Andre Dubus

Suatu pagi di bulan Agustus, ketika Matt Fowler memakamkan putra bungsunya, Frank—yang berusia 21 tahun, 8 bulan, dan 4 hari—putra tertuanya, Steve, terus saja memandangi Matt. Tidak lama kemudian, saat semua anggota keluarga telah berjalan meninggalkan lokasi pemakaman bersama kumpulan sanak-saudara, Steve berkata kepadanya: “Seharusnya aku bunuh dia.”

Steve berusia dua puluh delapan tahun, rambutnya yang kecokelatan mulai menipis di bagian depan, di mana dulu dia pernah memiliki jambul. Steve menggigit bibirnya sendiri, menyeka air mata yang mengalir, dan mengulang perkataannya tadi. Ruth semakin erat memeluk lengan Matt; sementara sang suami hanya bisa melemparkan tatapan kosong, tidak tahu harus berkata apa. Kedua mata Ruth tampak bengkak setelah tiga hari meratapi kepergian Frank.

Mendekati mobil limosin yang akan mereka tumpangi, Matt berhenti dan memutar tubuh. Dipandanginya liang kubur yang menampung sebentuk peti kayu tempat putranya berbaring, seorang pendeta yang tadi sempat kagok saat menyampaikan pidato pemakaman (walau pendeta itu tidak menunjukkannya), serta seorang direktur rumah duka yang sedang mengatakan sesuatu pada keenam pemuda pengusung peti.

Makam Frank terletak di atas bukit, menghadap ke Sungai Merrimack. Sayangnya dari tempat Matt berdiri, ia hanya bisa melihat anak sungai yang mengalir di seberang Sungai Merrimack. Entah kenapa, Matt malah mengalihkan pandangannya ke perkebunan apel yang ditanami pepohonan secara simetris menuju puncak bukit.

Esok paginya, Steve pulang ke Baltimore bersama istrinya; sementara Cathleen—adik Steve—pulang ke Syracuse bersama suaminya. Baik Steve maupun Cathleen telah menitipkan anak-anak mereka pada sejumlah teman dekat demi menghadiri pemakaman Frank.

Sebulan setelah Frank dimakamkan, Matt bermain poker di rumah Willis Trottier karena Ruth memaksanya. Sudah dua kali Matt diundang bermain kartu, dan ia kerap menolak ajakan kawan-kawannya karena tidak enak meninggalkan Ruth sendirian di rumah. Namun kali ini Matt tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti saran istrinya, terlebih setelah Ruth menasihatinya agar tidak terus-terusan bersembunyi di dalam rumah.

Di penghujung malam, saat permainan telah selesai, Willis mengantar teman-temannya sampai ke halaman rumah dan saling berpamitan di sana—kecuali Matt. Untuk Matt, ia menyisakan sedikit waktu lebih. Begitu yang lain telah pergi, Willis beranjak mengantar Matt sampai ke mobil.

Willis adalah seorang laki-laki bertubuh pendek, berambut keperakann, yang bergerak di bisnis restoran sejak Perang Dunia II berakhir. Di awal karirnya, Willis hanya memiliki rumah makan kecil: khusus menghidangkan sarapan pagi yang dimasaknya sendiri, dan makan siang untuk orang-orang yang bekerja di pabrik kulit dan sepatu. Sekarang, rumah makan tersebut telah dipugar menjadi besar.

“Pemuda itu masih bebas berkeliaran,” kata Matt lirih.

“Dia bahkan sempat datang ke restoranku semalam, duduk di meja bar bersama seorang wanita.”

“Hanya aku yang sama sekali tidak pernah melihatnya, mungkin karena aku jarang meninggalkan toko. Tapi Ruth selalu melihatnya—terlalu sering, bahkan. Siang tadi Ruth pergi ke supermarket Sunnyhurst untuk membeli beberapa keperluan, dan pemuda itu kebetulan ada di sana. Sekarang Ruth tidak lagi berani keluar rumah, pokoknya benar-benar tersiksa.”

“Bagaimana kalau kita ngobrol di dalam saja?” tawar Willis.

Matt melirik ke arah jam tangan. Ruth pasti sudah tidur, pikirnya. Tanpa pikir panjang lagi, Matt segera mengiringi langkah Willis ke dalam rumah. Kemudian, seolah tersandung sesuatu, ia berhenti dan menengadahkan kepalanya untuk melihat langit yang bertaburan dengan bintang. Malam itu adalah malam musim panas, namun udara di sekitarnya terasa sejuk.

Sepintas, Matt memikirkan tim baseball kesukaannya—Red Sox—dan bertanya-tanya apakah mereka sedang bermain di kota Boston musim panas ini. Sejak Frank meninggal, Matt menemukan dirinya terasingkan dari segala hal yang dulu merupakan selingan favoritnya.

Dulu, ia pernah berpikir bahwa ia layak menikmati apa saja yang ia gemari, seperti ia juga layak menikmati apa yang sekarang telah hilang untuk selamanya: kebanggaan sebagai seorang ayah bagi putra-putrinya.

Dalam langkah beriringan, mereka memasuki rumah Willis. Martha—istri Willis—sudah sejak beberapa jam lalu pamit untuk beristirahat di kamar tidur yang terletak di belakang rumah. Kediaman keluarga Willis tak ubahnya sebuah istana bagi Matt, meskipun dindingnya ramai dipasangi perangkat alarm guna memperingati penghuninya akan bahaya rampok dan kebakaran.

Willis dan Matt menuruni anak tangga menuju lantai bawah tanah, ke dalam ruang permainan. Di ruangan itu terdapat sebentuk TV gantung, sebuah meja bilyar, serta meja kartu permukaannya dipenuhi oleh kaleng bir, tumpukkan kartu permainan, kepingan uang, dan asbak berisi abu rokok. Mengelilingi meja tersebut ada enam kursi kosong, di mana Matt dan teman-temannya belum lama duduk sambil bercanda seolah ia baru saja kembali dari liburan panjang. Walau begitu, Matt bisa melihat rasa simpati di pancaran mata mereka.

Willis berdiri di balik meja bar, mencampur minuman scotch dan soda untuk mereka berdua sambil menatap ke arah temannya.

“Aku tahu apa yang ada dalam benakmu, Matt,” kata Willis.

“Aku terus membayangkan wajahnya. Tak kukira ia akan bebas dengan uang jaminan. Tadinya aku sempat lega karena yakin ia akan dipenjara selama bertahun-tahun. Tapi, nyatanya, Ruth masih melihatnya di mana-mana—dan istriku tak bisa berhenti menangis.”

“Kalau kau benar ingin melihatnya … kau hanya perlu mampir ke restoranku. Dia pasti kembali.”

“Belum tentu.”

“Kelompok band,” celetuk Willis. “Itu sebabnya dia datang ke restoranku semalam, untuk menyaksikan sebuah kelompok band yang sedang bermain.”

“Apa kerja dia sekarang?”

“Jadi bartender di Pantai Hampton, untuk membantu temannya. Kau pernah bertanya-tanya pada dirimu sendiri kenapa orang brengsek selalu mempunyai banyak teman? Di kota ini tentu tidak ada lowongan baginya, karena nyaris semua orang tahu apa yang telah dia lakukan. Tapi di Hampton hanya ada turis dan anak-anak, mereka tidak akan mengenalinya. Kalaupun mereka mengenali siapa dia, mereka takkan perduli. Sepengetahuan mereka, dia itu hanya bartender yang menyajikan minuman.”

“Aku tidak mendengar kabar apapun tentang dia.”

“Dengar, aku sangat membencinya, Matt. Semua putra-putraku sempat satu sekolah dengannya dan dulu perangainya tak jauh beda. Kau tahu berapa lama ia akan dikurung untuk perbuatannya? Paling lama lima tahun. Kau ingat ‘kan, tujuh tahun lalu, ada seorang wanita yang menembak suaminya sampai mati kemudian membuang mayat korban dari jembatan Sungai Merrimack? Wanita tersebut mengikat mayat suaminya bersama satu karung semen seberat 45 kilogram. Sekarang wanita itu tinggal di kota Lawrence, bekerja sebagai sekertaris. Mana ada keadilan di dunia ini?”

“Aku punya pistol berkaliber .38 yang kubeli bertahun-tahun lalu. Sekarang aku tak pernah lupa membawa pistol itu ke toko. Aku bilang pada Ruth, pistol itu hanya untuk jaga-jaga saja, terutama di malam hari saat aku pergi ke ATM. Tapi, kurasa Ruth tahu alasan yang sebenarnya.”

“Maksudmu?”

“Aku mulai mempersenjatai diri sejak Ruth pertama kali melihat pemuda itu di sekitar sini. Ia tahu aku membawa pistol kalau-kalau suatu hari aku juga melihat pemuda itu, dan apabila terjadi situasi yang—”

Matt berhenti bicara, menatap Willis, dan meneguk habis minumannya. Willis membuatkannya minuman lain.

“Situasi macam apa?”

“Kalau-kalau pemuda itu menyerangku, maka aku bisa membunuhnya atas dasar bela diri.”

“Apa pendapat Ruth?”

“Dia tidak tahu.”

“Katamu tadi dia tahu, bahwa dia sudah bisa menebak tujuanmu.”

Matt membayangkan kejadian sore tadi: saat Ruth masuk ke dalam supermarket Sunnyhurst, menemukan Strout sedang menunggu di meja kasir. Petugas supermarket tidak memperhatikan, sibuk menata barang di dalam kantong belanjaan. Mau tidak mau, Ruth berbalik menjauh dari sana dan bersembunyi di balik deretan sup kaleng sampai pemuda itu pergi.

“Ruth akan menembak pemuda itu sendiri kalau dia yakin bisa membidiknya dengan tepat.”

“Kau punya ijin untuk memiliki senjata api?” tanya Willis.

“Tidak.”

“Aku punya. Kau bisa dihukum penjara selama satu tahun kalau ketahuan membawa pistol tanpa ijin.”

“Entahlah. Mungkin nanti aku akan mengurus surat ijinnya, mungkin juga tidak. Mungkin aku akan berhenti membawa pistol ke mana-mana.”

Richard Strout berusia dua puluh enam tahun. Saat masih duduk di bangku SMA, ia dikenal sebagai atlit sekolah prestasi olahraga yang menjanjikan beasiswa bergengsi ke Universitas Massachusetts sebagai pemain football. Ia hanya bertahan selama dua semester, karena menjelang ujian akhir ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Waktu itu, orang berkata: Richard mampu menyelesaikan kuliahnya, hanya saja ia memutuskan untuk berhenti.

Richard kembali ke rumah orangtuanya dan membantu ayahnya bekerja di bidang konstruksi. Anehnya, dia menolak ketika ditawarkan oleh ayahnya untuk mempelajari seluk-beluk bisnis keluarga. Sekarang bisnis keluarga itu diteruskan oleh kedua kakak laki-laki Richard, salah satu alasan kenapa Matt Fowler selalu melihat truk-truk bangunan atau tanda-tanda konstruksi berlogo Strout and Sons kemanapun ia pergi.

Tidak lama setelah itu, Richard menikah dengan seorang seorang gadis dan bekerja sebagai bartender. Gaji dan tips yang ia terima setiap bulan terus meningkat, bahkan menyaingi apa yang pernah ditawarkan oleh ayahnya (begitu Richard divonis masuk penjara, sang ayah tanpa banyak pikir segera membayarkan uang jaminan ke pengadilan untuk membebaskannya)

Ketika berita tentang pembunuhan Frank menyebar, orang-orang yang tadinya hanya mengenal Richard lewat nama atau wajah mendadak dihantui oleh bayang-bayang semu yang mereka ingat tentang seorang pemuda bernama Richard Strout—termasuk teman dan musuhnya (Richard juga memiliki musuh: gerombolan pemuda yang sering adu otot dengannya atau para bocah yang tidak berani melawannya). Mereka membayangkan seorang atlit SMA yang berprestasi, seorang pemabuk di bar, seorang pemuda bertopi buruh kasar yang sedang bersantap siang di rumah makan, atau seorang bartender berperilaku sopan. Hanya itu. Bayangan yang paling jelas adalah ketika ia melayani pelanggan dari balik meja bar: mata dan wajah gelap, tulang rahang lebar, ekspresi misterius, tatapan kosong.

Suatu malam, Richard meninju Frank. Frank masih tinggal bersama kedua orangtuanya, menunggu datangnya bulan September untuk memulai program pasca-sarjana di bidang ekonomi. Untuk sementara waktu, Frank mengisi kesehariannya dengan bekerja sebagai penjaga pantai di Pantai Salisbury. Di sana ia bertemu Mary Ann Strout, yang sudah sebulan berpisah dengan Richard. Mary Ann sering menghabiskan waktu di pantai bersama kedua putranya.

Malam itu, sebelum jam sepuluh, Frank pulang ke rumah. Sebelumnya, ia sempat mampir ke rumah sakit. Ia masuk ke ruang tamu dengan wajah babak belur, mata kanannya penuh jahitan dan kedua bibirnya bengkak.

“Aku tidak apa-apa,” katanya menenangkan Matt dan Ruth yang kontan terkejut mendapati kondisi Frank. Matt mematikan televisi, membiarkan Ruth lebih dulu menghampiri Frank: seorang pemuda bertubuh tinggi, ramping dan berotot, dengan warna kulit kecoklatan karena terlalu banyak berjemur. Frank berusaha tersenyum, namun tertahan oleh bengkak di bibir.

“Pasti suaminya yang melakukan ini padamu,” tuduh Ruth.

“Mantan suami,” kata Frank. “Entah datangnya dari mana.”

Matt menyentuh rahang Frank dengan lembut dan mendekatkan wajah putranya ke cahaya lampu, menatapi sederet jahitan di dekat mata Frank, bercak darah di bawah mata, dan warna biru memar di sekelilingnya.

“Kita harus mengajukan tuntutan,” putus Matt.

“Tidak.”

“Bagaimana kalau ia mengulangi perbuatannya? Apa kau balas menghajarnya hingga ia kapok?”

“Aku tidak menyentuhnya sama sekali.”

“Lalu apa rencanamu?”

“Belajar karate,” kata Frank, sekali lagi mencoba tersenyum.

“Jangan bercanda,” kata Ruth.

“Ayolah, Bu. Selama ini Ibu tidak pernah ada masalah dengan Mary Ann,” Frank beralasan.

“Banyak orang di kota ini yang tidak bermasalah dengan Ibu,” kilah Ruth. “Bagaimana dengan anak-anak Mary Ann? Apa mereka melihatmu dipukuli?”

“Untungnya mereka sudah tidur.”

“Kau tinggalkan Mary Ann begitu saja bersama Richard?”

“Richard pergi setelah Mary Ann mencacinya. Kalau tidak salah, tadi Mary Ann mengancamnya dengan sebuah penggorengan.”

“Duh, ampun deh,” kata Ruth.

Diam-diam Matt merasakan apa yang dirasakan istrinya: di meja makan saat Frank sedang keluar bersama Mary Ann; atau malam-malam lain—Frank jarang ada di rumah—saat Matt berbincang dengan Ruth sembari menonton televisi di ranjang, jendela kamar terbuka lebar hingga memungkinkan mereka untuk menikmati udara malam, Matt membayangkan dengan rasa bangga dan sedih sosok putranya dalam pelukan Mary Ann.

Ruth menyatakan keberatannya akan hubungan Frank dan Mary Ann karena beberapa hal. Pertama, Mary Ann masih terikat secara hukum dengan Richard; kedua, karena Mary Ann telah memiliki anak; ketiga, karena Mary Ann berusia empat tahun lebih tua dari Frank; dan, terakhir—Ruth mengakui semua ini kepada Matt di tempat tidur, di mana selama ini ia selalu mengakui semua yang ia rasakan: tentang cinta, tentang hasrat, tentang kekhawatiran akan anak-anak mereka; tentang luka yang disebabkan oleh Matt kepadanya atau sebaliknya—ia menentang hubungan Frank dan Mary Ann karena gosip yang beredar: bahwa pernikahan Mary Ann dan Richard telah lama retak, disebabkan oleh perselingkuhan dari kedua belah pihak.

“Tidak mungkin,” kata Matt. “Richard tidak mungkin membiarkan Mary Ann selingkuh.”

“Mungkin Richard mencintainya.”

“Pemuda itu cepat panas. Mustahil ia bisa menahan diri.”

Sebenarnya, Matt yakin Richard tahu tentang perselingkuhan Mary Ann dengan lelaki lain dan hanya berpura-pura bodoh; teman-teman Matt pun menggosipkan hal yang sama. Kini Matt penasaran siapa di antara teman-teman Ruth yang telah membocorkan masalah perselingkuhan Mary Ann. Layaknya suami-suami lain, Matt kerap merasa terganggu sekaligus terasing karena—setelah tiga puluh satu tahun hidup bersama—ia masih tidak tahu apa saja yang dibicarakan Ruth bersama teman-teman wanitanya.

Di malam-malam musim panas seperti sekarang, Matt hanya ingin menenangkan istrinya, bukan mendebatnya; meski, lambat laun, kedua tindakan tersebut tidak bisa dibedakan: Ruth memiliki alasan sendiri atas keberatannya, dan Matt hanya bisa menjadi penengah. Dalam usahanya menjembatani keinginan Ruth dan Frank, Matt mengesampingkan opininya sendiri, walau intinya sama saja dengan opini Ruth.

Saat berbicara dengan Ruth, Matt merasa sangsi terhadap kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri, seolah semua itu datangnya dari alam lain atau tempat asing. Mungkin itu pula yang menghadirkan kejanggalan di dalam dirinya saat sedang mengutarakan pendapat kepada Ruth, tak ubahnya suatu ritual yang ia jalani secara metodis.

“Perceraian itu tidak berarti apa-apa,” kata Matt. “Waktu mereka pertama bertemu, Mary Ann masih sangat muda, dan bukan tidak mungkin ia menyukai Richard hanya karena ketampanannya saja. Setelah mereka hidup bersama, baru ia menyadari orang macam apa yang telah ia nikahi. Bagiku pribadi, perceraian mereka adalah hal yang positif.”

“Mary Ann belum cerai.”

“Mungkin secara hukum mereka masih resmi menikah. Tapi di luar itu, status mereka sudah bukan suami-istri. Negara bagian Massachusetts punya hukum yang rumit untuk mengurus perceraian, di situ kendalanya,” Matt beralasan. “Menurutku, usia Mary Ann lumrah saja. Apa bedanya kapan dia dilahirkan? Tentang masalah lain yang kau khawatirkan: kalaupun gosip tentang perselingkuhan Mary Ann ternyata benar—asal kau tahu, aku sangsi akan kebenarannya—aku yakin semua itu tidak ada kaitannya dengan Frank. Itu bagian dari masa lalunya, sudahlah. Dan anak-anak Mary Ann bukan juga sesuatu yang harus kau risaukan. Usia pernikahannya dengan Richard sudah mencapai enam tahun; lazim halnya kalau mereka punya anak. Frank menyukai bocah-bocah itu, bahkan sering mengajak mereka bermain. Lagipula, kurasa Frank takkan menikahi Mary Ann—jadi kau tidak perlu khawatir tentang biaya yang harus kita keluarkan.”

“Kalau mereka tidak berencana menikah, lantas apa sedang dilakukan Frank bersamanya?”

“Mary Ann mungkin tulus mencintai Frank, Ruth. Semua gadis-gadis selalu jatuh cinta pada anak kita yang satu itu. Kenapa kita tidak bisa menerimanya dengan lapang dada?”

“Selasa kemarin, Frank baru pulang ke rumah jam enam pagi.”

“Aku sudah memberinya peringatan soal itu.”

Matt berkata jujur. Karena ia terbiasa basa-basi dengan Ruth, Matt memutuskan untuk menegur Frank secara langsung. Malam sebelumnya, ia mengikuti Frank ke parkiran mobil seusai makan malam.

“Kau takkan bisa jadi maling,” kata Matt.

“Kenapa?”

Matt memandang putranya, takjub: dengan tinggi tubuh enam kaki, Frank menjulang satu inci di atas Matt. Saat Frank berusia tujuh belas tahun, Matt selalu membanggakan tinggi tubuh putranya yang melebihi ketinggiannya sendiri. Namun, fakta yang sama membuatnya rikuh jika harus menegur atau memperingati Frank.

Matt menyentuh lengan Frank yang kekar, teringat akan struktur tubuh yang masih begitu belia dan penuh hasrat, yakin bahwa ia bisa menelusuri jejak masa mudanya sendiri di sana. Sekilas Matt merasa bangga, sedih dan iri: tidak tahu kepada siapa rasa iri itu ia tujukan, Frank atau Mary Ann.

“Waktu kau pulang kemarin pagi, aku tidak sengaja terbangun. Suatu hari nanti, ibumu yang akan memergokimu. Kalau itu sampai terjadi, aku yang repot. Aku janji padamu, asal kau bermain sesuai  aturan, ibumu takkan menghalangi jalanmu. Oke? Aku tahu ini berarti—” Matt berhenti, melanjutkan kalimatnya sendiri dalam hati: Aku tahu ini berarti kau harus pergi dari rumah Mary Ann dan meninggalkannya di ranjang seorang diri saat jam menunjukkan pukul tengah malam, kemudian dalam keadaan mengantuk kau harus berkendara pulang, aku tahu—

“Oke,” kata Frank, menyentuh pundak Matt dan masuk ke dalam mobil.

Selain itu, masih ada pembicaraan lainnya, tapi yang paling panjang adalah pembicaraan mereka yang pertama: suatu malam mereka berkendara berdua menuju Fenway Park, dan Matt sengaja memesan tiket pertandingan baseball agar mereka bisa memiliki waktu khusus untuk bicara. Ketika Frank menerima tawarannya untuk pergi menonton pertandingan tersebut, Matt mau tidak mau harus mengungkit topik yang sudah beberapa lama mengganggu benaknya.

Dari tempat tinggal mereka, perjalanan ke tengah kota Boston memakan waktu 40 menit. Selama perjalanan, mereka membicarakan Mary Ann, hingga mobil yang mereka tumpangi berbaur dengan lalu-lintas kota di samping Sungai Charles. Permukaan sungai tampak kebiru-biruan diterpa sinar matahari sore. Frank menceritakan semuanya kepada Matt, sesuatu yang Matt tahu harus ia ceritakan kembali kepada Ruth saat mereka berbaring di atas ranjang nanti dan menelaah semua kejadian yang mereka lalui hari itu. Berat rasanya bagi Matt untuk menceritakan kepada Ruth apa yang sedang didengarnya dari mulut Frank.

“Sepertinya tanggung jawab yang amat berat untuk seseorang semuda dirimu,” komentar Matt.

“Terkadang memang rasanya begitu. Tapi Mary Ann adalah wanita yang tepat.”

“Apa kalian sudah memikirkan tentang pernikahan?”

“Kami belum membicarakannya. Selama setahun ke depan, dia masih harus mengurus perceraiannya. Dan aku harus meneruskan sekolah.”

“Aku benar-benar suka padanya,” kata Matt.

Matt tidak berbohong mengenai perasaannya terhadap Mary Ann. Beberapa kali, saat matahari musim panas masih bergantung rendah di langit luas, Frank membawa Mary Ann pulang ke rumah. Tubuh mereka berkilauan dibaluri krim pelindung matahari, dan kedatangan mereka selalu disertai oleh harum udara pantai. Matt menyuguhkan dua gelas gin dan tonic untuk keduanya, kemudian menyiapkan alat pemanggang di halaman belakang rumah dengan cara memanaskan seonggok batu bara. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Mary Ann, yang sedang duduk di kursi taman: rambut panjangnya yang berwarna coklat muda. Dua puluh tahun lalu, pikir Matt, Mary Ann pasti merubah warna rambutnya menjadi pirang. Matt juga merasa senang menatapi sepasang kaki Mary Ann yang indah dan berwarna keemasan karena dijemur hampir setiap hari.

Mary Ann memiliki paras jelita, yang mungkin menjadi alasan kenapa ia selalu menarik perhatian orang kemana pun ia pergi. Sepasang matanya yang lebar dan berwarna kecoklatan adalah satu-satunya bagian dalam diri Mary Ann yang menandakan bahwa ia lebih tua dari Frank.

Setelah meneguk beberapa gelas minuman beralkohol, Matt membayangkan ia melihat sesuatu yang erotis di sorot mata Mary Ann, bukti dari gosip yang beredar tentang dirinya. Tapi, Matt yakin, bukan itu yang membuat Mary Ann menarik, atau setidaknya bukan itu saja.

(…bersambung ke bag. 2)

__________________________________________

CATATAN:

* Kisah ini disadur dari cerita pendek bertajuk “Killings” karya ANDRE DUBUS, yang diterbitkan pertama kali di tahun 1979. Dua puluh dua tahun kemudian, di tahun 2001, cerita ini diadaptasikan ke dalam bentuk film dengan judul “In The Bedroom” besutan sutradara muda, Todd Field.

* Andre Dubus adalah seorang penulis AS yang meninggal di usia 62 tahun di tahun 1999. Beliau dinobatkan sebagai salah satu cerpenis terbaik di abad ke-20.

Fiksi Lotus © 2010. Karya ini tidak untuk dijual, ditukar, ataupun digandakan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: