PADA SUATU MASA, jauh di masa lalu, sebagian besar kaum aborigin dari suku TaiYa hidup di bagian tengah pulau Taiwan, tidak jauh dari sebuah tempat indah yang dikenal dengan sebutan WuShe. Kaum aborigin tersebut hidup dengan damai, bebas, dan rukun. Mereka bertahan hidup dengan mengutamakan kegiatan bertani, berburu dan menangkap ikan. Namun, sekitar seratus tahun lalu, mereka pernah hidup sengsara di bawah kekuasaan Jepang — dan mereka menderita selama tiga puluh tahun.

Suatu hari, salah seorang anggota suku, Ma He Po She, mengadakan pesta pernikahan besar-besaran. Kepala suku, Mo Na Dao, berangkat ke rumah si mempelai pria untuk membantu mempersiapkan perayaan itu bersama putranya, Bocah Mo Na Dao. Tiba-tiba, datanglah seorang lelaki yang berkata, “Bahaya! Petugas kepolisian Jepang sedang dalam perjalanan kemari.”

Lalu, seorang petugas kepolisian Jepang yang mengenakan sepasang sepatu bot berbahan kulit dan seragam yang terserika rapi datang.

Ia berkata dengan kasar, “Hei, Mo Na Dao, sedang apa kau?”

Mo Na Dao, yang ketakutan si petugas kepolisian akan mengacaukan acara, segera membalas, “Kami sedang melangsungkan pesta pernikahan. Ayo, masuk dan nikmati sajian pesta.”

Si petugas kepolisian mendorong Mo Na Dao. Putra Mo Na Dao bergegas menarik seragam si petugas kepolisian dan menyerahkan satu gelas anggur seraya berkata, “Ayo, ayo, nikmati anggur ini.”

Namun tangan Bocah Mo telah dinodai oleh darah binatang*. Karena itu, ketika ia menarik seragam si petugas kepolisian, darah itu menodai seragam tersebut.

Si petugas kepolisian berteriak marah, “Berani sekali kau merusak seragamku!” Begitu marahnya dia hingga ia menampar Bocah Mao di wajah.

Bocah Mao tak sanggup menerima rasa malu itu dan dalam sekejap menghajar si petugas kepolisian.

Bocah Mo bertubuh besar, tinggi dan sangat kuat. Dalam perkelahian itu, ia berhasil memukuli si petugas kepolisian hingga babak belur.

Si petugas kepolisian mengancam, “Dasar orang-orang barbar! Aku akan minta komandanku untuk mengirim pasukan guna menghukum kalian semua atas perlakuan kalian terhadapku.” Setelah itu, si petugas kepolisan beranjak pergi dari sana, masih dalam keadaan marah.

Malam itu, beberapa pemuda suku berkumpul di rumah Mo Na Dao untuk membicarakan insiden di pesta pernikahan. Mereka yakin para petugas kepolisian Jepang akan kembali untuk balas dendam.

Bocah Mo bilang, “Bila mereka berani datang, aku akan melawan dan membunuh mereka.”

Mo Da Nao menatap ke arah salah seorang pemuda yang berdiri di sudut ruangan dan berkata, “Guru Hua Gong, apa kau punya usul?”

Guru Hua Gong adalah satu-satunya suku aborigin yang berpendidikan. Ia mengajar di sekolah umum dan dipaksa untuk mengadopsi nama Jepang.

Hua Gong berkata, “Senjata kita tidak bisa melawan senapan dan peledak tentara Jepang.” Mendadak, semua yang hadir dalam pertemuan itu jatuh terdiam. Setelah kesunyian itu mengendap selama beberapa saat, Mo Na Dao berkata, “Kita sudah cukup mentolerir mereka! Kita sudah menderita selama tiga puluh tahun di bawah kekuasaan Jepang. Sudah saatnya kita bangkit melawan mereka.”

Maka kaum aborigin itu pun merencanakan sebuah serangan pada acara pertemuan olahraga sekolah yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Mereka juga secara diam-diam merekrut kelompok suku lainnya untuk bergabung dalam serangan tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan, sekolah itu dipenuhi oleh warga. Semua yang datang menghadiri acara tersebut berdiri dan melantunkan lagu kebangsaan Jepang.

Tiba-tiba, salah satu dari kaum aborigin berlari ke arah podium dan memenggal kepala salah seorang jendral Jepang. Lalu, sekitar seratus orang dari kaum aborigin ikut berlari ke arah podium dan mulai membantai orang-orang Jepang.

Di saat bersamaan, Mo Na Dao memimpin sekelompok orang dan bergegas ke arah kantor polisi. Sebelum para petugas kepolisian bisa membela diri, mereka sudah mati terkulai. Kaum aborigin itu pun akhirnya membunuh dan/atau menangkap semua orang Jepang di WuShe, serta menyita senjata dan amunisi milik mereka.

Menanggapi pemberontakan tersebut, seorang komandan pasukan Jepang memimpin sekelompok besar tentara Jepang ke WuShe. Para suku aborigin tak kuasa melawan serangan tentara Jepang dan terpaksa mundur ke gua Ma He Po She. Untungnya, tentara Jepang tak kenal baik dengan daerah itu dan gagal menemukan seorang pun dari suku aborigin yang mereka targetkan.

Pertarungan itu berlangsung lama. Hari dan minggu berlalu. Akhirnya, tentara Jepang berusaha mengecoh kaum aborigin agar menyerahkan diri dengan pura-pura menawarkan mereka kebebasan hidup bila mereka mau keluar dari persembunyian.

Namun, kaum aborigin itu tak percaya pada janji-janji tentara Jepang.

Sang komandan, sadar bahwa lawannya takkan menyerahkan diri, memutuskan untuk menggunakan gas beracun guna memaksa mereka keluar dari tempat persembunyian. Banyak sekali anggota suku aborigin yang mati setelah menghirup gas tersebut.

Ketika mereka tengah dibombardir oleh serangan gas, sambil merintih kesakitan, Mo Na Dao berkata, “Pasukan Jepang akan tiba sebentar lagi. Kurasa kita, suku TaiYa, lebih baik bunuh diri daripada mati di tangan mereka.” Dengan begitu, Mo Na Dao menembak dirinya sendiri dengan sebentuk pistol. Anggota suku lainnya mengikuti perbuatan pemimpin mereka dan juga bunuh diri.

Insiden “WuShe” berlangsung selama lima puluh hari, dan sekitar 900 anggota suku aborigin dikabarkan mati. Kejadian itu mendorong warga Taiwan untuk bergerak melawan penjajahan Jepang. FL

Januari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus. Tidak untuk ditukar, digandakan atau dijual.


#KETERANGAN:

(*) Dalam adat pernikahan suku aborigin Taiwan, biasanya dilakukan upacara kurban di mana darah binatang yang dijadikan kurban kemudian diminum oleh para hadirin.

#CATATAN:

> Cerita rakyat ini berjudul 原住民英雄 atau “Pahlawan Aborigin” dan berasal dari Taiwan. Suku TaiYa adalah salah satu dari tiga suku yang tergabung dalam suku besar “Seediq” (kaum aborigin Taiwan). Suku-suku lainnya yaitu Toda dan Truku. Suku aborigin Taiwan merupakan bangsa Austronesia yang pertama kali menginjakkan kaki di pulau tersebut 8.000 tahun silam. Bahasa asli mereka memiliki rumpun yang sama dengan bahasa kepulauan di Asia Tenggara, seperti Melayu, Jawa dan Tagalog.

>> Insiden WuShe” adalah kejadian nyata yang melibatkan perlawanan kaum aborigin Taiwan terhadap pendudukan Jepang pada tahun 1930an. Jumlah korban yang tercatat tidak kurang dari 900 anggota suku aborigin yang berdiam di daerah WuShe (Musha). Kaum aborigin Taiwan juga dikenal dengan sebutan “seiban” dalam bahasa Jepang yang berarti “suku liar” dan mereka kerap diperlakukan sebagai orang biadab. Sejak insiden itu, pemerintahan Jepang mengambil solusi untuk mengintensifikasi program pendidikan ala Jepang di Taiwan dengan upaya mendorong semangat muda-mudi lokal untuk meninggikan Kekaisaran Jepang, serta mengadu-domba Taiwan dengan tetangganya (yang juga tengah melawan penjajahan Jepang): Cina.

>>> Dalam sejarahnya kependudukannya, pulau Taiwan sempat dikuasai oleh Dinasti Ming dari Cina sebelum bangsa Belanda datang pada abad ke-17 untuk menetapkan jalur perdagangan di Asia. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Dinasti Ming dan Belanda (Sino-Belanda) yang berujung pada pengusiran tentara Belanda dari daratan Taiwan. Setelah Dinasti Ming runtuh, salah satu loyalis kekaisaran tersebut kemudian mendirikan Kerajaan Tungning. Kerajaan itu pun memulai pemberontakan terhadap Cina, yang pada saat itu dikuasai oleh Dinasti Qing. Sayangnya, pada tahun 1683, putra mahkota Kerajaan Tungning gagal memimpin pasukannya untuk memberontak terhadap Dinasti Qing dan oleh sebab itu Cina secara resmi menganeksasi Taiwan sebagai bagian dari kekuasaannya.

>>>> Pada akhir abad ke-19, Dinasti Qing dikalahkan oleh pasukan Jepang dalam Perang Sino-Jepang Pertama di mana dua kepulauan di bawah kekuasaan Cina — Taiwan dan Penghu — diambil alih oleh bangsa Jepang untuk kemudian diintegrasikan sepenuhnya sebagai bagian dari Kekaisaran Jepang. Salah satu strateginya adalah dengan mengasimilasi atau membantai suku-suku aborigin yang masih tersisa di Taiwan. Ketika akhirnya Jepang dikalahkan oleh kekuatan sekutu di tahun 1945, mereka semua mundur dari Taiwan dan oleh sebab itu secara otomatis kekuasaan pemerintahan dikembalikan kepada Cina. Hingga saat ini Taiwan masih berusaha untuk ‘melepaskan diri’ dari Cina secara politik.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

One Comment on “Pahlawan Aborigin (Taiwan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: