Toni Morrison adalah pemenang Penghargaan Nobel untuk Sastra (1993), Pulitzer (1988) serta banyak perhagaan bergengsi lainnya — termasuk Presidential Medal of Freedom di tahun 2012. Ia juga menjabat sebagai Profesor Emeritus di Universitas Princeton. Dalam kariernya sebagai penulis, Toni Morrison juga tidak asing dalam dunia pengeditan buku. Selama 20 tahun, ia bekerja sebagai editor di Rumah Penerbit Random House dan bertanggung-jawab atas seleksi buku-buku fenomenal yang ditulis oleh penulis Afrika-Amerika. Karya-karyanya sendiri yang telah mendunia, di antaranya adalah Sula (1975), Song of Solomon (1977), Beloved (1987), juga A Mercy (2008).

Berikut ini adalah penggalan wawancara yang diterbitkan di berbagai media, termasuk The Paris Review dan Poets & Writers.

Selamat membaca.

Tim Fiksi Lotus


SEBELUM MATAHARI TERBIT

Awalnya, saya terbiasa menulis di waktu subuh, sebelum matahari terbit, karena kebutuhan — anak-anak saya masih kecil saat saya baru mulai menulis dan saya perlu waktu menyepi sendiri sebelum mereka merengek Mama ini, Mama itu — dan biasanya hal itu hanya bisa saya dapatkan sekitar jam lima pagi. Saya selalu bilang pada murid-murid saya bahwa salah satu hal paling penting yang harus mereka ketahui adalah kapan mereka berada dalam kondisi prima, secara kreatif. Mereka harus tanya diri mereka sendiri: Seperti apa kamar menulis yang ideal? Apa harus ada musik? Kesunyian? Apakah ada kegaduhan di luar atau ada ketentraman di dalam? Apa yang saya butuhkan untuk berimajinasi?

ANTARA REVISI DAN KERAS KEPALA

Bila ada paragraf yang perlu saya perbaiki, saya akan selalu berusaha memperbaikinya. Berkali-kali, bila perlu. Saya pernah merevisi paragraf sebanyak enam, tujuh, bahkan tiga belas kali. Tapi ada batasan antara revisi dan keras kepala, di mana penulis berusaha mengubah tulisannya hingga tak berbentuk lagi. Penting sifatnya bagi penulis untuk sadar, saat mereka bersikukuh mempertahankan sesuatu, bahwa biasanya, sesuatu yang membutuhkan usaha besar untuk dipertahankan justru memang pada dasarnya tidak bekerja dengan baik, atau perlu dibuang sekalian.

EDITOR YANG BAIK

Editor yang baik bisa mengubah cara penulis memandang tulisannya sendiri. Mereka itu seperti pendeta, atau psikiater; bila kau sial dan mendapatkan editor yang salah, maka lebih baik kau bekerja sendirian saja. Namun ada juga editor yang begitu jarang dan begitu penting hingga mereka sungguh patut dicari dan ditunggu. Kau nanti akan tahu sendiri apakah kau menemukan editor yang tepat untukmu atau tidak. Saya punya seorang editor yang sangat baik, Bob Gottlieb. Dia cocok bekerja dengan saya karena beberapa hal — dia tahu apa-apa saja yang tidak boleh dia sentuh dalam tulisan saya; dia tahu cara menanyakan hal-hal yang mungkin akan saya tanyakan pada diri sendiri seandainya saya punya lebih banyak waktu. Editor yang baik akan jadi mata ketiga. Tenang. Tidak menggebu-gebu. Mereka bekerja bukan karena mereka mencintaimu, ataupun karyamu — buat saya itu yang paling berharga. Saya tidak butuh pujian.

TOKOH DAN PEMBACA

Saat saya duduk untuk menulis, saya tidak pernah membayangkan pembaca saya. Saya juga tidak pernah mengubah karya untuk menyesuaikannya dengan keinginan pembaca. Setelah 20 tahun bekerja sebagai editor, saya lebih bisa memilah mana yang bisa digunakan, dan mana yang tidak. Bila saya kurang yakin terhadap apa yang ingin saya tulis, saya selalu akan kembali kepada karakter-karakter saya. Pada titik itu, biasanya mereka cukup bersahabat dengan saya untuk memberitahukan saya apakah cerita yang saya sampaikan sudah cukup otentik bila disandingkan dengan hidup mereka [para tokoh].

PERTANGGUNG-JAWABAN KARYA

Saya harus bertanggungjawab untuk menulis dengan baik, ataupun bila saya melakukannya dengan tidak baik. Tidak ada yang salah dengan membuat kesalahan, selama kau tidak membuat kesalahan dan berpikir bahwa apa yang kau lakukan adalah benar. Saya ingat suatu musim panas saya menulis sesuatu yang membuat saya sangat bangga, tapi saya tidak bisa melanjutkannya lagi sampai musim dingin tiba. Ketika saya kembali ke meja tulis, saya sangat percaya diri bahwa 50 halaman pertama yang sudah saya tulis di musim panas benar-benar karya yang baik; namun ketika saya baca lagi, ternyata halaman-halaman itu buruk sekali. Sangat ceroboh. Saya tahu, saya bisa merevisinya, tapi saya bingung kenapa sebelumnya saya anggap karya itu sangat bagus? Dan itu yang menakutkan saya. Karena, intinya, kita sungguh tidak tahu apa-apa.

MENJADI PEMBACA

Saat saya kecil, saya hanya ingin jadi pembaca. Saya pikir semua yang perlu ditulis sudah dituliskan atau sedang akan ditulis oleh orang lain. Saya menulis buku pertama saya karena saya pikir tidak ada karya lain yang serupa, dan saya ingin membaca buku itu nantinya. Saya adalah pembaca yang cukup baik. Saya mencintai kegiatan membaca. Itu sebenarnya pekerjaan utama saya, sungguh. Bila saya sanggup membaca karya saya sendiri, itu adalah pujian tertinggi yang bisa saya berikan bagi diri saya. Banyak orang bilang betapa buruk dan egoisnya saya bila saya katakan bahwa saya menulis hanya untuk diri saya sendiri; tapi di lain sisi, hanya kita yang bisa membaca karya kita dengan benar — maksudnya dengan jarak kritis yang cukup — yang justru membuat kita jadi penulis dan editor yang lebih baik. Ketika saya mengajar kelas kepenulisan kreatif, saya selalu berbicara tentang bagaimana kita harus bisa belajar membaca karya kita sendiri; tentu bukan untuk memuji karya sendiri. Maksud saya, tinggalkan karya itu, lalu baca lagi seolah itu pertama kalinya kau membaca karya tersebut. Lalu berikan kritik yang sepadan. Jangan terbuai dengan kalimat-kalimatmu sendiri… FL

Januari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus, The Paris Review dan Poets & Writers. Tidak untuk dijual, ditukar atau digandakan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

12 Comment on “Proses Kreatif #4: Toni Morrison

  1. Ping-balik: Proses Kreatif Penulis Dunia: Toni Morrison – ruangsastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: