Joe Hill

Sebuah keluarga yang terdiri dari seorang pria, wanita, dan bocah laki-laki masuk untuk melihat-lihat. Saat itu belum lagi petang, matahari masih tinggi menggagahi bumi. Mereka adalah pengunjung pertama hari itu, dan bukan tidak mungkin satu-satunya pengunjung hari itu (museum tersebut memang tidak pernah seramai museum lain)—karenanya Alinger punya banyak waktu luang untuk memandu tamu-tamunya keliling museum.

Ia menemui mereka di ruang kedatangan. Sang Ibu berdiri dengan satu kaki masih berada di luar ambang pintu, seolah ragu untuk masuk lebih jauh ke dalam gedung itu. Ia melemparkan tatapan canggung ke arah suaminya, penuh keraguan. Sang Ayah malah membalas dengan kerutan dahi, seolah meremehkan keraguannya. Dengan kedua tangan, sang Ayah menggamit kerah overcoat yang ia kenakan, ragu apakah sebaiknya ditanggalkan atau tetap dikenakan saja di dalam museum. Alinger sudah pernah menyaksikan keraguan yang sama diekspresikan oleh ratusan pengunjung lain. Begitu mereka tiba di ruang kedatangan dan berkesempatan untuk celingak-celinguk lebih dalam, mereka biasanya mulai ragu. Interior museum yang gelap dan suram mengingatkan mereka akan rumah duka, membuat setiap pengunjung bertanya-tanya apakah mereka ada di tempat yang benar, apakah tidak lebih baik jika mereka keluar dari sana. Hanya si bocah laki-laki yang tampak santai tanpa beban, menanggalkan jaket yang ia kenakan, dan menyangkutkannya di salah satu gantungan khusus untuk anak-anak yang terpatri di dinding ruangan.

Sebelum para tamunya itu pergi, Alinger berdehem untuk menarik perhatian mereka. Tidak ada tamu-tamunya yang pernah pergi apabila mereka sadar kehadirannya telah diketahui oleh pengelola museum; dalam peperangan batin antara tatakrama dan keraguan psikis, biasanya tatakrama selalu menang. Alinger melipat kedua tangan dan tersenyum ke arah para tamunya, berharap senyumannya itu mampu meyakinkan mereka agar mau berkeliling museum. Namun, efek yang diharapkan justru berbalik. Alinger bertubuh kurus tinggi, persis tengkorak, dengan tinggi badan di atas dua meter. Pelipisnya mengkerut ke dalam dan dibayangi oleh usia. Giginya kecil, keabuan, dan tampak seolah telah ditata sedemikian rupa agar terjajar rapi. Usianya lebih dari delapan puluh tahun. Sang Ayah mundur selangkah. Sang Ibu secara refleks menggamit tangan putranya.

“Selamat pagi,” sapa si pengelola museum. “Nama saya Dr. Alinger. Silakan masuk.”

“Oh—halo,” balas Sang Ayah. “Maaf mengganggu.”

“Tidak sama sekali. Kami buka, kok.”

“Benarkah? Oh, bagus!” kata Sang Ayah dengan antusiasme yang dibuat-buat. “Jadi bagaimana kami harus—” suaranya mendadak menghilang, dan ia terdiam; entah dia lupa apa yang tadinya ingin diucapkan, atau ia tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan, atau ia tidak punya keberanian untuk berbicara lebih lanjut.

Akhirnya, istrinya terpaksa mengambil alih pembicaraan. “Kami dengar Anda sedang menyelenggarakan pameran di sini? Bukankah ini museum ilmu pengetahuan?”

Alinger tersenyum lagi, dan kelopak mata bagian kanan sang Ayah mulai berkedut.

“Ah, Anda salah dengar,” ujar Alinger. “Kalian berharap mengunjungi museum of science (museum ilmu pengetahuan). Ini adalah museum of silence (museum keheningan).”

“Hmm?” celetuk sang Ayah.

Sang Ibu bingung. “Rasanya pendengaran saya masih belum benar.”

“Ayolah, Bu,” kata sang bocah laki-laki dengan tidak sabar seraya menarik tangannya agar bebas dari genggaman sang Ibu. “Ayo, Yah. Aku mau lihat-lihat.”

“Silakan,” kata Alinger, menjauh dari ruang kedatangan, mempersilakan tamu-tamunya supaya melangkah lebih jauh ke dalam, tangannya yang kurus dan jemarinya yang panjang mengarah pada ruangan berikutnya. “Saya dengan senang hati akan memandu Anda.”

Semua tirai dibiarkan tergerai menutupi jendela, dan dindingnya terbuat dari lapisan kayu mahogani yang gelap, hingga ruang pameran museum tersebut tampak suram seperti teater bioskop sebelum film diputar. Meski begitu, setiap kotak peraga diterangi oleh pencahayaan lampu spotlight yang dipasang di langit-langit ruangan dan sengaja difokuskan kepada masing-masing obyek pameran. Di atas meja dan undakkan kayu terdapat tudung kaca yang rutin dibersihkan hingga terlihat jernih, sementara bohlam lampu spotlight bersinar begitu terang sampai-sampai di sekeliling mereka suasana tampak semakin gelap.

Setiap tudung kaca ditemani oleh sebentuk stethoscope dengan diafragma yang lekat langsung ke permukaan kaca, direkatkan oleh lem bening. Sementara bagian yang digunakan untuk mendengar tergeletak begitu saja, menunggu pelanggan. Si Bocah berjalan paling depan, diikuti oleh kedua orangtuanya, lalu Alinger. Langkah mereka terhenti di hadapan obyek pameran yang pertama, sebuah toples kaca yang terletak di atas undakkan keramik, tidak jauh dari ruang kedatangan, menyambut langkah para tamu.

“Tidak ada apa-apa dalam toples itu,” kata si Bocah, yang kemudian melihat ke kiri dan kanan, melakukan survey terhadap seisi ruangan. “Tidak ada apa-apa di dalam semua tudung kaca yang ada di sini. Kosong.”

“Ha,” celetuk sang Ayah, berusaha melucu.

“Tidak sekosong yang Anda bayangkan,” kata Alinger. “Setiap toples kaca yang Anda lihat telah disegel seerat mungkin agar tak ada udara yang masuk ataupun keluar. Setiap toples berisi nafas terakhir seseorang. Saya memiliki koleksi terbesar ‘nafas terakhir’ di dunia, lebih dari seratus nafas. Beberapa toples ini bahkan menampung nafas terakhir dari sejumlah figur ternama.”

Mendengar itu, sang Ibu tertawa: tawa geli sungguhan, bukan tawa palsu. Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan untuk meredam gelegak tawanya, tubuhnya bergetar, tapi tetap saja tawanya mengalir bebas. Alinger tersenyum. Sudah tahunan ia menunjukkan koleksi uniknya tersebut. Ia sudah terbiasa menanggapi segala macam reaksi pengunjung.

Berbeda dengan kedua orangtuanya, si Bocah justru tertarik terhadap toples yang terletak di hadapannya, matanya nanar menatap permukaan kaca yang bening itu. Dia mengangkat alat untuk mendengar dari samping toples yang bentuknya mirip stethoscope, tapi bukan.

“Apa ini?” tanya si Bocah.

“Namanya deathoscope,” kata Aliner. “Alat yang sangat sensitif. Kau boleh menggunakannya kalau kau mau, dan kau bisa mendengarkan nafas terakhir William R. Sied.”

“Apakah dia orang terkenal?” tanya si Bocah.

Alinger mengangguk. “Untuk sesaat dia bisa dianggap sebagai selebriti…sama seperti para pelaku kejahatan kadang-kadang bisa jadi terkenal. Sumber kemarahan dan kekaguman publik. Empat-puluh-dua-tahun lalu ia duduk di kursi listrik. Saya sendiri yang menerbitkan sertifikat kematiannya. Makanya ia mendapatkan tempat kehormatan di dalam museum saya. Nafas dia adalah nafas terakhir pertama yang pernah saya simpan.”

Di saat ini, sang Ibu sudah berhenti tertawa, meski ia menekan selembar sapu tangan yang sudah digumpal-gumpal di atas bibirnya, seakan sedang menahan diri agar tawa yang sama tidak menyelinap keluar.

“Perbuatan apa yang dilakukan William R. Sied?” tanya si Bocah.

“Mencekik anak-anak,” kata Alinger. “Kemudian menyimpan mayat anak-anak itu di dalam mesin pendingin, agar dia bisa leluasa mengeluarkan mereka kapan saja dia mau untuk dipajang. Saya selalu bilang, manusia bisa mengkoleksi apa saja.” Alinger berjongkok agar berada pada level yang sama dengan si Bocah, dan bersama-sama mereka melihat ke dalam toples kaca tersebut. “Dengarkan saja kalau kau mau.”

Si Bocah mengangkat deathoscope dan mengenakannya di telinga, sementara matanya menatap ke arah toples kaca tanpa berkedip. Cahaya membuncah dari dalam toples. Ia mendengarkan dengan seksama, lalu alisnya saling bertaut, dahinya berkerut.

“Aku tidak bisa mendengarkan apa-apa.” Bocah itu mengangkat tangannya untuk melepas deathoscope.

Alinger menghentikan gerak tangan si Bocah. “Tunggu,” ujarnya. “Ada beragam macam keheningan di dalam toples ini. Hening cangkang binatang laut. Hening yang datang setelah tembakan pistol. Nafas terakhirnya masih ada di sini. Telingamu butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Dalam sekejap, kau pasti bisa mendengarkan nafas terakhir William R. Sied. Akhir dari hidup yang unik.”

Si Bocah menundukkan kepalanya dan memejamkan mata agar dapat lebih khusyuk mendengarkan nafas terakhir di dalam toples kaca. Ketiga orang dewasa yang mengelilinginya menatap waswas.

Kemudian, bocah itu membuka matanya lebar-lebar dan mengangkat wajahnya ke atas. Ekspresinya menghantarkan arus kegembiraan luar biasa.

“Apakah kau mendengarnya?” tanya Alinger.

Si Bocah menarik deathoscope dari telinganya. “Seperti orang cegukan, tapi terbalik. Seperti—” Ia berhenti dan menarik napas pendek, tajam, tanpa suara.

Alinger mengacak rambut bocah itu dengan bangga, lalu bangkit berdiri.

Sang Ibu menekankan permukaan sapu tangan yang tergumpal di atas matanya. “Anda juga seorang dokter?” tanyanya tiba-tiba.

“Sudah pensiun,” jawab Alinger.

“Tidakkah menurut Anda hal ini melawan teori ilmu pengetahuan? Walaupun Anda berhasil menyimpan hembusan karbon monoksida terakhir dari nafas seseorang—”

“Karbon dioksida,” koreksi Alinger.

“Tetap saja zat itu takkan menghasilkan suara. Tidak ada orang yang bisa menyimpan ‘suara’ nafas terakhir manusia manapun.”

“Betul,” ujar Alinger menyetujui. “Tapi bukan suara yang tersimpan di sini, melainkan kesunyian. Kita semua memiliki jenis kesunyian yang berbeda-beda. Tidakkah suami Anda memiliki kesunyian yang berbeda saat ia bahagia, dan saat ia marah terhadap Anda, Nyonya? Telinga Anda bisa membedakan secara spesifik macam-macam kesunyian yang ada di dunia.”

Wanita itu tidak suka dipanggil ‘Nyonya’, maka ia menyipitkan matanya ke arah Alinger, dan baru saja hendak membuka mulut untuk menyahuti ucapan laki-laki tua tersebut, ketika mendadak suaminya menyerobot pembicaraannya dan membuat Alinger berbalik badan memunggungi sang Ibu. Ternyata, suami wanita itu telah berdiri di hadapan sebuah toples di atas meja yang merapat di dinding, tepat di samping sofa bernuansa gelap.

“Bagaimana Anda bisa mengumpulkan nafas-nafas ini?”

“Dengan alat aspirator,” kata Alinger. “Bentuknya seperti pompa kecil yang digunakan untuk menarik hembusan udara dari tubuh seseorang dan memasukkannya ke dalam wadah vacuum. Saya selalu membawa alat ini di dalam tas kerja saya, siapa tahu dibutuhkan. Alat ini saya desain sendiri, meskipun alat yang hampir mirip sama sudah beredar sejak abad ke sembilan belas.”

“Di sini tertulis Edgar Allan Poe,” kata sang Ayah, menunjuk ke arah sebentuk kartu berwarna kuning gading yang diletakkan di dekat toples kaca.

“Ya,” ujar Alinger. Ia berdehem, mengusir batuk ringan. “Banyak orang mengkoleksi nafas terakhir, sejak alat aspirator ditemukan, yang memungkinkan hobi saya untuk tetap bisa bertahan. Saya akui, saya membayar tak kurang dari dua belas ribu dolar untuk mendapatkan koleksi item yang satu ini. Orang yang menawarkannya kepada saya adalah cicit dari dokter yang menyaksikan kematian Edgar.”

Sang Ibu mulai tertawa lagi.

Alinger melanjutkan perkataannya dengan sabar, “Mungkin terdengarnya saya membayar mahal sekali untuk sesuatu yang tak berwujud, tapi percayalah, harga segitu termasuk murah. Teman saya, Scrimm, di Paris, baru saja membayar tiga kali lipat harga itu untuk nafas terakhir Enrico Caruso.”

Sang Ayah menyentuh deathoscope yang tersedia di samping toples kaca tertanda Edgar Allan Poe.

“Beberapa kesunyian bisa didengar dengan perasaan,” kata Alinger. “Anda hampir bisa mendengar mereka berusaha mengartikulasikan suatu ide atau pesan. Banyak orang yang mendengar nafas terakhir Edgar mengaku tidak mendengar sepatah kata pun, namun merasakan sensasi atau sebuah ekspresi keinginan si empunya nafas. Coba Anda dengarkan sendiri, siapa tahu Anda juga bisa merasakan sensasi yang sama.”

Sang Ayah membungkuk dan mengenakan alat pendengar tadi di telinganya.

“Ini konyol,” celetuk sang Ibu.

Sang Ayah mendengarkan dengan seksama, sementara putranya ikut-ikutan mendekat, memeluk erat salah satu kaki ayahnya.

“Boleh aku ikut mendengar, Yah?” tanya bocah itu. “Giliran aku kapan?”

“Sshh,” ujar sang Ayah.

Mereka semua terdiam sejenak, kecuali sang Ibu yang berbisik pada diri sendiri dengan nada mencemooh.

“Whiskey,” sang Ayah berkata tanpa suara, hanya dengan menggerakkan bibirnya saja.

“Coba Anda balik kartu di mana tertera nama Edgar Allan Poe tadi,” tutur Alinger.

Sang Ayah membalik kartu berwarna kuning gading itu, yang memuat nama EDGAR ALLAN POE di satu sisi. Di sisi lain, tertera tulisan “WHISKEY.”

Sang Ayah melepas alat dengarnya, wajahnya tenang, matanya menangkap sosok toples kaca yang kini seolah membuatnya kagum.

“Tentu saja. Edgar Allan Poe meninggal karena mengidap alkoholisme. Kasihan sekali. Anda tahu—saya sempat disuruh menghafal puisi beliau yang berjudul ‘The Raven’ saat saya duduk di kelas enam SD,” kata sang Ayah. “Dan saya berhasil membacakannya di depan kelas dengan sempurna.”

“Oh, yang benar saja,” kata sang Ibu. “Ini semua tipuan. Mungkin saja ada speaker kecil yang tersembunyi di bawah toples, dan waktu kau mencoba untuk mendengar, ada sebuah rekaman yang dimainkan, seseorang membisikkan kata whiskey.”

“Aku tidak mendengar bisikan,” bantah sang Ayah. “Aku cuma berpikir—seperti ada suara seseorang di kepalaku—penuh kekecewaan—”

“Volume rekaman itu pasti sangat rendah,” kata sang Ibu. “Jadi nyaris tidak terdengar, seperti di teater drive-in.”

Si Bocah mengenakan alat pendengar untuk mendapatkan ekspresi yang sama seperti yang didapatkan ayahnya barusan.

“Apa mereka semua orang terkenal?” tanya sang Ayah. Ia tampak pucat, meski di pipinya agak kemerahan seolah tubuhnya tengah diserang demam.

“Tidak sama sekali,” kata Alinger. “Saya sudah menyimpan hembusan terakhir macam-macam orang, mulai dari mahasiswa, birokrat, pengkritik sastra—dan banyak sekali orang tak dikenal. Salah satu koleksi paling berharga yang saya miliki adalah nafas terakhir seorang pembersih gedung.”

“Carrie Mayfield,” kata sang Ibu, membaca kartu yang diletakkan di depan toples tinggi berdebu. “Apakah dia juga salah satu orang tak dikenal yang Anda koleksi? Coba saya tebak, pasti dia seorang ibu rumah tangga.”

“Tidak,” kata Alinger. “Saya belum mengkoleksi nafas terakhir seorang ibu rumah tangga. Carrie Mayfield adalah seorang wanita muda yang sangat cantik, pemenang kontes kecantikan Miss Florida. Ia sedang dalam perjalanan menuju New York City bersama orangtua dan tunangannya, serta untuk berpose di sampul majalah wanita, ketika pesawat jet yang mereka tumpangi jatuh di Danau Everglades. Banyak sekali korban yang meninggal, kecelakaan itu dimuat di mana-mana. Tapi Carrie selamat. Setidaknya, untuk sesaat. Ia berkelebat di antara bahan bakar jet yang terbakar sambil berusaha melarikan diri dari bangkai pesawat. Sekitar delapan puluh persen tubuhnya mengalami luka bakar. Suaranya habis karena dipakai untuk berteriak minta tolong. Ia dirawat di ruang ICU selama seminggu sebelum akhirnya meninggal. Saat kejadian itu, saya masih mengajar medis, dan saya bawa murid-murid saya untuk mengunjunginya. Sekedar untuk memuaskan rasa penasaran saja. Saat itu, jarang sekali ada orang yang selamat setelah mengalami luka bakar separah yang dialami Carrie. Beberapa bagian tubuhnya meleleh dan menyatu dengan bagian tubuh yang lain. Untungnya, saya membawa alat aspirator di dalam tas, dan kebetulan Carrie meninggal saat saya dan siswa-siswi saya tengah berkunjung.”

“Itu hal terburuk yang pernah saya dengar,” ujar sang Ibu. “Bagaimana dengan orangtuanya? Tunangannya?”

“Mereka meninggal dalam kecelakaan tersebut. Terbakar hidup-hidup di hadapan Carrie. Saya tidak yakin tubuh mereka sempat diselamatkan. Buaya di dalam—”

“Saya tidak percaya,” rutuk wanita itu. “Tidak sepatah kata pun yang Anda utarakan bisa saya percaya. Bagi saya tempat ini penuh kebohongan. Dan saya tidak takut menyatakan bahwa apa yang Anda lakukan di sini cukup konyol jika tujuan Anda adalah sekedar untuk menipu orang.”

“Sayang—” ujar sang Ayah, hendak menenangkan.

“Tidakkah Anda ingat bahwa saya tidak pernah menagih uang masuk?” kata Alinger. “Ini adalah pameran gratis.”

“Yah, lihat!” pekik si Bocah dari seberang ruangan, sambil membaca tulisan yang tertera di atas kartu berwarna kuning gading. “Ini nama penulis buku James and the Giant Peach!”

Alinger berbalik menatap bocah itu, siap untuk memperkenalkan toples yang dimaksud, ketika ia melihat sang Ibu bergerak—maka ia kembali membalikkan tubuh ke arah wanita itu.

“Saya usul Anda mendengarkan koleksi yang lain dulu,” kata Alinger. Wanita itu tengah mengangkat alat pendengar dari toples Carrie Mayfield. “Sebagian besar orang tidak begitu tertarik mengetahui ekspresi Carrie.”

Wanita itu tidak mengindahkan pesan Alinger dan segera mengenakan alat pendengar yang sudah ada di tangan. Ia mulai mendengarkan, mulutnya sedikit dimonyongkan. Alinger mengatupkan kedua tangan dan mencondongkan tubuh ke arah wanita itu, memperhatikan ekspresi wajahnya.

Lalu, tiba-tiba, sang Ibu mengambil langkah mundur. Ia masih mengenakan alat pendengar tadi, dan gerakannya membuat toples di atas meja sedikit bergeser, hingga Alinger harus bergerak cepat untuk menahan toples tersebut agar tidak jatuh. Wanita itu kemudian melepas alat pendengar dengan terburu-buru, kikuk.

“Roald Dahl,” kata sang Ayah, meletakkan kedua belah tangan di atas pundak putranya dan mengagumi toples yang ditemukan bocah itu. “Wow. Anda benar-benar niat mengumpulkan nafas terakhir sastrawan besar, ya?”

“Aku tidak suka tempat ini,” kata sang Ibu.

Pandangan wanita itu mendadak tidak fokus, menatap toples milik Carrie Mayfield tanpa melihatnya. Ia menelan air ludah dengan berisik, seraya meletakkan sebelah tangan di leher.

“Sayang?” panggil suaminya. Pria itu mendekatinya, khawatir, dengan dahi terkerut. “Kau mau pergi? Tapi kita baru saja masuk.”

“Aku tidak perduli,” kata sang Ibu. “Aku mau pergi dari sini.”

“Aduh, Bu,” gerutu si Bocah.

“Saya harap kalian sudi mengisi Buku Tamu Museum,” kata Alinger.

Laki-laki tua nan ringkih itu pun mengantar tamuya sampai ruang kedatangan.

Sang Ayah tampak bimbang, menyentuh siku lengan istrinya, menatapnya dengan pandangan khawatir dan berkaca. “Tidak bisakah kau menunggu sebentar di mobil? Tom dan aku mau melihat-lihat sedikit lebih lama.”

“Aku ingin kita semua pergi dari sini sekarang juga,” kata sang Ibu, datar.

Pria itu membantu istrinya mengenakan jaket. Si Bocah memendam kedua tangan di dalam saku dan dengan kesal menendang sebentuk tas kerja dokter yang tergeletak di lantai. Tas itu sudah lusuh, teronggok di samping wadah payung. Kemudian bocah itu sadar apa yang sedang ditendangnya. Ia berjongkok, dan tanpa malu-malu membuka serta menatap ke arah alat aspirator di dalamnya.

Wanita itu menarik sarung tangan kulitnya agar pas menyelimuti setiap jari tangan. Pikirannya tampak melayang ke mana-mana. Lantas, tiba-tiba saja ia berbalik menatap Alinger dengan ekspresi tajam.

“Anda bukan orang baik-baik,” cetus sang Ibu. “Anda sama saja dengan pencuri kuburan.”

Alinger melipat kedua tangan di depan dada, memandangi sang Ibu dengan penuh simpati. Sudah tahunan dia memamerkan koleksi pribadinya. Dia sudah biasa menanggapi segala macam reaksi pengunjung.

“Oh, sayang,” kata sang Ayah. “Yang sopan dong.”

“Aku akan pergi ke mobil sekarang,” kata sang Ibu, menundukkan kepala, menarik diri. “Jangan lama-lama.”

“Tunggu,” kata sang Ayah. “Tunggu kami.”

Sang Ayah belum mengenakan jaketnya, begitu juga dengan si Bocah, yang tengah berlutut di hadapan sebentuk tas kerja lusuh sambil memasukkan tangan ke dalam, menyentuh alat aspirator yang bentuknya persis termos tembaga, dengan selang karet dan masker wajah plastik yang tersangkut di ujung alat tersebut.

Wanita itu tidak mengindahkan panggilan suaminya, dan segera melangkah keluar dari museum itu, membiarkan pintu di belakangnya terbuka lebar. Ia menuruni anak tangga yang terbuat dari batu granite menuju trotoar, matanya menatap permukaan aspal di bawahnya. Tubuhnya sedikit bergoyang saat ia melangkah menyeberangi jalan raya. Ia tidak mengangkat wajahnya, melainkan menatap langsung ke seberang jalan, ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

Alinger baru saja membalikkan tubuh untuk mengambil buku tamu—ia pikir mungkin tamunya masih sudi untuk mengisi—ketika ia mendengar suara rem berdecit, dan tubrukan logam, seperti sebuah mobil yang melaju cepat menabrak batang pohon, hanya saja itu bukan batang pohon.

Sang Ayah berteriak berkali-kali. Alinger memutar tubuh tepat pada saat sang Ayah berlari menuruni anak tangga hingga terjatuh. Sebuah mobil Cadillac berwarna hitam berkelok dengan sudut aneh di jalan, asap membumbung dari sudut kap mobil yang ringsek. Pintu pengemudi terbuka, dan si Pengemudi berdiri di tengah jalan, topinya dimiringkan ke belakang.

Telinga Alinger berdering tajam, tapi ia masih bisa mendengar ucapan si Pengemudi yang berkata, “Dia bahkan tidak melihat ke kiri dan kanan, langsung jalan di tengah lalu-lintas. Ya Tuhan. Saya harus berbuat apa?”

Sang Ayah tidak mendengarkan ucapan siapa-siapa. Ia berlutut di tengah jalan, memeluk tubuh istrinya. Si Bocah berdiri di ruang kedatangan museum, jaketnya baru separuh ia kenakan, menatap ke arah jalan raya. Seutas urat di kening bocah itu berdenyut hebat.

“Dokter!” teriak sang Ayah. “Tolonglah! Dokter!” Ia menatap ke arah Alinger.

Alinger berhenti untuk mengambil jaketnya dari gantungan. Saat itu bulan Maret, angin bertiup kencang, dan ia tidak mau kedinginan. Ia bisa hidup selama ini karena ia rajin menjaga kondisi tubuhnya. Alinger menepuk lembut kepala si Bocah sambil melangkah keluar. Ia baru saja menuruni anak tangga ketika si Bocah memanggilnya.

“Dokter,” kata si Bocah dengan gugup. Alinger memutar tubuhnya ke belakang, ke arah bocah itu.

Bocah itu mengangkat tas kerjanya yang lusuh, masih dalam kondisi terbuka.

“Jangan lupa membawa tas ini,” kata bocah itu. “Anda mungkin membutuhkan perangkat kedokteran Anda.”

Alinger tersenyum simpul, menaiki anak tangga, dan mengambil tas tersebut dari tangan si Bocah.

“Terima kasih,” katanya. “Kau mungkin benar.”

Hak Cipta © 2010. Fiksi Lotus dan Joe Hill. Tidak untuk dijual, digandakan, ataupun ditukar.

________________________________________

# CATATAN:

  • Karya ini diterjemahkan dari cerpen bertajuk “Last Breath” karya JOE HILL, pertama kali diterbitkan di majalah bergenre horor, fantasi dan sci-fi, Subterranean Magazine Issue #2 di tahun 2006. Cerita ini juga diikutsertakan dalam koleksi cerita pendek pertamanya, bertajuk 20th Century Ghosts, yang memenangkan berbagai penghargaan bergengsi, seperti Bram Stoker Award, British Fantasy Award, dan International Horror Guild Award sebagai koleksi cerpen terbaik.
  • Joe Hill adalah seorang penulis horor dan fantasi asal Amerika Serikat. Karya-karyanya termasuk Heart Shaped Box, Horns, 20th Century Ghosts, dan sebuah buku komik kolaborasi berjudul Locke & Key.
  • Nama lengkap Joe Hill adalah Joseph Hillstrom King. Di tahun-tahun awal karirnya sebagai seorang penulis, Joe Hill menolak untuk mengakui dirinya sebagai putra dari si raja horor, Stephen King—karena tidak ingin dianggap mendompleng ketenaran sang ayah.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

14 Comment on “Nafas Terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: