PADA SUATU MASA, adalah lelaki tua yang hidup bersama istrinya. Mereka memiliki dua belas putra dan tiga putri. Putri bungsu mereka bernama Eglė. Suatu malam di musim panas, ketiga anak gadis itu memutuskan untuk pergi berenang. Kemudian setelah selesai berenang-renang dengan kedua saudaranya, Eglė menemukan ada seekor ular yang tengah bersembunyi di balik pakaiannya.

Kakak tertuanya buru-buru mengambil pakaian itu, melemparnya ke tanah, sebelum kemudian melompat-lompat di atasnya — namun tetap saja ular itu menolak pergi. Seraya menoleh ke arah Eglė, ular itu berbicara dengan suara lelaki dan berkata, “Eglė, berjanjilah untuk menikahiku, maka aku akan keluar.”

Agar ular itu mau keluar dari pakaiannya, Eglė pun bersumpah untuk menikahinya, meski tanpa mengerti apa konsekuensi dari keputusannya tersebut.

Tiga hari kemudian, ribuan ular datang menjemput Eglė; namun keluarga dan kerabat gadis itu menipu ular-ular tersebut tiga kali berturut-turut. Walau telah diperingatkan oleh kicauan burung hantu agar tidak membuat ular-ular itu marah, mereka tetap menyerahkan seekor angsa, domba, dan sapi setiap kali ular-ular tersebut datang untuk menjemput Eglė. Akhirnya, amarah itu tak terbendung lagi dan ular-ular tersebut kembali pada hari keempat dan menculik Eglė untuk menemui tuan mereka di dasar laut.

Namun, bukannya bertemu dengan seekor ular, Eglė justru berhadapan dengan calon suaminya, Žilvinas, seorang lelaki tampan yang juga merupakan Pangeran Ular. Mereka pun menikah dan dari pernikahan itu, Eglė melahirkan empat orang anak — tiga putra, satu putri — yang semuanya sehat dan hidup berbahagia.

Suatu ketika, Eglė rindu sekali terhadap kampung halamannya dan menyatakan keinginannya untuk berkunjung ke sana. Tetapi suaminya sama sekali tak mengizinkannya. Karena Eglė terus mendesak, maka suaminya terpaksa memberikan tiga syarat yang harus dipenuhi sebelum gadis itu dibolehkan pulang ke kampung halaman.

Pertama, ia harus memintal gulungan benang sutra yang tak ada habisnya. Kedua, ia harus mengenakan sepasang sepatu yang terbuat dari besi baja; dan yang ketiga, ia harus memanggang pie tanpa bantuan alat-alat dapur. Setelah meminta nasihat dari tukang sihir istana, Eglė berhasil memenuhi ketiga syarat yang ditetapkan Žilvinas.

Merasa tak punya pilihan lain, sang pangeran pun mengantar permaisuri dan anak-anaknya ke tepi daratan. Ia menitip pesan kepada istrinya agar tak terlalu lama tinggal di kampung halaman. Sembilan hari saja sudah cukup, tambahnya. Lantas ia berkata lagi, “Saat kau ingin pulang, datanglah ke tepi pantai sendirian bersama anak-anak, lalu panggil aku dengan cara ini:

Žilvinas, oh Žilvinas sayang,

Bila engkau masih hidup – maka lautan akan berbuih busa

Bila engkau telah mati – maka lautan akan berbuih darah…

“Dan bila kau lihat ada buih busa menghampirimu dari tengah laut,” jelas sang suami, “kau akan tahu bahwa aku masih hidup; tapi bila yang kau lihat adalah buih darah, kau akan tahu bahwa aku telah mati.” Setelah itu, Žilvinas menatap anak-anaknya: “Kalian juga jangan pernah memberitahu hal ini kepada siapapun.”

Dengan itu, sang pangeran melambai ke arah istri dan anak-anaknya sambil berharap mereka bisa menikmati liburan mereka di kampung halaman.

Ketika Eglė tiba di rumah orangtuanya, kebahagiaan meletup tak terkira. Seluruh anggota keluarga, beserta keluarga besar lainnya, dan juga para tetangga berkumpul untuk menemuinya. Mereka tanya soal kehidupan barunya bersama para ular laut. Eglė tak henti-hentinya bercerita. Semua orang juga tak sabar ingin menghiburnya, membuatnya merasa nyaman, sampai Eglė tak sadar nyaris sembilan hari telah berlalu.

Hanya saja, setelah bertemu kembali dengan Eglė dan anak-anaknya, baik kakak lelaki maupun perempuan, atau kedua orangtuanya, tak ada yang rela melepasnya kembali ke laut. Mereka pun kemudian menyusun rencana untuk menghabisi Žilvinas. Kedua-belas kakak laki-laki Eglė memaksa ketiga putra Eglė untuk membeberkan kepada mereka perihal cara terbaik untuk mengundang Žilvinas ke permukaan, tapi tak ada yang bersuara. Lalu, putri Eglė membuka mulut:

Žilvinas, oh Žilvinas sayang,

Bila engkau masih hidup – maka lautan akan berbuih busa

Bila engkau telah mati – maka lautan akan berbuih darah…”

Seraya melantunkan mantra di atas, kedua-belas saudara lelaki Eglė memanggil Žilvinas agar naik ke permukaan dan keluar dari laut; kemudian tanpa basa-basi mereka menghabisinya dengan celurit. Tak ada seorang pun yang mengabari Eglė soal kejadian tersebut.

Di hari ke-sembilan, pada waktu tengah malam, agar tak ada yang mengikuti, Eglė pergi ke tepi laut bersama anak-anaknya seperti yang disarankan oleh suaminya. Namun berkali-kali ia memanggil, tetap tak ada jawaban. Melainkan hanya ada buih darah yang terdorong dari tengah laut sampai ke tepian. Tak lama setelah itu, ia mendengar gema suara Žilvinas:

“Kedua-belas saudara lelakimu menyayatku sampai mati. Putri tersayang kita telah mengkhianatiku dengan mengumbar mantra panggilanku!”

Dirundungi kesedihan, Eglė menangis dan menoleh ke arah anak-anaknya:

“Siapa yang akan menjemput kita sekarang di tengah malam begini? Kita tak punya rumah lagi.”

Lantas, kepada putrinya, ia berkata:

“Berubahlah jadi pohon aspen, setiap malam kau akan bergoyang ditiup angin kencang, hujan deras juga akan selalu membasuh wajahmu, dan mahkotamu akan selalu runtuh setiap kali ada hembusan angin!”

Dan kepada ketiga putranya, ia berkata:

“Putra-putraku, berdirilah di sisiku sebagai pohon-pohon kuat, dan aku, ibumu, akan jadi pohon gelap nan sendu di tengahmu!”

Maka terjadilah seperti yang dikatakan Eglė. Putra-putranya diubah jadi pohon-pohon kuat: pohon ek, pohon ash, dan pohon birch; sementara putrinya diubah jadi pohon aspen biasa, yang selalu lemah ditiup angin. Sedangkan sang permaisuri mengubah dirinya sendiri jadi pohon cemara. FL

Februari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus. Tidak untuk ditukar, digandakan atau dijual.


#CATATAN:

> Dongeng ini berasal dari LITHUANIA dan berjudul Eglė žalčių karalienė. Salah satu dongeng tertua, terbaik dan paling dikenal di kebudayaan mitologi Baltik, kisah ini juga memiliki banyak varian plot. Eglė adalah nama yang sangat populer untuk wanita di Lithuania, serta merupakan kata benda yang berarti “cemara”.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

One Comment on “Eglė, si Ratu Ular (Lithuania)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: