(…sambungan dari bag. 2)

Andre Dubus

Strout menatap ujung pistol yang ditodongkan ke kepalanya. Ia beranjak keluar dari mobil. Matt mengikutinya menuju pintu depan rumah, melewati taman dan mengamati barisan taman-taman lain di kompleks itu. Ada pohon-pohon yang menjulang tinggi, namun tidak semuanya berdaun hijau. Matt teringat akan daun-daun berwarna merah dan kuning tumbuh di pepohonan rindang dekat lubang yang ia gali bersama Willis, membayangkan daun-daun itu berguguran dalam waktu dekat—mungkin dalam kurun waktu dua minggu—menutupi permukaan tanah. Strout membuka pintu rumah dengan sebentuk kunci, melenggang masuk menuju dapur.

“Nyalakan lampu,” perintah Matt.

Stroug menggapai steker lampu di dinding dan, diterangi oleh cahaya bohlam, Matt bisa melihat dengan jelas punggung Strout yang lebar; kaus berwarna biru tua, sabuk berwarna putih, dan sepasang celana berwarna merah yang dikenakan pemuda itu.

“Di mana tas kopermu?” tanya Matt.

“Tas koperku?”

“Ada dimana tas kopermu?”

“Di lemari di kamar tidur.”

“Kalau begitu, ayo kita ke sana. Di depan pintu kamar, aku ingin kau berhenti dan menyalakan lampu kamar.”

Mereka berjalan beriringan melewati dapur, Matt memperhatikan bak cuci piring, kompor dan kulkas di dalamnya: tidak ada piring kotor di dalam bak cuci piring ataupun di dalam rak pengering piring; tidak ada percikan minyak di atas kompor; dan pintu kulkas tampak putih bersih.

Sebenarnya, Matt enggan melihat lebih jauh; karena itu, ia hanya memperhatikan sekilas saja apa yang ada di depan matanya: di ruang tamu terdapat tumpukkan majalah dan surat kabar teronggok di dalam keranjang rotan, asbak-asbak kosong, sebuah mesin piringan hitam, serta kumpulan piringan hitam di atas rak tepat di samping mesin tersebut.

Kemudian, di dinding koridor dekat pintu kamar tidur utama, terdapat foto berwarna Mary Ann dan kedua putra-putra mereka sedang duduk di atas rerumputan taman—meski rumah mereka tidak tergambar di sana. Mary Ann tersenyum ke arah Strout, atau orang yang sedang mengambil foto tersebut, seperti ia pernah tersenyum di halaman rumah Matt musim panas ini sementara Matt menunggu batu bara di alat panggangannya memanas. Saat itu mereka berbincang mengisi waktu, Matt menatapi kaki Mary Ann yang keemasan, Frank menyentuh lengan, pundak, dan rambut Mary Ann.

Matt menelusuri koridor itu sambil membayangkan senyuman di wajah Mary Ann, bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apakah senyum Mary Ann yang membuat pernikahannya dengan Strout langgeng selama bertahun-tahun? Membuat mereka tampak bahagia, bahkan sesekali sempurna? Matt membayangkan sepasang mata Mary Ann, kepiluan yang tersimpan di sana, dan ia sadar akan lingkaran-lingkaran cinta yang terbenam di sekeliling mata Mary Ann saat ia menyentuhnya waktu itu, sama nyatanya seperti sekarang jemarinya menyentuh senjata yang ada di tangannya. Strout berhenti melangkah di depan pintu kamar, di ujung koridor.

“Tidak ada steker lampu di tembok.”

“Di mana lampunya?”

“Di dekat ranjang.”

“Ayo.”

Matt menarik jarak dari Strout, sekitar satu langkah di belakang pemuda itu, sebelum tawanannya membungkuk di samping ranjang. Tiba-tiba, kamar itu menjadi terang: Matt mendapati tempat tidur berukuran ganda itu sudah rapi; asbak di meja bersih; permukaan lemari tanpa debu, dan tidak ada foto keluarga sama sekali. Mungkin hal itu dilakukan agar wanita yang ditiduri Strout—entah siapa—tidak perlu melihat bayang-bayang Mary Ann di kamar tersebut. Tapi karena Matt tahu rasanya menjadi seorang ayah dan suami, meskipun ia belum pernah bercerai, ia tahu (dan tidak mau tahu) bahwa kamar tidur ini tidak pernah mutlak menjadi milik Strout dan Mary Ann.

Strout memutar tubuhnya; Matt menatap bibir pemuda itu, rahangnya yang lebar, dan membayangkan sepasang mata Frank saat menatap wajah yang sama dari atas sofa.

“Di mana Tuan Trottier?” tanya Strout.

“Dia sedang menunggu kita. Berkemaslah untuk pergi ke tempat yang hangat.”

“Apa yang terjadi?”

“Kau akan kabur.”

“Tuan Fowler—”

Matt mendekatkan ujung pistolnya ke wajah Strout. Tangannya gemetar, tapi hanya sedikit, tidak separah yang ia bayangkan. Strout beranjak menghampiri sebuah lemari, mengambil sebentuk tas koper dari lantai dan membukanya di atas ranjang. Sambil melangkah ke lemari pakaian, Strout berkata: “Frank berselingkuh dengan istri saya. Setiap saya pergi mengunjungi anak-anak, dia pasti ada di sana. Kadang-kadang ia bahkan bermalam di situ. Kedua anak-anak saya yang bilang.”

Strout tidak menatap Matt saat berbicara. Ia membuka laci paling atas di lemari pakaiannya dan Matt melangkah lebih dekat untuk memastikan ia dapat melihat kedua tangan Strout. Pemuda itu mengumpulkan celana dalam dan kaus kaki—kaus kakinya digulung, celana dalamnya dilipat dan ditumpuk. Strout membawa benda-benda itu ke ranjang, menatanya rapi di dalam tas koper, lalu ia mengambil sejumlah kaus, celana dan sebuah jaket; menebarnya di atas ranjang.

Matt mengikutinya ke kamar mandi, dan mengawasi dari pintu saat pemuda itu mengemas perangkat cukurnya; mengawasi lagi di kamar saat Strout melipat dan mengemas barang-barang yang biasa dikumpulkan manusia semasa hidupnya, hingga terkadang, di toko, Matt merasa ia menjual lebih dari sekedar pakaian.

“Tadinya saya ingin mencoba rujuk dengan istri saya.” Strout membungkuk di atas tas kopernya. “Saya bahkan tidak bisa mengajaknya bicara, karena Frank selalu ada bersamanya. Saya akan masuk penjara untuk waktu yang sangat lama, hingga saya tua. Tidakkah itu cukup?”

“Kamu tidak akan masuk penjara.”

Strout menutup tas kopernya dan menghadap Matt, menatap pistol. Matt bergerak ke belakang tubuh Strout, hingga pemuda itu berada di antara dia dan koridor yang terang. Menggunakan sehelai sapu tangan, Matt mematikan lampu kamar dan berkata: “Ayo.”

Mereka menelusuri koridor, Matt memperhatikan foto Mary Ann dan anak-anaknya. Melangkah melalui ruang tamu dan dapur, Matt mematikan lampu satu per satu, berbicara tanpa henti. Ia takut akan apa yang sedang ia ucapkan pada Strout, karena apa yang keluar dari mulutnya adalah suatu kebohongan yang tidak pernah ia rencanakan bersama Willis.

“Saya melakukan ini karena sidang hukum yang akan kamu lalui,” ujar Matt. “Ruth dan saya tidak bisa menghadapi itu. Karena itu, kami ingin agar kamu pergi jauh. Kami sudah membelikan tiket pesawat untukmu dan mencarikan pekerjaan di tempat lain. Kamu akan bekerja dengan salah seorang teman Tuan Trottier di daerah barat sana. Istri saya terus-terusan berpapasan denganmu. Kami tidak ingin melihatmu lagi.”

Matt mematikan lampu dapur dan menyimpan sapu tangannya di dalam saku. Mereka menuruni anak tangga di depan rumah dan berjalan menyeberangi taman. Strout meletakkan tas kopernya di bawah kursi belakang mobil, lalu mengambil tempatnya di balik kemudi. Matt duduk di kursi belakang, mengenakan sarung tangannya dan menutup pintu mobil.

“Pihak yang berwajib pasti akan menangkap saya,” kata Strout. “Mereka akan memeriksa semua data penumpang.”

“Kami tidak menggunakan nama aslimu.”

“Mereka juga akan mengetahui itu. Kamu pikir saya sendiri tidak akan kabur kalau saya yakin semuanya bisa dilakukan dengan mudah?”

Strout memundurkan mobilnya, Matt menatap selongsong pistol yang ada dalam genggamannya, tidak mengindahkan wajah Strout.

“Kalau sendiri, kamu memang tidak bisa melakukannya,” kata Matt. “Tapi dengan bantuan kami, kamu bisa pergi dengan selamat.”

“Malam-malam begini tidak ada penerbangan yang beroperasi, Tuan Fowler.”

“Kembalilah ke arah kota,” Matt memberikan instruksi. “Lalu ambil rute 125 ke utara.”

Mereka sampai di penghujung jalan dan berbelok, lampu sorot mobil Willis kini berada di belakang mereka.

“Kenapa ke utara, Tuan Fowler?”

“Nanti akan ada yang menjagamu untuk sementara. Mereka yang akan mengantarmu ke bandara.” Matt mengembalikan pistolnya dalam posisi normal, meletakkannya ke atas pangkuan dan berkata dengan suara lemah. “Jangan bicara lagi.”

Berkendara melalui kota, tubuh Matt terasa lumpuh, lemah seperti jiwanya, didera oleh interaksinya dengan Strout, oleh harapan kosong yang telah ia berikan kepada pemuda itu.

Matt tumbuh dewasa di dalam kota ini, yang jalan-jalannya kini menyimpan kepedihan dan menjadi penjara bagi Ruth saat istrinya itu berkendara di sekitarnya, melakukan kegiatan sehari-hari. Bagi Matt pun sama, bedanya ia mengalami semua itu di dalam benaknya, karena enam hari seminggu ia berada di dalam toko dan melayani pelanggan yang keluar-masuk.

Sekarang ia bertanya-tanya apakah Strout percaya akan kebohongan yang telah ia ucapkan beberapa saat lalu, apakah dengan mengirim Strout pergi dari kota itu akan cukup baginya dan juga bagi Ruth; kemudian, ia berpikir bahwa apabila Strout berada di tempat yang jauh darinya, berjalan-jalan di kota yang tak pernah dilihatnya, mencintai seorang gadis lain (entah siapa) ia masih akan tetap merasa semua itu mendera kesehariannya bersama Ruth. Matt yakin, Ruth tahu apa yang sedang dilakukannya, dan menunggu kepulangannya di rumah.

Kini mereka tiba di negara bagian New Hampshire, di atas jalan tol yang sempit, melewati pusat perbelanjaan di garis perbatasan, diikuti oleh deretan rumah, pertokoan kecil dan kedai-kedai roti isi. Hanya ada segelintir mobil di jalan. Setelah sepuluh menit, Matt mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh leher Strout dengan ujung pistol, dan berkata: “Belok di sini, di jalan tak beraspal.”

Strout menyalakan sen mobil dan mengurangi kecepatannya.

“Tuan Fowler?”

“Mereka menunggu di sini.”

Strout berbelok perlahan, menjauhkan lehernya dari ujung pistol. Di bawah sinar rembulan, jalanan itu tampak berwarna coklat muda, semakin pudar dan berubah kuning saat diterpa lampu sorot mobil. Semak belukar dan pepohonan tampak mendampingi kedua sisi jalan, hutan lebat berada tidak jauh di hadapan mereka.

“Tidak ada apa-apa di belakang sini, Tuan Fowler.”

“Ini tempat untuk menyimpan mobilmu,” jawab Matt cepat. “Kamu tidak berharap kami akan meninggalkan mobilmu di bandara, ‘kan?”

Kedua tangan Strout menggengam kemudi dengan erat, buku-buku jarinya yang besar tertekuk kaku. Matt mengingat wajah Frank di malam putranya itu pulang ke rumah, bagaimana ia menyentuh wajah memar milik Frank dengan lembut dan mendekatkannya ke cahaya lampu.

Mereka berputar di sebuah tikungan dan menghilang dari jalan tol: dikelilingi oleh pepohonan yang mencuat tinggi ke langit, menyembunyikan sorotan sinar rembulan. Begitu mereka tiba di tempat berbatu di samping kiri, membelakangi tanah merah yang rata serta sebuah selokan yang terjal dan pucat, Matt berkata: “Berhenti di sini.” Di atas mereka, puncak pepohonan tampak gelap.

Strout menginjak pedal rem, tapi tidak mematikan mesin mobil. Matt menekankan ujung pistol ke belakang leher Strout. Pemuda itu meluruskan duduknya, menatap sepasang mata Matt dari kaca spion mobil. Matt membalas tatapan Strout, sebelum mengalihkan pandangannya ke sejumput rambut yang bersentuhan dengan laras pistol.

“Matikan mesinnya.”

Strout mengikuti perintah Matt, memegang kemudi dengan dua tangan dan menatap pantulan Matt di kaca spion.

“Setidaknya saya akan dihukum penjara selama dua puluh tahun, Tuan Fowler,” katanya. “Begitu saya bebas, saya akan berusia empat puluh tahun.”

“Itu masih sembilan tahun lebih muda dari saya sekarang,” kata Matt, beranjak keluar dari mobil, melepas sarung tangannya dan menendang pintu hingga tertutup.Ia membidik telinga Strout dan mengokang senjatanya. Lampu sorot mobil Willis sudah dimatikan dan Matt bisa mendengar langkah kaki temannya menapaki lapisan debu yang tipis, menyelimuti permukaan tanah yang keras.

Strout membuka pintu mobil, duduk berdiam diri sesaat di dalam, lalu melangkah keluar. Sekarang wajahnya tampak memelas. Matt tidak melihat mata pemuda itu, tapi bisa menangkap permohonan itu di bibir Strout.

“Bawa tas kopermu, mereka sudah menunggu kita.”

Willis kini berada di sisi kiri Matt. Strout menatap kedua moncong senjata yang membidiknya, sebelum berpaling ke kursi belakang mobil, membungkuk dan dengan sekali tarik mengeluarkan tas kopernya. Ia baru saja hendak berbalik menghadap Matt dan Willis ketika Matt berkata: “Jalan saja ke depan. Mereka menunggu tidak jauh dari sini.”

Strout mulai berjalan, menenteng tas kopernya di tangan sebelah kanan, diikuti oleh Matt dan Willis. Begitu Strout melewati bagian depan mobilnya, ia menjatuhkan tas koper dan menunduk, mengambil satu langkah untuk berlari ke arah kanan. Pada saat bersamaan, Matt menarik pelatuknya dan mendadak suara letusan itu memekakkan telinganya—membuatnya terlontar ke dalam ruang isolasi, memisahkannya dari waktu, dari sejarah, sehingga ia hanya bisa berdiri kaku di atas jalan tak beraspal dengan sebentuk pistol di tangan, menatap Richard Strout merangkak di tanah, menendangkan satu kaki ke bekalang, mendorong dirinya untuk terus menjauh, menuju hutan lebat. Tanpa bicara, Matt mengambil beberapa langkah menghampiri Strout dan menembaknya sekali di belakang kepala.

Berkendara ke arah selatan menuju kota Boston, mengenakan dua sarung tangan, menetap di jalur tengah dan sesekali menoleh ke kaca spion mobil untuk memastikan lampu sorot mobil Willis masih mengikutinya, Matt mengulang kejadian tadi di kepalanya: tas koper yang terjatuh, punggung Strout yang tiba-tiba menunduk dan berputar, lalu diikuti oleh hentakan senjata, dan suara tembakan yang menggelegar. Saat ia mendekati tubuh Strout, ia masih terkurung di dalam suara tembakan pertama, masih gemetar dan bernapas mengikuti irama tembakan itu. Tembakan yang kedua dan penguburan tubuh Strout seolah dilakukan orang lain, seseorang yang sedang ia awasi dari kejauhan.

Bersama Willis, ia menggotong tubuh Strout menjauh dari jalan dan menuju hutan. Sabuk berwarna putih yang dikenakan Strout berguncang dan terseret di atas tanah merah, di bawah rindangnya pepohohan yang gelap, hingga ketika mereka berhenti di dekat lubang galian dengan napas terengah dan keringat mengucur, Matt tak lagi bisa melihat bedanya antara kaus biru yang menempel di tubuh Strout dan tanah merah.

Willis dan Matt mengangkat timbunan dahan kering dari lubang, menyeret tubuh Strout hingga ke pinggir lubang, mengambil posisi di belakang Strout, mengangkat kedua kakinya dan mendorongnya ke dalam. Selama beberapa menit, mereka diam berdiri. Kecuali suara napas mereka yang memburu, hutan itu sangat sunyi. Matt ingat bahwa ia sempat mendengar suara kepakan sayap burung dan gerakan binatang-binatang kecil lainnya saat ia meletuskan tembakan yang pertama. Atau, mungkin juga ia tidak mendengar apa-apa.

Willis melangkah pergi. Matt bisa melihat sosok tubuh temannya dengan jelas berpijak di atas tanah merah, seperti ia bisa cahaya yang terpantul di mobil milik Strout dan, nun jauh di sana, jalan berbatu.

Willis kembali sambil menenteng tas koper Strout, melemparnya ke dalam lubang, melepas kedua sarung tangan dan bersama Matt berjalan ke mobilnya untuk mengambil dua buah sekop. Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Sesekali, mereka berhenti dan mendengarkan suara-suara yang timbul dari dalam hutan.

Selesai menutup lubang tadi, Willis menyalakan sebuah senter dan mereka menutupi gundukkan tanah dengan dedaunan dan ranting. Mereka mendekati mobil Strout, Willis membungkuk dan menaburkan debu di atas tetesan darah di tanah, sementara Matt mecurahkan cahaya senter untuk penerangan. Mereka bergerak mundur hingga tiba di tempat yang sarat akan rumput dan dedaunan, kemudian Willis menggunakan dedaunan untuk menutupi jejak mereka. Mereka bekerja tanpa henti.

Mereka melangkah di sekitar makam Strout, melintasi hutan lebat, menggunakan sebentuk senter sebagai pemandu, dan menatap pucuk-pucuk pohon tinggi sampai mereka tiba di sebuah danau. Saat berbicara, suara mereka nyaris tidak terdengar, teredam oleh suara langkah kaki mereka yang berat menelusuri semak-semak dan ranting yang berserakan.

Danau itu lebar dan gelap, airnya menepuk tepian, daun-daun pohon pinus terasa lembut di bawah kaki Matt, cahaya bulan terbias indah di atas danau, sebuah pulau kecil duduk di tengah-tengah, dengan pepohonan yang tinggi dan berdaun hijau.

Matt mengeluarkan pistolnya dan membidiknya ke arah pulau: mengambil dua langkah ke belakang, menggesekkan tumitnya di atas daun-daun pohon pinus, menarik tubuhnya ke belakang dan mengangkat sebelah lutut di udara untuk bersiap melempar. Dengan kepala terangkat, ia melihat benda gelap tanpa bentuk itu melayang dan menukik jatuh ke atas permukaan danau, memercikan air di sekitarnya.

Mereka meninggalkan mobil Strout di Boston, di depan sebuah gedung apartemen di jalan Commonwealth Avenue. Berkendara bersama kembali ke kota tempat mereka tinggal, Willis duduk di belakang kemudi dan pelan-pelan membawa mereka melalui jembatan yang melintang di atas Sungai Merrimack. Matt melempar kunci mobil Strout ke dalam sungai.

Di atas mereka, langit berangsur-angsur terang. Willis menurunkan Matt satu blok jauhnya dari rumah, dan sambil berjalan kaki pulang Matt mencari suara-suara yang ditimbulkan dari dalam rumah-rumah lain di sekitarnya. Kesunyian menyelimuti.

Di rumahnya sendiri, lampu ruang tamu tampak menyala. Matt mematikan lampu itu dan melepas pakaiannya di sana, melangkah diam-diam menuju kamar tidurnya. Di koridor rumah, ia mencium bau asap rokok, dan ia berdiri di ambang pintu kamar sambil memandangi warna oranye rokok yang dipegang Ruth di tengah kegelapan. Tirai jendela tertutup rapat. Matt meletakkan sepatunya di dalam lemari, sebelah tangannya mencari-cari gantungan baju.

“Apa kau melakukannya?” tanya Ruth.

Matt tidak menjawab. Ia berjalan keluar kamar, menelusuri koridor dan masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam gelap, ia membasuh tangan dan wajahnya. Kemudian, ia menghampiri Ruth, berbaring menatap langit-langit, menarik selimut hingga ke leher.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ruth lagi.

“Kurasa begitu.”

Ruth mengulurkan tangan untuk menyentuh suaminya, berbaring menyamping, menghadap Matt. Jemarinya mengelus perut Matt, kemudian pahanya.

“Ceritakan padaku,” kata Ruth.

Matt memulai ceritanya dari awal, di parkiran bar; lalu ia memejamkan matanya, membiarkan tangan Ruth membelainya. Ia menceritakan isi rumah Strout: kondisinya yang teratur, keberadaan wanita lain yang Matt rasakan, foto Mary Ann dan kedua putra-putranya di dinding koridor.

“Cara Mary Ann tersenyum,” gumam Matt.

“Ada apa dengan caranya tersenyum?”

“Entahlah. Apa kau pernah melihat wanita yang dipacari Strout saat kau bepergian ke tengah kota?”

“Tidak.”

“Aku penasaran siapa wanita itu..”

Kemudian, ia meralat dirinya sendiri: wanita itu belum tahu tentang kepergian Strout. Mungkin sekarang ia sedang terlelap, memikirkan tentang kekasihnya dalam tidur. Matt membuka matanya, dan menutupnya lagi. Tidak ada cahaya yang masuk dari jendela karena tirai yang tertutup rapat.

Bersama dengan Ruth, Matt mengenang kejadian yang baru berlangsung: meninggalkan rumah Strout dan berbohong kepada pemuda itu tentang harapan yang ia miliki untuk kabur begitu saja dari hukum. Mungkin Strout percaya, atau mungkin pemuda itu tidak punya pilihan karena Matt telah menodongkan sepucuk pistol ke arahnya selama dua jam terakhir dalam hidupnya. Bersama Ruth juga, Matt menguak ingatannya: bagaimana tas koper itu dijatuhkan, gerakan Strout yang cepat untuk lari darinya dan Willis, diikuti oleh letusan tembakan pertama.

Matt merasakan sentuhan Ruth di tubuhnya, namun ia tetap merasa seakan terisolasi dari semua yang ada di sekitarnya, jantungnya berdetak kencang mengikuti letusan senjata yang memekakkan telinga. Ia menceritakan sisanya kepada Ruth, tapi kata-katanya sendiri tidak memiliki gambaran apa-apa bagi Matt. Ia tidak merasa telah melakukan apa yang sedang ia jabarkan lewat penggalan kalimat; ia hanya melihat dirinya ada di jalan bebatuan itu.

“Kita tidak boleh menceritakan hal ini pada anak-anak yang lain,” kata Ruth. “Mereka pasti merasa sakit hati, berpikir pemuda itu lari dari tanggung jawabnya dengan mudah. Tapi kita tidak bisa menceritakannya pada mereka.”

“Aku setuju.”

Ruth memeluk suaminya, mengiginkannya lebih dari apapun, dan Matt berharap ia bisa bercinta dengan istrinya saat itu juga—tapi ia tidak bisa. Di kepalanya, ia terus membayangkan Frank dan Mary Ann bercinta di ranjang Mary Ann, mata mereka terpejam, tubuh mereka coklat terbakar matahari dan meninggalkan harum air laut. Wanita lain yang menjadi selingkuhan Strout juga tertidur, tapi tanpa wajah, tanpa tubuh. Ia membayangkan Frank dan Strout, wajah mereka terlihat hidup; dan ia membayangkan dedaunan berwarna merah dan kuning berjatuhan ke tanah, diikuti oleh serpihan salju yang turun ke bumi, membekukan seisinya sambil terus berjatuhan.

Membalas pelukan istrinya, Matt menyandarkan pipi di atas dada Ruth, tubuhnya gemetar dilanda isak-tangis yang ia simpan dalam hati, sunyi.

(…kembali ke bag. 1)

_____________________________________________

CATATAN:

* Kisah ini disadur dari cerita pendek bertajuk “Killings” karya ANDRE DUBUS, yang diterbitkan pertama kali di tahun 1979. Dua puluh dua tahun kemudian, di tahun 2001, cerita ini diadaptasikan ke dalam bentuk film dengan judul “In The Bedroom” besutan sutradara muda, Todd Field.

* Andre Dubus adalah seorang penulis AS yang meninggal di usia 62 tahun di tahun 1999. Beliau dinobatkan sebagai salah satu cerpenis terbaik di abad ke-20.

Fiksi Lotus © 2010. Karya ini tidak untuk dijual, ditukar, ataupun digandakan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

One Comment on “Pembunuhan (Bag. 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: