Walter De La Mare

Ketujuh anak tersebut—Ann, Matilda, James, William, Henry, Harriet, dan Dorothea—kemudian pindah ke rumah nenek mereka, Oma. Rumah tinggal Oma sudah sangat tua, dibangun di masa keemasan pemerintah Inggris periode 1714-1830. Bangunannya tidak indah, tapi memiliki banyak sekali ruangan, dengan struktur megah dan berbentuk segi empat; sebatang pohon elm berdiri di pekarangan dengan dahan terjulur ke arah jendela rumah.

Ketika anak-anak itu turun dari taksi (lima orang duduk di kursi belakang, sementara dua lainnya di samping pengemudi) mereka segera diajak masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan Oma. Sampai di dalam, mereka berdiri berjajar di hadapan Oma yang tengah duduk di dekat jendela. Oma menanyakan nama masing-masing anak, lalu mengulang setiap nama dengan suara lembut dan sedikit bergetar. Kepada salah satu cucunya, Oma memberikan sebentuk kotak peralatan; kepada William sebilah pisau lipat; kepada Dorothea sebuah bola berwarna—hingga semuanya mendapat ‘hadiah’ yang sesuai dengan usia mereka. Lalu ia mengecup semua cucunya dari yang paling tua hingga muda.

“Sayangku,” kata Oma. “Aku ingin sekali melihat kalian hidup riang-gembira di rumah ini. Oma sudah tua, karenanya tidak bisa mengajak kalian bermain; tapi kakak kalian—Ann—akan menjaga kalian, bersama Mrs. Fenn. Setiap pagi dan malam kalian harus datang kemari untuk menemuiku, membawa seutas senyum yang mengingatkanku pada putraku, Harry. Tapi setelah kalian menemuiku, dan setelah kalian menyelesaikan pelajaran kalian di sekolah, Oma memberi kebebasan bagi kalian untuk melakukan apa saja yang kalian mau. Hanya ada satu hal yang perlu kalian ingat: di sebuah kamar kosong di atas, yang menghadap ke genteng rumah, ada sebentuk peti kayu yang terpojok di sudut ruangan. Peti itu usianya lebih tua dari Oma, anak-anak—jauh lebih tua. Bahkan lebih tua dari nenekku. Jangan main-main di dekat situ. Kalian boleh main di mana saja, asal tidak di sana.” Oma berbicara dengan nada lembut dan penuh senyum; tapi beliau sungguh renta, dan matanya seakan tak bisa melihat dunia ini.

Pertamanya, ketujuh anak itu terlihat sedih dan tak bergairah tinggal di rumah Oma; tapi lama-lama mereka mulai betah dan tak jarang memenuhi rumah tersebut dengan gelak tawa. Banyak sekali hal-hal yang menarik perhatian mereka di sana karena semua tampak begitu baru bagi mereka. Dua kali sehari, setiap pagi dan malam, mereka menghampiri Oma di ruang yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Setiap hari, Oma tampak semakin renta dan lemah, dan beliau banyak bercerita tentang ibunya, juga masa kecilnya. Lalu, tak lupa beliau memberikan manisan kepada semua cucunya. Waktu pun berlalu selama berminggu-minggu dengan cara yang sama.

Suatu hari, menjelang malam, Henry naik ke lantai atas seorang diri untuk melihat peti kayu yang disebut Oma ketika ia pertama datang ke rumah tersebut bersama kakak-adiknya. Ia menekan jemarinya ke atas ukiran kayu petiyang menggambarkan kembang serta buah-buahan, lalu ia berbicara dengan beberapa bentuk ukiran yang menyerupai wajah anak-anak tersenyum di sudut peti. Kemudian, seraya menoleh ke kiri dan kanan, Henry membuka pintu peti dan menjulurkan kepala ke dalam. Namun, peti itu tidak menyimpan harta benda, tak ada bongkahan emas ataupun pernak-pernik lainnya yang menarik perhatian, meski dasarnya dialasi oleh kain sutera berpola kembang, yang menguarkan harum semerbak ala potpourri. Dan ketika Henry masih sibuk mengecek isi peti, ia mendengar gelak tawa halus dan denting gelas porselen dari kamar bermainnya di lantai bawah; sementara di luar jendela, dilihatnya hari telah semakin gelap. Maka ia masuk ke dalam peti, dan perlahan-lahan tutupnya merapat di atas Henry.

Ketika keenam anak lain telah lelah bermain, satu per satu mereka masuk ke dalam kamar Oma untuk mengucapkan selamat malam dan menerima manisan yang biasa diberikan kepada mereka di akhir pertemuan. Diterangi oleh cahaya lilin yang temaram, wanita renta itu menatap lekat-lekat ke arah para cucunya yang tengah berbaris rapi di hadapannya, seolah ragu. Keesokan harinya, Ann melaporkan kepada beliau bahwa Henry tidak bisa ditemukan meski sudah dicari ke mana-mana.

“Ya ampun, Nak. Kalau begitu dia pasti sedang pergi ke suatu tempat untuk sesaat,” kata Oma. Ia terdiam. “Tapi kalian harus terus ingat untuk tidak bermain-main di dekat peti kayu seperti yang pernah kukatakan.”

Tetapi Matilda tidak bisa melupakan saudaranya, Henry. Ia tidak bisa bermain tanpa saudaranya tersebut. Karena itu, ia pun mengelilingi seisi rumah seraya berusaha mengetahui keberadaan Henry. Sambil memeluk sebentuk boneka kayu, ia bernyanyi pelan dan membayangkan di mana Henry berada. Suatu pagi, ia menilik ke dalam peti kayu di sebuah ruangan kosong di lantai atas dan disambut oleh harum wewangian bunga. Terpicu oleh misteri yang membuatnya penasaran, ia pun mengajak bonekanya masuk ke dalam peti seperti yang dilakukan Henry sebelumnya.

Maka hanya tinggal Ann, James, William, Harriet dan Dorothea yang tersisa dari ketujuh cucu Oma. Mereka masih asyik main bersama. “Suatu hari mungkin mereka akan kembali pada kalian, Sayangku,” kata Oma dengan sabar. “Atau mungkin kalian yang akan menghampiri mereka. Yang penting kalian terus mengikuti anjuranku tentang peti tua itu.”

Di antara kelima anak-anak yang tersisa terbentuk tiga kelompok: Harriet dan William yang pura-pura berlaku sebagai pasangan sejoli; James dan Dorothea yang gemar berpetualang dan tak jarang pura-pura memancing, berburu, serta bertarung; dan Anna yang senang menyendiri, membaca buku…

… Lanjutan kisah ini dapat dibaca di buku FIKSI LOTUS: Vol. 1 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang tersedia di toko-toko buku terdekat, atau beli secara online di sini.

Akses RESENSI “Teka-Teki: Antara Teror dan Misteri” di sini.

——————————

#CATATAN:

> Kisah ini bertajuk “THE RIDDLE” karya Walter De La Mare. Pertama kali diterbitkan dalam kumpulan cerita pendek bertajuk “The Riddle and Other Stories” terbitan Alfred A. Knopf, 1923.

>> WALTER DE LA MARE adalah seorang penyair, penulis cerita pendek, dan novelis asal Inggris yang juga dikenal dengan nama pena Walter Ramal. Ia dikenal sebagai penulis cerita-cerita horor serta misteri.

Hak Cipta © 2010. Fiksi Lotus dan Walter De La Mare.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

4 Comment on “Teka-Teki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: