Saki

Di tengah rimbunnya pepohonan dalam sebuah hutan lebat di belah timur tebing Pegunungan Carpathian*, seorang pria berdiri tegap mengawasi sekelilingnya. Saat itu musim dingin, dan ia tampak seolah sedang menunggu monster hutan datang menghampirinya, dalam jangkauan pandangannya, agar kemudian dapat ia bidik dengan senapan berburunya.

Namun mangsa yang ditunggunya tak kunjung datang; Ulrich von Gradwitz terpaksa berpatroli di sekitar hutan gelap demi menemukan musuh besarnya.

Daerah perhutanan milik keluarga Gradwitz tergolong sebagai salah satu yang terluas di kota itu dan merupakan habitat populer bagi rusa-rusa liar; dan meskipun sebaris area lahan hutan yang letak geografisnya sedikit curam melingkari tepian pegunungan tidak dikenal sebagai habitat rusa liar maupun lokasi berburu yang aman, bagian itu adalah yang paling sering diperebutkan para pemilik tanah di sana.

Dulu, saat kakek Ulrich masih hidup dan menguasai area perhutanan ini, ada sebuah kasus hukum yang menarik perhatian orang banyak menyangkut kepemilikan sebaris area lahan hutan tersebut. Pihak yang merasa tanahnya direbut tidak pernah merasa puas terhadap keputusan pengadilan, dan selama tiga generasi hubungan antara kedua belah pihak tak ubahnya musuh bebuyutan yang bertekad untuk saling menghabisi. Skandal perebutan tanah secara ilegal pun terus berlangsung selama puluhan tahun.

Persiteruan hebat itu pun akhirnya menjadi masalah pribadi sejak Ulrich resmi dinobatkan sebagai kepala keluarga Gradwitz; dan satu-satunya pria di dunia ini yang ia benci dengan seluruh jiwa dan raga adalah Georg Znaeym, penerus pertikaian antar-keluarga mereka dan seorang pencuri rusa liar yang punya kebiasaan menerobos perbatasan lahan milik keluarga Gradwitz.

Pertikaian itu mungkin tidak perlu diperpanjang sampai sekarang atau bahkan bisa diselesaikan bertahun-tahun lalu kalau saja kedua pria tersebut tidak menyimpan dendam kesumat terhadap satu sama lain. Dulu, saat masih kanak-kanak, mereka sudah menyimpan rasa benci yang tak terhingga terhadap satu sama lain; lalu saat mereka tumbuh dewasa, keduanya saling menyumpahi agar yang lain tertimpa bencana; dan di malam musim dingin seperti sekarang, Ulrich telah menyatukan semua pegawai-nya untuk menjaga daerah perhutanan keluarganya di tengah kelamnya malam. Ia melakukan ini bukan untuk menangkap rusa liar; melainkan untuk menangkap para pencuri yang ia curigai telah menerobos garis perbatasan lahan.

Sekelompok rusa liar yang biasanya berlindung di dalam gua saat terjadi badai angin kini berlarian tanpa aturan—dari gerakan mereka Ulrich menebak bahwa sekelompok rusa itu merasa resah, tidak aman, hingga mereka menolak untuk beristirahat. Tentu saja ada elemen pengacau di dalam hutan itu, dan Ulrich bisa menebak dari mana datangnya.

Ulrich pun memisahkan diri dari kelompok penjaga yang sengaja ia posisikan di atas bukit guna menyergap siapa saja yang berniat menerobos garis perbatasan atau mencuri rusa-rusa liar di dalam properti keluarga Gradwitz—sementara ia menelusuri area lain jauh di bawah tebing curam di tengah jerat serasah**, menatap jauh ke atas ke arah batang-batang pohon sambil mendengarkan suara desau angin yang menggelinjang menerpa ranting-ranting pepohonan. Di mana para pengacau itu? Jika saja di tempat gelap dan sepi ini ia tak sengaja berpapasan dengan Georg Znaeym, berhadapan dengan satu sama lain tanpa ada yang tahu—Ulrich tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi itu adalah harapan dia selama ini, sesuatu yang selalu ia bayangkan. Lalu, ketika ia melangkah hati-hati mengitari batang pohon beringin, mendadak ia dihadapkan kepada pria yang ia cari.

Kedua musuh bebuyutan itu berdiri menatap satu sama lain untuk waktu yang lama, diselumuti oleh kesunyian yang mendalam. Masing-masing membawa senapan, dan masing-masing dari mereka juga sangat benci terhadap satu sama lain hingga ingin saling membunuh. Kini kesempatan yang mereka tunggu telah tiba—namun sebagai warga yang berpendidikan mereka tidak bisa begitu saja menembak seorang tetangga dengan darah dingin tanpa mengatakan sepatah kata pun, kecuali kalau memang terjadi pelanggaran hukum yang bisa dibuktikan atau terlontar kata hinaan yang tak termaafkan.

Tetapi sebelum keraguan itu akhirnya memicu tindakan yang nanti disesali, tiba-tiba saja alam menunjukkan rencananya sendiri. Badai yang tengah menerpa mengakibatkan tumbangnya pohon beringin di sisi mereka, mengeluarkan suara yang menggelegar di atas kepala, hingga batang pohon berukuran raksasa itu terjatuh pasrah ke atas tanah. Ulrich von Gradwitz jatuh terpelanting dengan sebelah tangan telipat ke belakang, tertimpa tubuhnya sendiri, kebal rasa; sementara tangan yang lain tersangkut dalam jalinan ranting-ranting pepohonan; serta kedua kaki tercekat di bawah tumpukkan cabang pohon yang tumbang.

Untung saja ia mengenakan sepatu bot yang biasa ia pakai untuk berburu—karena sepasang sepatu itu menyelamatkan kedua kakinya hingga tak remuk tertimpa cabang pohon. Namun, tetap saja, meskipun kakinya tak remuk, tulang kakinya mengalami trauma yang cukup berat hingga ia tak mampu bergerak sampai ada seseorang yang datang menyelamatkannya. Ranting yang mencuat dari cabang pohon mengiris kulit wajahnya, dan Ulrich terpaksa mengedipkan matanya berkali-kali demi menyingkirkan tetesan darah yang berkumpul di bulu matanya. Setelah itu, ia baru bisa melihat dengan jelas akibat dari bencana kecil barusan.

Terbaring di sisinya, dengan jarak begitu dekat hingga mereka bisa bersentuhan, adalah Georg Znaeym, masih hidup namun tengah berjuang untuk mengangkat tubuhnya dari himpitan cabang-cabang pohon beringin yang tumbang. Di sekeliling mereka cabang dan ranting pohon dalam berbagai ketebalan serta ukuran bertumpuk pasrah menyerupai bangkai kapal yang karam di dasar laut.

Lega karena masih hidup namun kesal terhadap kondisinya sekarang mendorong Ulrich untuk menuturkan serangkaian kutukan terhadap dirinya sendiri serta rasa terima kasih terhadap Yang Kuasa. Georg yang pengelihatannya agak terganggu karena darah yang terus menetes dari kepala berhenti berusaha membebaskan diri dari himpitan cabang-cabang pohon untuk sesaat dan mendengarkan keluhan serta kalimat syukur yang keluar dari bibir Ulrich. Hal itu membuatnya tertawa.

“Jadi kau masih hidup, tapi kau tetap terjebak,” teriak Georg. “Terjebak dengan cepat lagi. Ho, lucu sekali, Ulrich von Gradwitz terperangkap di dalam hutan curiannya. Ternyata di dunia ini masih ada keadilan!”

Georg tertawa lagi, lebih keras, lebih kejam, seraya mengolok-olok musuhnya.

“Aku terperangkap di hutanku sendiri,” balas Ulrich. “Saat orang-orangku datang untuk membebaskan kita, kau akan berharap kau tak pernah mencoba mencuri tanah tetangga—memalukan sekali perbuatanmu itu.”

Georg tertegun sesaat, lalu membalas dengan tenang:

“Kau yakin saat orang-orangmu datang, kau masih hidup? Orang-orangku juga ada di hutan ini sekarang, tidak jauh dariku, dan MEREKA akan datang duluan kemari untuk membebaskanku. Saat mereka menarikku dari himpitan cabang-cabang pohon ini, takkan sulit bagi mereka untuk menggulingkan batang pohon raksasa ini tepat di atas tubuhmu. Orang-orangmu akan datang dan menemukanmu dalam keadaan mati tertimpa batang pohon beringin. Lalu, agar terlihat sopan, aku akan menyampaikan bela sungkawa terhadap keluargamu.”

“Bagus juga idemu,” kata Ulrich penuh amarah. “Orang-orangku sudah diperintahkan untuk mengikuti jejakku dalam waktu 10 menit sejak aku pergi, dan kuperkirakan setidaknya 7 menit telah berlalu sejak tadi. Saat mereka membebaskan aku—aku akan ingat baik-baik idemu. Tapi karena tujuanmu kemari adalah untuk mencuri hewan-hewan piaraanku, maka kurasa aku takkan bisa mengirimkan pesan bela sungkawa terhadap keluargamu.”

“Bagus,” kata Georg, “bagus sekali. Kita bisa bertengkar sampai mati—kau dan aku dan orang-orang kita, tanpa ada campur tangan penerobos di antara kita. Semoga kau mati dan dijatuhkan bencana, Ulrich von Gradwitz.”

“Begitu pula untukmu, Georg Znaeym—tukang curi lahan dan rusa.”

Kedua pria berbicara dengan nada pahit, karena masing-masing dari mereka tahu bahwa akan memakan waktu cukup lama sebelum orang-orang mereka datang menemukan mereka, atau bahkan terpanggil untuk mencari keberadaan mereka: mendadak isu orang-orang siapa yang akan datang terlebih dahulu ke lokasi kejadian menjadi tak penting lagi…

… Lanjutan kisah ini dapat dibaca di buku FIKSI LOTUS: Vol. 1 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang telah tersedia di toko-toko buku terdekat, atau pesan secara online di sini.

———–

Catatan:

* Pegunungan Carpathian memanjang di antara Eropa Tengah dan Timur, melengkung seperti busur sepanjang 1,500 km.

** serasah adalah guguran segala cabag pohon, daun, ranting, bunga, dan buah.

>> Kisah ini bertajuk ‘The Interlopers’ karya Saki, diterbitkan pertama kali pada tahun 1919. Saki adalah nama pena dari Hector Hugh Munro, seorang penulis asal Inggris yang dikenal kepiawaiannya dalam menulis fiksi pendek hingga bakatnya sering disandingkan dengan bakat penulis kenamaan lainnya, O. Henry.

Hak Cipta © Saki, Fiksi Lotus 2010. Tidak untuk digandakan, dijual, ataupun ditukar.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

One Comment on “Menembus Batas

  1. Ping-balik: 5 Cara Menulis Paragraf Pertama Sebuah Cerpen | APLIKASI PERKANTORAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: