David Foster Wallace

Satu alasan kenapa aku bersedia berbicara di depan umum mengenai topik yang rasanya bukan bidangku adalah karena hal ini memberikan aku kesempatan untuk mendeklamasi kepada kalian semua tentang sebuah cerita pendek karya [Franz] Kafka yang sudah lama tidak aku ajarkan di kelas-kelas sastra, namun yang seringkali ingin kubacakan keras-keras. Judul cerita itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah “Sebuah Fabel Sederhana*”:

“Wah,” ujar si tikus, “dunia semakin sempit setiap harinya. Di awal-awal, dunia tampak begitu luas hingga membuatku takut, maka aku terus berlari; betapa lega hatiku ketika akhirnya kulihat dinding jauh di kiri dan kananku, namun dinding-dinding yang memanjang itu semakin menyempit dalam waktu teramat singkat hingga tahu-tahu aku sudah berada di dalam ruangan terakhir, dan di dalam ruangan itu, di sudutnya, ada perangkap yang menunggu untuk kumasuki.” “Kalau begitu ubah saja arah larimu,” kata si kucing sebelum melahap tikus tersebut.

Bagiku, hal yang paling membuat frustasi saat membaca karya Kafka di depan siswa-siswi perguruan tinggi adalah betapa sulitnya menerangkan kepada mereka bahwa Kafka adalah penulis yang humoris . . . dan bagaimana cara mendorong mereka untuk mengapresiasi selera humor Kafka yang dibungkus oleh kekuatan cerita-ceritanya yang luar biasa. Sebenarnya, cerita pendek yang baik dan lelucon yang baik punya banyak kesamaan. Keduanya bergantung pada apa yang biasa disebut oleh ahli teori komunikasi sebagai “eksformasi”, di mana ada sebagian informasi penting yang sengaja dihilangkan dari namun kemudian dibangkitkan oleh cara berkomunikasi yang sanggup menciptakan hubungan asosiatif dalam diri audiens. Ini juga mungkin sebabnya efek yang dihasilkan oleh cerita pendek dan lelucon kadang terkesan mengejutkan sekaligus membuka mata, layaknya katup yang sudah lama mampet dan tiba-tiba terbuka plong.

Bukan hal yang aneh bila Kafka membicarakan sastra sebagai “kapak yang digunakan manusia untuk membabat lautan beku dalam diri kita masing-masing.” Dan bukan suatu kebetulan bahwa pencapaian teknis sebuah cerita pendek yang baik sering dirangkum dalam istilah “kompresi” — karena baik pemupukan tekanan maupun pelepasan yang tercipta semua terjadi dalam diri si pembaca. Namun apa yang bisa dilakukan Kafka lebih baik dari penulis manapun adalah kemampuannya membangun intensitas tekanan dalam diri pembaca hingga mereka tak bisa lagi menahannya, tepat sebelum ia memberi pelepasan.

Faktor psikologis lelucon adalah bagian dari kesulitan dalam mengajarkan karya-karya Kafka. Kita semua tahu bahwa bila kita menyelipkan penjelasan dalam sebuah lelucon, maka lelucon itu akan segera terasa hambar. Misalnya, bila kita memberi petunjuk tentang bagaimana Lou Costello** menyalahgunakan nama “Who” sebagai kata ganti interogatif “siapa”, dll. Kita semua juga tahu bahwa penjelasan itu tak jarang menumbuhkan rasa antipati dalam diri kita, yang membuat kita tersinggung seolah kita tidak mampu menangkap isi lelucon tanpa penjelasan tersebut. Hal inilah yang dirasakan seorang instruktur pengajar saat ia berusaha mengajar tema cerita-cerita Kafka sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi yang mendorong siswa untuk menganalisa inti cerita lewat pakem-pakem umum: alur plot, pemecahan simbolisme, dll.

Tentu, Kafka sendiri berada dalam posisi unik di mana ia mungkin masih bisa mengapresiasi proses ironis yang mengharuskannya untuk menyodorkan karya-karyanya ke dalam mesin penganalisa tingkat tinggi, atau yang dalam bidang sastra sama saja seperti proses menyobek kelopak bunga dan menggilingnya, serta kemudian menguji hasil gilingannya dalam alat spektometer guna mengetahui lebih jauh kenapa bunga memiliki aroma sedap. Karena, toh, Franz Kafka adalah penulis cerita “Poseidon” yang berimajinasi bagaimana seorang dewa laut merasa begitu jengah terhadap proses birokrasi hingga ia tak sempat berlayar atau berenang; juga cerita “In the Penal Colony” di mana ia membayangkan deskripsi sebagai hukuman dan penyiksaan sebagai bentuk pendidikan, serta di mana seorang kritikus digambarkan sebagai seorang tersangka bertato yang dijatuhi hukuman mati dengan cara ditusuk di bagian kepala.

Kesulitan lainnya, termasuk bagi siswa-siswi yang berbakat, adalah — tidak seperti tulisan [James] Joyce atau [Ezra] Pound — asosiasi eksformatif yang diciptakan oleh karya-karya Kafka sama sekali tidak dianggap memiliki nilai intertekstual atau pun historikal. Daya tarik Kafka justru ada pada faktor pemahaman pembaca yang datangnya dari alam bawah sadar, yang nyaris mendekati pola dasar pemikiran manusia, dan biasanya didemonstrasikan oleh anak kecil, sebuah ruang dalam pikiran kita yang masih percaya terhadap mitos. Ini sebabnya kita cenderung mengkategorikan cerita-cerita Kafka yang paling menyimpang atau aneh sebagai cerita yang nightmarish [mengundang mimpi buruk] dan bukannya sureal. Belum lagi selera humor Kafka yang unik dan sulit dimengerti oleh pembaca muda, karena biasanya pola pikir mereka sangat bergantung pada rasionalisasi bangsanya.

Setidaknya di Amerika Serikat, faktor humor yang ditunjukkan Kafka tidak memiliki kesamaan bentuk ataupun ciri dengan produk-produk hiburan lokal lainnya. Tak ada permainan kata yang rekursif atau komunikasi verbal yang menantang dalam susunan celetukan sehari-hari atau ejekan pedas dalam tradisi lokal kita. Selain itu, cerita Kafka tidak pernah menyertakan humor fisik, atau artian seksual. Dan cerita-ceritanya juga tak pernah menunjukkan usaha untuk keluar dari pemahaman populer dengan cara mencemooh tradisi.

Tak ada humor slapstik ala [Thomas] Pynchon yang melibatkan kulit pisang atau tanaman pemangsa. Tak ada efek satir ala [Philip] Roth atau metaparodi ala [John] Barth atau pola pengembangan karakter ala Woody Allen yang sarat akan keluhan. Tak ada pemutar-balikan alur seperti pada program situasi komedi di televisi yang sibuk mengangkat faktor humor versi ba-bing ba-bang; dan tak ada tokoh anak-anak yang dewasa sebelum waktunya atau tokoh kakek-nenek yang berbicara kasar atau rekan kerja yang sinis dan suka membuat kegaduhan.

Mungkin faktor yang paling sulit dimengerti oleh pembaca muda di Amerika Serikat terhadap karya Kafka adalah bagaimana tokoh-tokoh penguasa dalam cerita Kafka tidak pernah digambarkan sebagai orang-orang bodoh yang hanya pantas dicemooh, namun sebaliknya, mereka justru terkesan absurd dan menakutkan dan juga menyedihkan pada saat bersamaan, sama seperti tokoh Letnan di cerita pendek “In the Penal Colony.”

Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa selera humor Kafka terlalu halus untuk mahasiswa lokal. Justru salah satu strategi paling efektif yang pernah kuterapkan dalam proses pembelajaran selera humor dalam karya-karya Kafka adalah dengan mengatakan kepada para siswa bahwa selera humor Kafka itu cenderung kasar, bahkan anti-halus. Menurut teori yang ada sekarang, selera humor Kafka bergantung pada proses bagaimana kita mencerna kebenaran dengan metode radikal, atau yang biasa kita sebut metafora. Aku berpendapat, melawan teori tersebut, bahwa sebagian intuisi kita yang terdalam biasanya hanya bisa disampaikan dalam bentuk kiasan, dan itu sebabnya kita menyebut kiasan-kiasan dalam sastra sebagai bentuk “ekspresi”.

Maka bila kita membaca karya Kafka yang berjudul The Metamorphosis, aku ingin mengundang para pembaca untuk menimbang-nimbang apa yang sebenarnya kita maksud dengan kata “menyeramkan” atau “menjijikan” saat menggambarkan pribadi seseorang; juga apa yang kita maksud saat kita berkata orang itu terpaksa “makan tahi” setiap hari di tempat kerjanya?

Atau coba baca ulang cerita “In the Penal Colony” dan perhatikan sejumlah ekspresi yang digunakan Kafka, seperti “tonguelashing” (sayat lidah) atau “Dia membelah bokong baru di tubuhku” atau peribahasa “Pada usia tertentu, kita mendapatkan wajah yang memang pantas kita miliki.” Setelah itu, lakukan pendekatan pada karya lainnya, “A Hunger Artist” dan selusuri rangkaian kiasan yang digunakan Kafka, seperti, “lapar perhatian” atau “lapar cinta” atau terminologi “self-denial” [penolakan diri] yang memiliki pengartian ganda. Atau, kalau mau ditarik lebih jauh lagi, ada sebuah fakta kecil tentang akar etimologi kata “anoreksia” yang ternyata berasal dari bahasa Yunani dan berarti kerinduan.

Sampai pada titik ini, biasanya si pengajar berhasil menarik perhatian para siswa. Itu bagus, namun si pengajar tetap harus bertarung dengan rasa bersalahnya karena taktik yang ia terapkan untuk menjelaskan konsep bagaimana humor digunakan untuk mencerna metafora masih sangat jauh dari permasalahan berikutnya, yaitu pengartian yang lebih dalam tentang bagaimana selera humor Kafka seringkali digunakan untuk membungkus tragedi. Lalu bagaimana tragedi tersebut, ujung-ujungnya, digunakan untuk membungkus kegembiraan.

Sekarang aku tiba pada momen di mana aku harus mengarahkan tema pembahasan ke dalam satu sesi yang sangat sulit. Di sesi ini aku terpaksa mundur, mengelak, dan memperingati siswa-siswiku bahwa, terlepas dari pemahaman mereka yang begitu jeli terhadap selera humor Kafka, karya-karya Kafka sebenarnya bukan lelucon, dan bahwa lelucon sendu dan sederhana yang cenderung gelap dan ironis, serta kerap diselipkan ke dalam pernyataan pribadi Kafka — seperti yang terkandung dalam kalimat “Harapan selalu ada, tapi bukan untuk kita” — bukanlah sesuatu yang jadi titik-berat karya-karyanya.

Justru apa yang jadi titik-berat karya-karya Kafka adalah kompleksitas kehidupan modern yang seringkali tidak masuk akal, namun tetap luar biasa indah. Selera humor Kafka sama sekali tidak neurotik, melainkan anti-neurotik, dan justru terbilang waras; dan selera humor itu pada dasarnya berkiblat pada agama. Tentunya, agama yang dimaksud di sini adalah agama seperti yang ditunjukkan oleh [Søren] Kierkegaard dan [Rainer Maria] Rilke serta ayat-ayat Mazmur — atau esensi spiritualitas yang mengerikan di mana bahkan efek relijius dalam cerita-cerita berdarah karya [Flannery] O’Connor jadi terkesan mudah, dan tokoh-tokohnya terkesan kaku.

Kurasa ini yang membuat selera humor Kafka sulit diakses oleh muda-mudi di Amerika Serikat; karena selera humor mereka didikte oleh budaya lingkungannya, di mana lelucon adalah hiburan dan hiburan adalah bentuk pengukuhan hidup. Mereka bukan “tidak mengerti” selera humor Kafka, tapi kita sendiri yang telah mengajar mereka untuk melihat selera humor atau lelucon sebagai sesuatu yang harus dicerna — seperti kita mengajar mereka untuk melihat jati diri sebagai sesuatu yang pada dasarnya “ada” dalam diri mereka.

Maka tidak heran bila mereka tidak bisa mengapresiasi inti dari lelucon Kafka — bahwa pergulatan mengerikan yang dialami manusia untuk menetapkan jati dirinya terkadang menghasilkan jati diri yang kemanusiaannya tidak bisa dipisahkan dari pergulatan mengerikan tersebut. Bahwa perjalanan manusia dalam mencari kenyamanan dan ketentraman yang terkesan tak ada habisnya dan terkadang mustahil adalah esensi dari kenyamanan dan ketentraman itu sendiri. Percayalah, hal semacam ini sulit sekali dijabarkan di atas papan tulis layaknya rumus matematika.

Aku bisa bilang pada siswa-siswiku bahwa mungkin ada baiknya mereka tidak “mengerti” Kafka. Aku bisa minta mereka untuk membayangkan karya seni Kafka sebagai pintu. Lalu membayangkan para pembacanya sebagai orang-orang yang sibuk mendatangi dan menggedor pintu tersebut, terus menggedor dan menggedor, bukan hanya sekadar untuk minta dipersilakan masuk, tapi karena kita butuh masuk. Kita tidak tahu kenapa, namun kita bisa merasakan desakan itu, rasa putus asa untuk masuk, dan karena itu kita menggedor dan mendorong dan menendang, dll. Hingga pada akhirnya, ketika kita dipersilakan masuk, dan pintu terbuka . . . kita temukan bahwa pintu itu terbuka keluar: ternyata selama ini kita sudah berada di dalam ruangan yang selalu ingin kita masuki. Dast is komisch. FL

Februari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan David Foster Wallace. Tidak untuk dijual, digandakan atau ditukar.


#KETERANGAN:

(*) Cerita pendek karya Franz Kafka yang berjudul Kleine Fabel dalam Bahasa Jerman telah diterjemahkan menjadi A Little Fable dalam Bahasa Inggris. Cerpen tersebut pertama kali diterbitkan dalam versi aslinya pada tahun 1931 dan dalam versi Bahasa Inggris pada tahun 1933 (keduanya terbit setelah Kafka meninggal).

(**) Lou Costello adalah seorang komik dan aktor asal Amerika Serikat yang biasa dikenal dengan double act “Abbott and Costello”.

#CATATAN:

> Esai ini bertajuk Laughing with Kafka dan merupakan bagian dari pidato yang diberikan oleh DAVID FOSTER WALLACE di simposium bertajuk “Metamorphosis: A New Kafka” yang disponsor oleh PEN American Center di New York pada tahun 1998. Esai ini diterbitkan pertama kali oleh Harper’s Magazine di tahun yang sama.

>> DAVID FOSTER WALLACE adalah penulis asal Amerika Serikat yang telah menerbitkan novel, cerita pendek, dan buku kumpulan esai. Karya-karyanya termasuk Infinite Jest dan The Pale King.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

4 Comment on “Analisis: Tertawa bersama Kafka

  1. Ping-balik: Fragmen Arrival, Abbott-Costella, dan Palindrom – Dina Layinah Putri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: