Jamaica Kincaid

Hal yang selalu kau antisipasi tentang dirimu sendiri begitu kau jadi seorang turis tidak salah: Turis adalah orang yang tidak terpuji. Tentunya, kau menolak definisi ini; dan seingatmu kau justru dikenal sebagai orang yang menunjukkan kualitas sebaliknya; dan kau yakin bahwa dalam kehidupanmu sehari-hari kau selalu menjaga perilakumu. Bisa dibilang, kau ini sebenarnya orang baik. Orang-orang di dekatmu, yang kenal denganmu, sangat mencintaimu. Dan memang sudah semestinya begitu.

Lalu ketika kau berada di tengah keramaian kota modern yang makmur dan besar, di mana kau hidup dan bekerja, di mana kau pun tak luput dari rasa kecewa dan bingung (ya, memang kedengarannya klise … tapi semua tentangmu juga ujung-ujungnya sangat klise) kau pertanyakan rasa sepi yang begitu mendera. Dikelilingi oleh sekian banyak manusia, yang takkan bisa kau kenal satu per satu meski kau hidup sampai seribu tahun lagi, kau berpikir alangkah sedihnya hidup tanpa perhatian orang lain, tanpa cinta. Kemudian dari sudut matamu kau tangkap lirikan seseorang yang begitu singkat, namun membekas. Kau lihat ekspresi senang di wajah orang tersebut, dan karena itu kau tersentuh … ternyata kehadiranmu di dunia tidak sia-sia. Ternyata kehadiranmu masih diinginkan (ekspresi orang itu adalah buktinya).

Jadi, secara umum, kau adalah orang baik-baik. Parasmu juga lumayan, dan kau sanggup menarik perhatian orang lain (terutama mereka yang setipe denganmu), orang-orang yang merasa nyaman jadi dirinya sendiri (sort of, setidaknya dalam beberapa hal; lagipula, orang-orang sepertimu selalu merasa kecewa dan bingung; dan hal-hal yang kalian anggap terpuji—buah pikiran kalian, segala hal yang mendefinisikan diri kalian—juga berakar pada kekecewaan dan kebingungan).

Kau adalah orang yang terbiasa oleh kenyamanan berduduk-duduk santai di rumah (beserta segala atribut mewah di dalamnya), di pekarangan rumah (beserta ornamen-ornamen mewah), di jalan kompleks perumahan tempat tinggalmu, di tempat ibadahmu, di komunitasmu, dan di tempat kerjamu. Kau merasa nyaman dikelilingi oleh keluarga, kerabat, serta kawan—dengan begitu kau yakin bahwa hidupmu telah lengkap.

Lalu, suatu hari, saat kau tengah duduk-duduk entah di mana, seorang diri di antara kerumunan manusia, kau merasa tercerabut dari akarmu, ini bukan tempatmu lagi, dan sungguh, sebagai orang biasa kau tak punya kemampuan untuk mengintrospeksi diri secara mendalam. Kau juga tidak bisa secara otomatis mendeteksi pola pikir yang salah dan membenarkannya dalam sekejap. Intinya, kau tersadar bahwa hidup sebagai orang biasa bukanlah hal yang mudah, dan prestasimu yang rata-rata ternyata juga sangat menguras energi. Maka dipersenjatai oleh kalimat “Aku harus pergi”, yang sebenarnya jarang sekali terucap di bibir, melainkan hanya dalam hati, kau dobrak batasan-batasanmu sendiri dan mengubah statusmu dari “onggokan daging yang kerjanya hanya duduk santai di singgasana modern-mu” menjadi “orang yang sibuk menuai semangat hidup baru dan inspirasi dari tempat-tempat asing yang menawarkan kematian, serta kehancuran”.

Kini kau jadi orang yang senang berbaring di pantai-pantai asing, ribuan kilometer jauhnya dari tempat kelahiranmu. Tubuhmu terbaring kaku, basah oleh keringat, mengilap di atas gundukkan pasir, seperti artefak yang terlupakan, lalu diingat sesaat, kemudian pada akhirnya tak cukup penting untuk dilestarikan.

Kini kau adalah orang yang mengagungkan kata “harmoni” (padahal biasanya kau lebih senang menggunakan padanan kata “keterbelakangan”) dan kau rayakan ikatan kuat antara orang-orang asing (jujur, mereka memang orang asing buatmu) dan alam tempat tinggal mereka. Kau mulai mengagumi cara mereka menciptakan sesuatu yang unik hanya dengan menggunakan bahan kain biasa, atau bagaimana mereka merangkai sesuatu yang begitu indah hanya dengan menggunakan benang murahan yang (menurutmu) berwarna kelewat mencolok; dan kau perhatikan cara mereka berjongkok di atas lubang yang mereka gali sendiri di dalam tanah. Lubang itu tak ayal membuatmu terpesona, dan karena kau kini telah jadi orang tak terpuji, maka pikiranmu sarat akan hal-hal buruk yang, anehnya, membuatmu tersenyum, dan pemikiran itu terus membengkak dalam kepalamu—hingga kau tiba pada sebuah konklusi: leluhur orang-orang asing ini tak secerdas leluhurmu, juga tak sekejam leluhurmu, dan itulah sebabnya mereka, dan bukan kau, terpaksa hidup berdekatan dengan alam, terbelakang dan terkekang. Menarik sekali kan?

Ugly, adakah kata yang lebih sepadan untuk mendefinisikan status barumu sebagai turis? Tidak terpuji, hampa, bodoh, tak lebih dari sekadar onggokan sampah yang sibuk berhenti di sana-sini untuk memelototi ini-itu, tanpa sadar bahwa orang-orang lokal yang hidup di tempat yang baru saja kau lewati sangat membencimu. Mereka menertawaimu di balik pintu, mencemooh keanehanmu (kau terlihat asing sekali bagi mereka). Mereka juga menggosipkan bentuk fisikmu yang tak lazim. Dan, tentu, tingkah lakumu yang tak terpuji (sudah jadi kebiasaan mereka untuk makan pakai tangan; tapi begitu kau coba mengikuti kebiasaan tersebut, kau terlihat bodoh; dan saat kau coba makan dengan caramu sendiri, kau tetap terlihat bodoh).

Ketahuilah, mereka tidak suka cara bicaramu (aksenmu menggelikan); dan mereka berguling-guling di lantai, terbungkus oleh tawa, saat meniru ekspresi di wajahmu ketika kau tengah buang-buang air. Mereka tidak suka padamu. Mereka tidak suka padaku!—adakah pemikiran itu muncul di kepalamu? Apapun solusimu, kau tetap merasa canggung. Kau tetap merasa konyol. Kau tetap merasa asing. Namun banalitas keseharianmu yang begitu membuat sesak dadamu telah mengantarmu pada titik ekstrem ini, di mana kau menghabiskan hari-harimu di tengah masyarakat yang membencimu: orang-orang yang, dalam keadaan normal, takkan pernah kau jadikan sahabat; dan orang-orang yang juga takkan sudi bertetangga denganmu.

Oleh sebab itu, kau harus pikir-pikir lagi, seberapa jujur mereka terhadapmu? (Apa benar botol kaca yang direndam dalam saus kacang bisa dijadikan sajian tradisional di daerah itu, atau mereka hanya mengelabuimu saja untuk bahan tertawaan? Apa jenis ikan bermoncong panjang dengan sirip warna-warni itu benar berfungsi sebagai sajian afrodisiak, atau kau akan tertidur selamanya bila menyantap ikan tersebut?) Oh, kau telah menguras tenaga dan pikiran begitu banyak hanya untuk jadi turis yang layak, dan karena itu ketika perjalanan telah berakhir dan kau kembali ke rumah, kau butuh istirahat panjang untuk memulihkan tubuh dan mentalmu kembali pada kehidupan lamamu, sebelum kau memutuskan untuk jadi turis.

Tak ada yang aneh tentang fakta bahwa semua orang lokal benci terhadap turis. Karena semua orang lokal, di mana pun mereka berada, memiliki potensi untuk jadi turis; dan semua turis juga kemudian akan kembali ke tempat tinggalnya sendiri, tanah kelahirannya, sebagai orang lokal.

Semua orang lokal, di belahan dunia mana pun mereka berada, pasti dikelilingi oleh banalitas yang melelahkan, dan mereka terjerat oleh kebosanan, keputusasaan, juga kesedihan yang sama; dan setiap perbuatan mereka—baik yang terpuji, maupun tidak terpuji—adalah usaha mereka untuk melupakan jeratan itu. Mereka akan mencari jalan keluar, cara untuk beristirahat, cara untuk mencabut akar mereka dari tanah yang telah memberikan mereka kehidupan dan pergi jalan-jalan melihat dunia.

Namun bagi sejumlah orang lokal—atau sebagian besar dari mereka—pergi jalan-jalan bukanlah sebuah pilihan. Mereka tak bisa pergi kemana-mana. Mereka terlalu miskin. Mereka tak punya uang untuk dihamburkan ‘melihat dunia’. Mereka tak bisa meninggalkan realita yang pahit; dan mereka bahkan tak punya cukup uang untuk hidup layak di negara/kota/desa mereka sendiri. Ironisnya, negara/kota/desa semacam itulah yang jadi tujuan perjalananmu.

Maka ketika orang-orang lokal itu melihatmu, Sang Turis, mereka tak ayal merasa iri terhadapmu, iri terhadap kemampuanmu meninggalkan banalitas keseharianmu, kebosananmu, dan iri terhadap sihirmu yang sanggup mengubah banalitas mereka, kebosanan mereka, jadi sumber kepuasan (dan inspirasi) bagimu. FL

Januari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Jamaica Kincaid. Tidak untuk dijual, digandakan, ataupun ditukar.


#CATATAN:

> Esai ini bertajuk The Ugly Tourist karya JAMAICA KINCAID dan pertama kali terbit di Harper’s Magazine pada bulan September 1988. Esai ini juga telah disertakan dalam berbagai antologi “esai terbaik”, termasuk One Hundred Great Essays yang diedit oleh Robert DiYanni dan yang kini telah memasuki edisi ke-lima sejak pertama terbit di tahun 2007 (seri Penguin Academics).

>> JAMAICA KINCAID (atau Elaine Potter Richardson) adalah seorang penulis novel dan esai asal Antigua, Kepulauan Karibia yang gemar berkebun dan menyandang status akademis sebagai “Professor of African and American studies in Residence” di kampus bergengsi, Universitas Harvard. Selama dua puluh tahun dari 1976 sampai 1996, ia bekerja sebagai editor di jurnal sastra The New Yorker. Di antara buku-bukunya yang populer adalah At the Bottom of the River, Annie John dan A Small Place.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

One Comment on “Esai: Turis Bodoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: