PADA SUATU MASA hiduplah seorang laki-laki yang memiliki tiga orang putri. Ketika Baginda Raja memanggil para penduduk desa untuk mengirim anggota keluarga laki-laki yang masih muda untuk bertempur di medan perang, laki-laki tersebut sadar bahwa ia tidak bisa mengirimkan siapa-siapa karena ia tak punya anak lelaki. Saat ia tengah memikirkan hal tersebut, putri sulungnya datang mendekat dan bertanya, “Apa yang kau pikirkan, Ayah?”

“Tinggalkan aku sendirian,” jawab laki-laki itu. “Baginda Raja memanggil para pemuda desa untuk pergi ke medan perang, tapi aku tak punya anak lelaki. Hanya kalian yang kumiliki, dan aku tak bisa mengirim kalian ke sana.”

Si putri sulung menyahut, “Nikahi aku dengan seorang lelaki!”

Tak lama kemudian, putri ke-dua laki-laki itu juga datang menghampiri. Ia memberi usulan yang sama seperti kakak sulungnya. Namun putri bungsu laki-laki itu justru menjawab, “Tak usah khawatir, Ayah, aku akan pergi ke medan perang. Buatkan seragam tempur untukku dan pangkas rambutku agar tak ada seorang pun yang tahu aku perempuan. Setelah itu, berikan kuda dan senjatamu padaku.”

Laki-laki itu mengikuti anjuran putri bungsunya dan dalam waktu singkat, gadis itu melesat pergi bersama para pemuda desa menuju medan perang. Semua terkejut melihat kehadiran pemuda yang sebelumnya tak pernah mereka temui ada di dalam kelompok itu. Namun mereka tetap pergi meninggalkan desa bersama-sama.

Pada hari itu, Baginda Raja juga telah memerintahkan putranya sendiri untuk dibawa keluar kota agar segera dimangsa oleh seekor Kulshedra* [naga sakti]. Setiap tahunnya, naga itu akan datang ke kerajaan tersebut untuk memangsa beberapa warga. Suatu hari, naga itu berkata, “Bila kalian tidak menginginkanku untuk kembali, serahkan putra sang Raja kepadaku.”

Maka mereka membawa putra Raja kepadanya. Begitu bocah laki-laki itu tiba, para warga menatap naga itu yang telah siap memangsanya; dan mereka begitu ketakutan hingga tak berani untuk menolong bocah itu dari nasib buruknya. Namun gadis yang berpura-pura jadi seorang pemuda itu mendadak menghunus pedangnya dan menyayat naga tersebut, serta menyelamatkan putra Raja.

Berita tentang bagaimana seekor Kulshedra kemudian dibantai oleh seorang pemuda desa segera menyebar hingga sampai ke telinga Baginda Raja yang begitu gembira, dan segera memerintahkan penghuni istana untuk menggelar sebuah pesta sambutan terbesar yang diiringi oleh salutasi senjata api dari barisan prajurit kerajaan.

Begitu si pemuda tiba di kerajaan beserta putra Baginda Raja, bocah itu berbisik, “Ayahku akan menawarkan sebuah istana padamu, tapi kau minta saja kuda miliknya, karena kuda itu bisa berpikir dan berbicara seperti manusia.”

Tiba di hadapan Baginda Raja, beliau bertanya, “Istana mana yang ingin kau tinggali sebagai imbalan?”

Pemuda itu menjawab, “Aku hanya punya satu permintaan, yaitu untuk tidak dikirim ke medan perang.”

“Baiklah,” ujar sang Raja. “Aku akan membebaskanmu dari tugas militer, tapi istana mana yang ingin kau tinggali?”

“Bila Baginda benar-benar ingin memberikanku sesuatu, maka berikanlah kuda yang sedang Baginda tunggangi sekarang.”

Sang Raja pun menolak, maka pemuda itu beranjak pergi. Putra Raja mengikuti jejak si pemuda dan ketika orang menanyakan kemana ia hendak pergi, ia selalu menjawab, “Aku akan pergi mengikuti ayah baruku. Ia telah menyelamatkan nyawaku dan sekarang ia sudah seperti ayah bagiku. Bila ayah asliku lebih peduli terhadap kudanya daripada terhadapku, darah dagingnya sendiri, maka sebaiknya aku juga pergi.”

Ketika Baginda Raja mendengar apa yang telah dikatakan putranya, beliau serta-merta berubah pikiran. Ia meminta para pelayannya untuk mengantarkan kuda miliknya kepada si pemuda yang telah mengalahkan seekor Kulshedra, lengkap dengan pelana yang terbuat dari emas. Pemuda itu (kita memanggilnya seorang ‘pemuda’ meski ia sebenarnya seorang ‘gadis’) segera menunggang kuda tersebut dan pergi ke kerajaan lain.

Setibanya di kerajaan itu, ia mendapati segerombol orang berdiri di hadapan sebuah parit. Kuda yang ia tunggangi melihat kerumunan tersebut dan bertanya pada tuannya, “Tuan, apa kau bisa lihat apa yang sedang mereka lakukan?”

“Aku bisa lihat,” jawab si pemuda. “Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi.”

“Sang Raja ingin menikahkan putrinya,” balas sang kuda. “Orang yang bisa melompati parit tersebut dengan kudanya, sambil menangkap sebuah apel, akan diijinkan menikahi putrinya. Tapi kelihatannya belum ada orang yang berhasil melakukan itu. Aku akan melompati parit itu. Kau cukup berpegang kuat saja. Jangan takut, dan perhatikan arah lemparan apel. Begitu aku melompat, aku akan terantuk di tepi parit, jadi sebaiknya kau pegang erat-erat rambutku.”

Sambil berbincang, kuda itu pun mulai mendekati tepian parit. Lantas ia berlari sekencang mungkin dan melompati bukaan parit tersebut. Begitu tiba di sisi seberang, salah satu kaki kuda itu terantuk. Si pemuda berpegang erat pada rambut kuda dan kuda tersebut melompat lagi tinggi-tinggi di udara sehingga si pemuda bisa menangkap lemparan buah apel.

Semua orang terkejut, karena banyak sekali yang telah mencoba melompati parit tersebut, namun tak ada seorang pun yang berhasil menangkap lemparan buah apel. Sang Raja segera mengatur pesta pernikahan dan melepas anak gadis yang sangat ia cintai. Begitu pesta berakhir, kedua mempelai masuk ke dalam kamar pengantin.

Keesokan paginya, sesuai adat negeri, sang mempelai wanita ditanya soal malam pengantinnya.

“Tak ada yang terjadi,” jawabnya. Tentu saja, karena keduanya wanita. Malam kedua dan ketiga sama saja. Para pejabat istana memutuskan bahwa mereka harus membunuh si pemuda, namun mereka merasa kasihan terhadapnya.

“Aku tahu apa yang harus kita lakukan,” cetus salah seorang pejabat istana. “Kita kirim dia ke hutan untuk membawa makanan bagi para penebang kayu. Ada seekor Kulshedra di dalam hutan yang akan memangsa dan melumatnya hidup-hidup.”

Sayangnya, sang mempelai pria berada tidak jauh dari sana, di balik pintu, dan mendengar rencana keji tersebut. Ia segera mendatangi kudanya dan duduk penuh kesedihan.

“Mengapa kau begitu sedih?” tanya sang kuda.

“Bagaimana tidak sedih,” balas si pemuda. “Sang Raja mau mengirimku ke hutan supaya aku dimangsa seekor Kulshedra.”

“Jangan takut,” ujar kuda itu. “Minta kepada sang Raja agar membawakan gerobak guna menempati makanan yang akan kau bawa kepada para penebang kayu, dan juga sekelompok lembu. Nanti setelah tiba di sana, biar aku kabari lagi apa yang harus kau lakukan.”

Tak lama kemudian, sang Raja memanggil menantunya dan berkata, “Pergilah ke hutan dan bawakan makanan bagi para penebang kayu di sana.”

“Baiklah,” jawab si pemuda. “Tapi aku butuh gerobak untuk membawa makanan itu.”

Maka pekerja istana segera memberikan apa-apa yang diminta si pemuda.

Dalam perjalanan ke hutan, sang kuda menjelaskan kepada tuannya: “Begitu kita tiba di tengah hutan, lepaskan salah seekor lembu dan panggil para penebang kayu. Naga itu akan mendengar suaramu dan bergegas memangsamu. Tapi jangan khawatir! Tarik saja telinganya dan sangkutkan pada gandar gerobak.” Kuda itu belum lagi selesai berbicara ketika mendadak mereka tersadar bahwa mereka telah tiba di tengah hutan. Pemuda itu segera melepas salah seekor lembu dan memanggil para penebang kayu. Mendengar panggilan tersebut, sang Kulshedra pun datang mendekat—namun sebelum ia bisa melakukan apa-apa, si pemuda telah menarik telinganya dan menyangkutkannya pada gandar kereta, sebagai pengganti lembu. Lalu mereka kembali ke istana. Saat orang-orang melihat apa yang tersangkut pada gandar gerobak, mereka ketakutan dan bersembunyi di rumah masing-masing. Sang kuda lalu berkata pada si pemuda untuk melepas Kulshedra.

Kedua mempelai itu kembali tidur di kamar pengantin mereka, namun si mempelai wanita bersikukuh bahwa ia menghabiskan malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini, para pejabat istana berkata, “Kita kirim si pemuda untuk memandikan kuda betina liar pemangsa segala mahluk hidup. Ia juga akan memangsa pemuda itu, tentunya.” Sekali lagi, pemuda itu mendengar rencana keji para pejabat istana dan ia kembali menghampiri kudanya dengan wajah memanjang.

Sang kuda bertanya mengapa tuannya terlihat begitu sedih. Si pemuda menjawab, “Aku sudah berhasil kabur dari ancaman naga Kulshedra, sekarang aku harus memandikan kuda betina liar yang terkenal sebagai pemangsa segala mahluk hidup.”

“Jangan takut,” ujar sang kuda. “Dia itu ibuku. Minta dua ember madu kepada sang Raja.” Tak lama kemudian, sang Raja memanggil menantunya dan memintanya untuk memandikan si kuda betina. Pemuda itu menyanggupi, dengan syarat ia harus membawa dua ember penuh madu. Sang Raja pun memberikan apa yang diminta si pemuda.

Dalam perjalanan, sang kuda berkata kepada tuannya: “Begitu kita tiba di sumur, timbalah dua ember air, dan tuangkan dua ember madu itu ke dalam sumur dan aduk sampai rata. Lalu gantung pelanamu di dekat situ supaya si kuda betina dapat melihatnya. Kemudian panjatlah pohon tinggi. Saat si kuda betina tiba, dia akan mereguk air sumur, melihat pelana emas itu dan berkata, ‘Manis sekali air ini dan betapa berkilaunya pelana emas itu! Aku butuh seorang manusia untuk duduk di atas punggungku dan bermain denganku!’ Lalu kau berteriak, ‘Aku ada di sini, tapi aku takut kau akan memangsaku!’ Dia akan membalas, ‘Aku takkan melakukan itu’, dan kau berkata lagi, ‘Bersumpahlah atas nama Demirçil putramu.’ Dia akan bersumpah dan setelah itu kau bisa turun dari pohon dan menungganginya.”

Pemuda itu mengikuti nasihat sang kuda. Si kuda betina mendekati sumur, meneguk air dan menatap pelana emas yang tergantung tidak jauh dari sana, lalu berkata, “Manis sekali air ini dan betapa berkilaunya pelana itu! Aku butuh seorang manusia untuk duduk di atas punggungku dan bermain denganku!” Pemuda itu berteriak: “Aku ada di sini, tapi aku takut kau akan memangsaku!”

“Tidak, aku takkan melakukan itu.”

“Bersumpahlah atas nama Demirçil putramu.”

Si kuda betina bersumpah dan si pemuda segera turun dari pohon. Ia menunggangi kuda betina itu dan berkeliling di sekitar sumur. Lantas si kuda betina berkata, “Aku akan jauh lebih bahagia bila Demirçil ada di sini.”

“Anakmu juga ada di sini bersamaku,” kata si pemuda, seraya memanggil kudanya dan mereka bertiga bermain bersama.

Setelah beberapa saat berlalu, si pemuda dan kudanya kembali ke desa ditemani si kuda betina. Begitu warga desa melihat kehadiran si kuda betina, mereka meneriakinya dan mengusirnya dari sana. Namun si kuda betina tak mau pergi. Akhirnya, sang kuda meminta ibunya untuk kembali ke kediamannya di dekat sumur dan berjanji untuk mengunjunginya dalam waktu dekat agar mereka bisa bermain bersama. Maka si kuda betina pun bertolak pergi.

Si mempelai pria kembali ke istana dan tidur di samping istrinya seperti biasa. Dan, seperti biasa, tak ada yang terjadi. Kali ini sang Raja memutuskan untuk mengirim si pemuda ke sebuah gereja yang penuh dengan ular guna menagih pajak yang sudah ditunggak selama bertahun-tahun oleh ular-ular itu. Pemuda tersebut mendengar rencana keji itu dari belakang pintu dan kembali menghampiri kudanya dengan wajah ditekuk.

Sang kuda bertanya, “Mengapa kau sedih, tuanku?”

“Kali ini aku pasti mati,” balas si pemuda. “Sang Raja hendak mengirimku ke sebuah gereja yang penuh dengan ular.”

“Jangan khawatir,” ujar sang kuda. “Minta sang Raja untuk mengirim-mu ke sana dengan sebuah kereta untuk menempati uang. Kereta itu sebaiknya dipasangi banyak bel, dan juga beberapa keledai untuk menariknya.”

Si pemuda mengikuti saran sang kuda begitu sang Raja memerintahnya untuk pergi ke gereja yang dimaksud. Dalam perjalanan, tidak lupa mereka mengajak si kuda betina liar. Dan kedua ekor kuda tersebut berpesan pada si pemuda apa yang harus dia lakukan.

“Aku dan ibuku,” kata si kuda jantan, “akan menjaga semua pintu gereja dan meringkik keras-keras. Kau panjat jendela gereja dan bawa semua bel bersamamu. Lalu deringkan bel-bel itu. Ular-ular akan berteriak dan bertanya apakah kita para dewa-dewi yang telah datang untuk menyiksa mereka. Kau langsung tagih pajak kerajaan dan katakan bahwa Tuhan akan menghancurkan mereka jika mereka menunggak lagi.”

Begitu mereka tiba di gereja, semua berjalan sesuai rencana. Ular-ular tersebut sangat ketakutan mendengar suara bel dan ringkikan kuda yang lantang sehingga mereka buru-buru membayar hutang pajak mereka. Lantas, saat ketiganya beranjak pulang, ular-ular itu merayap mengikuti mereka dari belakang. Mata mereka terpaku pada si pemuda. Namun mereka tak bisa melukainya.

Ular-ular itu pun mengutuk si pemuda dan mendesis, “Bila kau yang telah mengambil harta kami adalah lelaki, maka kau akan segera menjelma jadi perempuan; dan bila kau perempuan, maka kau akan segera menjelma jadi lelaki.” Dalam sekejap, gadis yang selama ini menyamar sebagai lelaki pun menjelma jadi seorang lelaki sejati.

Ia kembali ke istana bersama kudanya. Malam itu, seperti biasa, ia tidur di samping si mempelai wanita di kamar pengantin. Namun, keesokan paginya, ketika pertanyaan yang sama terlontar soal apa yang terjadi di malam hari, si mempelai wanita menjawab, “Kalian tak perlu tanya lagi. Semalam adalah malam yang indah.” FL

Januari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Robert Elsie. Tidak untuk ditukar, digandakan, ataupun dijual.


#KETERANGAN:

(*) Dalam mitologi Albania, Kulshedra adalah naga perempuan berkepala tujuh yang berbentuk seperti ular dan bisa menyemburkan api, hampir serupa dengan naga hydra dalam mitologi Yunani. Kulshedra adalah naga yang jahat dan sering digambarkan sebagai penjaga Keindahan Alam.

#CATATAN:

> Dongeng ini berjudul Vajza qe u bë djalë atau The girl who became a boy (diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Robert Elsie).

>> Dongeng ini memiliki banyak varian di berbagai negara Eropa dengan judul yang kurang lebih sama, dan sering diangkat dalam bidang yang berkaitan dengan gender studies.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

3 Comment on “Gadis yang Menjelma Jadi Lelaki (ALBANIA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: