Koma

Adeste Adipriyanti

Kuletakkan gagang telepon. Aku mulai terisak. Tentulah bukan sebuah berita menggembirakan yang baru saja kudengar. Berita perpisahan pahit dari orang yang sangat kusayangi. Mendadak kamar kosku jadi gelap dan sempit. Suara-suara menjauh, menyuramkan suasana. Aku terkulai lemas memegangi lututku yang bergetar, terlarut dalam kesedihan tak terbendung.

Kamar kos, Jumat pukul 06.00

Tangisku mulai mereda. Aku tidak pernah merasakan campuran emosi seperti ini. Kini aku tidak tahu harus bagaimana melangkah tanpa sosoknya.  Mataku tak sengaja menangkap sebuah foto yang terpajang di sudut ruangan. Fotoku dengannya, di rumahnya yang teduh beberapa bulan yang lalu. Dan kini ia telah pergi.

Bagaimana mungkin masa-masa ceria kami dengan cepat berganti kelabu. Begitu cepatnya Oma Tara meninggalkan kami. Hal ini tidak mungkin terjadi, Oma masih punya empat tahun lagi untuk hidup. Aku meraih dompetku dan mencari-cari secarik kertas merah.

Tertera serangkaian huruf, “Ba shi si.” Tulisan itu artinya 84 tahun dalam bahasa Mandarin. Aku mendapatkannya saat berlibur di Semarang tiga tahun lalu. Ketika aku sedang berteduh di sekitar Klenteng Siu Hok Bio yang menua dimakan zaman. Kala itu hujan deras mengguyur kota Semarang, dan tiba-tiba seorang nenek bungkuk berpakaian serba hitam mendekatiku. Ia menawarkan jasa meramal padaku. Aku tak pernah lupa akan bola mata kirinya yang berwarna ungu dan berkilat-kilat menunggu jawabanku. Aku tidak pernah mau diramal. Lebih baik aku tidak tahu kalau umurku pendek atau jodohku jauh sekali. Tapi aku iseng menanyakan kira-kira Oma Tara hidup sampai umur berapa.

Nenek misterius itu mengambil kaleng cokelat lusuh dari tasnya, kemudian mengocoknya. Bibirnya tidak komat kamit membaca mantra, ia hanya memejamkan mata. Ia menyuruhku membuka kaleng itu dan mengambil secarik kertas. Aku mengambil yang berwarna merah—warna kesukaanku. Ia berpesan agar tidak membukanya hingga sampai di rumah.

Betapa bodohnya aku, percaya dengan bualan peramal itu. Toh, dari dulu aku memang tidak percaya dunia ramalan. Semuanya bohong! Peramal itu telah mengelabuiku. Selama ini, aku tenang-tenang saja ketika Oma masuk rumah sakit karena komplikasi ginjal. Aku selalu punya keyakinan teguh bahwa usia Oma masih panjang. Empat tahun lagi.

Stasiun Bandung, Jumat pukul 08.00    

Aku takut menghadapi kenyataan ini. Bagaimana kalau aku tidak bisa menguasai diri ketika melihat peti matinya. Bagaimana kalau aku meraung histeris? Apa jadinya keluarga kami tanpa Oma Tara? Apakah ikatannya akan masih sekuat dulu, ketika Oma masih mengharuskan seluruh anak, menantu dan cucunya berkumpul setiap hari ulang tahunnya?

Kereta Lodaya jurusan Solo segera diberangkatkan di jalur empat. Para penumpang dimohon segera naik. Terima kasih. Suara itu lenyap di antara keramaian penumpang. Aku sengaja memesan tempat duduk yang dekat jendela, siapa tahu pemandangan persawahan dapat menjernihkan pikiranku yang kusut. Delapan jam lagi aku sampai di Klaten—kota tujuan berliburku tiap tahun yang selalu kusambut dengan sukacita. Namun perjalanan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kamu mau dimasakin apa besok? Oma sudah belanja lidah sapi kesukaanmu. Atau kamu mau gurame goreng kering atau mungkin soto babat?”

“Semur lidah sapi saja Oma. Jangan lupa puding cokelat pakai saus vla dengan rum yang banyak.” Biasanya sehari sebelum keberangkatanku ke rumahnya, ia selalu menelepon. Tidak hanya memastikan kapan aku tiba tapi disertai pertanyaan, hendak makan apa. Aku tergila-gila dengan semur lidah dan puding cokelatnya. Ah, Oma Tara, juru masak sekaligus juru selamat. Jenis makanan apa saja yang ia buat selalu membuatku ketagihan dan bikin kangen.

Kereta Lodaya gerbong 3 kursi 11A, Jumat pukul 13.00

Ternyata pemandangan indah ini menyesatkan. Aku malah terbuai dan pikiranku mengembara ke berbagai jurusan waktu. 5 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, bahkan 5 jam yang lalu.

“Jangan pernah takut kalau kamu tidak salah,” ujarnya suatu kali di atas kursi goyang sambil menjahit celemek dari kain perca. Itulah nasihatnya untukku di sebuah siang yang terik. Kala itu aku hanya mengangguk dan melanjutkan menyeruput es goyang. Aku tak terlalu menangkap maksud ucapannya itu. Satu hal yang pasti, Oma Tara punya sifat yang keras.

Kami, cucu-cucunya, tidak berani membantah perintahnya. Harus tidur siang. Makan di meja makan dan tidak boleh bersuara. Cucu perempuan dan laki-laki tanpa terkecuali harus bisa memasak dan membetulkan kabel dan alat elektronik. Harus berpakaian rapi dan bersih. Aku merasa seperti tinggal di asrama. Tapi jelas lebih baik daripada tinggal di rumah yang isinya hanya perkelahian Ayah dan Ibu.

Dulu aku sempat marah dan bahkan benci pada Oma Tara. Mungkin karena itu tadi, ia sangat galak. Sewaktu kecil, ketika kami masih tinggal satu rumah, Oma sering memaki Ibu. Membentak dan memarahi. Anehnya, Ibu hanya bisa menunduk dan tak bersuara. Aku tidak tahu apa permasalahannya. Mengapa Oma bisa begitu kasar pada Ibu? Aku hanya mengintip dari anak tangga, menutup kedua telinga sambil menangis.

Baru beberapa tahun yang lalu aku mengetahui, peristiwa 30 September 1965 membuat OmaTaraharus berpisah dengan Opa Kardi yang diciduk aparat. Oma yang tadinya hanya ibu rumah tangga biasa mendadak harus menjadi kepala rumah tangga bagi delapan anaknya.

Aku merasa bersalah, mengapa baru beberapa tahun ini hubunganku dengannya membaik. Mengapa baru sekarang aku bisa menerima segala kebaikan dan kejelekan Oma Tara?

“Menyimpan amarah sama dengan menenggak racun yang perlahan-lahan menghabisi tubuhmu sendiri.” Ibu saja memberi maaf pada Oma, mengapa aku tidak bisa. Lagipula dialah sosok yang selalu setia mengisi hari-hari liburku. Setiap tahun, tak pernah absen.

Rumah Oma Tara yang teduh, Jumat pukul 18.00

Turun dari becak di bibir gang, aku sudah disambut dengan suasana yang berbeda. Abu-abu. Kursi-kursi merah disusun rapi, tenda berwarna biru terpasang dari bibir gang hingga halaman depan rumah Oma Tara yang teduh. Deretan panjang karangan bunga tersebar di kanan dan kiriku. Oma memang cukup disegani di Klaten.

Semburat ungu senja yang muncul di balik atap rumah menyambut kedatanganku. Sayang bukan Oma yang duduk-duduk di teras, seperti biasa ketika aku datang ke rumahnya tiap tahun untuk berlibur.

Aku memasuki ruang tengah. Tampak berbeda. Ruangan tempat Oma menjahit atau menonton telenovela kesayangannya telah disulap menjadi ruangan yang indah dengan hamparan bunga yang didominasi warna putih dan ungu. Peti matinya pun tenggelam dalam rangkaian bunga yang meneduhkan hati. Keinginan Oma terpenuhi, mati ditemani belantara bunga.

Keretaku terlambat hampir dua jam. Artinya aku tidak bisa melihat Oma untuk terakhir kalinya. Petinya sudah ditutup. Mengapa memandangnya untuk terakhir kali saja, aku tak bisa. Mengapa keretaku harus terlambat sampai? Penyesalan ini belum sembuh hingga keesokan harinya…

Pusara Oma Tara di TPU Klaten, Sabtu pukul 10.00

Pada akhirnya, semua proses kedukaan ini akan bermuara pada satu sikap: penerimaan. Manusia akan menyadari bahwa hidup akan terus berjalan, bersama atau tanpa orang-orang yang kita sayangi.

“Jangan kapok untuk selalu main ke sini ya setiap liburan. Pokoknya ulangtahun Oma dan akhir tahun wajib ke sini”, begitulah pesan Oma Tara setiap aku pamitan untuk pulang.

Aku bahagia, paling tidak aku diberi kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Oma, walau hanya sebentar. Belajar darinya sebagai wanita perkasa, menjalani kerasnya kehidupan dan keluar sebagai pemenang.

Dan satu hal lagi, ternyata aku tidak dibohongi. Ramalan itu benar adanya. Tanpa sengaja kuketahui ketika mendengar percakapan sepasang suami istri di kereta waktu itu. Mereka berselisih paham karena sang suami, hendak membeli rumah di Jl Kutilang IV no. 4. Menurut sang istri, ‘empat’ adalah angka sial karena artinya mati. Dalam bahasa Mandarin “si” bisa berarti empat atau mati. Maka, bagi kaum Tionghoa angka empat itu dianggap dapat mendatangkan kesialan.

Peramal itu tidak bohong padaku. “Ba Shi Si” yang tertera di kertas merah yang ia berikan padaku waktu itu bukan berarti “84”. Melainkan “80 mati.”

Oma Tara meninggal di usia 80 tahun. “Selamat jalan Oma. Aku selalu menyayangi Oma.” Kutaburkan segenggam bunga melati ke atas pusaranya.

Tamat tidak selalu titik. Tamat bukanlah akhir dari segalanya. Tamat adalah koma. Karena kehidupan lain terus bergulir. Satu tertunduk mati yang lain tumbuh.

 

 

 

2011 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Adeste Adipriyanti. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

_____________________________________

#CATATAN:

> Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Femina oleh Adeste Adipriyanti.

>> ADESTE ADIPRIYANTI adalah seorang jurnalis dan penulis muda yang sekarang ini menjabat sebagai Executive Editor di majalah August Man Indonesia. Ia tinggal di Jakarta.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

15 Comment on “Koma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: