John Berger

Permasalahan pelik ini dimulai dengan keinginan untuk mendorong masyarakat mengenang kembali kejadian pada tanggal 6 Agustus 1945.

Tahun lalu, seseorang menunjukkan sebuah buku padaku di ajang Frankfurt Book Fair. Sang editor meminta pendapatku soal format buku yang sedang ia tunjukkan. Aku hanya melihatnya sekilas dan menjawab pertanyaannya dengan singkat. Kemudian, tiga bulan lalu, aku menerima paket buku yang sama dalam kondisi telah dicetak rapi. Buku itu tergeletak di atas meja kerjaku. Sesekali, judul dan ilustrasi kavernya menarik perhatianku, namun aku masih belum tertarik untuk membukanya. Bagiku, buku itu tak perlu segera dibaca, karena toh aku sudah tahu isinya.

Ingatanku masih segar akan hari itu — aku sedang bertugas sebagai prajurit di Belfast* ketika orang-orang di sekelilingku menyampaikan berita bahwa ada bom yang dijatuhkan di Hiroshima. Lebih dari itu, berapa banyak pertemuan yang telah kuhadiri bersama teman-temanku, di mana kita semua membahas pelucutan senjata nuklir yang pertama; dan di mana peristiwa penjatuhan bom tersebut jadi bahan pembicaraan hangat?

jb

John Berger

Lalu, suatu pagi, sekitar seminggu lalu, aku menerima sepucuk surat dari Amerika, yang disertai dengan sebuah artikel yang ditulis seorang teman. Temanku itu adalah seorang dokter dan pengikut paham Marksisme. Lebih dari itu, dia adalah wanita yang murah hati dan penuh kehangatan. Artikel yang ditulisnya membahas kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga. Dan tentang sikapnya terhadap Uni Soviet, aku terkejut mendapati bahwa temanku itu telah mengambil posisi yang sama dengan Presiden Ronald Reagan. Ia tutup artikelnya dengan paragraf yang menggambarkan kehancuran dunia secara detail, yang disebabkan oleh persiteruan negara-negara dunia dengan menggunakan senjata nuklir. Setelah itu, ia memprediksi kemungkinan terjadinya gelombang revolusi sosialisme di Amerika Serikat.

Pada pagi itulah aku akhirnya membuka buku yang tergeletak di atas meja kerjaku dan mulai membacanya. Judul buku itu adalah Unforgettable Fire.

Buku tersebut dilengkapi dengan rangkaian ilustrasi dan lukisan karya para korban pengeboman Hiroshima: mereka yang ada di kota tersebut tepat pada hari bom dijatuhkan, tiga puluh enam tahun silam. Sebagian besar karya-karya yang ditampilkan juga dilengkapi dengan keterangan tertulis tentang makna pembuatan karya tersebut. Uniknya, tidak ada seorang pun seniman profesional yang terlibat dalam pembuatan ilustrasi atau lukisan-lukisan tersebut. Pada tahun 1974, seorang pria tua masuk ke dalam pusat toko penjual televisi di Hiroshima untuk menunjukkan hasil lukisannya pada siapa saja yang mau melihat. Judul lukisan itu: “Sekitar pukul 4 sore, tanggal 6 Agustus 1945, dekat jembatan Yurozuyo.”

Hal itu memicu ide baru yang disebarkan via televisi, mendorong para korban pengeboman Hiroshima untuk melukis atau menggambarkan pengalaman mereka di hari bersejarah tersebut. Nyaris 1000 ilustrasi dikirim dan hampir kesemuanya dipamerkan dalam sebuah ajang pameran umum. Namun kini daya tariknya telah dirangkum dalam sebuah kalimat: “Mari kita tinggalkan bagi anak-cucu kita berbagai kenangan tentang bom atom, lewat gambaran para saksi mata.”

Satu hal yang jelas, rasa ketertarikanku pada gambar-gambar tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan pengkritikan karya seni. Tidak ada orang yang bisa menganalisa teriakan kepedihan dengan tolak-ukur analisis musik. Tapi setelah menatap gambar-gambar itu beberapa kali, aku merasa bahwa apa yang di awalnya hanya kurasakan dalam bentuk impresi, kini telah berubah wujud jadi hal yang pasti. Gambar-gambar itu adalah bagaimana para korban berusaha melukiskan neraka.

Aku tidak menggunakan kata neraka sebagai bagian dari majas hiperbola. Ada afinitas yang sangat dekat antara lukisan-lukisan karya para lelaki dan wanita yang seumur hidup mereka (kecuali saat sekolah) tak pernah melukis hal lain, selain apa yang mereka saksikan pada tanggal 6 Agustus 1945; mereka yang tentunya, sebagian besar, tidak pernah bepergian keluar dari Jepang; serta antara ingatan yang ingin mereka lupakan dan definisi neraka yang dijabarkan oleh pekerja seni di abad pertengahan Eropa.

Afinitas itu didemonstrasikan baik lewat gaya bahasa, juga lewat penggambaran situasi. Lantas di mana afinitasnya? Kalian bisa menemukan afinitas tersebut pada tingkat kepedihan yang dialami para korban, atau kekejaman yang ditujukan kepada mereka, serta kurangnya bantuan, meratanya penderitaan dan betapa waktu melesat pergi entah kemana.

Usiaku 78 tahun. Ketika Bom A dijatuhkan, aku masih tinggal di Midorimachi. Sekitar pukul 9 pagi itu, saat aku menatap keluar jendela, aku lihat beberapa wanita berlari melintasi jalan depan rumah ke arah rumah sakit daerah Hiroshima. Aku menyadari, untuk pertama kalinya, sebagaimana sering dikatakan orang, bahwa saat kita sangat ketakutan, rambut kita memang bisa berdiri tegak. Itu yang kulihat pada kepala para wanita tadi. Rambut mereka berdiri tegak dan kulit lengan mereka terkelupas. Kurasa usia mereka saat itu sekitar 30an tahun.

Beberapa kali, kesaksian para korban yang mendetail mengingatkanku akan rasa terkejut dan horor pada bait-bait karya Dante yang berusaha menggambarkan Inferno [api neraka]. Suhu bola api di pusat kota Hiroshima mencapai 300.000 derajat Celsius. Dalam bahasa Jepang, para korban yang selamat dari kejadian itu dikenal dengan sebutan hibakuska — “mereka yang pernah melihat neraka”.

Tiba-tiba, seorang lelaki mendekatiku dalam keadaan telanjang bulat dan berkata dengan suara gemetar, “Tolong saya!” Tubuhnya terbakar dan membengkak gara-gara efek Bom A. Karena aku tidak mengenali lelaki itu sebagai tetanggaku, aku bertanya dia siapa. Ia menjawab bahwa namanya Mr. Sasaki, putra dari Mr. Ennosuke Sasaki, si pemilik toko kayu di kota Funairi. Pagi itu ia tengah melakukan tugas relawan memastikan semua rumah di dekat kantor pemerintahan daerah di Kato telah dikosongkan. Tubuhnya terbakar hangus dan hitam, dan ia tengah berjalan ke arah rumahnya di Funairi. Ia terlihat muram sekali — terbakar dan penuh luka, serta dengan tubuh telanjang bulat dan serpihan sepatu yang masih tersangkut di telapak kaki, terantuk-antuk di jalan, mengikuti langkah kakinya. Hanya sebagian dari rambutnya yang terlindungi oleh topi tentara masih tersisa, seolah ia tengah mengenakan sebentuk mangkuk di kepala. Ketika aku menyentuhnya, lapisan kulitnya terlepas dari daging tubuhnya. Aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku minta tolong seorang supir yang kebetulan lewat untuk membawanya ke RS Eba.

Bukankah penggambaran yang menyerupai neraka ini justru membuat kita lupa bahwa sesuatu yang begitu mengerikan bisa terjadi di kehidupan nyata? Tidakkah gambaran yang terkesan sulit dipercaya ini membuat kita lebih mudah menerimanya sebagai sesuatu yang tidak nyata? Sejarah abad ke-20 membuktikan bahwa hal-hal di atas justru sangat, sangat nyata.

Neraka-neraka lain sudah mulai dibangun di benua Eropa secara sistematis. Tidak penting lagi bagiku untuk menjelaskan di mana hal itu terjadi. Bahkan, sudah tidak relevan bagiku untuk mengulangi siapa pelaku-pelaku kekejian tersebut dan apa saja bentuk kekejian yang terjadi di sana. Kita semua sudah tahu faktanya, namun kita sering memilih untuk melupakannya.

Rasanya konyol dan mengejutkan ketika kita tahu, misalnya, bahwa halaman-halaman buku teks sejarah Rusia yang menyangkut hidup atau peran politis [Leon] Trotsky telah dihilangkan. Sama halnya dengan pencabutan halaman-halaman tentang dua bom yang dijatuhkan di Jepang dari buku teks sejarah kita.

Tentu saja, fakta-fakta itu tetap ada di buku teks sekolah. Bahkan para siswa juga bukan tidak mungkin diharuskan menghafal tanggal-tanggal pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Tapi apa arti dari fakta-fakta tersebut —  ketika baru terjadi, fakta dari pengeboman mengandung arti sangat jelas, dan sangat mengerikan, hingga setiap orang di dunia yang mendengarnya terkejut, dan setiap politisi wajib memberikan komentar yang berbunyi, “Jangan sampai terjadi lagi” (meski pada praktiknya, mereka melakukan hal yang berlawanan dengan pernyataan tersebut). Maka arti dari fakta-fakta tentang pengeboman Hiroshima dan Nagasaki telah dieliminasi dari buku sejarah yang dipelajari siswa-siswi sekolah menengah di dunia barat. Penghapusannya sistematis, perlahan, juga menyeluruh. Dan prosesnya secara taktis ditutupi dengan realita politik.

Jangan salah paham dulu. Aku tidak menggunakan kata ‘realita’ secara ironis, aku bukan orang yang naif terhadap seluk-beluk politik negara. Aku sangat menghargai realita politik, dan aku percaya bahwa orang-orang yang punya idealisme terhadap politik justru orang-orang yang paling berbahaya. Yang ingin kusampaikan adalah bagaimana di dunia Barat — bukan di Jepang tentunya, dan bukan di Uni Soviet — realita politik dan militer telah sukses mengeliminasi realita lain.

Realita yang tereliminasi sifatnya tidak hanya fisik —

Jembatan Yokogawa di atas sungai Temma, 6 Agustus 1945, 8:30 pagi.

Orang-orang menangis dan mengaduh sambil berlari ke arah kota. Aku tidak tahu kenapa. Kereta uap terbakar di stasiun Yokogawa.

Kulit sapi tersangkut pada kawat.

Kulit pinggul seorang gadis kecil menggantung terbalik.

“Bayiku sudah mati, ya?”

— tapi juga moral.

Argumen politik dan militer berputar pada isu-isu pencegahan, sistem pertahanan, bagaimana merespon serangan secara proporsional, bagaimana menggunakan senjata nuklir secara taktis dan — ini yang menyedihkan — apa yang disebut sebagai pertahanan rakyat sipil. Gerakan sekecil apapun yang menyangkut pemberedelan kepemilikan senjata nuklir, di zaman sekarang, mau tidak mau harus bersinggungan dengan hal-hal di atas, dan kita menolak interpretasi yang melenceng. Dan bila kita memilih untuk tidak menghiraukan hal-hal di atas, maka kita sama saja menginginkan dunia ini dibumi-hanguskan oleh bom-bom nyasar; atau sama saja kita seperti orang bodoh yang hanya percaya pada konsep utopia. (Lagipula, konsep neraka di dunia hanya bisa tercipta bila ada konsep surga di dunia kan?).

Maka apa yang harus kita tebus, kita rebut, kita bagikan dan tidak pernah kita lupakan adalah ‘realita’ yang lain itu. Karena sebagian besar masyarakat kita memegang etika berkomunikasi yang tak jauh berbeda dengan etika pembungkaman.

koe_GE14-07

Lukisan karya Kazuhiro Ishizu, 68, saksi pengeboman Hiroshima

Lukisan-lukisan yang menggambarkan kengerian di masa-masa pengeboman Jepang oleh tentara sekutu sudah pernah ditunjukkan di layar televisi Jepang. Mungkinkah lukisan yang sama ditayangkan di Channel One stasiun TV BBC di jam-jam tersibuk? Tanpa diikuti oleh referensi-referensi tentang ‘politik’ ataupun ‘militer’, dan dengan menggunakan judul Inilah Apa yang Terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945? Aku tantang mereka untuk lakukan itu.

Karena apa yang terjadi di hari tersebut, tentunya, bukan awal ataupun akhir dari kejadian sesungguhnya. Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki telah dimulai bulanan, bahkan tahunan sebelumnya, di mana ada komite perencana yang terlibat dalam pengambilan keputusan bahwa dua bom atom harus dijatuhkan di Jepang. Terlepas dari reaksi dunia yang seolah tak pernah menduga terjadinya pengeboman di Hiroshima, kita juga harus menyadari bahwa apa yang terjadi tidak pernah dianggap sebagai kesalahan, atau miskalkulasi, atau efek kolateral perang biasa. Apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki adalah sesuatu yang direncanakan secara teliti dan hati-hati. Adegan-adegan kecil seperti di bawah ini juga merupakan bagian dari rencana tersebut:

Aku tengah berjalan di atas jembatan Hihiyama sekitar pukul tiga sore pada tanggal 7 Agustus. Seorang wanita, yang terlihat sedang mengandung, terbaring tanpa nyawa. Di sisinya, seorang gadis kecil berusia tiga tahun membawakan air dalam kaleng kosong yang dia pungut di jalan. Dia sedang meminta ibunya meminum air itu.

Begitu aku melihat adegan miris itu, aku segera memeluk gadis kecil tersebut dan menangis bersamanya, sambil menjelaskan kepadanya bahwa ibunya sudah meninggal.

Dari situ kita bisa lihat adanya perencanaan. Dan adanya konsekuensi dari perencanaan tersebut. Konsekuensi itu tidak terlepas dari kematian yang menyiksa, penyakit yang disebabkan oleh radiasi, serta masih banyak penyakit fatal lain yang muncul akibat efek kimia bom atom, ditambah oleh kasus-kasus lain yang sifatnya genetik dan mempengaruhi generasi penerus yang bahkan belum lahir.

Aku enggan membeberkan soal statistik: berapa ratus ribu orang yang meninggal, berapa yang terluka, dan berapa banyak anak-anak yang jadi cacat. Aku juga enggan menunjukkan kepada dunia betapa “kecil” bom atom yang dijatuhkan di Jepang. Karena statistik macam itu hanya akan jadi distraksi saja. Kita lebih banyak memikirkan angka daripada kepedihan. Kita sibuk mengkalkulasi sesuatu daripada menimbang efeknya. Kita menilai hidup ini dengan hukum sebab-akibat, bukan dengan akal sehat.

photo 2 (3)

“Di Jembatan Aioi” karya Sawami Katagiri, 76, saksi pengeboman Hiroshima.

Sangat mudah sekarang ini untuk membangkitkan amarah rakyat dengan membicarakan isu-isu ancaman dan amoralitas dari terorisme. Memang inilah panggung utama dari retorika kebijakan luar negeri Amerika Serikat (“Moskwa adalah dasar dari semua bentuk terorisme”) dan juga kebijakan Inggris terhadap Irlandia. Faktor kejutan yang mengganggu pikiran khalayak umum tentang aksi-aksi teroris adalah fakta bahwa target mereka cenderung acak dan terdiri dari orang-orang tak bersalah — kerumunan orang di stasiun kereta, misalnya, atau kerumunan orang yang sedang berdiri menunggu bus di waktu pulang kerja. Para korban terorisme dipilih tanpa dasar apa-apa karena para teroris ingin menimbulkan efek syok bagi pemerintah. Dan sebagian besar dari mereka juga menuntut perubahan kekuasaan politik.

Dua bom yang dijatuhkan di Jepang juga merupakan aksi teroris. Kalkulasi yang diambil merupakan hasil pemikiran yang dilandasi oleh teror. Fakta bahwa bom-bom itu dijatuhkan untuk mengeliminasi orang-orang tak bersalah secara acak juga merujuk pada praktik kekejian teroris. Anehnya, tidak sedikit kelompok teroris yang mengatasnamakan kemanusiaan terhadap tindakan keji mereka.

Maka aku rasa harus ada perbandingan lain. Sekarang ini, kelompok teroris sebagian besar mewakili negara-negara kecil atau kelompok kecil yang berusaha mengambil alih kekuasaan dari tangan mereka yang memiliki kuasa jauh lebih besar. Tapi kekejian terhadap Hiroshima dilakukan oleh sekutu terkuat di dunia demi melawan musuh yang pada saat itu sudah bersiap untuk menegosiasikan perdamaian, dan juga sudah mengakui kekalahannya.

Aku rasa cukup bisa dimengerti apabila kita merekatkan julukan “teroris” pada pihak-pihak yang bertanggung-jawab atas pengeboman Hiroshima dan Nagasaki; dan aku mengatakan itu supaya kita tidak seenaknya melupakan apa yang telah terjadi. Namun julukan itu sendiri tidak mengubah apa-apa.

Bukti-bukti yang disodorkan para korban, serta bagaimana kita akhirnya membaca halaman demi halaman buku yang ‘hilang’, berpotensi menimbulkan amarah. Dan amarah itu berwajah ganda. Di satu sisi, amarah itu mewakili rasa horor dan kasihan atas apa yang terjadi; dan di sisi lain, amarah itu mewakili pembelaan diri dan deklarasi: jangan sampai hal ini terjadi lagi (di sini). Bagi beberapa orang, kata di sini diletakkan di dalam kurung.

Sisi horor dan reaksi yang telah diredam selama bertahun-tahun justru mendorong kita untuk lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi. Sementara reaksi kedua, sayangnya, menjauhkan kita dari realita tersebut. Walau kita berdeklarasi, namun deklarasi itu ujung-ujungnya akan disesatkan oleh ragam kebijakan tentang pertahanan negara, argumen militer dan strategi global. Dan pada akhirnya, hal itu akan jadi diskusi tentang nilai komersil bunker anti-nuklir.

Ya, amarah kita terbelah jadi dua: di satu sisi, memicu horor, dan di sisi lain, menimbulkan hasrat menggebu untuk menciptakan kebijaksanaan baru demi menyingkirkan konsep kekejian dari kesadaran sosial. Padahal setiap budaya di dunia — kecuali budaya kita (barat) — selalu memiliki konsep itu.

Tak penting membahas efek relijius ataupun filosofis dari apa itu kekejian. Setidaknya secara umum, konsep kekejian mengacu pada suatu kekuatan, atau kelompok kekuatan, yang harus selalu diperangi agar mereka tak menguasai hidup dan menghancurkannya. Salah satu teks pertama yang ditulis manusia berasal dari Mesopotamia, ditulis sekitar 1500 tahun sebelum Homer** menerbitkan Iliad. Dalam teks itu, ia membicarakan pergulatan yang sama, yang digambarkan sebagai salah satu kondisi awal dari kehidupan manusia. Sayangnya, sekarang ini, kita telah mereduksi konsep kekejian jadi kata sifat yang gunanya menopang sebuah opini atao hipotesa (tentang aborsi, terorisme, atau sang ayatollah).

Tidak ada seorang pun yang bisa mempertanyakan realita pada tanggal 6 Agustus 1945 tanpa dipaksa untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa apa yang terjadi di hari itu adalah murni kekejian. Ini adalah fakta, bukan opini ataupun interpretasi.

Ingatan tentang kejadian itu harus selalu ada di hadapan kita. Ini sebabnya kenapa ribuan warga Hiroshima mulai menggambar di atas kertas. Kita harus menunjukkan lukisan-lukisan itu di semua tempat. Karena lukisan-lukisan itu adalah bentuk perlawanan terhadap kekejian dan bagaimana kita akan terus melawan kekejian selamanya.

Maka dari sana kita bisa menarik sebuah pembelajaran. Temanku di AS sama sekali tidak bersalah. Dia melihat pembasmian masyarakat dengan senjata nuklir tanpa menimbang-nimbang realitanya. Karena pada dasarnya, realita itu melibatkan tidak hanya korban kekejian tersebut, tapi juga pelaku dan pendukungnya. Bukankah sedari dulu iblis selalu mengenakan topeng malaikat? Dan bukankah salah satu prinsip iblis adalah untuk melihat tanpa merasakan apa yang ada di depan mata kita sendiri?

9 Agustus: Di sebelah barat tepi sungai di mana terdapat lapangan latihan militer ada seorang bocah laki-laki berusia empat atau lima tahun. Tubuhnya telah hangus, hitam seperti arang, dan ia terbaring di atas punggung, kedua lengannya terangkat ke atas.

Hanya dengan melihat tanpa merasakan atau dengan memalingkan wajah kita bisa percaya bahwa kekejian itu menganut hukum sebab-akibat (relatif), dan bila kita percaya itu, maka kita juga percaya bahwa dalam kondisi tertentu, kekejian bisa dimaklumi. Pada kenyataannya — kenyataan yang disaksikan oleh para korban — kekejian takkan pernah bisa dimaklumi. FL

Februari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan John Berger. Tidak untuk dijual, digandakan atau ditukar.


#KETERANGAN:

(*) Belfast adalah ibukota Irlandia Utara yang juga merupakan tempat di mana kapal pesiar RMS Titanic dibangun.

(**) Homer adalah penyair asal Yunani yang menulis karya-karya epik seperti Iliad dan Odssey pada tahun 1194 SM.

#CATATAN:

> Esai ini berjudul Hiroshima karya JOHN BERGER dan pertama kali terbit pada tahun 1981 di jurnal New Society.

>> JOHN BERGER adalah seorang kritikus seni, penyair, pelukis, novelis dan penulis esai asal Inggris. Novelnya, G., memenangkan penghargaan Man Booker Prize pada tahun 1972.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

3 Comment on “Esai: Hiroshima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: