Ben Loory

Adalah seorang laki-laki yang hidup di sebuah padang pintu. Ia menghabiskan seluruh hidupnya keluar-masuk pintu demi pintu yang bertebaran di sekelilingnya. Pertama, ia melangkah keluar, lalu ia melangkah masuk dari arah berlawanan. Sesekali, ia juga iseng keluar-masuk dari pintu yang berbeda. Selang-seling tak menentu. Menambah variasi.

Selama bertahun-tahun, laki-laki itu telah melangkah keluar-masuk lewat ribuan pintu. Hal ini dia lakukan secara teratur, dua puluh empat jam sehari, seumur hidupnya.

Lalu, suatu hari, tak sengaja ia menemukan sebuah tembok di tengah hamparan pintu.

Awalnya, ia tidak menyadari keberadaan tembok tersebut — secara otomatis ia justru mengulurkan tangan untuk membuka tembok itu seraya melangkahkan kaki keluar, memperlakukannya sama seperti sebuah pintu.

Tunggu! ujar laki-laki itu beberapa saat kemudian. Tunggu — apakah aku baru saja melewati tembok?

Ia memutar tubuhnya dan menatap ke belakang, dari mana ia baru saja melangkah. Tapi di sana tak ada apa-apa. Udara kosong. Tak ada tembok, tak ada pintu.

Kemana perginya? tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri.

Kemudian, ia pun mulai mencari tembok misterius tersebut.

Laki-laki itu mencari ke segala penjuru, hingga satuan hari, minggu, bulan, dan tahun tak lagi terhitung. Ia mencari ke seisi padang luas, dari satu sudut ke sudut lain — tanpa hasil.

Yang ia temukan hanya pintu, pintu, dan pintu lagi.

Baiklah, seru laki-laki itu, aku akan membangun tembokku sendiri!

Ia mengambil sebentuk palu dan mengumpulkan setumpuk paku.

Ia menghancurkan setiap pintu yang ada di padang itu, lalu memaku semuanya jadi satu.

Laki-laki itu membangun sebuah tembok setinggi langit; selebar cakrawala.

Ketika pekerjaannya selesai, ia berdecak mengagumi hasil jerih payahnya sendiri.

Dan saat itulah tembok raksasa tersebut mulai tumbang ke arahnya.

Awalnya, tembok itu oleng — maju, mundur — sebelum akhirnya tumbang.

Tidak! pikir laki-laki itu, meletakkan kedua tangan di kepala; membalikkan tubuh seraya berlari sekuat tenaga.

Ia terus berlari. Secepat mungkin. Namun tembok itu terlalu besar hingga ke mana pun ia berlari tak  akan ada gunanya. Bedebum! Tembok itu rubuh, meratakan tubuh laki-laki tersebut dengan tanah: dentumannya menggelegar keras menggetarkan padang yang dulu dipenuhi pintu.

Tapi sebelum tembok itu jatuh menimpanya — tepat di momen terakhir — sesuatu di dalam tubuh laki-laki tersebut sekonyong-konyong terbuka. Seperti sebuah jendela yang tersesat, memancarkan cahaya terang walau berukuran kecil. Laki-laki itu pun tak buang waktu kabur ke dalam bukaan tersebut. Hilang entah kemana.

————-

Catatan:

* Kisah ini bertajuk “The Wall”, karya Ben Loory, seorang penulis naskah film asal AS yang tinggal di sebuah rumah di atas bukit di Los Angeles, California. Kisah ini pertama kali diterbitkan di tahun 2009 oleh Every Day Fiction.

>> Buku kumpulan fiksi pendek perdana karya Ben Loory akan diterbitkan oleh Penguin Books di tahun 2011, bertajuk STORIES FOR NIGHTTIME AND SOME FOR THE DAY.

Hak Cipta © Ben Loory, Fiksi Lotus 2010. Tidak untuk diperjual-belikan, digandakan, ataupun ditukarkan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

19 Comment on “Tembok Misterius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: