Perdebatan klasik yang menyandingkan novel dan cerita pendek seolah tak ada habisnya. Mana yang lebih baik: novel atau cerita pendek? Mana yang lebih sulit ditulis: novel atau cerita pendek? Mana yang lebih menjual: novel atau cerita pendek? Dan sederetan pertanyaan lain. Dua penulis kelas dunia, Tom Perrotta dan Simon Van Booy, yang berhasil menguasai kedua format penulisan tersebut dengan senang hati membagi pendapat mereka tentang novel dan cerita pendek—dalam wawancara eksklusif bersama Maggie Tiojakin. Selamat membaca!

 

——————————————————–

 

TOM PERROTTA adalah seorang novelis, cerpenis, dan penulis naskah film asal Amerika Serikat. Dua novelnya yang paling dikenal adalah Elections (1998) dan Little Children (2004)—masing-masing telah diadaptasi ke layar lebar. Cerpen-cerpennya telah diikutsertakan ke dalam berbagai antologi cerpen terbaik di AS. Di tahun 2006, ia mengadaptasi novelnya sendiri, Little Children, ke layar lebar (dibesut oleh Todd Field, dan diperankan oleh Kate Winslet dan Patrick Wilson). Naskahnya untuk Little Children dinominasikan sebagai naskah adaptasi terbaik di ajang piala Oscar di tahun yang sama. Saat ini, ia tengah mengadaptasikan novel terakhirnya, The Abstinence Teacher (2007), ke layar lebar bersama sutradara The Kids Are All Right, Lisa Cholodenko.

 

T: Selama 2-3 tahun terakhir, kumpulan cerpen banyak diperbincangkan sebagai genre fiksi yang cukup menjanjikan—baik itu menyangkut karya penulis yang sudah ada nama, ataupun mereka yang baru mulai naik daun. Tahun 2010 dikatakan sebagai tahun terbaik bagi cerita pendek, padahal lima tahun lalu semua orang masih menganggap cerita pendek sebagai bentuk tulisan yang paling sulit dijual. Sebagai penulis, apakah melonjaknya popularitas cerita pendek sesuatu yang sudah Anda antisipasi? Atau ini suatu kejutan?

Littlechildrengoldfish.jpg

J: Saat saya mulai menekuni bidang kepenulisan di tahun 1980an, Sastra Inggris di AS tengah mengalami periode renaisans yang menjuarai format cerita pendek. Salah satu tujuan utama cerita pendek adalah untuk memperkenalkan bakat-bakat baru, seperti Jhumpa Lahiri dan Junot Diaz yang mengawali karir mereka dengan kumpulan cerita pendek. Meski begitu, tidak banyak penulis yang bisa secara konsisten mempertahankan karir mereka hanya dengan menulis cerita pendek, dan beberapa di antaranya adalah Alice Munro, Raymond Carver serta Mavis Gallant. Sejauh ini, saya sungguh terkesima dengan peran cerita pendek yang tak pernah mengecil dari dekade ke dekade—padahal tuntutan pasar lumayan pasang-surut. Menurut saya, format cerita pendek masih bertahan sampai sekarang karena banyak sekali penulis muda yang mempertahankannya.

T: Sebagai seorang novelis, penulis naskah film, dan juga penulis cerita pendek—apa yang menurut Anda memisahkan cerita pendek dari naskah film atau novel-novel Anda?

J: Cerita pendek adalah format yang sangat menantang dan menuntut penulis untuk menulis dengan sempurna. Dalam karya yang lebih panjang, pembaca tidak menuntut terlalu banyak dari penulis, dan banyak kesalahan yang ditolerir. Namun format cerita pendek mengharuskan penulisnya untuk sama sekali tidak membuat kesalahan. Secara pribadi, saya lebih suka menulis novel, karena saya ingin memberi ruangan yang cukup bagi karakter saya untuk bergerak; dan saya senang menghabiskan banyak waktu untuk mengenal mereka, dan biasanya hal itu terjadi saat saya sedang menjelaskan siapa mereka dengan panjang lebar. Dengan cerita pendek, rasanya tidak ada bagian ‘tengah’—yang ada hanya ‘awal’ dan ‘akhir’. Karena itu cerita pendek menghadirkan pengalaman yang memukau. Luar biasa.

SIMON VAN BOOY adalah seorang cerpenis dan novelis asal Inggris. Ia telah menerbitkan dua buku kumpulan cerpen, The Secret Lives of People In Love (2007) dan Love Begins In Winter (2009). Kumpulan cerpen terakhirnya sukses memenangkan penghargaan utama dari kompetisi paling bergengsi di dunia penulisan cerpen, The Frank O’Connor International Short Story Award 2009. Novel pertamanya direncanakan terbit tahun ini.

T: Apa menurut Anda cerita pendek mempunyai kapasitas lebih besar untuk menembus batasan kultur bila dibandingkan dengan novel?

J: Sebagai bentuk tulisan fiksi, cerita pendek mungkin tidak bisa memuat banyak informasi budaya yang biasa dihadirkan dalam novel; tapi cerita pendek memiliki daya tarik yang jauh lebih besar bagi pembaca—sama seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.

T: Bagaimana Anda memilih antara ide yang lebih cocok dituangkan ke dalam format cerita pendek dan mana yang lebih cocok untuk novel?

J: Saya rasa setiap cerita punya ‘trayek’-nya masing-masing. Sejauh ini, ide-ide yang terpikir oleh saya lebih cocok dituangkan ke dalam bentuk cerita pendek. Karena itu, ketika Harper Perennial meminta saya untuk menulis novel, saya harus menunggu sampai ide cerita yang saya miliki sudah cukup berkembang untuk dijadikan novel. Bahkan beberapa cerita dalam pikiran saya tidak punya bentuk yang pasti.

T: Cerita seperti apa yang menurut Anda bagus?

J: Cerita yang bagus tidak akan pernah terlupakan.

2011 © Hak Cipta. Fiksi Lotus, Tom Perrotta, dan Simon Van Booy. Tidak untuk dijual-beli, digandakan, ataupun ditukar.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

9 Comment on “Tom Perrotta & Simon van Booy: Novel vs. Cerpen

  1. Ping-balik: 5 Blog Yang Layak Dikunjungi Oleh Penulis Fiksi — indonovel.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: