David Vann

Aku dilahirkan di Pulau Adak, yang tak lain merupakan bongkahan kecil bebatuan dan salju di ujung rantai kepulauan Aleutian, di tepi Laut Bering. Saat itu ayahku tengah menjalankan tugas selama dua tahun sebagai dokter gigi Angkatan Laut; beliau memilih Alaska karena ia senang berburu dan memancing ikan, tapi saat meminta dipindah-tugaskan ke Alaska, beliau sama sekali buta tentang Pulau Adak. Apabila Ibu tahu, pastinya beliau sudah mencoret sendiri pilihan tersebut; karena jika diberi informasi yang memadai, ibuku tidak pernah salah pilih.

Pada akhirnya, ibuku pun menolak melarikan bayinya yang kepanasan dan menguning dari rumah sakit Angkatan Laut yang terletak di bawah tanah; tidak mau diangkut dengan kapal jet yang telah siap menunggu di landasan terbang selama enam jam penuh. Suhu badanku yang melonjak sampai 40 derajat Celsius membuat para dokter cemas, dan mereka membujuk Ayah untuk menerbangkan aku dan ibuku ke rumah sakit sungguhan di kota (selama keluarga kami menetap di Pulau Adak, tidak ada seorang pun yang selamat dari serangan jantung ringan – seburuk itu pelayanan medisnya di sana), tapi ibuku menolak. Entah bagaimana, insting ibuku yang sering digambarkan oleh Ayah sebagai insting binatang membuat beliau yakin bahwa begitu aku berada di udara, jauh dari tanah, maka secepat itu juga aku akan sirna. Mati. Demi mencurangi nasib, Ibu meletakkanku di dalam bak mandi biasa yang telah beliau isi dengan air dingin, dan di sanalah aku selamat. Bahkan kembali sehat! Kulitku yang berwarna oranye dan terkelupas pelan-pelan berubah menjadi kemerahan, anggota tubuhku juga tidak tegang, dan dengan leluasa kugerakkan kedua kaki di dalam air sampai Ibu mengangkatku dari dalam bak mandi dan kami tertidur bersama.

Ketika ayahku telah menggenapi tugasnya dengan Angkatan Laut, kami pindah ke Ketchikan, sebuah pulau di belahan timur-selatan Alaska, di mana beliau membuka tempat praktiknya sendiri sebagai seorang dokter gigi, dan tiga tahun kemudian membeli sebuah kapal pemancing ikan. Kapal itu baru dan memanjang sejauh dua-puluh-tiga kaki dengan kabin yang terbuat dari fiberglass dan kemampuan mengelilingi lautan luas. Suatu sore di hari Jumat, saat masih mengenakan jaket dokternya, beliau melepas kapal itu ke tengah laut sementara aku dan Ibu bersorak-sorai di tepi pantai. Setelah itu, beliau merapatkan kapal tersebut ke tempatnya di pelabuhan, dan pagi berikutnya ia berdiri di tepi pelabuhan seraya menatap jauh ke dalam perairan Alaska yang jernih dan dingin, mendapati seekor angsa salju duduk anggun di atas bebatuan, seperti bayangan.

Ayah menamakan kapal tersebut Snow Goose karena beliau memimpikan layar kapal berwarna putih berkibar-kibar di atas debur ombak laut, tapi di sore hari saat ia melepas kapal ke tengah laut untuk pertama kalinya beliau lupa memasang saringan air. Berbeda dengan Ibu, Ayah tidak pernah perduli terhadap detail kecil.

Musim panas itu, ketika kami kembali ke pantai setelah seharian memancing ikan (ayahku dengan rajin membersihkan Snow Goose, suatu bukti bahwa ketekunan kadang kala bisa mengobati kurangnya perhatian pada detail) aku berada di dek belakang yang terbuka dengan segerombol ikan halibut yang baru saja kami tangkap. Setiap kali ikan-ikan itu melompat ke udara karena kapal yang kami tumpangi melejit terbawa debur ombak, aku pun ikut melompat.

Ikan-ikan itu terbaring pasrah di atas dek kapal yang berwarna putih, seperti anjing-anjing sekarat dengan mata terpaku ke arahku, menyampaikan ribuan pesan dan harapan sebelum aku menghantam mereka dengan palu. Tugasku adalah untuk menahan mereka agar tidak terjatuh dari kapal. Ikan halibut terkenal bertenaga cukup kuat, tubuhnya yang lebar dan gepeng dapat mengumpulkan kekuatan untuk menggeleparkan ujung ekor mereka demi melontarkan diri kembali ke laut. Aku dan ikan-ikan itu punya kesepakatan sendiri: jika mereka tidak melontarkan diri ke dalam laut, maka aku takkan menghantam kepala mereka dengan palu. Tapi sesekali, ketika ombak benar-benar menggila dan semua awak kapal terlonjak berkali-kali, sementara darah dan cairan yang keluar dari tubuh ikan-ikan itu menyelimutiku, aku pun terpaksa menghantam mereka beberapa kali – suatu kebiasaan yang membuatku malu. Karena saat aku melakukan itu, pasti ada saja salah satu ikan yang jadi saksi mata, menatapku lekat-lekat seolah menghakimiku.

Setiap kali kapal kami dirapatkan di pelabuhan setelah seharian penuh dibawa memancing ikan, ibuku pasti menyempatkan diri untuk mengecek semua perlengkapan kapal, termasuk saringan air, sementara ayahku berdiri mengawasi. Aku bermain-main dalam posisi berlutut di atas papan kayu, dan pernah sekali melihat mahluk mengerikan merangkak di atas kaleng berkarat yang tergeletak di atas dek. Jijik melihat kaki-kaki itu, aku berteriak pilu dan jatuh terjerembab ke dalam air. Dalam waktu singkat aku sudah diselamatkan dari kedalaman air dan dimandikan dengan air panas, tapi aku tidak pernah lupa pa yang kulihat. Saat itu tidak ada seorangpun yang pernah menceritakan kepadaku perihal mahluk bernama kadal – aku bahkan tidak pernah kenal reptil – namun sekali melihat saja aku sudah tahu mahluk itu aneh dan berbahaya.

Tidak lama setelah itu, menjelang ulang tahunku yang ke-lima, ayahku mendadak diyakinkan oleh sebuah skenario kosmik bahwa beliau telah membuat banyak pilihan yang salah dan karenanya harus mencari pengalaman hidup baru. Ibuku adalah wanita ke-dua yang pernah ia ajak kencan seumur hidupnya, dan karena itu beliau merasa perlu menambahkan wanita lain ke dalam daftar tersebut. Misalnya, seorang pembersih gigi yang bekerja di tempat praktiknya. Tidak lama setelah itu, malam-malam di rumahku mulai diisi oleh keanehan-keanehan yang sebelumnya tak pernah kubayangkan.

Suatu malam, aku pergi dari rumah saat Ayah menangis sendirian di ruang tamu dan Ibu membanting barang-barang di kamar tidur mereka. Ibu tidak mengutarakan kalimat yang terdengar manusiawi, tapi aku bisa mengikuti posisinya di dalam kamar itu dengan cara mendengarkan suara kayu patah, gelas pecah, dan lapisan dinding runtuh. Aku menyelinap ke dalam malam Alaska yang lembut dan berembun, yang menghadirkan suara rintik-rintik hujan, seraya melangkah ke seberang jalan, masih mengenakan baju tidurku. Aku mengintip dari balik jendela rumah-rumah tentangga, menguping di balik pintu, hingga aku mendengar suara gumaman rendah yang tak kukenali. Aku memutari rumah tersebut, membuka pintu kasa, dan menempelkan telingaku ke atas permukaan kayu yang dingin. Suara itu semakin rendah kedengarannya, seperti desahan, nyaris tak terdeteksi.

Pintu itu terkunci, maka kuangkat ujung kesetan yang terbuat dari karet dan – benar saja! – kutemukan sebentuk kunci pintu tergeletak di sana. Persis seperti di rumahku. Aku pun mempersilakan diri masuk ke dalam rumah tersebut.

Tak lama kudapati bahwa suara gumaman rendah itu berasal dari filter tangki akuarium yang memompa gelembung udara. Lalu, aku melangkah di atas lantai linoleum dan duduk di atas kursi dapur; aku merasa janggal menjelajahi rumah orang seperti ini. Kutatap seekor ikan dengan tubuh berwarna oranye-dan-hitam menghisap batu kerikil dan melepaskannya lagi. Di dalam tangki akuarium juga terdapat batu-batu berukuran besar, seperti bebatuan lava dengan gua yang gelap serta corong di mana ikan-ikan kecil mengintip bisu dengan mata mereka yang bundar, berkilauan seperti seng. Beberapa dari ikan-ikan itu memiliki tubuh berwarna merah-dan-biru; sementara lainnya berwarna oranye terang.

Kupikir ikan-ikan itu mungkin kelaparan, jadi aku melangkah ke kulkas dan mengambil setoples acar manis sebelum membawanya ke tangki akuarium untuk dipertunjukkan kepada ikan-ikan tersebut. Aku melihat ada celah di atas tangki akuarium, agak ke belakang sedikit, dan dengan sigap aku menjatuhkan potongan-potongan acar ke dalamnya. Pertama aku menjatuhkan satu-dua potong sekaligus, lalu lama-lama aku menjatuhkan semua isi toples ke dalamnya, berikut air pengawet, hingga air tangki akuarium mengeruh dan berceceran di tepi. Aku menatapi potongan acar mengambang di samping ikan-ikan, ada beberapa potong yang tenggelam, sementara potongan lain berputar-putar. Potongan acar itu membal di atas bebatuan berwarna merah jambu dan biru di dasar tangki. Sementara ikan-ikan yang tadinya bergerak cepat saat aku menjatuhkan potongan acar, kini bergerak pelan sekali. Mereka berenang dalam posisi miring, dan beberapa ikan beristirahat di atas permukaan batu. Sejumlah ikan lain berusaha membuka mulut mereka lebar-lebar di atas permukaan air, menarik napas sedalam-dalamnya. Sirip mereka bergelombang seperti renda kain.

Waktu potongan-potongan acar sudah mulai mengendap di dasar tangki, sesekali mereka tampak terayun di atas kerikil berwarna biru dan merah jambu, persis seperti ikan mati, sementara ikan-ikan yang asli ikut mengayun di samping mereka, bagaikan rumput laut atau teratai air yang lembut. Begitu indah imaji yang tersaji di hadapanku hingga aku harus mencondongkan tubuh ke depan untuk memberi perhatian penuh.

Kuletakkan kedua telapak tangan di atas kaca tangki akuarium seraya menatap jauh ke dalam bola mata ikan yang berwarna hitam pekat, hingga aku merasa seolah tubuhku juga sedang diayun, berada di luar alam naturalku, dan dalam detik itu aku seakan terhenyak lepas, menyaksikan diriku sendiri dari kejauhan, terpisah dari tubuhku. Hal tersebut mendadak menggangguku; lantas aku lupa apa sebabnya, tidak lagi tertarik terhadap ikan-ikan di dalam tangki akuarium. Melangkah di atas lantai linoleum area dapur, aku kembali masuk ke dalam rengkuhan hujan yang menghanyutkan.

Tiga tahun kemudian, setelah aku dan ibuku pindah ke California, aku dihadiahkan sebuah tangki akuarium. Saat itu juga aku memutuskan untuk menjadi seorang ‘ichthyologist’ atau ahli perikanan. Kedua orangtuaku telah resmi bercerai, dan baik aku maupun mereka sama-sama dikejutkan oleh apa yang telah kami perbuat tanpa sepengetahuan satu sama lain. Mereka tidak tahu bagaimana aku bisa melakukan aksi pengrusakan di rumah-rumah tetangga saat mereka tengah berusaha menyelamatkan pernikahan mereka.

Akuariumku yang pertama terbuat dari wadah plastik yang biasa digunakan untuk menyimpan paku dan mur. Di dalam wadah plastik itu ada dua ikan mas koki yang kumenangkan dari acara perlombaan festival kota serta beberapa batu kerikil yang dibeli ibuku di toko ikan Sal’s Fishworld saat kami berkendara pulang dari festival. Aku mengamati dua ekor ikan mas koki yang kurus dan pucat itu dengan seksama; tapi tak lama kemudian mereka mati mengenaskan di hadapanku. Karena wadah tempat mereka hidup tidak ditutupi, maka kucing kami, Smokey, dapat dengan leluasa mencomot mereka dengan kukunya yang tajam sebelum menelan mereka bulat-bulat. Aku tak berkedip, kaku. Setelah itu, Ibu mengajakku ke toko Sal’s dan membelikanku sebuah tangki akuarium yang memadai berikut filter gelembung udara, bebatuan kerikil warna-warni, tanaman plastik, batu volkanik dengan gua kecil di dalamnya, beberapa ekor ikan mas koki, dan juga sejumlah ikan berkulit oranye-hitam yang pertama kulihat di Ketchikan – ternyata mereka lumrah disebut sebagai ikan Badut.

Setiap malam, aku dan Ibu mengamati ikan-ikan di dalam tangki akuarium; dan setiap akhir pekan kami membersihkan tangki itu, seraya menghindari wabah penyakit perikanan: timbulnya bintik-bintik putih secara misterius pada sirip dan ekor ikan yang berpotensi mematikan.

Kami menyemayamkan salah satu korban pertama dari wabah itu dengan mengadakan upacara besar-besaran; di mana ibuku ikut berlutut di sampingku, di atas tanah merah, sementara aku mengenakan kain seprai putih untuk menutupi kepala. Ikan-ikan yang mati selalu kubungkus dengan berlapis-lapis tisu kamar mandi, dan kuletakkan di dalam kotak-kotak kecil, sebelum akhirnya kukubur enam inci di bawah permukaan tanah, agar tidak ada seekor kucing pun yang bisa menggali makam mereka.

Lama kelamaan, upacara pemakaman pun kami lewati. Apabila ada ikan yang mati, maka kami akan segera menghanyutkannya di lubang toilet dan menggantikannya dengan ikan lain. Tapi aku tak pernah sekali pun melupakan ikan-ikanku. Di sekolah, aku selalu mengarang esai tentang ikan-ikan itu. Guru SD-ku juga tampaknya tidak curiga sedikit pun, selalu percaya saja kalau kubilang aku baru saja membaca buku-buku berjudul Si Badut, Si Silver Dollar, Si Irridescent Shark, Si Mas Koki dan Si Sapu-Sapu.

Semua yang ada dalam kehidupan manusia bisa ditemukan di dalam tangki akuariumku. Angelfish bernuansa kuning-hitam berenang santai dengan segala glamor dan kecantikannya, sementara di belakang untaian kotoran mereka mengikuti kemana saja mereka pergi. Ikan sapu-sapu di dasar tangki mengudap kotoran tersebut, melepehkannya dengan jijik, sambil terus menyapu lantai dengan lapar. Lalu, lima menit setelah aku mengganti dua ekor ikan silver dollars yang mati, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri brutalnya hidup di bawah air. Kedua ikan silver dollars yang baru saja kucemplungkan ke dalam tangki memiliki bentuk serupa, dan sisiknya berkilau seperti koin perak. Merambah perairan baru, keduanya berenang menghimpit seekor ikan irridescent shark bermata bundar yang tengah menikmati perjalanannya sendiri. Nama ikan itu, irridescent shark, sungguh tak pantas, karena ikan hias tersebut tak ada mirip-miripnya dengan ikan hiu, apalagi dalam hal membela diri. Rupa ikan irridescent shark hampir sama dengan ikan mas koki, hanya saja tubuhnya lebih panjang dan matanya lebih bulat dan besar. Ikan silver dollar punya sifat licik tanpa belas kasihan, dan mereka tahu caranya bekerja sebagai tim terpadu. Dalam sekejap, masing-masing dari kedua ikan silver dollar menyikat sebelah mata ikan hiu jadi-jadian itu. Mereka bahkan tak repot-repot mengunyah mata yang dicomot bulat-bulat, melainkan segera melepehkannya keluar, hingga terjatuh ke dasar tangki akuarium, dan akhirnya disedot oleh ikan sapu-sapu.

 

Sebagai tindak balas dendam, Ibu mengambil saringan ikan dan mengeluarkan kedua ekor ikan silver dollar dari dalam tangki akuarium untuk kemudian di-flush di toilet kamar mandi. Lalu, semalaman itu kami berdua memandangi dengan rasa pedih sosok lemah ikan irridescent shark yang berenang dalam keadaan buta, menubruk sisi tangki akuarium, sambil menunggu ajal tiba.

Sementara aku dan Ibu menghabiskan waktu kami di California dalam sebuah kehidupan yang teratur, Ayah ditugaskan semakin jauh ke dalam pelosok Alaska. Semua yang beliau lakukan tampak tak masuk akal. Beliau tidak pernah menikmati pekerjaannya sebagai seorang dokter gigi, karena itu beliau memutuskan untuk hidup memancing ikan. Aku rasa beliau ada benarnya, dan aku yakin beliau sungguh-sungguh percaya bahwa hidup memancing ikan bisa membawa kebahagiaan yang dicarinya selama ini – tapi kurasa beliau tidak berpikir panjang.

Setelah menjual praktik kedokteran giginya, beliau membeli sebuah kapal penangkap ikan komersil yang cantik dan sangat mahal. Panjangnya 19 meter, terbuat dari alumunium, dan beliau berencana menyelesaikan segala macam renovasi sebelum musim ikan halibut tiba. Beliau juga membujuk pamanku untuk menjadi awak kapal. Seumur hidup mereka, ayah dan pamanku sering memancing bersama sebagai bagian dari kegiatan rekreasi, tapi keduanya tidak punya pengalaman memancing dari atas kapal komersil – apalagi tanpa kehadiran awak kapal lainnya. Impian ayahku untuk menjadi seorang penjelajah tunggal pasti sudah lama kandas jika beliau menyewa seorang kapten untuk memimpin haluannya.

Ayah menamakan kapal barunya Osprey. Apabila Snow Goose hanyatahan menjelajahi perairan laut selama satu-dua hari, maka Osprey memiliki kapasitas yang lebih jauh lagi. Sesuai namanya, Osprey yang juga berarti ‘burung elang’ sanggup merentangkan sayapnya yang lebar dan melintasi serta mengelilingi perairan luas selama berhari-hari – tak jarang seorang diri.

Karena renovasi pada Osprey tidak rampung pada waktunya, Ayah dan pamanku memulai kegiatan memancing sekitar sebulan-setengah setelah musim memancing dimulai. Lalu, akibat terburu-buru, mereka tak sengaja mengusutkan salah satu jaring ikan yang telah ditebar, hingga membuat macet roda hidrolik yang berfungsi menarik ikan-ikan tangkapan – dan mengakibatkan waktu mereka terbuang sia-sia karena tidak berhasil menangkap banyak ikan. Kerugian sebesar $100,000 yang ditanggung Ayah tidak lantas membuat beliau patah semangat, karena pada saat itu beliau sudah memasuki tahap penghabisan dalam hidupnya, di mana beliau merasakan semua kenikmatan hidup berbaur dengan keputusasaan.

Pamanku bercerita mengenai suatu malam di atas kapal saat Ayah merentangkan kedua lengan lebar-lebar seraya melengkungkan punggungnya dengan penuh ketulusan setelah Paman memenangkan permainan kartu remi sebanyak tujuh belas kali berturut-turut. Biasanya, Ayah tak sudi dikalahkan Paman – selalu cemberut dan sedih apabila ia tak berhasil memenangkan poin. Sambil bangkit berdiri di atas kursi kapten beliau, di kaput oleh mesin radar dan sonar yang berwarna biru-putih, Ayah lantas tersenyum dan berteriak, “Belok ke arah starboard sejauh tiga derajat!” Paman dengan sigap mengubah arus layar lewat kendali otomatis sesuai instruksi Ayah, dan ketika pagi tiba mereka mulai menuai hasil pancingan yang sukses.

Ayah bukan orang yang fasih dalam memprediksi kesuksesan, dan karenanya kejadian itu bisa dibilang sebagai kebetulan belaka. Di tahun yang sama, toko bangunan di mana beliau menanam investasi tiba-tiba saja jatuh bangkrut; harga emas pun menurun drastis; dan kesabaran pihak perpajakan negara (IRS) dalam menangani kasus penggelapan pajak Ayah juga semakin menipis. (Ayah tidak pernah mau membayar pajak, padahal pajak itu yang akhirnya menolong kami setelah beliau meninggal.) Selain itu, hubungan Ayah dengan sang resepsionis yang juga merangkap sebagai tunangan beliau juga ikut-ikutan ambruk. Secara keseluruhan, tahun itu membawa lebih banyak kesialan daripada keberuntungan bagi Ayah. Di pertengahan bulan Januari, aku menghabiskan waktu sebanyak empat hari penuh bersama beliau.

Setiap malam di masa liburanku yang singkat itu, saat aku terbaring di dalam seonggok kantung tidur di atas lantai hotel, tak jauh dari kaki ranjang beliau, aku bisa mendengar tubuhnya bolak-balik resah di ranjang. Hal itu berlangsung sampai subuh, dan entah kenapa aku mendapat firasat aneh (yang hanya bisa dimengerti oleh anak-anak) bahwa beliau tidak akan ada bersamaku untuk waktu yang lama. Keresahan beliau semakin memuncak dan menghimpit gerakan tubuhnya. Beliau menendang selimut, menggerutu memendam amarah dan keputusasaan – hingga akhirnya semua itu menghantam fisiknya, membuatnya pasrah, mengubur wajahnya di dalam lekukan bantal sambil menangis sesenggukan. Setelah itu, ia memulai proses keresahan yang sama dari awal. Aku kira beliau tidak sadar bahwa aku masih terjaga, karena sebelum ini beliau tidak pernah menangis di depan manusia lain. Tapi suatu malam beliau mengajakku bicara.

“Aku tidak tahu,” katanya keras-keras. “Roy, kau masih terjaga?”

“Ya.”

“Aduh, aku tidak tahu.”

Itu adalah komunikasi kami yang terakhir. Aku juga tidak tahu; dan yang kuinginkan saat itu hanyalah untuk mengerut di dalam kantung tidurku. Beliau merasakan sakit bukan kepalang di dalam kepalanya yang tidak bisa disembuhkan obat penahan sakit, dan ia juga merasakan suaranya semakin ringan, tanpa beban, kosong; ditambah misteri-misteri keputusasaan lain yang selalu menderanya. Aku tidak ingin mendengar raungannya, ataupun melihatnya kesakitan. Aku tahu benar apa yang akan beliau lakukan berikutnya – semua orang juga tahu – tapi aku tidak tahu apa alasannya.

Dan aku tidak mau tahu.

Ayah berlayar semakin jauh di tahun berikutnya, ditemani oleh Osprey. Ia berhenti sebentar untuk menangkap sekumpulan ikan tuna di pesisir Mexico, lalu sekumpulan kepiting di Laut Bering. Beliau juga mulai memancing dari atas tiang kapal yang menjulang tinggi, dan suatu hari berhasil menangkap beberapa ikan salmon berukuran besar, yang segera ia bersihkan di tempat.

Setelah kapal kebanggaannya kembali ditambatkan di pelabuhan dan beliau terpaksa menjualnya (setelah dua tahun, Osprey terus menuai kerugian yang luar biasa hingga Ayah tak bisa mendapat pinjaman bank untuk meneruskan petualangannya di laut luas) – terutama setelah pihak IRS semakin dekat mencium jejaknya – akhirnya Ayah mengambil pistol magnum berkaliber .44 dari dalam kabin dan berdiri di atas dek kapal yang berwarna perak, dipayungi oleh langit yang keabu-abuan dan diiringi oleh kicauan burung laut. Sepatu boot yang beliau kenakan masih dinodai darah segar kehitam-hitaman milik ikan salmon yang baru saja ditangkapnya. Aku membayangkan beliau terdiam sesaat untuk memikirkan tindakannya, tapi aku ragu beliau bahkan sempat berpikir sama sekali.

Momentum yang beliau pilih sungguh tepat, tanpa saksi, tanpa gangguan. Ia membuyarkan isi kepalanya di antara isi perut ikan salmon tangkapannya, sementara sisa tubuhnya dicabik-cabik burung laut selama beberapa jam sebelum Paman menemukan tubuh beliau tergolek tanpa nyawa di atas dek kapal.

Aku dan Ibu selamat. Karena kami tidak pernah berdiri di ketinggian, kami pun tidak mungkin jatuh ke mana-mana. Berat tubuh kami dengan aman dijaga oleh tanah tempat kami berpijak. Kami menyantap sup rebusan berkuah bening dengan kacang polong setelah Paman menelepon dan menyampaikan kabar kematian Ayah. Lalu, di malam hari, saat cahaya di langit pudar dan berubah membiru, kemudian gelap gulita, kami duduk di ruang tamu dengan wajah terbias lampu tangki akuarium, mengamati ikan-ikan di dalamnya. Ikan irridescent shark telah belajar menavigasi jalannya sendiri dalam keadaan buta, tidak lagi menabrak-nabrak lapisan kaca yang membatasi tangki akuarium. Kantong matanya yang kosong, serta bekas luka yang menyimpan lapisan bercak darah, kini telah sembuh dan tertutup oleh lapisan putih berlendir. Ikan pemanah yang bercorak seperti kulit macan, yang bentuk tubuhnya serba setengah, setengah rahang, setengah ekor, dan punya kebiasaan berenang dengan sudut kemiringan 45 derajat di pinggiran permukaan air, serta yang bisa melontarkan peluru air berukuran cukup besar dari mulutnya, kini tengah mengetes permukaan air dengan bibir bawahnya yang kuat, menunggu. hingga akhirnya – entah kapan, karena waktu seolah berhenti total setelah terjadi tragedi kematian, tanpa ada harapan untuk kembali berdetak – aku bangkit dari tempat dudukku dan membawakannya setoples lalat hidup.

Aku memasukkan seekor lalat terbang lewat sebuah lubang udara di antara tutup tangki dan permukaan air, lalu kututup lubang tersebut dengan selembar plester, sebelum aku kembali duduk di samping Ibu, menatapi ritual yang kini terasa familiar, sisa-sisa dari kehidupan kami kemarin, tadi pagi, sebelum sekarang; meski aku sadar kini aku tidak lagi tertarik pada apa yang kusaksikan. Ikan pemanah mendadak tegang, lalu bergoyang membentuk lingkaran kecil sambil terus mempertahankan bibirnya di atas permukaan air, mengikuti arah terbang lalat dengan ketelitian seorang predator, sebelum akhirnya menembakkan peluru air dengan trayektori tepat meski tanpa banyak bergerak sehingga tampak seakan ia sama sekali tidak perlu berusaha. Ketika lalat itu terjatuh ke atas permukaan air, terjebak tanpa jalan keluar, jutaan gelombang panik terhantar ke seluruh penjuru.

Hak Cipta © 2010. David Vann dan Fiksi Lotus. Tidak untuk dijual-beli, ditukar, ataupun digandakan.

——————————————————-

# CATATAN:

> Kisah ini bertajuk “Ichtyology” karya DAVID VANN. Pertama kali diterbitkan di jurnal sastra AS, The Atlantic, pada tahun 1992 saat penulis masih menuntut ilmu post-graduate di Cornell University. Karya ini juga dimuat di buku kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan pada tahun 2008 oleh University of Massachusetts Press, bertajuk “Legend of a Suicide”. Buku ini menjadi salah satu buku pilihan terbaik The New York Times di tahun yang sama.

>> David Vann adalah seorang penulis kelahiran Alaska, AS, yang karya fiksi pendeknya pernah diterbitkan di berbagai jurnal dan majalah bergengsi seperti The Atlantic, Esquire, Men’s Journal, Outside Magazine, Writer’s Digest, serta lainnya. Saat ini dia menjabat sebagai Asisten Dosen Sastra Inggris di University of San Francisco.

>>> Kisah ini, serta kisah-kisah lain yang dieksplorasi di buku kumpulan cerpennya, “Legend of a Suicide”, diambil dari sejarah pribadinya. Ayahnya meninggal bunuh diri saat David Vann berusia 13 tahun.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

2 Comment on “Ichthyology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: