pulang.

– Kurasa juga begitu.

– Sayang?

– Apa, Larry?

– Apa kau mencintaiku?

– Aku hanya ingin mendengarnya sekali saja.

– Sayang?

– Apakah kau tidak akan—?

– Ellen?

– Sayang, ayolah.

– Ellen?

2011 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Richard Bausch. Tidak untuk digandakan, dijual-beli, atau ditukar.

———————————————————————-

# CATATAN:

> Kisah ini diterjemahkan dari fiksi pendek bertajuk “Voices from the Other Room” karya RICHARD BAUSCH. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 dalam koleksi cerita pendek berjudul ‘The Stories of Richard Bausch’.

>> Richard Bausch adalah seorang novelis dan cerpenis asal Amerika Serikat yang berdomisili di Memphis, Tennessee. Beliau telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi dan menerbitkan 11 novel, 8 koleksi fiksi pendek, beberapa buku puisi serta prosa.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

7 Comment on “Bisikan Kekasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: