Jean-Paul Sartre

Mereka mendorong kami ke dalam ruangan besar bernuansa putih. Aku berkedip, lagi dan lagi, karena pancaran cahaya lampu neon membuat mataku perih. Kulihat ada sebentuk meja, di mana empat orang pria tengah duduk membaca lembaran dokumen. Warga sipil. Mereka juga mengelompokkan satu grup tahanan lain di belakang ruangan hingga kami harus berjalan melintasi ruang putih ini untuk menghampiri sesama tahanan. Di antara gerombolan tahanan itu, aku hanya mengenali beberapa wajah, sementara lainnya yang tak kukenal kuanggap sama seperti orang asing yang datang dari belahan dunia lain.

Dua tahanan di hadapanku memiliki rambut pirang dan bentuk kepala bulat; persis saudara kembar. Mungkin mereka berkebangsaan Perancis. Salah satu tahanan yang bertubuh lebih kecil terus-terusan menarik celananya; gugup.

Proses tanya-jawab berlangsung selama tiga jam; kepalaku pening dan kosong, tapi setidaknya ruangan ini cukup hangat karena dilengkapi dengan pemanas—selama 24 jam terakhir tubuh kami terus-terusan menggigil kedinginan. Para petugas keamanan menggiring satu demi satu tahanan ke meja tempat keempat warga sipil tadi duduk dengan ekspresi menghakimi. Mereka menanyakan nama serta pekerjaan kami. Selebihnya, mereka tidak terlalu banyak tanya, atau kalaupun mereka melontarkan pertanyaan, biasanya perntanyaan itu bersifat random: “Apakah Anda ada sangkut-pautnya dengan sabotase persediaan senjata?”—atau—“Di mana Anda berada di pagi hari pada tanggal 9 dan apa yang Anda lakukan?” Anehnya, mereka justru tak mendengarkan jawaban para tahanan, atau setidaknya begitu yang kuperhatikan. Untuk sesaat, mereka terdiam, lalu sambil menatap lurus ke depan, mereka akan mulai menuliskan sesuatu di atas kertas. Mereka bertanya pada Tom apakah benar dia pernah bergabung dengan pasukan International Brigade, dan Tom tak bisa mengelak karena dokumen yang mereka temukan tersimpan di dalam saku jaketnya. Sementara itu, mereka tidak menanyakan apa-apa pada Juan selain namanya, namun mereka menulis untuk waktu yang cukup lama setelah Juan mengutarakan nama lengkapnya.

“Kakak saya, José, adalah seorang penganut anarki,” tutur Juan, “tapi dia sudah lama melarikan diri. Sedangkan saya tak pernah ikut-ikutan dalam partai politik.”

Keempat warga sipil yang duduk di belakang meja tak merespon penuturan pria itu, maka Juan melanjutkan: “Saya tidak pernah melanggar hukum, dan saya juga tidak mau membayar kesalahan orang lain.”

Bibir Juan mendadak bergetar. Seorang petugas keamanan terpaksa membungkam mulutnya dan menggiringnya pergi. Kemudian tibalah giliranku.

“Nama Anda Pablo Ibbieta?”

“Ya.”

Salah satu dari empat sosok manusia di hadapanku melirik ke arah sejumlah dokumen di tangannya dan bertanya: “Di mana Ramon Gris?”

“Saya tidak tahu.”

“Anda membiarkan dia bersembunyi di kediaman Anda dari tanggal 6 sampai 19.”

“Itu tidak benar.”

Mereka menggoreskan pena di atas kertas untuk sesaat, lalu para petugas keamanan pun menyingkirkanku. Saat melintas di koridor, Tom dan Juan tengah berdiri menunggu di antara kepungan dua petugas keamanan. Kami pun berjalan beriringan. “Gimana?”

“Apanya?” tanya salah satu petugas keamanan.

“Apakah status kami masih sebagai tersangka, atau kami sudah dijatuhi hukuman?”

“Kalian sudah dijatuhi hukuman,” jawab sang petugas keamanan.

“Apa yang akan mereka lakukan terhadap kami?”

Sang petugas keamanan menjawab santai, “Hukuman kalian akan dibacakan di dalam sel tahanan.”

Sebenarnya sel tahanan kami adalah sebuah gudang yang pernah berfungsi sebagai tempat penyimpanan obat-obatan rumah sakit. Suhu di sini sangat dingin karena angin yang menyeruak masuk lewat kisi-kisi jendela. Kami menggigil sepanjang malam dan di siang hari pun suhunya masih sama. Lima hari sebelumnya, aku dikurung di sebuah sel tahanan di dalam biara—sel itu bentuknya seperti lubang yang digali di dinding sejak jaman abad pertengahan: dan karena banyaknya tahanan serta keterbatasan ruangan, kami pun dikunci di tempat-tempat sembarangan.

Aku sama sekali tidak merindukan sel tahanan sebelumnya, memang di sana aku tidak menggigil kedinginan, tapi aku kesepian seorang diri; setelah beberapa hari aku jadi kesal sendiri karena tak ada kawan bicara. Di sini setidaknya aku punya teman sependeritaan. Juan jarang angkat suara: dia ketakutan serta masih terlalu muda untuk angkat suara. Tom, di lain pihak, tak bisa berhenti bicara dan mampu berbahasa Spanyol.

Di dalam gudang ada sebuah bangku kayu panjang dan empat karpet. Saat para petugas keamanan menjebloskan kami kembali ke dalam ruangan ini, kami duduk dan menunggu dalam hening. Setelah beberapa saat, Tom berkata, “Habislah kita.”

“Kurasa juga begitu,” kataku. “Tapi kurasa mereka takkan melukai Juan, ia masih terlampau muda.”

“Mereka tidak punya kasus untuk menghukumnya,” kata Tom. “Dia adalah adik seorang pemberontak, itu saja.”

Aku menoleh ke arah Juan, tapi pemuda itu tampak tak mendengarkan pembicaraan kami. Tom melanjutkan kalimatnya: “Kau tahu apa yang mereka lakukan di Saragossa? Mereka menjajarkan para tahanan di atas jalan dalam posisi berbaring—lalu melindas para tahanan dengan truk gandeng. Seorang prajurit asal Moroko yang memberitahuku. Katanya mereka lakukan itu untuk mengirit amunisi.”

“Tapi itu sama saja dengan buang-buang bensin namanya,” sahutku.

Aku kesal terhadap Tom: buat apa dia menceritakan hal mengerikan seperti itu?

“Setelah itu, mereka menyuruh beberapa petugas untuk berjalan mondar-mandir di sekitar tubuh-tubuh yang terlindas,” lanjut Tom. “Dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana dan rokok tersangkut di bibir, para petugas membiarkan tahanan yang terlindas berteriak kesakitan. Mereka bahkan tak punya belas kasihan untuk membunuh tahanan yang sudah sekarat. Terkadang mereka biarkan para tahanan mengerang kesakitan selama sejam penuh. Kata si orang Moroko ia saja nyaris muntah melihatnya.”

“Kurasa tak mungkin mereka melakukan hal itu di sini,” ujarku. “Kecuali mereka benar-benar kekurangan amunisi.”

Bias sinar mentari datang menyambut hari dan mengalir ke dalam gudang tempat kami ditahan lewat empat lubang udara, serta sebuah bukaan bundar di langit-langit dari mana kami bisa meneropong hamparan langit di atas. Bukaan tersebut biasa digunakan sebagai jalan pintas menuang bongkahan batu bara ke dalam gudang, atau ditutup dengan jebakan guna menangkap tentara musuh. Tepat di bawah bukaan tersebut ada seonggok besar debu batu bara yang dulu dijadikan bahan bakar pemanas; meski sejak awal terjadinya perang, rumah sakit itu dikosongkan, sementara tumpukkan batu bara dibiarkan terbengkalai begitu saja. Tak sering bebatuan itu tersiram curah hujan, apabila bukaan di atasnya lupa ditutup.

Tom mulai menggigil. “Ya Tuhan, aku kedinginan sekali,” katanya. “Mulai lagi deh.”

Ia bangkit berdiri dan mulai melakukan sejumlah gerakan untuk memanaskan suhu tubuh. Setiap kali dia bergerak, kaus yang ia kenakan terangkat sampai batas dada, menunjukkan putih kulit serta bulu lebat. Ia berbaring di atas punggung, mengangkat kedua kaki di udara dan melakukan gerakan menggenjot sepeda. Kulihat bokongnya yang besar bergetar. Sebenarnya Tom itu gagah, tapi ia terlalu gemuk. Aku membayangkan nanti saat dia dihukum mati dengan senapan, peluru yang ditembakkan akan tenggelam dalam gumpalan lemak tubuhnya seperti benda berat yang jatuh ke dalam timbunan mentega. Kalau saja ia bertubuh kurus, tentunya aku takkan membayangkan hal macam ini.

Aku tidak merasa terlalu kedinginan, tapi aku tidak bisa menggerakkan tangan maupun pundakku lagi. Terkadang aku bahkan merasa seolah aku kehilangan sesuatu, dan mulai mencari-cari sebentuk jaket ketika aku mendadak teringat mereka tidak menyediakan jaket untuk kami. Bisa dibilang kondisinya sangat tidak nyaman. Mereka menyita pakaian kami dan memberikannya kepada para prajurit mereka, sementara hanya meninggalkan kaus untuk kami pakai—berikut celana kanvas yang biasa dikenakan pasien rumah sakit di musim panas.

Beberapa menit kemudian, Tom bangkit berdiri dan duduk di sampingku, napasnya memburu hebat.

“Sudah lebih hangat?” tanyaku.

“Sama sekali tidak. Tapi sekarang aku jadi ngos-ngosan.”

Sekitar pukul delapan malam, seorang Mayor datang berkunjung ke sel tahanan kami, diikuti oleh dua orang falangistas*. Sang Mayor membawa selembar kertas di tangan. Ia bertanya kepada seorang petugas keamanan, “Siapa nama ketiga orang itu?”

“Steinbock, Ibbieta, dan Mirbal,” sahut si petugas.

Sang Mayor mengenakan sepasang kacamatanya dan menatap ke arah daftar nama-nama yang tertera di atas kertas: “Steinbock … Steinbock … Oh ya … kau mendapat hukuman mati. Besok pagi kau akan ditembak mati.” Ia terus memandangi permukaan kertas di tangannya. “Begitu juga dengan dua orang lainnya.”

“Itu tidak mungkin,” kata Juan, lirih. “Aku tidak mungkin dihukum mati.”

Sang Mayor menatap ke arah Juan dengan ekspresi tak percaya. “Siapa namamu?”

“Juan Mirbal,” jawab si pemuda.

“Tapi namamu ada dalam daftar ini,” jelas Sang Mayor. “Kau telah dijatuhi hukuman.”

“Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Juan bela diri.

Sang Mayor mengedikkan bahu seraya membalikkan tubuh ke arah Tom dan aku.

“Namamu Basque?”

“Tidak ada orang bernama Basque di sini.”

Sang Mayor tampak kesal. “Mereka bilang ada tiga orang bernama Basque di sini. Aku takkan buang-buang waktu mengejar mereka. Apakah kalian butuh bertemu dengan seorang pendeta?”

Kami tak menjawab.

“Seorang dokter asal Belgia akan segera datang mengunjungi kalian,” kata Sang Mayor. “Dia telah diberi ijin untuk bermalam di sini bersama kalian.” Lalu, ia memberikan salut ala militer dan melangkah pergi.

“Apa kataku,” celetuk Tom. “Kita pasti kena batunya.”

“Ya,” kataku. “Tapi sungguh tak adil bagi Juan.”

Sejujurnya, aku mengatakan itu semata-mata hanya karena aku tak ingin mencari masalah; tapi sebenarnya aku tidak suka terhadap Juan. Wajahnya terlalu tirus, dan semakin tak karuan rupanya ditempa rasa takut, cemas, dan derita. Seluruh penampilannya jadi berantakan. Tiga hari lalu dia tampak seperti pemuda cerdas; namun sekarang ia tampak seperti orangtua yang telah ringkih—dan aku terus berpikir bahwa, jika pun mereka membebaskannya, ia takkan pernah kembali muda seperti saat ia masuk ke dalam bui tiga hari yang lalu.

Sesungguhnya tidak sulit bagiku untuk mengasihani pemuda itu; tapi aku benci terhadap belas kasihan yang berlebihan, atau mungkin sebenarnya aku justru terintimidasi. Juan tak melontarkan sepatah kata pun setelah Sang Mayor pergi, namun sekujur tubuhnya berubah keabu-abuan—wajah dan tangannya berubah keabu-abuan. Ia kembali duduk dan menatap lantai di bawah kakinya dengan matanya yang bulat. Tom berhati baik, ingin memeluk pemuda itu; namun Juan malah mendorong menjauh sambil meringis.

“Biarkan dia sendirian,” kataku dengan suara rendah, “kau bisa lihat tak lama lagi dia akan bereaksi histeris.”

Tom menurut, meski menyesali sikap Juan. Dia ingin menenangkan pemuda itu, karena dengan begitu dia pun bisa melewati deraan waktu yang berlalu begitu lamban, dan dia tak perlu memikirkan nasibnya sendiri. Aku sendiri merasa terganggu dengan situasiku: sebelumnya aku tak pernah memikirkan masalah hidup dan mati, karena aku tak punya alasan memikirkan masalah mati; namun sekarang ada alasan bagiku untuk memikirkan masalah ini, dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali terus berpikir.

Tom angkat suara. “Jadi menurutmu kau telah berhasil menyingkirkan beberapa orang, ya?” ia bertanya. Aku tidak menjawab. Tom menjelaskan bahwa sejak awal bulan Agustus dia telah menyingkirkan setidaknya enam orang, namun ia tidak sadar akan situasinya dan aku rasa ia pun tak mau mengetahuinya. Aku sendiri tidak pernah menyadarinya, meski aku terus bertanya-tanya apakah prosesnya menyakitkan; kubayangkan peluru-peluru itu membakar tubuhku. Tapi semua itu tak menjawab pertanyaan Tom; aku tak ingin panik; masih ada waktu semalam suntuk untuk mempelajari situasi.

Tak lama kemudian, Tom pun berhenti bicara. Kuawasi dia dari sudut mataku—kulihat dia juga berubah keabu-abuan, dan parasnya bagai benda busuk tak bergairah sama sekali. Dalam hati, aku membathin: “Sekarang permainannya dimulai.”

Hari nyaris berakhir, malam turun perlahan-lahan; sinar pucat mengalir lewat kisi-kisi ruangan dan tumpukkan batu bara tampak tak sedap dilihat teronggok di bawah langit luas. Dari tempat dudukku aku menengadahkan wajah dan menangkap sebentuk bintang lewat bukaan di langit-langit; malam ini terlihat begitu dingin dan murni.

Pintu ruangan terbuka dan dua orang petugas keamanan melangkah masuk, diikuti oleh seorang pria berambut pirang yang mengenakan seragam berwarna coklat. Ia memberi hormat terhadap kami. “Saya adalah dokter yang ditugaskan kemari,” kata pria itu. “Saya diminta menemani dan membantu kalian melalui masa-masa menegangkan ini.”

Pria itu memiliki suara yang lembut dan menenangkan. “Apa yang kamu inginkan dari kami?” hardikku.

“Saya di sini untuk membantu kalian—memastikan agar momen terakhir dalam hidup kalian tidak sesulit yang dibayangkan.”

“Untuk apa datang kemari? Toh masih ada tahanan lain, rumah sakit ini penuh akan tahanan.”

“Saya dikirim kemari,” jawab sang dokter dengan tatapan kosong. “Ah! Apakah Anda ingin merokok?” lanjut sang dokter. “Saya datang membawa rokok dan cerutu.”

Ia menawarkan rokok dari Inggris dan puros**, namun kami menolaknya. Kutatap dia lekat-lekat di mata, namun sang dokter justru tampak terganggu. Kukatakan padanya, “Kau tidak datang kemari untuk menyampaikan belas kasihanmu. Lagipula, aku tahu siapa dirimu. Aku sempat melihatmu dengan kaum fasis di pekarangan kemah tentara saat aku ditahan.”

Aku baru saja hendak melanjutkan kalimatku, ketika sesuatu yang mengejutkan terjadi padaku: kehadiran sang dokter di sini tidak lagi menarik bagiku. Biasanya saat aku sedang mencecar seseorang, aku takkan berhenti begitu saja. Tapi hasratku untuk berbicara mendadak sirna; maka aku hanya mengedikkan bahu dan mengalihkan pandanganku darinya. Tak lama setelah itu, aku mengangkat kepalaku: sang dokter mengawasiku dengan seksama. Kedua petugas keamanan duduk di atas karpet. Pedro, yang bertubuh tinggi kurus, tengah memutar-mutar jempol tangannya; sementara yang lain menggelengkan kepalanya sesekali agar tidak jatuh tertidur.

“Anda butuh lampu?” tanya Pedro kepada sang dokter, yang kemudian menjawab—“Ya.” Kurasa sang dokter tidak terlalu cerdas, tapi juga tidak bodoh. Menatap ke dalam sepasang bola matanya yang berwarna biru, aku yakin masalah terbesar dia hanyalah kekurangan imajinasi. Pedro keluar sebentar, dan kembali membawa sebentuk lampu minyak yang kemudian diletakkan di sudut kursi kayu. Penerangannya cukup buruk, tapi lebih baik daripada dikurung dalam kegelapan. Malam kemarin, kami dibiarkan tenggelam dalam gelap. Untuk waktu yang lumayan lama, aku menatap lingkaran cahaya bermain-main di langit-langit ruangan. Aku terpesona. Lalu, tiba-tiba aku terbangun. Lingkaran cahaya tadi telah sirna entah ke mana, dan aku merasa seolah terhimpit benda yang sangat berat—bukan karena aku memikirkan kematian, ataupun karena aku takut; tapi ada hal lain yang tak bisa kunamakan. Pipiku memanas dan kepalaku berdenyut hebat.

Aku menggoyangkan tubuh serta menatap kedua teman satu selku. Tom menyembunyikan wajahnya di dalam tangan. Aku hanya bisa melihat tengkuk lehernya yang berwarna putih dan menyimpan gumpalan lemak. Sementara Juan adalah yang paling parah di antara kami berdua: mulutnya terbuka dan bulu hidungnya bergetar. Sang dokter menghampiri Juan dan meletakkan tangannya di pundak pemuda itu untuk memberi ketenangan: namun mata birunya tetap memancarkan pandangan dingin seperti es. Kuperhatikan tangan dokter Belgia itu mengelus lengan Juan hingga akhirnya berhenti di pergelangan, namun Juan tak perduli. Tak memerhatikan. Sang dokter memegang pergelangan Juan dengan tiga jari, agak terganggu oleh tatapanku, sebelum akhirnya memutuskan untuk memunggungiku. Tapi aku mencondongkan tubuh ke belakang agar tetap bisa mengawasi gerak-gerik sang dokter; kulihat ia mengambil sebentuk jam dari sakunya dan menatap jam itu lekat-lekat tanpa melepas jemarinya dari pergelangan Juan. Setelah satu menit, ia menjatuhkan tangan dalam genggamannya dan pergi menjauh, menyandarkan punggungnya di dinding ruangan. Kemudian, seolah mendadak teringat akan sesuatu yang sangat penting dan harus ia catat, sang dokter mengeluarkan sebentuk buku catatan dari dalam saku dan menuliskan beberapa kalimat. “Sial,” pikirku penuh amarah. “Awas saja kalau dia berani mengukur denyut nadiku. Akan kutonjok wajahnya.”

Sang dokter tak pernah menghampiriku, meski dapat kurasakan tatapan tajamnya. Kuangkat kepalaku dan kubalas tatapannya. Lalu, ia berkata dengan santai, “Apa kau tidak kedinginan di sini?” Sang dokter tampak kedinginan, biru.

“Aku tidak kedinginan,” kataku.

Sang dokter tak pernah melepaskan pandangannya dariku. Tiba-tiba aku sadar dan buru-buru meraba wajahku: aku berkeringat. Di dalam gudang ini, di tengah musim dingin, di tengah hembusan udara yang menyelinap masuk lewat kisi-kisi jendela, aku malah berkeringat. Kularikan jemariku untuk membelai rambut sendiri yang basah oleh keringat; kurasakan kaus yang kukenakan lembab dan menempel ke tubuh; ternyata sudah sejam ini aku berkeringat hebat, meski aku tak merasakannya sama sekali. Meski begitu dokter Belgia tersebut sudah sejak tadi memerhatikanku: tetes demi tetes keringat yang mengalir di wajahku mengundang teori baru di kepalanya—bahwa ini adalah manifestasi dari situasi patologi teror; dan ia merasa normal karena ia kedinginan. Aku ingin bangkit dan menghancurkan wajahnya, tapi belum lagi aku sanggup mengekspresikan amarahku, mendadak energiku sirna: aku terjatuh ke atas kursi kayu tanpa sanggup berbuat apa-apa.

Kuseka keringat yang membasahi leher dengan sehelai sapu tangan. Dapat kurasakan sekarang bulir-bulir keringat menetes dari ujung rambut ke permukaan leher, dan aku merasa sangat tidak nyaman. Lama-lama, aku pun berhenti menyeka keringat; lagipula tak ada gunanya juga. Sapu tanganku basah kuyup, namun aku masih terus berkeringat. Bokongku ikut berkeringat dan celana panjang yang kukenakan pun terasa lembab dan lengket.

Sekonyong-konyong, Juan angkat suara. “Kau benar seorang dokter?”

“Ya,” kata si orang Belgia.

“Apakah aku akan merasakan sakit … untuk waktu yang lama?”

“Huh? Kapan …? Oh, tidak,” kata sang dokter penuh otoritas. “Tidak sama sekali. Semuanya akan berakhir dalam waktu relatif singkat.” Ia berlaku seolah ia tengah menenangkan seorang pelanggan.

“Tapi … mereka bilang … kadang-kadang mereka harus menembak dua kali.”

“Kadang-kadang,” jawab sang dokter, mengangguk. “Bisa saja tembakan yang pertama gagal mengenai organ-organ vital.”

“Kalau begitu mereka harus mengisi senapan mereka lagi dan membidikku untuk kedua kalinya?”—Juan tercenung, berpikir, lalu menambahkan dengan suara serak—“Itu ‘kan butuh waktu!”

Juan sangat takut terhadap penderitaan, dan hanya itu yang terpikir olehnya: karena dia masih muda. Aku tidak pernah memikirkan penderitaan, dan aku berkeringat sekarang bukan karena aku takut menderita.

Aku beranjak dari kursi dan menghampiri setumpuk serpihan batu bara. Tom melonjak berdiri dan melemparkan tatapan benci ke arahku: sepatuku ternyata berderit-derit dan mengganggunya. Aku penasaran apakah ekspresiku tampak secemas dia: kulihat Tom juga berkeringat. Langit di atas kami tampak luar biasa indahnya, tak ada cahaya yang terbias ke sudut-sudut gelap, dan aku hanya perlu menengadahkan kepalaku untuk menemukan konstelasi bintang bernama Big Dipper. Tapi tak sama dengan hari-hari kemarin: malam sebelumnya aku bisa melihat sepotong langit luas dari selku di dalam biara dan setiap jam memicu memori yang berbeda dalam ingatanku. Di pagi hari, saat langit tampak kokoh dalam nuansa biru muda, aku membayangkan pesisiran pantai Atlantic; di siang hari saat kulihat matahari, aku membayangkan sebuah bar di Seville di mana aku suka minum manzanilla*** dan mengudap buah olive serta ikan asin; di sore hari, saat aku berada dalam bayang-bayang semu, kuimpikan bayang-bayang gelap yang melebar melampaui setengah arena pertarungan banteng sementara setengah lainnya tampak begitu silau diterpa sinar matahari—sulit sekali rasanya melihat dunia lewat refleksi yang ditampilkan di langit. Namun sekarang aku bisa menatap langit sebanyak dan sesering yang kumau, aku tak lagi terganggu oleh memori yang terpicu. Aku duduk di samping Tom.

Detik terus berlalu…

… Lanjutan cerita ini dapat dibaca di buku FIKSI LOTUS: Vol. 1 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang telah tersedia di toko-toko buku terdekat, atau pesan online di sini.

————————

Catatan:

falangistas adalah orang-orang yang terlibat dalam partai politik

** puros adalah cerutu asal Cuba yang terkenal

*** manzanilla adalah padanan anggur merah yang dibuat di propinsi Cadiz, Andalusia (Spanyol)

>> JEAN-PAUL SARTRE adalah seorang filsuf, penulis, dan aktivis asal Perancis. Di tahun 1964, ia dinobatkan sebagai pemenang Penghargaan Nobel Sastra, namun ia menolak. Kisah ini, yang aslinya bertajuk ‘The Wall’, diterbitkan di tahun 1933 dalam sebuah koleksi cerita pendek berjudul sama. Baik cerita individu, maupun koleksinya, dianggap sebagai karya eksistensialis terbaiknya.

Hak Cipta © Jean-Paul Sartre, Fiksi Lotus 2010.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

3 Comment on “Menjelang Fajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: