(… sambungan dari bag. 1)

Andre Dubus

Dalam usia yang sangat muda, Mary Ann telah mengalami kejadian pahit dalam hidupnya yang tidak pernah dirasakan oleh Matt, Ruth ataupun anak-anak mereka. Menyadari hal ini, Matt ingin membelai rambut kekasih putranya, ingin menanamkan secercah harapan dan ketenangan.

Seraya mengalihkan pandangannya ke Frank, Matt berharap mereka berdua bisa saling mencintai, berharap Frank bisa menyembuhkan luka di hati Mary Ann, menyapu bersih semua kepedihan yang tercermin di balik kelopak mata Mary Ann—secara otomatis membuat segala kekhawatiran wanita itu sirna dalam sekejap—baik itu menyangkut perceraiannya dari Richard, perbedaan usianya dengan Frank, dan anak-anaknya.

Dua malam pertama, Mary Ann tidak membawa anak-anaknya berkunjung untuk menemui kedua orangtua Frank. Tapi, kemudian Ruth meminta Mary Ann untuk membawa mereka sesekali. Malam itu, di atas tempat tidur, Ruth berkata pada Matt: “Mary Ann tidak membawa anak-anaknya karena ia merasa malu pada kita. Seharusnya ia tidak perlu merasa malu.”

Richard Strout menembak Frank di hadapan kedua putranya. Mereka sedang duduk di lantai ruang tamu menonton televisi, Frank duduk di atas sofa, dan Mary Ann baru saja melangkah keluar dari dapur sambil membawa roti isi di atas nampan. Strout masuk lewat pintu depan dan menembak Frank dua kali di dada dan sekali di wajah, menggunakan sebentuk pistol otomatis berkaliber .9mm. Setelah itu, Strout menatap kedua anak-anaknya yang berada di depan televisi, menatap Mary Ann, dan pulang ke rumahnya sendiri untuk menunggu kedatangan polisi.

Sejak Mary Ann meneleponnya seraya menangis histeris hingga sekarang—suatu malam Sabtu di bulan September—saat ia duduk di dalam mobil bersama Willis, parkir di samping mobil milik Strout, menunggu sampai bar tutup, Matt merasa ia belum mempunyai kesempatan untuk melanjutkan hidupnya. Ia hanya berputar-putar di sekitar kematian putranya, jiwanya seolah terkurung dalam tubuh yang sedang tidur sambil berjalan, tidak sengaja bertabrabrakan dengan berbagai perabotan dan sudut-sudut ruangan.

Matt melihat dirinya sebagai figur seorang ayah yang penuh kekhawatiran: saat anak-anaknya masih kecil, di awal setiap musim panas, ia selalu membayangkan mereka tenggelam di kolam atau laut, dan ia baru merasa lega ketika ia pulang ke rumah di malam hari, menemukan mereka ada bersama Ruth. Tentunya, ketika perasaan itu datang menghampiri, Matt sadar bahwa apa yang sebenarnya ia rasakan adalah suatu pengukuhan dari rasa lain—kekhawatirannya akan segala hal menyangkut hidup anak-anaknya—yang tidak pernah ia sampaikan pada siapapun, dan yang ia kendalikan diam-diam.

Kekhawatiran serupa juga mencekamnya saat ketiga anak-anaknya, termasuk Cathleen, mulai tertarik pada pohon oak di halaman belakang rumah. Mereka selalu saja hendak memamerkan kemampuan mereka memanjat pohon tersebut. Matt hanya bisa mengawasi dari jauh, tersenyum, membayangkan apa jadinya kalau mereka terjatuh: maka ia harus bersiaga menangkap mereka satu per satu sebelum tubuh-tubuh mungil itu menghantam permukaan tanah. Atau, kakinya yang bersiaga: dengan dua tangan terpendam dalam saku atau dua lengan terlipat di depan dada. Bagi anak-anaknya—yang menatap dari ketinggian pohon—Matt tampak tenang dan percaya diri, namun mereka tidak mendengar debar jantungnya yang semakin menggila, menggumamkan tiga kata yang ingin ia teriakkan namun tidak sanggup: jangan sampai jatuh.

Kala musim dingin tiba, Matt tidak begitu khawatir: ia memastikan permukaan es bisa menahan berat tubuhnya sebelum ia membiarkan ketiga putra-putrinya meluncur di atasnya, dan ia selalu membawa mereka ke tempat-tempat di mana mereka bisa bermain bebas tanpa gangguan lalu-lintas.

Matt dan anak-anaknya telah melewati masa-masa tersebut tanpa halangan yang berarti, dan setelah mereka tumbuh dewasa, ia hanya merasa khawatir saat mereka harus menempuh perjalanan jauh, mengendarai mobil.

Lalu, ketika ia kehilangan Frank dengan cara yang tidak pernah diantisipasi oleh ayah manapun, Matt merasa bahwa semua beban kekhawatiran yang telah ditanggungnya sejak anak-anaknya masih kecil, dan semua kesedihan yang ia bayangkan saat itu, menghantamnya bagai ombak besar yang kemudian menghempaskannya ke tepi pantai, akhirnya membawa dia jauh ke tengah laut luas.

Setiap hari ia merasakan hal yang sama, dan jika ia bisa melupakan apa yang ia rasakan, setelah bersusah payah memaksa diri untuk tidak merasa putus asa, tatapan mata pegawai dan pelanggan di tokonya melemparnya kembali ke titik nol. Matt berharap setiap pasang mata yang menghantarkan rasa simpati kepadanya bisa berubah dingin, atau mereka mungkin bisa berpura-pura tidak tahu bahwa ia baru saja kehilangan seorang anak. Entah kenapa, kehangatan yang ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya justru membuat semangat hidupnya lemah.

Sejak kematian Frank, Matt sering menelusuri jalan-jalan kota dan membayangkan rasanya menembak Richard Strout di wajah; sementara Ruth, saat sedang berbelanja di toko-toko, selalu berpapasan dengan pemuda itu. Di malam hari, Ruth menangis dalam pelukan Matt; atau, terkadang, diam membisu, dan Matt akan menyentuh lengannya yang tegang, tangannya yang terkepal.

Sama seperti tangan Matt sekarang, meremas buntut pistol, mengamati beberapa pengunjung yang bergulir meninggalkan lokasi bar sebelum tutup, masih saling bertegur sapa sembari melangkah menuju pelataran parkir di depan, tempat mereka meninggalkan mobil masing-masing.

Pandangannya terhalang, Matt hanya bisa mendengar suara mereka, deru mesin mobil mereka dan debur ombak laut di seberang jalan. Saat itu ombak pasang bergumul, sesekali deburannya menghantam dinding laut. Melalui jendela mobil, Matt mengamati sisi gelap tembok bar yang berwarna merah, dan di samping kirinya, sejajar dengan kursi penumpang yang ditempati Willis, matanya terfokus pada sebuah mobil milik Strout. Dari jendela mobil Strout, ia bisa melihat pelataran parkir yang kini kosong, jalan raya sepi dan dinding laut. Matt bisa mencium harumnya hawa pesisiran.

Tiba-tiba, pintu bar terbuka. Willis menoleh ke Matt, lalu mengawasi sudut bangunan. Sosok Strout muncul dalam jarak pandang mereka berdua, melangkah seorang diri. Matt keluar dari dalam mobil, dan melepaskan harapannya malam itu. Sebenarnya, selama seminggu ini, ia berharap bahwa ia takkan pernah menemukan Strout berada seorang diri. Ia berharap Strout akan berdiri di hadapannya bersama segerombolan teman. Bila itu yang terjadi, rencana Matt dan Willis adalah untuk pergi sejauh-jauhnya dari sana, mengurungkan niat awal mereka sambil berpikir, Ya sudahlah.

Ya sudah, pikir Matt, mengunci tatapannya ke arah Strout, sekarang tidak mungkin baginya untuk mundur. Matt berjalan melewati bagian depan mobil Willis, berhenti di samping mobil Strout, merentangkan sebelah lengan di atas kap mesin mobil dan membidik pistolnya ke arah kaus biru yang dikenakan Strout. Pemuda itu berada sepuluh kaki di hadapannya. Willis juga membidik pistol yang dibawanya ke arah Strout, setengah berjongkok di samping Matt, siku lengannya bersandar di atas kap mesin mobil.

“Tuan Fowler,” kata Strout. Ia menatap masing-masing pria, lalu ke arah senjata mereka. “Tuan Trottier.”

Mengawasi pelataran parkir dan jalan raya, Matt buru-buru melangkah di antara mobil Strout dan bar, berdiri di belakang pemuda itu. Ia mengambil sebuah sarung tangan kulit dari sakunya dan mengenakannya di tangan kiri.

“Jangan bicara. Buka pintu depan dan belakang, lalu segera masuk.”

Strout membuka pintu depan mobil, mengulur lengan ke dalam untuk membuka kunci pintu belakang, dan bergegas mengambil tempat di belakang kemudi. Matt mengikuti, bergeser ke atas kursi penumpang, di belakang Strout, menutup pintu dengan tangan tersarung, dan menyentuh kepala Strout sekali dengan ujung pistol.

“Senjata ini sudah dikokang. Ayo, kita ke rumahmu.”

Strout menoleh ke belakang, memundurkan mobil. Matt mengarahkan pistol ke pelipis pemuda itu, tidak sekali pun menatap matanya.

“Pelan-pelan,” kata Matt. “Jangan mencoba untuk berhenti.”

Mereka berkendara melalui pelataran parkir yang kosong, menuju jalan raya, diikuti oleh mobil Willis. Dalam perjalanan kembali ke tengah kota, Matt melihat dinding laut di sebelah kiri mereka menghalangi pantai, meski dari kejauhan ia menangkap sosok gelap laut lepas. Matt mengembalikan pistolnya dalam posisi normal.

Di sebelah kanan mereka terdapat beberapa tempat bisnis yang sebagian besar sudah tutup untuk malam itu, lampu-lampunya dimatikan: café, rumah makan pizza, restoran dan bar. Jalan-jalan kota tampak amat lengang, seperti yang telah diperkirakan Matt dan Willis saat menyusun rencana untuk menodong Strout di depan bar. Pilihan lainnya adalah mendatangi kediaman Strout subuh-subuh, tapi Matt tidak ingin mengambil resiko, siapa tahu ada seorang tetangga yang kebetulan menderita insomnia dan menyaksikan tindakan mereka.

Matt tidak bilang apa-apa pada Willis soal kekhawatirannya ditinggal sendirian bersama Strout untuk waktu yang lama—takut mencium bau tubuhnya, merasakan keberadaannya, mendengar suaranya, apalagi menembaknya.

Mereka meninggalkan kota di pesisir pantai dan berkendara di atas jembatan yang melintasi permukaan sungai: di sebelah kiri, terdapat gulungan buih ombak putih tepat saat air bertemu dengan tepi pantai, dan nun jauh di sana, terlihat bentuk lautan gelap dan cahaya terang bulan purnama. Di sebelah kanan, terdapat beberapa kapal nelayan—dengan jangkar yang sudah diturunkan—terombang-ambing di atas perairan suram, dihempas deburan ombak yang datang silih-berganti.

Turun dari jembatan, sederet perumahan tepi pantai tampak terlantar, tanpa penghuni, menutupi pemandangan laut lepas. Tangan kiri Matt mulai berkeringat di dalam sarung. Ia yakin Ruth tahu keberadaannya saat ini, dan di dalam mobil siapa.

Willis datang ke rumahnya pada pukul sebelas malam tadi, mengajak Matt pergi minum sebentar. Matt melangkah ke kamar tidur untuk mengambil dompetnya, menyimpan sebentuk sarung tangan di dalam salah satu saku celana dan pistol miliknya di saku lain. Sekembalinya dari sana, ia menemui Ruth di ruang tamu dengan satu tangan terselip di saku, menutupi senjata yang dibawanya. Jari-jari Matt menekan silinder pistol, sementara telapaknya menutupi bagian buntut. Sambil berpamitan, Ruth menatap wajah suaminya lekat-lekat, dan Matt merasa istrinya bisa melihat pistol itu di pancaran matanya, serta memprediksikan waktu ia akan menggunakannya untuk membunuh Strout. Tapi Matt tahu semua itu hanya dugaannya saja, belum tentu benar.

Seperti biasa, istri Willis sudah lelap dalam tidur, dibantu oleh sebuah pil penenang, yang akan membuatnya terus tidur selama delapan jam. Ini sebabnya Willis memasang perangkat alarm di rumahnya: kalau-kalau Willis pulang terlalu malam dan ada kejadian-kejadian yang tidak ia inginkan mengancam keselamatan Martha.

Rencananya, begitu semua selesai, maka Wilis akan meninggalkan dua gelas minuman di ruang permainan, menyusunnya sedemikian rupa agar keesokan paginya ia bisa menceritakan pada Martha bahwa malam ini, saat istrinya tertidur, ia pulang lebih cepat dari restoran dan sempat minum-minum di rumah bersama Matt.

“Frank selingkuh dengan istri saya,” ujar Strout membela diri. Suaranya terdengar hati-hati, sama sekali tidak memohon pengertian laki-laki yang sedang menodongnya.

Matt menekankan laras pistolnya ke kepala Strout. Mungkin ia melakukannya terlalu keras, karena lewat getaran pistol ia bisa merasakan usaha Strout untuk menahan beban pistol yang berada di belakang kepala. Akhirnya, Matt menurunkan senjatanya dan menjaganya di atas pangkuan.

“Jangan berbicara,” katanya.

Strout berhenti bicara. Mereka belok ke arah barat, berkendara melewati toko es krim Dairy Queen yang tutup sampai musim semi, dan dua restoran penyaji lobster yang letaknya saling berhadapan. Restoran-restoran tersebut selalu penuh selama musim panas, meski malam ini keduanya telah menutup pintunya rapat-rapat.

Mereka menaiki jembatan pendek yang melintas di atas anak sungai, dan melalui jendela yang terbuka Matt bisa mendengar gemuruh arus air mengalir di bawahnya, menuju daratan kota. Di sebelah kirinya, permukaan air terbias oleh cahaya bulan, memasuki daerah rawa, menjauhi jembatan, merayap ke dalam rawa lembab yang terbentang di kedua sisi, di mana sebagian rumput tampak menjulang tinggi, walau sebagian besar dari rerumputan itu membungkuk rendah seolah tertiup angin. Sebongkah batu berdiri kokoh dikelilingi oleh genangan air yang memantulkan cahaya bulan.

Setelah meninggalkan area rawa, mereka memasuki hutan lebat, dan Matt membayangkan lubang yang ia gali bersama Willis hari Minggu lalu. Mencuri waktu, mereka beralasan hendak berkunjung ke Taman Fenway ketika berpamitan dengan istri masing-masing. Sambil menggali, mereka mengikuti permainan baseball yang sedang berlangsung lewat radio. Telinga mereka tidak sepenuhnya mendengarkan, karena tubuh mereka sibuk mengangkat gundukkan tanah lembut di bagian hutan yang sengaja mereka pilih karena rindangnya pepohonan maple dan elm di sekitar sana. Dedaunan mulai jatuh berguguran ke atas permukaan bumi.

Puas dengan kedalaman lubang yang mereka gali, Willis dan Matt menutupinya sementara dengan timbunan ranting kering. Mereka dengan telaten membersihkan sepatu dan celana yang mereka kenakan sebelum pergi ke restoran di ujung negara bagian New Hampshire untuk menyantap roti isi dan minum bir seraya menyaksikan sisa pertandingan baseball di layar televisi.

Menatap belakang kepala Strout sekarang ini, makam Frank terlintas di benak Matt—ia belum kembali ke sana sejak putranya dimakamkan, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk datang berkunjung sebelum musim dingin tiba, sebelum makam itu terkubur di bawah lapisan salju.

Ia membayangkan Frank duduk di atas sofa Mary Ann, berbincang dengan kedua bocah laki-laki yang sedang menonton televisi. Ia membayangkan tubuh Frank yang tegap, usianya yang muda. Ia membayangkan Frank merasa gerah setelah seharian berada di pantai, sedang menikmati waktu senggangnya di tengah kehangatan keluarga kecil Mary Ann, mendengarkan langkah kaki Mary Ann yang tengah menyiapkan makanan kecil di dapur. Ia membayangkan Frank juga mendengarkan langkah kaki Mary Ann kala wanita itu beranjak dari dapur dan berjalan mendekatinya di ruang tamu.

Mungkin Frank mengangkat kepalanya untuk menatap Mary Ann; mungkin Mary Ann mengatakan sesuatu kepada Frank sambil membawa nampan di kedua tangan, seperti kebanyakan wanita yang selalu mengucapkan sesuatu sebelum menawarkan makanan kepada pasangan mereka.

Matt kemudian membayangkan pintu yang mengayun terbuka, dan Strout—si pemuda brengsek—melangkah masuk membawa sepucuk pistol. Frank mungkin menangkap tujuan Strout secepat pemuda itu tiba di hadapannya, dan kedua hal tersebut—wajah dan senjata yang ada dalam genggaman Strout—adalah hal terakhir yang dilihatnya.

Memasuki area kota kecil, Matt memperhatikan jalan-jalan sepi: hanya ada beberapa kendaraan di sana, berjalan pelan; dan seorang polisi yang sedang berpatroli di depan sejumlah toko. Strout dan Matt sama-sama memperhatikan figur polisi itu dari balik jendela mobil. Kini mereka berada di jalan utama, dan semua lampu lalu-lintas menampakkan cahaya kuning.

Willis dan Matt sudah memperkirakan hal ini: semua lampu lalu-lintas berganti warna saat tengah malam, memperkecil kemungkinan Strout untuk menghentikan mobil dan kabur dari mereka. Strout memutar kemudi menuju kompleks perumahan tempat ia tinggal, lampu sorot mobil Willis tidak lagi mengikuti mereka. Itu juga sesuatu yang sudah terencana, baik Matt maupun Willis setuju untuk membiarkan satu mobil saja pergi ke rumah Strout. Matt tetap tidak mengatakan kepada Willis tentang kekhawatirannya ditinggal berduaan saja dengan Strout, terutama bila mereka ada di kediaman Strout—sebuah rumah dupleks yang sama gelapnya dengan rumah-rumah lain di kompleks itu, lampu jalan bersinar remang-remang di setiap perempatan.

Memasuki pelataran parkir, Matt bertanya-tanya apakah ada seorang tetangga Strout yang masih terjaga, sedang menonton program subuh di televisi dalam ruang tamu mereka yang gelap. Strout hendak mematikan mesin mobil tepat di depan rumahnya, tapi Matt memberi instruksi lain: “Bawa mobil ini ke belakang.”

Ia menyentak kepala Strout pelan dengan ujung pistol.

“Senjata itu belum dikokang, ‘kan?” tanya Strout, memastikan. “Siapa tahu begitu aku menginjak rem, kau tidak sengaja menarik pelatuknya.”

Matt mengokang pistolnya. “Sekarang senjata ini sudah dikokang,” katanya.

Strout menunggu sebentar, lalu melajukan mobilnya sepelan mungkin. Ia sangat hati-hati, hingga kendaraan itu terlihat seperti menggelinding saja di atas tanah. Mendekati garasi, Strout menginjak rem dengan lembut.

Matt membuka pintu belakang mobil, melepas sarung yang membungkus tangan kirinya dan menjejalkan sarung itu ke dalam saku. Ia melangkah keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan menggunakan pinggul. “Keluar,” perintahnya.

(…bersambung ke bag. 3)

______________________________________

CATATAN:

* Kisah ini disadur dari cerita pendek bertajuk “Killings” karya ANDRE DUBUS, yang diterbitkan pertama kali di tahun 1979. Dua puluh dua tahun kemudian, di tahun 2001, cerita ini diadaptasikan ke dalam bentuk film dengan judul “In The Bedroom” besutan sutradara muda, Todd Field.

* Andre Dubus adalah seorang penulis AS yang meninggal di usia 62 tahun di tahun 1999. Beliau dinobatkan sebagai salah satu cerpenis terbaik di abad ke-20.

Fiksi Lotus © 2010. Karya ini tidak untuk dijual, ditukar, ataupun digandakan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: