Isaac Chotiner

Jhumpa Lahiri adalah seorang novelis dan penulis fiksi pendek yang telah melahirkan tiga karya monumental di dunia Sastra Inggris: Interpreter of Maladies (kumpulan fiksi pendek); The Namesake; dan Unaccustomed Earth (kumpulan fiksi pendek). Berikut adalah cuplikan wawancara Isaac Chotiner dengan tokoh penulis India-Amerika ini seperti yang telah diterbitkan oleh jurnal sastra & politik asal Amerika Serikat, The Atlantic.

———-

Buku pertama Anda, Interpreter of Maladies, merupakan sebuah kumpulan fiksi pendek. Lalu, setelah itu, Anda menerbitkan sebuah novel berjudul The Namesake. Nah, sekarang Anda justru menerbitkan kumpulan fiksi pendek lagi (Unaccustomed Eearth, 2008). Kenapa Anda memutuskan untuk kembali berkonsentrasi pada fiksi pendek?

Saya tidak pernah secara formal memutuskan untuk ‘kembali ke fiksi pendek’. Kebetulan saat saya selesai menulis The Namesake, ada beberapa cerita pendek yang masih tersimpan di kepala, dan perlahan-lahan saya mulai mewujudkan cerita-cerita itu ke atas kertas hingga saya tak bisa lepas dari mereka. Terus terang, sebagian besar dari cerita-cerita ini lahir dari ide-ide yang munculnya bahkan sebelum saya menuliskan The Namesake.

Apakah proses menulis sebuah novel sangat berbeda dengan proses menulis sebuah fiksi pendek?

Saya tidak terlalu membedakan elemen-elemen yang terkandung dalam penulisan keduanya karena menurut saya yang namanya ide bisa jalan, bisa tidak. Dan apabila ide itu bisa dijalankan, maka harus dilihat apakah ide itu lebih cocok diwadahkan ke dalam cerita panjang, pendek, atau medium. Semua tergantung dari apa yang dibutuhkan oleh cerita yang hendak saya sampaikan.

Kalau membicarakan penulis karya-karya klasik favorit Anda, karya siapa yang paling sering Anda baca untuk mendapatkan inspirasi?

Belakangan ini saya sering sekali membaca novel-novel yang diterbitkan di abad ke-19. Tapi penulis favorit saya adalah Chekhov dan Tolstoy, serta Thomas Hardy. Dia adalah salah satu pengarang yang tulisannya selalu saya jadikan referensi. Dunia yang ia ciptakan selalu menarik dan komplit, serta terfokus. Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya melakukan semua itu dalam karya saya, tapi saya sungguh terinspirasi oleh kemampuan Thomas Hardy. Saat membaca karyanya, saya seolah masuk ke dalam dunia yang kaya dan memuaskan. Ada suatu keseimbangan antara drama kehidupan dan dunia yang mengelilinginya, dan proses timbal-balik yang terjadi di antara keduanya sungguh mengagumkan. Selain itu, saya juga banyak membaca karya Nathaniel Hawthorne — bahkan saya mendapatkan judul untuk kumpulan fiksi pendek saya yang ke-dua dari karya dia. Saya mendapat banyak ide dari bacaan saya, itu pasti.

Bagaimana dengan penulis-penulis modern?

Saya terobsesi dengan karya-karya William Trevor, Mavis Gallant, dan Alice Munro.

Salah seorang kritikus yang me-review buku pertama Anda mengatakan bahwa prosa yang Anda gunakan sangat sederhana dan tidak sombong. Tanpa harus menilai kualitas komentar tersebut, apakah menurut Anda ada benarnya?

Saya senang menggunakan bahasa yang sederhana. Menurut saya itu justru lebih menarik. Ada dua unsur penulisan, yaitu bentuk dan fungsi. Saya bukan penulis yang terfokus hanya pada bentuk. Saya dan suami saya selalu memperdebatkan hal ini, karena saat kami pergi berbelanja furnitur, dia selalu mencari perabotan yang spektakuler, indah, dan unik; sementara saya hanya ingin mencari perabotan yang nyaman. Saya tidak mau duduk-duduk santai sambil menghasilkan kalimat-kalimat indah. Contohnya, jika Anda pernah membaca karya-karya Nabokov, Anda bisa memperhatikan bahwa dia menulis dengan bahasa yang indah, namun bahasa itu bisa dia kaitkan menjadi bagian integral dari cerita yang ia sampaikan. Sekarang ini, saat menulis, saya justru ingin menggunakan bahasa yang lebih simpel. Ketika saya sedang merevisi cerita-cerita saya, biasanya saya sibuk menyederhanakan kata-kata yang saya gunakan.

* Untuk membaca wawancara lengkapnya, silakan kunjungi web The Atlantic di http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2008/03/jhumpa-lahiri/6725/

Hak Cipta © Isaac Chotiner, The Atlantic 2010. Tidak untuk dijual, digandakan, atau ditukarkan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

2 Comment on “Jhumpa Lahiri: “Saya Senang Menggunakan Bahasa Sederhana”

  1. Ping-balik: The Unaccustomed Earth | ma petite bibliothèque

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: