Robin Black adalah seorang cerpenis asal Amerika Serikat yang kumpulan cerpennya, ‘If I Loved You, I Would Tell You This’ (Random House, 2010) telah diikutsertakan ke dalam daftar ‘Buku Terbaik’ berbagai publikasi bergengsi. Karya-karyanya telah diterbitkan di One Story, Bellevue Literary Review,  Alaska Quarterly Review, dan masih banyak lainnya. Buku ini tersedia di toko-toko buku terdekat Anda di Jakarta, seperti Kinokuniya, Times Bookstore, dan Aksara. Berikut adalah perbincangan eksklusif beliau bersama Maggie Tiojakin. Selamat menikmati!

_______________________________________________________

Q: Pertama, selamat atas terbitnya buku ‘If I Loved You, I Would Tell You This’ yang mendapatkan review luar biasa dari para pembaca serta kritikus sastra. Koleksi ini benar-benar hebat! Dan terima kasih juga karena telah bersedia untuk berbincang dengan Fiksi Lotus. Pertanyaan pertama yang hendak saya tanyakan adalah, ‘Kenapa memilih format fiksi pendek’? Sebagian besar penulis memilih untuk memulai karir mereka dengan sebuah novel, dan bukannya kumpulan cerita pendek (kumcer) – dan sebagian besar kumcer yang diterbitkan penulis baru juga biasanya cepat terlupakan karena ‘kalah saing’ dengan kumcer klasik. Apa yang mendorong Anda untuk memulai karir dengan kumcer?

Terima kasih banyak atas pujiannya terhadap buku saya dan untuk mengikutsertakan saya dalam situs Fiksi Lotus. Saya merasa sangat terhormat. Senang sekali rasanya bisa berbagi pikiran serta karya dengan pembaca dari seluruh dunia. Bahwa saya bisa menjembatani jarak yang terbentang antara tempat di mana saya berada dan bagian-bagian dunia lain melalui sebuah karya tulis adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.

Untuk menjawab pertanyaan Anda, saya sebenarnya tidak pernah berniat untuk memulai karir saya dengan kumcer. Tadinya saya hanya menulis cerita pendek secara eceran, untuk diterbitkan di jurnal-jurnal sastra. Butuh proses bertahun-tahun sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menerbitkan sebuah buku. Terus terang, bahkan selama 8 tahun sejak saya merintis karir saya sebagai seorang cerpenis, saya tidak pernah terpikir untuk menulis sebuah novel. Saya rasa banyak penulis yang merasakan hal yang sama setelah mereka mengikuti workshop pelatihan; karena sulit sekali melatih seseorang untuk menulis novel, meski itu bukan hal yang mustahil.

Namun, bagi saya pribadi, impuls yang saya rasakan untuk menulis cerita tidak terbendung oleh satu bentuk naratif yang benar-benar memukau saya sebagai seorang penulis. Yang saya rasakan justru suatu dorongan untuk menggambarkan dunia sebagaimana adanya—ini yang memicu saya, bukan cerita tertentu. Selama puluhan tahun saya telah mengingat dan mengolah pengamatan dan teori saya tentang bagaimana manusia berinteraksi dan saya ingin mengeksplorasi semua situasi tersebut di atas kertas.

Q: Ada suatu perdebatan tentang keahlian dan sifat alami cerpenis dan novelis. Beberapa orang beranggapan bahwa seorang novelis tidak begitu bisa menulis cerpen, dan juga sebaliknya. Apakah Anda setuju dengan pandangan ini?

Saya sering sekali ditanya hal seperti ini, dan jawaban saya selalu sama: setiap orang berbeda—dan setiap orang bisa berubah. Saya yakin banyak penulis yang merasa mereka nyaman menulis dalam format A, namun harus berjuang dengan format B. Tapi banyak juga penulis yang bisa menyeimbangkan keahlian mereka dalam menguasai kedua format dengan luwes dan indah.

Satu hal yang menurut saya sangat menantang tentang penulisan novel sifatnya psikologis dan bukan teknik. Saat menulis novel, biasanya perasaan ‘komplit’ itu akan datang lama sekali sejak proses penulisan dimulai. Tapi dengan cerita pendek, meskipun satu cerita bisa memakan waktu penulisan setahun, saya masih bisa mengantisipasi ‘akhir’-nya di depan mata saya. Dari apa yang saya pelajari, penulisan novel bisa makan waktu bertahun-tahun. (Bahkan lebih dari itu.) Dan terkadang sulit bagi seorang penulis untuk melanjutkan karyanya jika garis finish-nya terlalu jauh.

Namun, terkait dengan teknik pengerjaannya, saya akui bahwa saat saya pertama berusaha menulis novel, saya merasa seperti seorang penyendiri yang tiba-tiba dipaksa tinggal di dalam istana luas. Saya tidak bisa membayangkan  apa yang harus saya lakukan dengan ruangan sebesar itu.

Sebelumnya, saya tidak pernah merasa dibatasi oleh format cerita pendek, dan saya selalu bisa menyampaikan semua pesan yang ingin saya sampaikan dalam format cerita  pendek. Jadi tantangan saya sebagai cerpenis untuk mulai menulis novel adalah bagaimana menavigasi insting saya untuk lebih luas, lebih detail, dan lebih teliti—meski sekarang saya merasa lebih nyaman dengan semua unsur-unsur ini.

Q: Sebagai seorang dosen, apa yang menurut Anda membedakan cerita bagus dan cerita luar biasa?

Jawaban pertama dari pertanyaan ini adalah semua jawaban benar. Apa yang membuat sebuah cerita luar biasa, atau bahkan memadai, tidak sama bagi setiap orang. Apa yang bagus untuk saya, belum tentu bagus untuk orang lain. Ini yang kami pelajari sebagai penulis saat mengirimkan karya kami ke jurnal, majalah, atau penerbitan lainnya. Apa yang ditolak satu penerbitan, belum tentu ditolak penerbitan lain. Hal yang sama juga dapat saya temui di dalam komentar online para pembaca tentang buku saya—ada yang suka, ada yang tidak. Untungnya tidak ada konsensus dalam dunia tulis-menulis.

Tapi secara pribadi, unsur yang bisa membuat cerita bagus jadi luar biasa adalah suatu faktor insting di dalam cerita itu sendiri yang memiliki kapasitas untuk hidup di luar kertas. Sebuah cerita yang baik sanggup untuk menyeret pembaca ke dalam dunianya; tetapi cerita yang luar biasa memiliki kemampuan untuk hidup di dalam benak pembacanya selama bertahun-tahun, bahkan selamanya. Saya sering bertanya-tanya apakah elemen penulisan bisa diajarkan terhadap seseorang, karena rasanya mustahil mengajarkan seseorang bagaimana caranya untuk jadi bijaksana, atau bagaimana membuat koneksi antara hal yang sifatnya spesifik dan hal yang sifatnya universal. Hal ini sudah harus dimiliki si penulis sejak lahir.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya sadar bahwa memang mungkin untuk mengajar penulis bagaimana caranyamembuka mata mereka terhadap pentingnya menulis cerita yang bisa menjadi sarana reflektif bagi para pembaca; dan bahwa mungkin untuk mengingatkan para penulis pemula untuk memperhatikan dengan seksama kenapa cerita yang ingin mereka tulis itu penting untuk dibagi dengan pembaca agar pesan yang ingin mereka sampaikan tidak hilang di tengah jalan.

Seringkali, setelah saya mengarahkan para penulis pemula untuk memfokuskan ide cerita mereka agar bisa menjadi sarana reflektif yang sifatnya universal, lama-kelamaan mereka dapat melakukannya sendiri tanpa perlu bimbingan saya. Mereka memberikan gravitasi terhadap karya mereka, bahkan dalam karya-karya humor dan ringan sekalipun.

Intuisi seorang penulis yang mengatakan bahwa suatu cerita pantas untuk diceritakan hampir selalu terkait dengan insting yang mengatakan bahwa cerita tersebut punya potensi untuk menjadi sesuatu yang penting bagi orang lain.

Q: Anda menerbitkan debut kumcer yang luar biasa di usia 40an. Ada orang yang mengatakan bahwa penulis menghasilkan karya terbaik mereka di usia 30an. Menurut saya, karya sastra tidak pandang umur; namun banyak sekali penulis yang menyerah sebelum mereka mencapai usia 40. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Terima kasih karena menyebut kumcer saya luar biasa! Saya sangat menghargainya.

Menurut saya konyol sekali untuk mematokkan usia tertentu bagi penulis untuk menghasilkan karya terbaik mereka. Artikel-artikel yang pernah saya baca, yang membuat argumen serupa, biasanya buta terhadap contoh-contoh yang menentang pendapat mereka. Saya pikir sama konyolnya bagi siapapun untuk menuding penulis yang menunggu hingga umur 40an untuk menghasilkan karya tulis sebagai orang yang ‘beruntung’ karena kami punya lebih banyak cerita atau telah mendapatkan perspektif yang lebih bijaksana dibanding para penulis muda.  Untuk beberapa penulis, hal itu mungkin benar adanya; tapi banyak sekali penulis muda di luar sana yang telah menghasilkan karya luar biasa tanpa harus bersandar pada ‘keuntungan’ usia.

Bagi saya, terlepas dari kapan mereka melakukannya, saat penulis menyerah adalah saat yang menyedihkan. Karena itu artinya impuls mereka untuk menulis, untuk mengekspresikan diri, untuk menjadi kreatif telah dihancurkan oleh hasrat mereka untuk ‘sukses’ – dan biasanya kesuksesan ini diukur dari perbitan karya mereka dalam forum tertentu (publikasi/penerbit bergengsi, penghargaan, dll.) Memang sangat sulit untuk menekuni dunia penulisan tanpa ada validasi eksternal – dulu saya sering menangis karena karya saya belum ada yang diterbitkan – jadi saya mengerti sekali kenapa banyak penulis memilih untuk menyerah. Menyerah adalah respon yang logis. Tapi saya tetap berharap para penulis bisa memulai karir mereka dengan objektif bahwa proses menulis bisa membantu mereka untuk mengolah kehidupan mereka; bahwa menulis bisa memberikan mereka tujuan kreatif—dan jika mereka sanggup berpegang teguh pada aspek-aspek ini, mereka takkan mudah dijatuhkan oleh respon-respon komersil yang mereka temui.

Sesungguhnya, usia bukan faktor dunia tulis-menulis; tapi saya sering sekali berusaha meyakinkan teman-teman dan siswa-siswi saya untuk terus menekuni bidang ini di tengah bombardir pesan media yang mengatakan ‘lebih muda, lebih baik’. Selain itu, banyak penghargaan yang diberikan khusus bagi penulis yang berusia di bawah 40, atau di bawah 35, atau di bawah usia tertentu hingga menerapkan pandangan bahwa pada usia sekian seorang penulis harus ‘sudah berhasil’. Kesan yang timbul dari fenomena yang disayangkan ini adalah bahwa penulis seperti saya, yang ‘terlambat’ memulai karir kami, adalah orang-orang yang tidak beruntung.

Tapi diskriminasi usia bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dilewati para penulis. Semua penulis, terlepas dari usia mereka, biasanya harus melewati perjuangan besar untuk diterbitkan, dikenali, apalagi disukai. Jadi kenapa tidak sekalian saja berteriak sekeras-kerasnya? Anda bisa melakukan ini di usia 50 atau 15, ya kan?

Terima kasih, Robin!  Sukses selalu!

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

2 Comment on “Robin Black: “Berteriaklah Sekeras Mungkin!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: