Shih-Li Kow adalah seorang penulis fiksi pendek asal Malaysia yang buku pertamanya, Ripples and Other Stories (kumpulan fiksi pendek), dinominasikan sebagai pemenang¬†Frank O’Connor Award 2009 serta Commonwealth Writers’ Prize 2009. Dia tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebagian dari wawancara ini telah diterbitkan dalam sebuah artikel bertajuk ‘Keeping It Short’ oleh Maggie Tiojakin, di The Jakarta Post Weekender edisi April 2010.

—————–

Buku Anda, Ripples, telah menarik perhatian banyak pihak dari berbagai negara bahkan sebelum dinominasikan dalam ajang-ajang lomba tulis fiksi pendek dunia. Mengapa Anda memilih fiksi pendek sebagai medium tulisan Anda, dan bukannya novel? Apakah Anda juga seorang penggemar fiksi pendek?

Saya selalu menyukai fiksi pendek. Semua bermula dari koleksi fiksi ilmiah yang saya gandrungi semasa remaja, seperti kisah-kisah Sherlock Holmes ataupun fiksi pendek karya Edgar Allan Poe. Sampai saat ini saya masih menyukai karya-karya itu; dan bagi saya membaca fiksi pendek itu lebih memuaskan daripada membaca novel.

Saya juga tidak pernah memilih fiksi pendek sebagai medium tulisan saya. Saya merasa saya tidak punya pilihan selain menulis fiksi pendek. Banyak hal yang ingin saya katakan serta lakukan saat saya menulis Ripples, dan medium fiksi pendek menawarkan banyak kesempatan bagi saya untuk bereksperimen dengan berbagai macam ‘suara’ serta ‘bentuk’.

Saya juga mulai mengenal dunia tulis-menulis lewat sebuah workshop — yang memang lumrah mengambil contoh dari fiksi pendek. Setelah melalui proses penulisan ini, saya sekarang merasa lebih nyaman menulis dengan menggunakan medium fiksi pendek.

Sebagai seorang penulis dan pembaca, apakah menurut Anda orang-orang lebih menghargai fiksi pendek saat ini? Mungkinkah Ripples menuai kesuksesan seandainya diterbitkan 10 tahun lalu?

Fiksi pendek sudah ada selama ratusan tahun, dan akan selalu ada dalam kehidupan masyarakat, meski tujuan serta bentuknya berubah-ubah. Ada yang seru, ada yang dramatis. Penulis fiksi pendek akan terus menulis tentang apa-apa saja yang mereka mau. Saya percaya bahwa yang membuka pintu kesempatan sebenarnya tidak hanya pembaca, tapi justru penerbit. Hanya akan ada pembaca, apabila ada buku yang diterbitkan.

Menurut saya, sepuluh tahun lalu saya takkan mungkin menemukan penerbit yang mau menerbitkan Ripples. Dan jenis bukunya juga pasti akan sangat berbeda apabila ditulis di masa itu.

Dulu kata orang, hidup dari menulis novel itu sangat sulit; dan hidup dari menulis fiksi pendek itu mustahil. Apakah hal yang sama masih berlaku, menurut Anda?

Hidup dari menulis itu susah. Titik. Maka itu saya masih meneruskan pekerjaan saya sehari-hari.

Menurut pendapat Anda, fiksi pendek macam apakah yang patut dinobatkan sebagai fiksi pendek yang bagus?

Cerita-cerita yang bagus itu sulit dilupakan — baik dari segi karakter, kejadian, suasana, dan buah pikiran yang dipicu oleh karya tersebut dalam kepala si pembaca biasanya meninggalkan jejak nyata untuk waktu yang sangat lama. Menurut saya hal itu bisa diaplikasikan ke dalam semua jenis tulisan, terlepas dari panjang tulisan tersebut.

Cerita-cerita terbaik juga biasanya sangat mudah dikenali. Mereka hadir dalam bentuk utuh dan padat. Pembaca akan mulai menggandeng si penulis di awal cerita, lalu saat mereka selesai membaca, ada suatu rasa puas yang memancar di wajah karena mereka menemukan satu atau dua hal yang dapat mereka resapi secara sungguh-sungguh. Itu sebenarnya keindahan sebuah fiksi pendek, karena tidak bertele-tele, biasanya pembaca bisa langsung merefleksikan hidupnya di sana.

* Untuk membaca artikel ‘Keeping It Short’ silakan kunjungi web The Jakarta Post Weekender di http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/31/keeping-it-short.html

Hak Cipta © Maggie Tiojakin, The Jakarta Post Weekender 2010. Tidak untuk dijual, digandakan, atau ditukarkan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: