Ray Bradbury

“George, tolong lihat kamar bermain anak kita.”

“Memangnya kenapa?”

“Entahlah.”

“Nah, kan.”

“Aku cuma ingin kau pergi melihatnya, atau panggil seorang psikolog untuk melihatnya.”

“Buat apa bawa-bawa psikolog ke kamar bermain anak kita?”

“Kau tahu benar apa gunanya membawa psikolog ke sana.” Sang istri terdiam di tengah dapur, menatap kompor di hadapannya mendengung halus selagi meracik hidangan makan malam untuk empat orang.

“Kelihatannya kamar bermain anak kita agak beda dengan yang dulu.”

“Baiklah, ayo kita pergi lihat.”

Mereka melintasi lorong di dalam rumah mereka yang dindingnya terbungkus oleh lapisan kedap suara Happylife Home, yang mereka pasang dengan ongkos tiga puluh ribu dolar. Rumah itu adalah tempat mereka membesarkan, memberi makan anak-anak mereka; dan juga tempat anak-anak mereka bermain, tidur, dan bernyanyi. Rumah itu adalah rumah yang layak bagi pertumbuhan anak-anak. Begitu langkah mereka semakin dekat dengan kamar anak-anak, ada saklar yang tiba-tiba terusik, seolah otomatis, dan mendadak lampu kamar bermain menyala. Pada saat bersamaan, di belakang mereka, di sepanjang lorong yang baru saja mereka lintasi, lampu ruangan yang menyala juga secara otomatis mati dengan setiap langkah yang mereka ambil.

Well,” kata George Hadley.

Mereka berdiri di atas lantai kamar bermain yang terbuat dari jerami. Panjang kamar itu sekitar dua belas meter dengan ketinggian sembilan meter; dan biaya pembangunannya sekitar separuh harga pembangunan seisi rumah. “Tapi, tentunya, tak ada yang terlalu mahal untuk anak-anak kita,” ujar George waktu itu.

Kamar tersebut sunyi. Kosong laksana tempat terbuka di tengah hutan rimba di siang bolong. Dindingnya kosong dan terlihat datar. George dan Lydia melangkah ke tengah ruangan, dan pada saat itu dinding kamar seolah mengeluarkan suara dengkuran halus, sebelum kemudian ditarik mundur diiringi oleh kilauan kristal yang menyilaukan mata, dan tiba-tiba saja sebuah padang rumput Afrika hadir di sekeliling mereka, dalam tampilan tiga dimensi, dengan biasan warna yang direproduksi sedemikian rupa hingga detail sekecil apapun terlihat nyata, seperti bebatuan kerikil dan remah-remah jerami. Sementara itu, di atas mereka, langit-langit kamar telah berubah jadi tampilan langit biru yang luas dan dinaungi oleh bola matahari kuning nan panas.

George Hadley mulai berkeringat di sekitar alis matanya.

“Ayo, kita cari tempat teduh,” katanya. “Semua ilusi ini terlihat terlalu nyata. Tapi tak ada yang salah dengan itu.”

“Tunggu sebentar,” kata istrinya. “Nanti kau akan lihat sendiri.”

Sekarang mesin odorofonik yang sengaja disembunyikan mulai meniupkan udara yang menebar bau jerami dan rerumputan liar, serta bau lubang air yang sejuk nan segar; belum lagi bau kawanan binatang liar; juga bau debu layaknya paprika merah di udara panas. Setelah itu ada juga suara-suara yang dihasilkan oleh mesin: gemuruh langkah antelope yang melompat di atas hamparan rumput, serta gesekan sayap-sayap kawanan burung bangkai yang terdengar seperti lembaran kertas yang saling bersinggungan. Sekelebat bayangan melintasi langit di atas mereka. Bayangan itu mengerjap di hadapan wajah George Hadley yang berdiri dengan kepala tengadah dan wajah berkeringat.

“Binatang menjijikan,” kata sang istri.

“Burung bangkai.”

“Nah, kau lihat, di kejauhan sana, ada sekawanan singa. Sekarang mereka sedang berjalan ke arah lubang air. Mereka baru saja bersantap,” kata Lydia. “Aku tak tahu apa yang mereka santap.”

“Pasti mereka santap binatang lain.” George Hadley mengangkat tangannya untuk menangkal teriknya sinar matahari dari matanya. “Mungkin seekor zebra, atau jerapah kecil.”

“Kau yakin?” tanya istrinya dengan nada agak tegang.

“Tidak, mana mungkin aku bisa yakin kalau binatang itu sudah disantap habis?” kata George dengan nada sedikit bercanda. “Yang bisa kulihat dari sini hanya sisa tulang-belulangnya saja.”

“Kau dengar teriakan itu?” tanya Lydia.

“Tidak.”

“Sekitar semenit lalu.”

“Sori, aku tidak dengar apa-apa.”

Singa-singa itu mendekat. Dan sekali lagi George Hadley terkagum-kagum oleh teknisi mekanis yang dengan begitu jeniusnya sanggup mengubah kamar tersebut jadi tempat bermain yang penuh stimulasi. Bagai mukjizat, harga yang ia bayar untuk teknologi yang dipasang di kamar ini juga sungguh tak sepadan, terlalu murah. Setiap rumah harus punya teknologi semacam ini, pikirnya. Tentu, sesekali memang menakutkan bila kau melangkah masuk ke dalam ruangan yang kemudian dengan bantuan teknologi bermetamorfosa jadi alam terbuka yang ditampilkan begitu akurat, dan bukan tidak mungkin kau merasa terancam olehnya, tapi secara keseluruhan ini adalah proyek yang menyenangkan bagi semua penghuni rumah, bukan hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa yang mungkin tiba-tiba ingin melancong ke tempat lain, sekadar untuk ganti suasana. Well, ini dia solusinya!

Dan sekarang sekawanan singa itu telah berada empat meter jauhnya dari mereka. Para pemangsa tersebut terlihat begitu nyata, begitu mengancam hingga kau bisa merasakan tajamnya bulu-bulu mereka, dan betapa mulutmu dipenuhi oleh bau mantel kulit mereka yang berwarna kekuningan, sekuning permadani asal Prancis yang begitu elegan. Kuning itu sangat anggun, bagai jubah kerajaan hutan yang hanya pantas dikenakan para singa, dan terbias di pucuk-pucuk helai rerumputan di musim panas. George dan Lydia juga bisa mendengar suara paru-paru para singa yang bergerak halus kembang-kempis, mengisi udara kosong siang bolong, juga mencium bau daging segar dari mulut mereka yang terbuka, dengan napas memburu, seraya meneteskan liur.

Para singa itu menatap George dan Lydia dengan saksama lewat mata mereka yang berwarna hijau-kekuningan.

“Awas!” teriak Lydia.

Para singa itu berlari ke arah mereka.

Lydia buru-buru beranjak dari sana dan menyingkir. Refleks, George pun mengikuti langkah Lydia. Di luar kamar bermain tersebut, di lorong panjang rumah mereka, setelah membanting pintu kamar anak-anak hingga tertutup rapat, George tertawa, sementara Lydia menangis. Lalu keduanya berdiri memandangi satu sama lain, terkejut melihat reaksi satu sama lain.

“George!”

“Lydia! Oh, Lydia sayang!”

“Mereka hampir memangsa kita!”

“Itu hanya dinding, Lydia, ingat: dinding kristal, itu saja. Oh, mereka memang terlihat nyata, aku akui itu — kita berada di tengah hutan rimba Afrika yang terkurung dalam kamar anak-anak — tapi semua itu hanya tipuan dimensi saja, disusun oleh potongan film yang berada di balik layar kaca, diolah dengan warna super-sensitif dan berkapasitas reaktif terhadap segala indera kita. Semua itu tak lebih dari tipu muslihat mesin odorofonik dan sonik, Lydia. Ini, pegang sapu tanganku.”

“Aku takut.” Wanita itu menghampiri suaminya dan menyandarkan tubuhnya pada tubuh suaminya seraya menangis tersedu-sedu. “Apa kau melihat dan merasakan hal yang sama? Semua itu terasa sangat nyata.”

“Sudahlah, Lydia…”

“Kau harus bilang pada Wendy dan Peter untuk tidak membaca apapun yang berhubungan dengan Afrika.”

“Tentu saja.” George menepuk-nepuk punggung istrinya.

“Janji?”

“Janji.”

“Lalu kunci ruangan itu selama beberapa hari sampai aku tenang.”

“Kau tahu sendiri Peter pasti keberatan. Sebulan lalu, ketika aku menghukumnya dengan cara mengunci kamar bermainnya selama beberapa jam dia langsung marah-marah! Wendy juga sama. Mereka hidup untuk bermain di kamar itu.”

“Aku tidak mau tahu, kau harus menguncinya.”

“Baiklah.” Dengan ragu-ragu, George mengunci kamar bermain tersebut. “Kau pasti lelah sekali. Kau butuh istirahat.”

“Entahlah, entahlah,” kata Lydia seraya membersit hidung. Ia duduk di sebuah kursi yang sekonyong-konyong bergoyang maju-mundur untuk menenangkannya. “Mungkin aku terlalu banyak melamun. Mungkin aku berpikir terlalu serius. Bagaimana kalau kita matikan semua perangkat dalam rumah ini dan pergi berlibur selama beberapa hari?”

“Maksudmu kau mau memasak sendiri?”

“Ya.” Angguk Lydia.

“Dan mencuci kaus kakiku?”

“Ya.” Wanita itu mengangguk gugup, matanya berkaca-kaca.

“Dan menyapu rumah?”

“Ya, ya — tentu saja!”

“Tapi kukira itu alasan kita membeli rumah ini, supaya kita tak perlu melakukan apa-apa.”

“Itu dia masalahnya. Aku tidak merasa seolah aku pantas berada di sini. Rumah ini berperan sebagai ibu dan istri, sekaligus teman bermain anak-anak. Mana bisa aku bersaing dengan pesona padang rumput Afrika? Mana bisa aku menyaingi efisiensi dan kecepatan mesin pemandi? Aku tidak bisa. Dan bukan aku saja yang terganggu. Kau juga terganggu. Belakangan ini kau terlihat tegang sekali.”

“Kurasa memang belakangan ini aku terlalu banyak merokok.”

“Kau sendiri tak tahu apa yang harus kau lakukan dalam rumah ini. Kau merokok lebih banyak setiap hari dan minum alkohol lebih banyak setiap sore; dan setiap malam kau butuh minum lebih banyak obat penenang agar bisa tidur nyenyak. Kau juga mulai merasa tidak dibutuhkan, kan?”

“Apa iya?” Lelaki itu terhenti dan berusaha merasakan apa yang sedang ia rasakan sekarang.

“Oh, George!” Lydia menoleh ke arah pintu kamar bermain. “Singa-singa itu tak bisa keluar, kan?”

George menoleh ke arah pintu yang sama dan melihat pintu itu bergetar seolah ada yang hendak mendobraknya dari belakang.

“Tentu saja tidak,” katanya.

Saat makan malam tiba, mereka hanya makan berdua saja karena Wendy dan Peter sedang menghadiri sebuah karnival plastik yang sedang diadakan di sisi lain kota. Sebelum itu, mereka telah menghubungi George dan Lydia lewat telepon video untuk mengabari bahwa mereka akan pulang telat, dan menyarankan agar keduanya makan malam duluan. Maka dengan ekspresi penuh kagum, George Hadley duduk di meja makan seraya mengamati meja makan di hadapannya meracik sajian hangat ke atas meja, menggunakan mesin yang memang sudah jadi bagian meja pintar tersebut.

“Kita lupa saus tomat,” kata George.

“Maaf,” ujar suara dari dalam meja itu, dan tak lama kemudian sebotol saus tomat pun muncul di atas meja.

Mengenai kamar bermain anak-anak, menurut George Hadley tak ada salahnya bila mereka menguncinya dari jangkauan anak-anak untuk sementara. Lagipula, apapun yang baik akan jadi tidak baik bila dikonsumsi terlalu berlebihan. Dan dari tampilan kamar bermain itu, cukup jelas bahwa anak-anak menghabiskan waktu terlalu banyak di Afrika. Di bawah sinar matahari terik. Ia sendiri masih bisa merasakannya, sinar matahari itu begitu menyengat di bagian leher, seolah dicengkeram oleh tangan yang panas. Lalu masih ada lagi faktor lainnya: sekawanan singa, juga amis darah. Sungguh luar biasa kalau dipikir — bagaimana kamar bermain itu sanggup menangkap imajinasi anak-anak dan mengolahnya jadi dunia baru di mana anak-anak tersebut dapat mengeksplorasi tiap-tiap sudut ruang imajinasi mereka sendiri. Begitu anak-anak membayangkan singa, maka singa dihadirkan dalam ruang itu. Zebra, maka zebra dihadirkan juga. Matahari, matahari. Jerapah, jerapah. Kematian dan kematian.

Nah, yang terakhir itu. George mengunyah daging yang telah dipotong-potong oleh meja makan tanpa semangat. Imajinasi tentang kematian. Mereka masih begitu belia, Wendy dan Peter, dan tidak seharusnya memikirkan soal kematian. Atau mungkin tak ada istilah terlalu belia untuk mengenal kematian. Jauh sebelum kau mengenal kematian, kau sudah menyumpahkannya terhadap orang lain. Ketika kau berusia dua tahun, kau sibuk menembakkan pistol mainanmu ke arah semua orang yang kau temui.

Tapi ini — padang rumput Afrika yang panas dan luas, serta kematian mengenaskan di antara rahang seekor singa. Diulang begitu seterusnya.

“Kau mau kemana?”

George tidak menjawab pertanyaan Lydia. Ia seolah sedang khusyuk memikirkan sesuatu, tak memperhatikan cahaya lampu yang bersinar lembut di hadapannya, lalu redup di belakang langkah kakinya yang mengarah ke kamar bermain anak-anak. Ia menempelkan telinganya di atas pintu. Ia menangkap suara auman singa dari kejauhan.

Ia membuka kunci pada pintu kamar dan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Sebelum ia melangkahkan kaki ke dalam kamar, ia mendengar suara teriakan seseorang dari kejauhan, disusul oleh auman lain dari sekawanan singa, yang kemudian reda dalam waktu singkat.

Ia melangkah ke dalam Afrika. Sudah berapa kali ia masuk ke dalam kamar ini tahun lalu dan menemukan dirinya berada di Negeri Ajaib, ditemani Alice, kura-kura jadi-jadian, atau Aladdin dan Lampu Ajaib-nya, atau Jack si Kepala Labu dari Oz, atau Dr. Doolittle, atau seekor sapi yang sedang melompati sebentuk bulan yang tampak begitu nyata — semua hal yang biasa diimajinasikan anak-anak. Ia juga tak jarang melihat kuda Pegasus terbang melintasi langit-langit ruangan, atau air mancur kembang api merah, atau mendengar suara para malaikat yang tengah bernyayi. Namun, sekarang hanya ada Afrika yang panas dan bernuansa kekuningan, yang mungkin bisa dipadankan dengan sebuah oven panggangan. Mungkin Lydia benar. Mungkin mereka sekeluarga perlu pergi berlibur dan menjauh dari segala macam fantasi yang sudah mulai “menjajah” pikiran anak-anak mereka. Dia tidak keberatan bila anak-anaknya ingin melatih imajinasi mereka, tapi jika imajinasi yang seharusnya penuh dengan hal-hal luar biasa kemudian terpaku hanya pada satu pola … ? Nampaknya, sudah sebulanan ini George mendengar auman singa di kejauhan, dan juga mencium bau tubuh mereka yang tak sedap, yang merambat sampai ke ruang kerjanya. Tapi ia terlalu sibuk untuk memperhatikan semua itu.

George Hadley berdiri di tengah padang rumput Afrika itu seorang diri. Sekawanan singa mengangkat wajah mereka dari atas bangkai santapan mereka dan memandanginya dengan saksama. Satu-satunya kekurangan yang dimiliki ilusi itu adalah pintu kamar yang terbuka, dari mana George bisa melihat sosok istrinya, jauh di ujung lorong panjang yang gelap, bagaikan foto berbingkai, sedang asyik menyantap makan malamnya sendiri.

“Pergi dari sini,” kata laki-laki itu pada sekawanan singa.

Mereka tidak pergi.

George tahu benar mekanisme kerja ruangan tersebut. Kau harus mengirimkan buah pikiranmu. Apapun yang kau pikirkan akan muncul dalam ilusi ruangan. “Mari kita undang Aladdin dan lampu ajaibnya,” cetus George. Tapi padang rumput itu masih di sana; sama seperti sekawanan singa tadi.

“Ayo!” teriak George pada kamar tersebut. “Aku mau Aladdin!”

Tak ada yang terjadi. Sekawanan singa tadi mengaum pelan di antara satu sama lain, bulu-bulu mereka tersengat sinar matahari terik.

“Aladdin!”

George kembali ke ruang makan. “Kamar itu rusak,” katanya. “Tak bisa merespon pikiranku.”

“Atau…”

“Atau apa?”

“Atau mungkin kamar itu tidak bisa merespon lagi,” kata Lydia. “Karena anak-anak sudah memikirkan tentang Afrika, singa, dan perburuan mematikan selama berhari-hari hingga sekarang kamar itu sudah tidak bisa mencerminkan hal yang berbeda.”

“Bisa juga.”

“Atau Peter sengaja menyetelnya agar tidak bisa diubah lagi tampilannya.”

“Menyetelnya?”

“Mungkin saja dia mengutak-atik mesin ruangan itu dan membuat perubahan.”

“Peter tidak mengerti soal mesin.”

“Bocah itu cukup bijaksana untuk anak berusia sepuluh tahun. IQ-nya saja…”

“Ya, biar begitu…”

“Halo, Bu. Halo, Yah.”

George dan Lydia menoleh. Wendy dan Peter baru saja masuk dari pintu depan, pipi mereka mulus seperti permen, mata mereka biru terang seperti batu akik, dan ada harum udara segar yang melekat pada jaket mereka, dari perjalanan mereka menggunakan helikopter.

“Kalian datang tepat di waktu makan malam,” kata kedua orangtua mereka.

“Kami sudah kenyang makan es krim stroberi dan hot dog,” kata anak-anak itu sambil berpegangan tangan. “Tapi kami akan duduk di meja bersama kalian.”

“Ya, ceritakan pada kami tentang kamar bermain kalian,” kata George Hadley.

Sepasang kakak-beradik itu mengedipkan mata ke arah ayah mereka, lalu ke arah satu sama lain. “Kamar bermain?”

“Tentang Afrika dan lain-lainnya,” kata sang ayah dengan nada gembira yang dibuat-buat.

“Aku tidak paham,” kata Peter.

“Aku dan ibumu baru saja menjelajahi Afrika yang dibangun oleh mesin proyektor,” kata George Hadley. “Tom Swift dan Singa Listriknya*.”

“Mana ada Afrika di kamar bermain?” ujar Peter datar.

“Ayolah, Peter. Kami sudah tahu, kok.”

“Aku tidak ingat soal Afrika,” kata Peter kepada Wendy. “Kau gimana?”

“Aku juga tidak.”

“Coba kau lari ke kamar bermain kita, lalu laporkan apa yang kau lihat.”

Wendy menurut.

“Wendy, kemarilah!” kata George Hadley, namun gadis kecil itu sudah terlanjur pergi. Cahaya lampu rumah mengikuti langkahnya seperti sekawanan kunang-kunang. Terlambat, George baru tersadar ia lupa mengunci kamar bermain itu setelah tadi menginspeksinya.

“Wendy hanya akan melihat sebentar, habis itu dia akan kembali dan melaporkan apa yang dia lihat,” kata Peter.

“Dia tidak perlu melaporkannya. Aku sudah lihat sendiri.”

“Aku yakin Ayah salah.”

“Aku tidak salah, Peter. Ayo, kita pergi ke kamar itu sama-sama.”

Namun Wendy sudah kembali. “Bukan Afrika,” ujarnya dengan napas tersengal.

“Kita lihat saja,” kata George Hadley. Dan bersama-sama, mereka semua melintasi lorong panjang menuju kamar bermain. Lalu mereka dorong pintu kamar hingga terbuka.

Terhampar di hadapan mereka adalah hutan lebat bernuansa hijau segar yang dilengkapi dengan aliran sungai, pegunungan bernuansa keunguan, lantunan lagu yang dibawakan dengan suara tinggi, serta Rima**, yang cantik nan misterious, mengintip dari balik pepohonan, dikelilingi oleh sejumlah kupu-kupu bersayap warna-warni, layaknya buket bunga yang bergerak-gerak di atas kepalanya. Padang rumput Afrika tadi telah sirna. Sekawanan singa tadi juga tak terlihat. Hanya ada Rima** di sana, mendendangkan lagu dengan begitu indah hingga sanggup membuat siapa saja menitikkan airmata.

George Hadley memandangi tampilan pemandangan yang sudah berubah. “Tidurlah,” katanya pada anak-anak.

Wendy dan Peter melongo.

“Kalian dengar apa kataku,” kata George.

Mereka pun segera melangkah ke dalam lemari udara, dan dalam sekejap tubuh mereka disedot oleh embusan angin kencang layaknya dedaunan kering menuju kamar tidur mereka.

George Hadley melangkah lebih jauh ke dalam ruang bermain itu, ke tengah bukaan hutan yang dipenuhi irama lagu, dan memungut sesuatu yang tergeletak di sudut ruangan, di mana sebelumnya terdapat sekawanan singa. Lantas, ia melangkah pelan ke arah istrinya.

“Apa itu?” tanya Lydia.

“Dompet lamaku,” kata George.

Ia tunjukkan dompet itu kepada Lydia. Dompet itu menguarkan bau rerumputan hangat, serta bau tubuh singa. Dan tetesan liur juga membungkus bagian dompet tersebut, yang telah habis terkoyak. Di kedua sisinya ada jejak darah.

George menutup pintu kamar bermain itu dan menguncinya rapat-rapat.

Pada waktu tengah malam, George masih terbangun dan dia tahu istrinya juga tak bisa tidur. “Menurutmu Wendy mengutak-atik ruang bermain itu?” tanya Lydia memecah keheningan di dalam kamar tidur mereka yang gelap.

“Tentu saja.”

“Mengubah tampilannya dari padang rumput ke hutan, lalu menempatkan Rima di sana dan bukannya sekawanan singa?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Tapi aku akan mengunci kamar itu sampai aku tahu alasannya.”

“Bagaimana dompetmu bisa ada di sana?”

“Aku tidak tahu-menahu soal itu,” kata George. “Namun sekarang aku mulai merasa menyesal telah membangun kamar itu untuk mereka. Bila anak kecil merasa gelisah, kamar seperti itu pastinya—”

“Seharusnya kamar itu membantu mereka untuk memproses kegelisahan itu dengan cara yang sehat.”

“Itu yang kupertanyakan.” George menatap langit-langit kamar tidurnya.

“Kita sudah memberikan segalanya bagi anak-anak kita. Apa ini balasannya? Kerahasiaan dan ketidakpatuhan?”

“Siapa ya yang dulu bilang, ‘Anak-anak itu seperti karpet, mereka harus diinjak sesekali’? Kita tidak pernah main pukul. Dan harus kita akui, sekarang mereka jadi besar kepala. Mereka datang dan pergi kapan mereka mau; mereka memperlakukan kita seperti kita ini pesuruh mereka. Mereka malas dan begitu juga kita.”

“Mereka sudah mulai bertingkah sejak kau larang mereka naik roket ke New York beberapa bulan lalu.”

“Aku sudah jelaskan, mereka belum cukup dewasa untuk naik roket.”

“Meski begitu, aku lihat mereka mulai bersikap dingin terhadap kita sejak itu.”

“Aku akan memanggil David McClean besok pagi untuk menginspeksi soal Afrika.”

“Tapi sekarang sudah bukan Afrika lagi, sekarang kamar itu menampilkan negeri Istana Hijau*** dan Rima.”

“Aku yakin tak lama lagi kamar itu akan kembali menampilkan Afrika.”

Sesaat kemudian, mereka mendengar teriakan.

Dua teriakan. Dua orang yang berteriak di lantai bawah. Disusul oleh auman sekawanan singa.

“Wendy dan Peter tak ada di kamar tidur mereka,” kata Lydia.

George berbaring di atas ranjang, jantungnya berdebar kencang. “Tidak,” gumamnya. “Mereka sudah mendobrak masuk ke dalam kamar bermain.”

“Teriakan itu — kedengarannya tidak asing.”

“Masa?”

“Sangat familiar.”

Dan meski ranjang mereka berusaha sekuat tenaga untuk menimang kedua orang dewasa tersebut hingga terlelap, namun keduanya butuh satu jam lebih sebelum akhirnya bisa tidur. Malam itu, udara di dalam rumah tersebut dipenuhi dengan bau tubuh singa.

“Ayah?” panggil Peter.

“Ya.”

Peter menunduk, menatap sepatunya. Ia hampir tidak pernah menatap ayahnya di mata sekarang ini, ataupun ibunya. “Kau tidak akan mengunci kamar bermain selamanya, kan?”

“Ya, tergantung.”

“Tergantung apa?” cetus Peter.

“Tergantung kau dan adikmu. Kalau kalian sudi menyelingi episode Afrika ini dengan suasana yang berbeda — seperti Swedia, mungkin, atau Denmark atau Cina…”

“Kupikir kami bebas main sesuka hati.”

“Memang, tapi tetap ada batasnya.”

“Apa yang salah dengan Afrika, Yah?”

“Oh, sekarang kau mengaku bahwa kalian sudah membayangkan Afrika?”

“Aku tidak mau ruang bermain itu dikunci,” kata Peter dengan nada dingin. “Jangan pernah dikunci.”

“Sejujurnya, aku dan ibumu terpikir untuk mematikan semua mesin di dalam rumah ini selama sebulan. Hidup bebas saling bahu-membahu, sekali-kali.”

“Jangan! Masa aku harus mengikat tali sepatuku sendiri, padahal selama ini tali sepatuku selalu diikatkan oleh mesin pengikat tali sepatu. Dan masa aku harus sikat gigiku sendiri, menyisir rambutku sendiri dan memandikan diriku sendiri?”

“Sekali-kali boleh, kan?”

“Tidak mau. Aku tidak suka saat kau membuang mesin pelukis bulan lalu.”

“Itu karena aku mau kau belajar sendiri caranya melukis, Nak.”

“Aku tidak mau melakukan apa-apa kecuali melihat, mendengar dan mencium; apalagi yang harus dilakukan?”

“Baiklah, sana, main di Afrika.”

“Apa kau akan mematikan mesin seisi rumah ini dalam waktu dekat?”

“Sedang kami pertimbangkan.”

“Sebaiknya jangan dipertimbangkan lagi, Yah.”

“Jangan mengancamku!”

“Baiklah.” Dengan itu, Peter melangkah ke arah kamar bermain.

“Apa aku datang di waktu yang tepat?” tanya David McClean.

“Sarapan?” tanya George Hadley.

Thanks, tadi sudah sarapan. Ada masalah apa?”

“David, kau ini kan seorang psikolog.”

“Dan?”

Well, coba tolong kau perhatikan kamar bermain anak-anak kami. Kau sempat melihatnya tahun lalu ketika kau mampir kemari; apa kau sempat menangkap sesuatu yang aneh?”

“Sepertinya tidak; ada kekerasan, tapi itu lumrah; dan ada tendensi terhadap paranoina di sana-sini, tapi itu juga biasa bagi anak-anak yang merasa tersudutkan oleh orangtua mereka. Bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”

Mereka menyusuri lorong panjang menuju kamar bermain. “Aku mengunci kamar itu,” ujar George. “Dan anak-anak mendobraknya di malam hari. Aku membiarkan mereka bermain di sana sekarang karena aku mau kau menyaksikan sendiri apa yang mereka bentuk dari imajinasi mereka.”

Sekonyong-konyong terdengar suara teriakan dari dalam kamar bermain.

“Nah, itu dia,” kata George. “Coba kau simpulkan pengamatanmu.”

Mereka membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Teriakan tadi telah sirna. Sekawanan singa tengah bersantap.

“Tolong keluar sebentar, anak-anak,” kata George Hadley. “Tidak, jangan mengubah kombinasi imajinasi ruangan ini. Biarkan dinding ruangan memproyeksikan apa yang ada sekarang. Sana, pergi!”

Begitu anak-anak telah keluar, kedua lelaki itu berdiri mempelajari sekawanan singa yang tengah berkumpul di kejauhan, menyantap dengan lahap apapun itu yang telah berhasil mereka buru.

“Seandainya aku tahu apa yang sedang mereka santap,” kata George Hadley. “Sesekali, aku nyaris bisa melihat dengan jelas. Menurutmu jika aku membawa sepasang teropong jarak jauh kemari dan…”

David McClean tertawa ringan. “Takkan menolong.” Lantas ia mempelajari keempat sisi dinding ruangan. “Sudah berapa lama hal ini terjadi?”

“Sebulan lebih sedikit.”

“Nuansanya sih memang rasanya kurang enak.”

“Aku mau fakta, bukan soal perasaan.”

“George, kawan, seorang psikolog tak pernah melihat fakta dalam hidupnya. Dia hanya tahu soal perasaan; hal-hal yang sifatnya samar-samar. Aku cuma bisa bilang, nuansa dalam ruangan ini memang rasanya kurang enak. Percayalah pada insting dan perasaanku. Aku punya penciuman tajam terhadap hal-hal yang kurang baik. Ini sangat buruk. Saranku, hancurkan seisi ruangan ini dan bawa anak-anakmu untuk menemuiku di kantor setiap hari selama satu tahun agar bisa kurawat.”

“Seburuk itu?”

“Sayangnya, iya. Salah satu kegunaan utama dari kamar bermain ini adalah agar para psikolog dapat mempelajari pola-pola imajinasi yang ditinggalkan si anak di dinding kamar, mempelajarinya dengan tenang, sambil menolong perkembangan si anak. Tapi dalam kasus anak-anakmu, kamar ini telah menjadi penyaluran pikiran buruk, dan bukannya sarana untuk membuang pikiran buruk.”

“Apa kau tidak merasakan ini pada kunjunganmu sebelumnya?”

“Dulu, yang kutangkap adalah kau dan istrimu punya kecenderungan memanjakan anak-anak kalian, lebih daripada orangtua pada umumnya. Sekarang kau telah mengecewakan mereka. Dengan cara apa?”

“Aku tidak membolehkan mereka pergi ke New York.”

“Lantas apa lagi?”

“Aku sudah membuang sejumlah mesin dari dalam rumah ini dan mengancam mereka, sekitar sebulan lalu, bahwa jika mereka tidak mau mengerjakan PR, maka kamar bermain mereka akan aku kunci. Dan aku memang menguncinya selama beberapa hari supaya mereka sadar aku tidak main-main.”

“Ah, ha!”

“Apa itu ada artinya?”

“Itu adalah awal dari segalanya. Dulu kita punya Sinter Klas, sekarang sosok panutan kita adalah Scrooge****. Anak-anak tentunya lebih suka pada Sinter Klas. Kau telah membiarkan kamar bermain ini, rumah ini, menggantikan peranmu dan istrimu dalam kehidupan anak-anak kalian. Kamar ini adalah orangtua mereka, jauh lebih penting bagi mereka daripada orangtua mereka sungguhan. Dan sekarang kau tiba-tiba mau mematikan kamar ini. Tentu saja kita melihat kebencian dalam kamar ini sekarang. Kau bisa rasakan kebencian memancar dari langit-langit. Rasakan saja teriknya sinar matahari itu. George, kau harus mengubah hidupmu. Seperti kebanyakan orang, kau membiarkan hidupmu hilang begitu saja, terserap dalam kenyamanan. Jujur saja, kurasa bila besok ada yang rusak dengan dapurmu, kau pasti kelaparan. Kau tidak tahu caranya memecah telur. Meski begitu, matikan semua mesin dalam rumah ini. Mulailah kehidupan baru. Tentu akan makan waktu, tapi dalam setahun kita akan coba mengubah anak-anakmu jadi anak-anak baik lagi. Tunggu saja dan lihat kemajuannya nanti.”

“Tapi bukankah nanti anak-anak akan syok dengan perubahan yang drastis ini? Bila kami menutup kamar itu untuk selamanya?”

“Aku tidak mau mereka mengeksplorasi emosi yang negatif ini lebih jauh, hanya itu yang ingin kuhindari.”

Para singa telah menghabisi santapan mereka yang berwarna kemerahan.

Kini sekawanan singa itu berdiri di tepi bukaan hutan, mengamati kedua lelaki yang berada tidak jauh dari mereka.

“Sekarang aku merasa dihakimi,” kata McClean. “Ayo, kita keluar dari sini. Aku tidak pernah suka berada di dalam ruangan bermain anak-anak. Aku selalu merasa resah.”

“Singa-singa itu kelihatannya seperti nyata, kan?” tanya George Hadley. “Apa menurutmu mereka…”

“Apa?”

“… bisa jadi nyata?”

“Sepengetahuanku tidak.”

“Mungkin ada kerusakan pada mesin, terlalu banyak diutak-atik?”

“Tidak.”

Mereka melangkah ke arah pintu.

“Aku tidak tahu apa jadinya nanti kalau mesin di kamar ini dimatikan total,” kata George.

“Tidak ada yang suka kematian, termasuk kamar sekalipun.”

“Apa kamar ini membenciku karena aku ingin mematikannya?”

“Ada banyak ketakutan di kamar ini hari ini,” kata David McClean. “Kau bisa mengikuti jejaknya sama seperti jejak binatang. Hello.” Ia membungkuk dan memungut sehelai syal yang berlumuran darah. “Ini punyamu?”

“Bukan.” Wajah George Hadley terlihat kaku. “Itu milik Lydia.”

Mereka beranjak ke kotak sekring bersama-sama dan memutus aliran listriknya hingga mematikan efek mesin dalam seisi kamar bermain.

Kedua anak-anak itu sontak menangis histeris. Mereka berteriak dan berjingkrak kesal seraya melempar barang ke segala arah. Mereka terus berteriak sambil menangis sesenggukan dan melontarkan segala macam sumpah-serapah, sebelum kemudian menginjak-injak semua perabotan rumah.

“Kau tidak bisa melakukan itu pada kamar bermain kami, tidak bisa!”

“Ayolah, anak-anak.”

Mereka melempar diri ke atas sofa, menangis sejadi-jadinya.

“George,” kata Lydia. “Nyalakan kamar itu, sebentar saja. Jangan mematikannya begitu saja.”

“Tidak.”

“Kau jangan berlaku terlalu kejam…”

“Lydia, kamar itu sudah kumatikan, dan akan terus begitu. Mulai sekarang, seisi rumah ini kumatikan perangkat mesinnya. Semakin kuperhatikan pola hidup kita, semakin sesak dadaku rasanya. Kita sudah terlalu lama bersandar pada mesin. Demi Tuhan, kita butuh udara segar!”

Dengan itu, George berkeliling ke setiap sudut rumah sambil mematikan perangkat mesin yang telah jadi sandaran hidup mereka — jam bersuara, kompor, pemanas, pemoles sepatu, pengikat tali sepatu, penggosok tubuh, pembersih telinga dan pemijat tubuh, serta setiap mesin lain yang ada dalam jangkauannya.

Rumah itu seolah berserakan dengan mayat-mayat elektronik. Kuburan mesin. Sunyi. Tak lagi terdengar dengungan mesin yang menunggu dipakai hanya dengan sekali sentuh.

“Jangan biarkan mereka melakukan ini!” teriak Peter pada langit-langit ruangan, seolah sedang melontarkan perintah pada seisi rumah, juga pada kamar bermainnya. “Jangan biarkan Ayah membunuh kalian semua.” Ia menoleh ke arah sang ayah. “Aku benci padamu!”

“Kau takkan bisa mengubah keputusanku dengan menghujatku.”

“Aku harap kau juga mati!”

“Sudah lama kita semua mati. Sekarang kita akan mulai hidup baru. Kita takkan lagi dibuai oleh mesin, kita akan hidup normal.”

Wendy masih menangis dan Peter menghampiri adiknya itu, seraya memelas: “Satu kali saja, hanya satu kali lagi. Biarkan kami main di kamar itu sekali lagi.”

“Oh, George,” kata Lydia. “Apa salahnya sih?”

“Baiklah, baiklah, kalau itu bisa mendiamkan mereka. Satu menit, setelah itu semua akan kumatikan untuk selamanya.”

“Terima kasih, Ayah!” lantun anak-anak itu dengan wajah penuh senyum, meski masih dibasahi airmata.

“Setelah itu, kita semua akan pergi berlibur. David McClean akan kembali dalam waktu setengah jam untuk membantu kita keluar dari sini, dan mengantar kita ke badnara. Aku akan ganti baju. Lydia, kau nyalakan kembali kamar bermain mereka. Semenit saja, tapi.”

Dan ketiganya segera beranjak pergi menuju kamar bermain, sementara George tersedot ke lantai dua rumah itu lewat pipa transportasi udara untuk berganti pakaian. Semenit kemudian, Lydia menyusulnya.

“Aku akan senang sekali saat kita keluar dari sini,” desah wanita itu.

“Apa kau meninggalkan mereka di dalam kamar bermain?”

“Aku juga mau ganti pakaian. Oh, aku tak habis pikir, apa yang mereka lihat dari padang rumput Afrika yang kering dan panas itu?”

“Tenang, dalam waktu lima menit kita akan mulai perjalanan kita ke Iowa. Ya Tuhan, kenapa kita berada dalam situasi ini? Apa yang mendorong kita membeli rumah jahanam ini?”

“Harga diri, harta, kebodohan kita sendiri.”

“Sebaiknya kita segera turun sebelum anak-anak terlanjur menenggelamkan diri mereka bersama mahluk-mahluk jahanam itu.”

Pada saat itu juga terdengar suara anak-anak mereka memanggil: “Ayah, Ibu, cepat kemari, cepat!”

Mereka buru-buru turun menggunakan pipa transportasi udara dan berlari menyusuri lorong panjang menuju kamar bermain. Anak-anak mereka tidak ada di lantai bawah. “Wendy? Peter!”

Mereka bergegas masuk ke dalam kamar bermain. Padang rumput itu kosong, kecuali sosok sekawanan singa yang mengamati mereka dengan saksama. “Peter, Wendy?”

Pintu kamar pun terbanting menutup.

“Wendy, Peter!”

George Hadley dan istrinya segera memutar tubuh dan berlari ke arah pintu.

“Buka pintu ini!” teriak George seraya memutar gagangnya berkali-kali. “Waduh, mereka menguncinya dari luar! Peter!” Ia menggedor pintu itu. “Buka sekarang juga!”

Ia mendengar suara Peter di balik pintu.

“Jangan biarkan mereka mematikan kamar bermain, ataupun seisi rumah ini,” kata Peter.

Mr. dan Mrs. George Hadley terus menggedor pintu keras-keras. “Jangan macam-macam, anak-anak. Sudah saatnya kita pergi. Mr. McClean akan segera datang dan…”

Pada saat itulah terdengar suara yang tak asing di telinga George dan Lydia.

Sekawanan singa telah bersiaga di ketiga sisi mereka, berpijak pada rumput yang kekuningan, langkah mereka pelan, namun pasti di atas jerami kering itu. Tenggorokan mereka mengeluarkan suara dengkuran tajam.

Sekawanan singa.

Mr. Hadley menoleh ke arah istrinya dan mereka memutar tubuh dengan punggung menghadap pintu kamar. Mereka menatap sekawanan mahluk jahanam itu semakin mendekat, dalam posisi mengambil ancang-ancang, dengan ekor kaku.

Mr. dan Mrs. Hadley berteriak.

Sekonyong-konyong, mereka sadar kenapa teriakan yang pernah mereka dengar sebelumnya terkesan familiar.

“Aku datang,” kata David McClean di ambang pintu ruang bermain. “Oh, hello.” Ia memandangi Peter dan Wendy yang sedang duduk santai di tengah bukaan hutan seraya menikmati makan siang. Tidak jauh dari mereka ada kubangan air dan hamparan padang rumput bernuansa kuning; sementara di langit-langit ada matahari yang bersinar terik. David mulai berkeringat. “Di mana orangtua kalian?”

Kedua anak-anak itu mendongakkan kepala dan tersenyum. “Mereka akan segera ke sini.”

“Bagus, kita harus segera berangkat.” Di kejauhan, ia melihat sekawanan singa tengah berkelahi, saling mencakar, sebelum akhirnya diam dan menyantap sesuatu di bawah pohon rindang.

Mr. McClean mengerjapkan mata, lalu mengangkat tangan di atas mata untuk melihat lebih jelas ke arah sekawanan singa tersebut.

Sekarang singa-singa itu telah selesai bersantap. Mereka bergerak ke arah kubangan air untuk melepas dahaga.

Sebentuk bayangan mengerjap di atas wajah Mr. McClean yang berkeringat. Kemudian bayangan itu semakin banyak mengerumuni wajahnya. Sekawanan burung bangkai berjatuhan dari langit yang luar biasa terik.

“Mau minum teh?” tanya Wendy di tengah kesunyian. FL

Februari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Ray Bradbury. Tidak untuk ditukar, digandakan, ataupun dijual.


#KETERANGAN:

(*) Tom Swift and His Electric Rifle adalah buku petualangan tentang perburuan hewan liar di Afrika karya Victor Appleton yang diterbitkan tahun 1911.

(**) Rima, atau Rima si Gadis Hutan, adalah tokoh wanita dalam buku Green Mansions: A Romance of the Tropical Forest karya W.H. Hudson yang diterbitkan tahun 1904.

(***) Green Mansions: A Romance of the Tropical Forest (lihat poin sebelumnya) adalah buku petualangan yang bercerita tentang seorang petualang yang pergi ke hutan tropis di Venezuela dan tak sengaja bertemu dengan suku pedalaman.

(****) Scrooge adalah tokoh dalam karya Charles Dickens yang berjudul A Christmas Carol dan digambarkan sebagai lelaki tua pemarah yang serakah.

#CATATAN:

> Cerpen ini berjudul The Veldt karya RAY BRADBURY dan pertama kali terbit pada tahun 1950 di Saturday Evening Post dalam rangkaian penerbitan cerita pendek dengan tema “Dunia Buatan Anak-anak”.

>> RAY BRADBURY adalah penulis sains fiksi asal Amerika Serikat yang sangat disegani. Ia juga dikenal dengan novelnya yang berjudul Fahrenheit 451 dan kumpulan cerpen yang berjudul The Illustrated Man dan The Martian Chronicle.

#POIN DISKUSI:

1. Apa kesan kalian terhadap cerita ini?

2. Aspek apa dalam kehidupan kontemporer kita yang kira-kira sedang dicemooh oleh Ray Bradbury dalam cerita ini?

3. Kenapa Lydia merasa dia tidak pantas berada di rumah itu?

4. Apa kesan kalian terhadap Peter dan Wendy?

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

6 Comment on “Padang Rumput Afrika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: