Nora Ephron

(diterjemahkan oleh Jessica Huwae)

Untuk waktu yang sangat lama, hanya ada satu hal yang paling penting tentang diriku, yaitu statusku sebagai janda. Bahkan setelah aku tak lagi menyandang status janda, dan menikah kembali, status itu tidak serta-merta sirna begitu saja. Saat ini aku sudah menikah dengan suamiku yang ketiga selama lebih dari dua-puluh tahun. Saat kau bercerai dan memiliki anak, maka perceraian itu akan mendefinisikan segalanya; ia akan jadi fakta yang menghantui, layaknya sepotong kemarahan di kepalamu.

Tentu saja ada perceraian baik-baik, tanpa pertikaian, dan cenderung damai. Pembayaran tunjangan anak berjalan lancar, jadwal berkunjung tepat waktu, mantan suamimu mengetuk terlebih dulu sampai pintu rumah dibukakan, dan bukannya asal nyelonong masuk. Bahkan dia tak sungkan membuat kopi untuk dirinya sendiri saat berada di rumahmu. Di kehidupan selanjutnya, aku harus memiliki tipe perceraian yang seperti ini.

Menurutku, satu hal terbaik tentang perceraian adalah bahwa hal itu akan membuatmu menjadi istri yang lebih baik bagi suamimu yang berikut. Karena sekarang amarahmu sudah terkendali; dan tidak seenaknya saja kau lampiaskan pada pasangan barumu.

Perceraian juga memperjelas hal yang selama ini tertutupi oleh pernikahan, bahwa… kau sendirian. Tidak ada pertentangan kekuasaan tentang siapa yang akan bangun pada tengah malam nanti. Tentu saja jawabannya: dirimu sendiri.

Akan tetapi aku tidak bisa memikirkan sisi baik perceraian selama itu melibatkan anak-anak. Kau tidak bisa menganggap enteng hal tersebut seperti kebanyakan orang. Biasanya orang berkata, “Akan lebih baik bagi anak-anak itu untuk tidak tumbuh besar dalam keluarga yang tidak bahagia.” Akan tetapi, kecuali orangtua mereka saling memukul atau melakukan kekerasan, tentu saja anak-anak lebih baik tinggal bersama kedua orangtua mereka.

Anak-anak masih terlalu kecil untuk berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Mereka juga masih terlalu muda untuk paham bahwa dua orang yang mereka cintai sudah tidak saling mencintai lagi (atau lebih parah, tidak pernah mencintai satu sama lain sejak awal). Mereka takkan paham bahwa sekeras apapun mereka berharap, mustahil bagi mereka untuk menyatukan kembali kedua orangtua mereka.

Lebih dari itu, rumitnya pengaturan hak asuh bersama hanya akan menambah kenyataan pedih bahwa untuk melihat salah satu orangtua, mereka harus meninggalkan orangtua lainnya.

Perceraian terbaik adalah perceraian yang tidak melibatkan anak-anak. Contohnya, perceraian pertamaku. Aku keluar dari pernikahan itu dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Waktu itu kami hanya memiliki sejumlah kucing piaraan — ya, aku dan mantan suamiku dulu sering bicara dengan menggunakan suara-suara kucing. Akan tetapi begitu pernikahan kami berakhir, aku tidak pernah memikirkan kucing-kucing itu lagi (setidaknya sampai aku menuliskan mereka ke dalam novelku dan menyamarkan identitas mereka sebagai hamster).

Beberapa bulan sebelum kami bercerai, aku mendapat penugasan dari majalah untuk menulis tentang aktor Rod Steger dan Claire Bloom soal pernikahan mereka yang menakjubkan. Aku datang ke apartemen mereka yang terletak di Fifth Avenue, dan mereka meminta untuk diwawancara secara terpisah. Seharusnya ini sudah merupakan pertanda, hanya saja aku tidak sadar. Bahkan, kalau dipikir, aku punya kesulitan membaca pertanda hingga menginjak usia lima puluh tahun. Anyway, aku mewawancara Rod dan Claire di ruang terpisah. Mereka terlihat sangat bahagia. Kemudian aku menulis cerita mereka dan mengirimkannya ke majalah dan tak lama berselang aku menerima cek sebagai pembayaran. Sehari sesudah mencairkan cek tersebut, Rod dan Claire mengumumkan perpisahan mereka. Benar-benar tidak dapat dipercaya. Mengapa mereka tidak mengatakan apa pun kepadaku? Mengapa mereka mau diwawancara mengenai pernikahan mereka saat mereka justru hendak berpisah?

Namun, setelah itu, pernikahanku sendiri berakhir; dan seminggu kemudian seorang fotografer muncul di apartemen lama kami untuk memotret aku dan mantan suamiku untuk sebuah artikel tentang dapur kami. Aku sudah tidak tinggal di situ tentu saja. Bahkan aku lupa bahwa aku pernah menjanjikan wawancara itu. Reporter yang terlibat dalam penugasan tersebut sempat marah besar saat mengetahui perihal perceraianku. Katanya aku berlaku tidak etis karena telah menyetujui proses wawancara tentang dapur rumah tanggaku, meski aku tahu aku akan bercerai.

Akan tetapi kenyataannya, kau tidak selalu tahu bahwa kau akan bercerai. Setelah bertahun-tahun menikah, tiba-tiba suatu hari konsep perceraian merasuki kepalamu. Kau endapkan konsep itu selama beberapa waktu. Kau pikirkan kemungkinan itu, lantas kau enyahkan pikiran itu. Kau mulai membuat daftar. Kau hitung berapa besar biaya yang harus dikeluarkan. Kau menimbang-nimbang, menghitung plus-minusnya. Kau selingkuh. Kau mulai menemui psikolog. Lantas kau dan pasanganmu mulai ikut proses konseling. Kemudian kau akhiri pernikahan itu; bukan karena keadaan bertambah buruk, akan tetapi karena kau sudah memiliki tempat tinggal sendiri atau karena ayahmu mendadak berbaik hati memberikan uang sebesar $3.000 kepadamu.

Aku tidak bermaksud melewatkan konteks cerita ini. Pernikahan pertamaku kandas di awal tahun 1970-an. Saat itu merupakan puncak pergerakan wanita. Jules Feiffer* menggambar karikatur perempuan-perempuan muda yang sedang menari-nari dengan liar dan memang seperti itulah kami pada waktu itu. Perempuan muda di masa itu cenderung serius. Kami membuat kontrak tentang pembagian kerja rumahtangga. Kami rajin menghadiri pertemuan-pertemuan sosial tentang bagaimana cara menjadi perempuan yang lebih berperan aktif, dan kami duduk bersama, membentuk lingkaran, seraya berpura-pura bahwa kami tidak saling iri satu sama lain.

Kami membaca traktat yang menyatakan bahwa segala hal yang bersifat personal, juga bersifat politis. Dan pada kenyataannya memang begitu, meski porsinya tidak seheboh yang kami bayangkan.

Akan tetapi masalah utama dalam pernikahan kami bukanlah karena para suami tidak mau berbagi pekerjaan rumahtangga, melainkan karena kami adalah wanita-wanita muda yang mudah tersinggung dan suami-suami kami sangat senang menyinggung perasaan kami.

Satu hal yang aku ingat saat bergabung dengan kelompok aktivis perempuan adalah sebuah momen di mana seorang wanita menangis gara-gara suaminya memberikan hadiah panci di hari ulang-tahunnya.

Anehnya, wanita itu tidak pernah bercerai dari suaminya.

Namun kami semua pada akhirnya menggugat cerai suami-suami kami.

Kami tumbuh di era di mana perceraian adalah hal yang tabu, dan sekarang tiba-tiba saja semua orang bercerai.

Perceraian keduaku adalah jenis perceraian yang paling buruk. Saat itu aku sudah punya dua anak; bahkan yang bungsu baru saja lahir. Suamiku jatuh cinta pada wanita lain dan aku mengetahuinya pada saat aku sedang hamil. Aku pergi ke New York untuk bertemu produser sekaligus penulis bernama Jay Presson Allen. Ketika aku hendak beranjak ke Bandara LaGuardia untuk naik bus Eastern shuttle kembali ke Washington, dia menyerahkan satu skenario yang kebetulan menganggur di tempat tinggalnya, dan ditulis oleh penulis Inggris bernama Frederic Raphael. “Bacalah,” ujarnya, “kau akan menyukainya.”

Aku buka naskah itu di atas pesawat. Cerita dimulai dengan pesta makan malam yang dihadiri oleh sepasang suami-istri. Aku tidak ingat nama mereka, namun sebut saja Clive dan Lavinia. Pesta itu terkesan mewah dan semua yang hadir adalah orang-orang terpelajar yang senang membicarakan hal-hal penting. Clive dan Lavinia bercakap-cakap dengan hangat dan saling menggoda. Semua orang di pesta tersebut mengaggumi keintiman dan pernikahan mereka. Semua tamu duduk untuk makan dan pembicaraan terus berlanjut. Di tengah-tengah makan malam, seorang pria yang duduk di dekat Lavinia meletakkan tangannya di kaki wanita itu. Lavinia menyulut tangan pria itu dengan ujung rokoknya. Ketika makan malam usai, Clive dan Lavinia berkendara pulang. Tak lama, pembicaraan mereka terhenti dan keduanya berkendara dalam diam. Mereka tidak punya bahan pembicaraan untuk satu sama lain. Kemudian Lavinia berkata, “Baiklah, siapa perempuan itu?”

Kejadian ini ditulis di halaman 8 skenario tersebut.

Aku tutup skenario itu. Dadaku sesak. Pada momen itu aku sadar bahwa suamiku berselingkuh. Aku duduk terpaku sepanjang penerbangan. Saat pesawat mendarat, aku segera pulang ke rumah dan langsung menuju ruang kerjanya. Ada laci yang terkunci di sana. Tentu saja. Aku tahu laci itu pasti dikunci. Kutemukan kuncinya. Kubuka lacinya dan ada barang bukti di sana—sebuah buku cerita anak-anak pemberian perempuan itu lengkap dengan catatan kecil tentang keabadian kisah cinta mereka. Kutulis semua pengalaman ini dalam novelku yang berjudul Heartburn, dan buku itu termasuk buku komedi, tapi ceritanya – saat kejadian – tidak terkesan lucu sama sekali. Aku merasa sangat terluka dan patah hati. Aku khawatir tentang apa yang akan terjadi denganku dan anak-anakku. Aku merasa dijebak, bodoh dan malu. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah aku akan jadi salah satu wanita yang diceraikan suaminya dan dipaksa pindah dengan anak-anaknya ke Connecticut lalu tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya.

Aku meninggalkan pernikahan itu secara dramatis, dan hanya sudi kembali setelah suamiku mengumbar janji. Akan tetapi dia selalu masuk dalam siklus yang sama: kebohongan demi kebohongan. Aku mulai mengamati gerak-geriknya, diam-diam membuka amplop tagihan kartu kredit American Express-nya dengan cara menghangatkan amplop itu di atas api kompor. Kuminta teman-temanku untuk menjaga rahasia ini rapat-rapat, tapi kemudian kutemukan bahwa teman-teman yang sama tak bisa menyimpan rahasia, dan seterusnya.

Suatu hari, aku menemukan bon misterius dari toko antik James Robinson**. Aku menghubungi toko itu dan pura-pura jadi asisten suamiku. Aku bilang aku perlu tahu barang apa yang dibeli atasanku agar aku bisa mengasuransikannya. Bon tersebut ternyata berasal dari pembelian kotak porselin antik yang bertuliskan “I Love You Truly”. Aku menyimpulkan, kotak porselin sama persis dengan yang diberikan suamiku bertahun lalu dengan ucapan “Forever and Ever”. Aku menceritakan ini agar kau mengerti bahwa ini adalah bagian dari proses: sekali suamimu berselingkuh, kau harus terus menggali lebih dalam, lagi dan lagi dan lagi, sampai kau merasa begitu rendah dan tak ada pilihan lain kecuali mengakhiri pernikahan itu.

Ketika pernikahan keduaku berakhir, aku merasa begitu marah, syok dan sakit hati.

Saat ini bila kuingat-ingat, ya tentu saja.

Aku pikir, Siapa yang benar-benar bisa berlaku setia ketika mereka masih muda?

Aku pikir, Ini bukan akhir dari segalanya.

Aku pikir, Semua orang ceroboh dan hampir tak ada konsekuensi untuk kecerobohan itu (kecuali bagi anak-anak mereka, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya).

Namun aku selamat. Kepercayaanku adalah: Lupakan. Aku mengubahnya menjadi cerita seru. Sebuah novel. Dan aku bisa membeli rumah dari hasil novel tersebut.

Banyak yang berkata, begitu masalah berlalu, maka kau akan melupakan penderitaanmu. Tentu saja itu hanya berlaku ketika kau sedang melahirkan. Kenyataannya, kau ingat rasa sakit itu, yang kau lupakan adalah rasa cinta yang pernah kau miliki.

Di awal, perceraian terasa seperti proses panjang yang tak ada habisnya. Kemudian suatu hari, kau melihat anak-anakmu tumbuh dewasa, pindah rumah, memiliki kehidupan mereka sendiri, dan kecuali untuk acara-acara khusus, kau tidak akan berhubungan dengan mantan suamimu lagi. Perceraian berumur lebih panjang ketimbang usia pernikahanmu sendiri. Akan tetapi saat ini semua telah berakhir.

Sudah cukup kita membicarakan hal itu.

Intinya, untuk waktu yang sangat lama, hanya ada satu fakta paling penting tentang diriku, yaitu statusku sebagai seorang janda.

Sekarang status itu bukanlah hal paling penting tentang diriku.

Saat ini, hal paling penting tentang diriku adalah fakta bahwa aku sudah tua. FL

Februari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus, Nora Ephron, dan Jessica Huwae. Tidak untuk ditukar, dijual atau digandakan.


#KETERANGAN:

(*) Jules Feiffer adalah seorang kartunis yang semasa hidupnya dikenal dengan karya-karya satirnya. Ia memenangkan penghargaan Pulitzer Prize di tahun 1986 untuk karyanya.

(**) James Robinson adalah toko perhiasan dan barang antik yang ternama di New York.

#CATATAN:

> Esai ini berjudul asli The D Word karya NORA EPHRON dan pertama kali diterbitkan dalam memoar I Remember Nothing (and Other Reflections) terbitan Knopf pada tahun 2010.

>> NORA EPHRON adalah penulis buku, penulis skenario komedi romantis dan sutradara asal Amerika Serikat. Buku-bukunya antara lain I Feel About My Neck, Heartburn, Crazy Salad, Wallflower at the Orgy dan Scribble Scribble. Skenario film yang ditulisnya antara lain You’ve Got Mail, Julie & Julia dan When Harry Met Sally…

>>> JESSICA HUWAE adalah penulis fiksi dan non-fiksi asal Indonesia. Di antara karya-karyanya adalah Work It, Girl; Soulmate.com; Skenario Remang-Remang; Galila; dan Javier.

 

 

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

11 Comment on “Esai: Perceraian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: