J.D. Salinger

Ada sembilan-puluh-tujuh laki-laki yang bekerja di bidang iklan, asal New York, di dalam hotel itu, dan, gara-gara mereka memonopoli saluran interlokal, wanita muda yang menginap di kamar nomor 507 harus menunggu dari pukul dua belas siang sampai pukul setengah tiga sore sebelum panggilan telepon interlokalnya disambungkan oleh pihak hotel.

Namun, meski begitu, wanita muda tadi tidak lantas membuang waktunya begitu saja. Ia sempat membaca artikel di majalah wanita yang berjudul “Seks itu Menyenangkan – atau Mengerikan”. Dia juga sempat mencuci sisir dan sikat rambutnya. Ia sempat mencuci noda dari rok setelan berwarna krem. Ia sempat mencabut kancing dari blus yang ia beli di pusat belanja Saks Fifth Avenue, dan mencabut dua helai rambut yang belum lama tumbuh di tengah tahi lalatnya. Ketika sang operator akhirnya menghubungi telepon di kamar inapnya, wanita muda itu tengah duduk di dekat jendela dan hampir selesai mengoles pernis pada kuku di jemari tangan kirinya.

Wanita muda itu adalah orang yang, saat telepon berbunyi, tidak pernah tergesa-gesa. Dia berlaku seolah telepon itu sudah lama berbunyi, mungkin sejak ia memasuki tahap pubertas.

Dengan kuas pernis masih di tangan, sementara telepon terus berbunyi, wanita muda itu menatap kuku jari kelingkingnya dan menguas ujungnya agar menyerupai bentuk bulan sabit. Lalu ia menutup botol pernis dengan sebelah tangan, bangkit berdiri, dan mengibas sebelah tangan yang telah rapi dikuas pernis pelan-pelan di udara. Dengan tangan yang lain, wanita muda itu mengambil sebentuk asbak yang penuh abu rokok dari dekat jendela dan menentengnya ke meja tidur, di mana pesawat telepon berada. Wanita muda itu duduk di salah satu ranjang kembar yang telah rapi dan — setelah dering ke-enam atau ke-tujuh — akhirnya mengangkat telepon tersebut.

“Halo,” katanya, seraya menarik jemari tangan kirinya jauh-jauh dari gaun sutra berwarna putih yang sedang ia kenakan — satu-satunya pakaian yang ia kenakan, selain sepatu. Cincin-cincinnya semua ada di kamar mandi.

“Telepon Anda ke New York sudah tersambung, Mrs. Glass,” ujar sang operator.

“Terima kasih,” kata sang wanita muda tadi, seraya meletakkan asbak di atas meja tidur yang sudah sesak.

Suara seorang wanita terdengar dari ujung saluran telepon. “Muriel? Kaukah itu?”

Wanita muda itu menarik gagang telepon agak menjauh dari telinganya. “Ya, Bu. Apa kabarmu?”

“Ibu khawatir sekali terhadapmu. Mengapa kau baru menelepon sekarang? Apa kau baik-baik saja?”

“Aku berusaha meneleponmu semalam, dan malam sebelum itu. Tapi saluran di sini sangat—”

“Apa kau baik-baik saja, Muriel?”

Wanita muda itu melebarkan sudut antara gagang telepon dan telinganya. “Aku baik-baik saja. Kepanasan. Ini hari terpanas di Florida sejak—”

“Mengapa kau baru menelepon sekarang? Ibu khawatir sekali se—”

“Bu, jangan berteriak. Aku bisa dengar suara Ibu,” ujar wanita muda itu. “Aku telepon dua kali semalam. Sekali setelah—”

“Ibu sudah bilang pada ayahmu bahwa kau pasti menelepon semalam. Tapi, dia tidak percaya pada–apa kau baik-baik saja, Muriel? Jujurlah pada Ibu.”

“Aku baik-baik saja. Berhentilah bertanya soal itu, please.”

“Kapan kau tiba di sana?”

“Entahlah. Rabu pagi-pagi sekali.”

“Siapa yang menyetir?”

“Dia,” jawab wanita muda itu. “Dan jangan marah dulu. Dia tidak menyetir serampangan. Aku sendiri sampai terperangah.”

Dia yang menyetir? Muriel, kau sudah janji—”

“Bu,” potong wanita muda itu. “Aku barusan bilang. Dia tidak menyetir serampangan. Pelan, di bawah 80 km per jam. Sepanjang jalan begitu.”

“Apa dia melakukan hal aneh dengan pohon seperti waktu itu?”

“Aku bilang dia tidak menyetir serampangan, Bu. Sekarang, please, aku sudah minta dia agar menyetir mobil sedekat mungkin dengan garis putih di jalan, dan dia tahu apa yang kumaksud. Dia juga menurut saja, kok. Dia bahkan berusaha untuk tidak melihat pepohonan di sekitar jalan. Aku tahu dia sangat berhati-hati. Oh ya, apakah Ayah sudah membenarkan mobil di bengkel?”

“Belum. Mereka minta 400 dolar, hanya untuk—”

“Bu, Seymour bilang sama Ayah bahwa dia yang akan lunasi semua tagihannya. Tak ada alasan lagi untuk—”

“Ya, kita lihat nanti saja. Bagaimana perilakunya di mobil dan secara keseluruhan?”

“Baik-baik saja,” jawab wanita muda itu.

“Apa dia masih memanggilmu dengan panggilan buruk itu?”

“Tidak. Dia punya panggilan baru untukku.”

“Apa?”

“Oh, apa sih bedanya, Bu?”

“Muriel, Ibu ingin tahu. Ayahmu—”

“Baiklah. Dia panggil aku Miss Spiritual Tramp 1948,” kata wanita muda itu seraya terkekeh.

“Itu tidak lucu, Muriel. Tidak lucu sama sekali. Justru sebaliknya, itu sungguh menjijikkan. Bahkan menyedihkan. Kalau Ibu pikir lagi soal—”

“Bu,” potong wanita muda itu lagi. “Dengarkan aku. Kau ingat buku yang dia kirim untukku dari Jerman? Kau tahu kan, yang berisi puisi-puisi Jerman. Ingat tidak apa yang kulakukan pada buku itu? Aku sudah mengobrak-abrik ingatanku—”

“Kau masih punya buku itu.”

“Ibu yakin?” tanya wanita muda itu.

“Tentu saja. Maksud Ibu, Ibu yang simpan. Ada di kamar Freddy. Kau tinggalkan buku itu di sini dan aku tidak tahu harus menyimpannya di mana–Kenapa? Dia menginginkan buku itu?”

“Tidak. Hanya saja, dia menanyakanku soal buku itu waktu kami berkendara kemari. Dia mau tahu apakah aku sudah membacanya.”

“Buku itu ditulis dalam bahasa Jerman!”

“Ya, aku tahu. Tapi tak ada bedanya,” kata wanita muda itu sambil menyilangkan kakinya. “Katanya, sajak-sajak dalam buku itu ditulis oleh satu-satunya penyair terhebat di Jerman. Dia bilang aku seharusnya berupaya mencari versi terjemahan buku itu, atau belajar membaca dalam bahasa Jerman.”

“Buruk sekali. Buruk sekali. Sebenarnya, justru menyedihkan. Ayahmu bilang semalam—”

“Tunggu sebentar, Bu,” ujar wanita muda itu. Dia beranjak ke jendela untuk mencari bungkusan rokoknya. Ia menyulut sebatang rokok dan kembali duduk di tepi ranjang. “Bu?” panggilnya, seraya mengembuskan asap rokok.

“Muriel. Sekarang, dengarkan Ibu.”

“Aku mendengarkan.”

“Ayahmu sudah bicara dengan Dr. Sivetski.”

“Oh?” kata wanita muda itu.

“Ia menceritakan semuanya. Setidaknya, ayahmu yang bilang begitu. Kau tahu sendiri ayahmu seperti apa. Soal pohon. Soal urusan jendela. Semua hal-hal menjijikkan yang dia katakan pada Nenek tentang rencana beliau untuk meninggalkan dunia ini. Apa yang dia lakukan dengan foto-foto indah yang diambil di Bermuda. Semuanya.”

Well,” kata wanita muda itu.

Well. Pertama-tama, Dr. Sivetski bilang adalah sebuah kejahatan bagi pihak Angkatan Darat untuk mengeluarkannya dari rumah sakit. Sumpah, itu perkataannya. Dia benar-benar bilang pada ayahmu bahwa ada kemungkinan — kemungkinan besar sekali — bahwa Seymour sudah hilang kendali terhadap dirinya sendiri. Sumpah, itu perkataannya.”

“Di sini juga ada psikiater,” sahut si wanita muda.

Siapa? Kau tahu namanya?”

“Entahlah. Rieser, atau siapalah. Katanya dia cukup handal.”

“Ibu tak pernah dengar nama itu.”

Well, kata orang dia cukup handal.”

“Muriel, jangan membantah. Please. Kami sangat khawatir terhadapmu. Ayahmu ingin mengirim telegram padamu semalam dan memohon agar kau pulang, sung—”

“Aku tidak mau pulang sekarang, Bu. Tenang saja.”

“Muriel. Ibu tidak bercanda. Dr. Sivetski bilang Seymour mungkin sudah benar-benar hilang kendali terha—”

“Aku baru saja tiba di sini, Bu. Ini liburan pertamaku selama bertahun-tahun belakangan, dan aku tidak akan mengepak barang-barangku sekarang supaya aku bisa pulang,” kata wanita muda itu. “Lagipula, aku tidak bisa bepergian sekarang. Tubuhku terbakar sinar matahari dan sulit sekali bergerak.”

“Kenapa bisa sampai parah begitu? Tidakkah kau gunakan krim losion yang kumasukkan di kopermu? Aku letakkan botolnya di—”

“Sudah kugunakan, Bu. Tapi tetap saja kulitku terbakar.”

“Buruk sekali. Di bagian mana kulitmu terbakar?”

“Di seluruh tubuh.”

“Buruk sekali.”

“Aku masih hidup, kok.”

“Katakan pada Ibu, apa kau sempat bicara dengan psikiater di hotel itu?”

Well, sedikit sih,” kata wanita muda itu.

“Apa katanya? Di mana Seymour saat kau bicara dengan psikiater itu?”

“Di Ocean Room, sedang bermain piano. Sudah dua malam ini dia bermain piano terus.”

Well, apa kata psikiater itu?”

“Oh, tidak banyak. Dia bicara padaku duluan. Aku duduk di sampingnya di ajang permainan Bingo semalam, dan dia tanya apakah laki-laki yang sedang duduk main piano di ruangan lain itu suamiku. Aku bilang, iya. Dia tanya apakah Seymour sedang sakit atau menderita sesuatu. Jadi aku bilang—”

“Kenapa dia menanyakan itu?”

“Mana aku tahu, Bu. Mungkin gara-gara Seymour terlihat pucat dan lemah,” kata si wanita muda. “Anyway, setelah permainan Bingo selesai, psikiater itu dan istrinya tanya apakah aku mau bergabung dengan mereka untuk pergi minum-minum. Aku ikut saja. Istrinya sungguh memuakkan. Ibu ingat gaun makan malam yang tak enak dipandang, yang kita lihat di jendela toko Bonwit? Yang kata Ibu siapapun yang mengenakan gaun itu harus memiliki pinggang sangat, sangat kecil?”

“Yang berwarna hijau?”

“Wanita itu mengenakannya semalam. Dan pinggangnya besar sekali. Dia terus menanyaiku apakah Seymour ada hubungan saudara dengan Suzanne Glass yang punya toko penjual topi fashion wanita di Madison Avenue.”

“Lalu apa katanya? Dokter itu?”

“Oh. Well, tidak banyak. Aku sungguh-sungguh. Kami pergi ke bar dan itu saja. Ramai sekali tempat itu.”

“Iya, tapi apa, um, apa kau cerita soal apa yang dilakukan Seymour dengan kursi Nenek?”

“Tidak, Bu. Aku tidak berbincang secara detail,” kata si wanita muda. “Lagipula, aku pasti bertemu lagi dengannya. Dia ada di bar sepanjang hari.”

“Apa dokter itu bilang bahwa ada kemungkinan Seymour akan, ya kau tahu lah, melakukan sesuatu yang tidak lazim? Terhadapmu?”

“Tidak juga,” kata wanita muda itu. “Dokter itu harus punya data lebih banyak lagi untuk mengambil kesimpulan seperti itu, Bu. Tentang masa kecil Seymour, dan lain-lain. Aku sudah bilang, kami tidak banyak bicara semalam. Terlalu berisik.”

Well. Bagaimana soal jaket birumu?”

“Sudah kukeluarkan bantalan pundaknya.”

“Bagaimana mode pakaian tahun ini?”

“Parah. Tapi luar biasa aneh. Semua pakaian dihias dengan payet, semua,” kata wanita muda itu.

“Bagaimana kamar penginapanmu?”

“Biasa saja. Biasa sekali. Kami tidak bisa memesan kamar inap seperti yang kami pesan dulu sebelum perang meletus,” kata si wanita muda. “Orang-orang di sini juga payah tahun ini. Ibu harus melihat orang-orang yang duduk di sekelilig kami di ruang makan, di setiap meja. Semua tampak seolah mereka datang kemari dengan menumpang truk barang.”

Well, di mana-mana memang begitu kondisinya. Bagaimana dengan rok balerina*-mu?”

“Terlalu panjang. Sudah ku-bilang terlalu panjang.”

“Muriel, Ibu hanya akan menanyakan ini sekali lagi — apa benar kau baik-baik saja?”

Ya, Bu,” kata wanita muda itu. “Untuk kesembilan-puluh kalinya.”

“Dan kau tidak mau pulang?”

Tidak, Bu.”

“Semalam ayahmu bilang dia tidak keberatan membayar ongkos perjalananmu bila kau perlu pergi jauh sendirian untuk berpikir. Kau bisa ikut tur kapal pesiar. Kami pikir—”

“Tidak mau,” kata si wanita muda seraya mengangkat kakinya yang tersilang. “Bu, sambungan ini cukup ma–“

“Kalau Ibu pikir-pikir berapa lama kau harus menunggu pemuda itu sampai kembali dari perang — maksudnya, kau pernah tidak terpikir soal istri-istri para pejuang lain yang—”

“Bu,” ujar wanita muda itu. “Sebaiknya kita tutup telepon sekarang. Seymour akan segera masuk ke kamar dalam waktu dekat.”

“Di mana dia?”

“Di pantai.”

“Di pantai? Sendirian? Apa dia berlaku baik di pantai?”

“Bu,” kata wanita muda itu. “Ibu menyebut dia seolah sedang menyebut seorang maniak yang tak—”

“Ibu tidak bilang dia itu maniak, Muriel.”

Well, di telingaku terdengar seperti itu. Aku tahu dia hanya berbaring di pantai, tak mau melepas mantel mandinya.”

“Kenapa dia tidak mau melepas mantel mandinya?”

“Entahlah. Mungkin karena kulitnya terlalu pucat.”

“Ya ampun, dia butuh sinar matahari. Apa kau tak bisa minta dia lepas mantel mandinya?”

“Ibu tahu sendiri dia seperti apa,” kata wanita muda itu, seraya menyilang kakinya lagi. “Katanya dia tidak mau orang memelototi tatonya.”

“Dia bahkan tidak bertato! Apa dia mendapatkan tato semasa di Angkatan Darat?”

“Tidak, Bu. Tidak,” kata wanita muda itu, sambil bangkit berdiri. “Dengar, besok aku telepon lagi ya. Mungkin.”

“Muriel. Dengarkan perkataan Ibu.”

“Ya, Bu,” kata wanita muda itu, berdiri seraya menopang beban di kaki kanan.

“Telepon Ibu begitu dia melakukan, atau mengatakan, hal-hal aneh — kau tahu maksud Ibu. Mengerti?”

“Bu, aku tidak takut terhadap Seymour.”

“Muriel, Ibu minta kau berjanji pada Ibu.”

“Baiklah, aku janji. Sampai jumpa, Bu,” ujar wanita muda itu. “Titip salam buat Ayah.” Lalu, ia menutup telepon.

See more glass,” kata Sylbil Carpenter, yang menginap di hotel bersama ibunya. “Apa Ibu melihat see more glass?”

“Sayang, berhentilah mengatakan itu. Kau membuat Ibu senewen. Diam dulu sebentar, please.”

Mrs. Carpenter sedang membalur minyak sun-tan pada pundak Sybil, menggosoknya di atas tulang belikat putrinya yang menonjol layaknya rangka sayap malaikat. Sybil tengah duduk di atas bola besar yang menggelembung penuh udara, berusaha menyeimbangkan tubuhnya, seraya menghadap ke laut. Gadis kecil itu mengenakan baju renang bikini berwarna kuning seperti burung kenari, yang bagian atasnya sebenarnya tidak dia butuhkan sampai sembilan atau sepuluh tahun ke depan.

“Sebenarnya itu cuma sapu tangan sutra–dan bisa kau lihat itu dari dekat,” kata wanita yang menempati kursi malas di samping Mrs. Carpenter. “Seandainya aku tahu bagaimana cara menyimpulnya. Bagus sekali.”

“Terdengarnya sih memang bagus,” kata Mrs. Carpenter, menyetujui. “Sybil, jangan bergerak, sayang.”

“Apa Ibu melihat see more glass?” tanya Sybil.

Mrs. Carpenter mendesah. “Baiklah,” katanya. Ia menutup botol yang berisi minyak sun-tan. “Sekarang pergilah bermain, sayang. Ibu akan ke kembali ke hotel sebentar dan minum Martini dengan Mrs. Hubbel. Nanti Ibu bawakan buah zaitun untukmu.”

Dilepas seorang diri, Sybil buru-buru berlari ke bagian pantai yang datar dan berjalan ke arah Fisherman’s Pavilion. Dia hanya berhenti sesaat untuk menenggelamkan sebelah kakinya ke atas sebuah istana pasir yang basah dan telah runtuh, dan setelah itu ia keluar dari area yang direservasi khusus bagi tamu hotel. Sybil berjalan sejauh setengah kilometer, sebelum akhirnya ia berlari miring ke arah bagian pantai yang sedikit lunak. Ia berhenti lagi ketika ia tiba di tempat di mana seorang pemuda sedang berbaring menghadap langit.

“Apa kau akan berenang, see more glass?” tanya gadis kecil itu. Pemuda itu bergerak, tangan kanannya refleks memegang bagian kerah mantel yang berbahan handuk. Lalu ia berbaring tertelungkup, hingga handuk yang telah ia lipat seperti bentuk sosis terjatuh dari matanya. Pemuda itu menyipitkan matanya ke atas, ke arah Sybil.

Hey. Halo, Sybil.”

“Apa kau akan berenang?”

“Aku menunggu-mu,” kata pemuda itu. “Ada kabar apa?”

“Apa?” tanya Sybil.

“Ada kabar apa? Apa rencanamu?”

“Ayahku akan datang besok naik sawawat terbang,” kata Sybil seraya menendang pasir.

“Jangan lakukan itu di wajahku, sayang,” kata pemuda itu. Kedua tangannya menggenggam erat pergelangan kaki Sybil. “Sudah saatnya ayahmu datang kemari. Aku menunggu kedatangannya setiap jam. Setiap jam.”

“Mana teman wanitamu?” tanya Sybil.

“Teman wanita?” Pemudia itu menyisir bulir-bulir pasir agar terjatuh dari helaian rambutnya yang tipis. “Aku tidak tahu, Sybil. Dia mungkin ada di salah satu tempat di antara seribu lokasi. Di salon. Mengecat warna rambutnya jadi pirang seperti bulu cerpelai. Atau sedang membuat boneka-bonekaan untuk anak-anak miskin, di kamar tidurnya.” Dalam posisi tengkurap, pemuda itu mengepal kedua tangan, lalu meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain, sebelum menyandarkan dagunya di atas tumpukkan kedua tangan yang mengepal erat. “Tanyakan aku hal lain, Sybil,” katanya. “Bagus sekali baju renangmu. Jika ada satu hal yang aku suka, aku selalu suka baju renang berwarna biru.”

Sybil menatap pemuda itu, lalu menundukkan kepala untuk menatap perutnya yang sedikit buncit. “Warna baju renang ini kuning,” kata gadis kecil itu. “Ini warna kuning.”

“Masa? Coba mendekat.”

Sybil melangkah maju mendekat.

“Kau benar. Aku bodoh sekali.”

“Kau mau berenang atau tidak?” tanya Sybil.

“Aku sedang berpikir serius. Aku sedang menimbang-nimbang hal itu, Sybil. Kau jangan khawatir.”

Sybil menyodok ban karet yang terkadang digunakan pemuda itu sebagai bantal. “Kau harus mengisinya dengan udara,” kata gadis kecil itu.

“Kau benar. Ban ini butuh udara, lebih dari yang ingin kuakui.” Pemuda itu menarik tangannya dan membiarkan dagunya jatuh ke atas pasir. “Sybil,” panggilnya. “Kau terlihat cantik. Senang bertemu denganmu. Ceritakanlah sedikit tentang dirimu.” Ia mengayunkan tangannya dan kembali menangkap kedua pergelangan kaki Sybil. “Bintangku Capricorn,” kata pemuda itu. “Apa bintangmu?”

“Kata Sharon Lipschutz kau membiarkan dia duduk di kursi piano bersamamu,” kata Sybil.

“Sharon Lipschutz bilang begitu?”

Sybil mengangguk penuh semangat.

Pemuda itu melepas pergelangan kaki Sybil, menarik tangannya, dan menyandarkan satu sisi wajahnya di atas lengan. “Well,” kata pemuda itu. “Kau tahu hal-hal semacam itu bisa terjadi, Sybil. Aku sedang bermain piano di sana, dan kau tak ada di dekatku. Lalu Sharon Lipschutz datang menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku tidak bisa mendorong dia begitu saja, kan?”

“Ya.”

“Oh, tidak. Tidak. Aku tidak bisa melakukan itu,” kata pemuda tersebut. “Tapi aku akan cerita padamu apa yang aku lakukan.”

“Apa?”

“Aku berpura-pura seolah dia adalah kau.”

Sybil buru-buru membungkukkan tubuhnya dan menggali pasir di bawah kakinya. “Ayo, kita berenang,” ajak gadis kecil itu.

“Baiklah,” sahut pemuda itu. “Kurasa aku bisa melakukan itu.”

“Lain kali, dorong saja dia,” kata Sybil.

“Dorong siapa?”

“Sharon Lipschutz.”

“Ah, Sharon Lipschutz,” kata pemuda itu. “Kenapa nama itu selalu muncul, mengaburkan memori dan hasrat.” Tiba-tiba pemuda itu berdiri di atas kedua kakinya. Ia menatap jauh ke arah laut. “Sybil,” katanya. “Aku akan apa yang harus kita lakukan. Kita harus coba menangkap seekor ikan pisang.”

“Apa?”

“Seekor ikan pisang,” kata pemuda itu seraya melepas mantelnya. Pundaknya terlihat pucat dan sempit, celana renangnya berwarna biru cerah. Ia melipat mantelnya, pertama dengan lipatan memanjang, lalu dilipat dalam tiga bagian. Ia membuka gulungan handuk yang sebelumnya ia gunakan untuk menutup mata, menebarnya di atas pasir dan meletakkan lipatan mantelnya di atas handuk tersebut. Pemuda itu membungkuk, mengambil ban karet yang tergeletak di atas pasir dan menjinjingnya di bawah ketiak. Lalu, dengan tangan kirinya, ia menggandeng tangan Sybil.

Mereka berdua mulai berjalan menuju laut. “Aku rasa kau sudah pernah melihat beberapa ekor ikan pisang dalam hidupmu,” kata pemuda itu.

Sybil menggeleng.

“Belum pernah? Kau tinggal di mana sih?”

“Entahlah,” kata Sybil.

“Tentu saja kau tahu. Kau pasti tahu. Sharon Lipschutz tahu di mana dia tinggal dan usianya baru tiga setengah tahun.”

Sybil berhenti melangkah dan menarik tangannya dari dalam genggaman pemuda itu. Ia memungut cangkang kerang biasa dari atas gundukkan pasir dan menatapnya dengan penuh ketertarikan. Lantas ia menjatuhkannya lagi ke atas pasir. “Whirly Wood, Connecticut,” kata Sybil seraya melanjutkan langkahnya, perutnya dibiarkan membuncit ke depan.

“Whirly Wood, Connecticut,” ujar pemuda itu. “Apa itu dekat dengan Whirly Wood, Connecticut?”

Sybil menatap pemuda itu. “Itu tempat tinggal aku,” kata gadis kecil itu dengan tak sabaran. “Aku tinggal di Whirly Wood, Connecticut.” Lalu ia berlari beberapa langkah di depan pemuda itu, mengangkat kaki sebelah kirinya ke atas dan memegang pergelangannya sendiri dengan tangan kiri, sebelum melompat ke depan dua, atau tiga kali.

“Kau tidak sadar betapa semua itu menjelaskan segalanya,” ujar pemuda tersebut.

Sybil melepas pergelangan kakinya sendiri. “Apa kau pernah membaca buku Little Black Sambo**?” tanya gadis kecil itu.

“Kebetulan sekali kau menanyakan hal itu,” kata pemuda tersebut. “Karena aku baru saja selesai membaca buku itu semalam.” Pemuda itu membungkuk untuk menggenggam tangan Sybil. “Apa pendapatmu soal buku itu?” tanya dia pada si gadis kecil.

“Apa para harimau berlari mengelilingi pohon itu?”

“Kupikir mereka takkan berhenti. Aku tidak pernah melihat begitu banyak harimau.”

“Kan hanya ada enam ekor,” kata Sybil.

Hanya enam!” seru si pemuda. “Kau bilang itu sedikit?”

“Apa kau suka lilin?” tanya Sybil.

“Apa aku suka apa?” tanya si pemuda.

“Lilin.”

“Sangat. Kau?”

Sybil mengangguk. “Kau suka buah zaitun?” tanya gadis kecil itu.

“Buah zaitun, ya. Buah zaitun dan lilin. Aku selalu membawa keduanya kemana-mana.”

“Kau juga suka Sharon Lipschutz?” tanya Sybil.

“Ya. Ya, aku suka dia,” kata pemuda itu. “Yang paling aku suka darinya adalah betapa dia tidak pernah berlaku kejam pada anjing kecil yang sering terlihat di lobi hotel. Contohnya, anjing bulldog kecil milik wanita yang berasal dari Kanada. Kau mungkin takkan percaya, tapi ada beberapa gadis kecil yang suka menyodok anjing kecil itu dengan gagang balon. Sharon tidak pernah melakukan itu. Dia tidak pernah berlaku kejam atau tidak baik. Itu sebabnya aku sangat menyukainya.”

Sybil diam saja.

“Aku suka mengunyah lilin,” kata Sybil.

“Bukankah semua orang juga begitu?” tanya pemuda itu, seraya membasahkan kakinya di tepi laut. “Wow! Dingin sekali.” Ia menjatuhkan ban karet di tangan ke atas permukaan air. “Tunggu, tunggu sebentar, Sybil. Tunggu dan kita akan berenang ke tengah sebentar lagi.”

Mereka menyeberangi perairan di hadapan mereka hingga pada kedalaman sepinggang gadis kecil tersebut. Lalu pemuda itu mengangkat Sybil dan membaringkannya dalam posisi tertelungkup di atas ban karet yang mengambang.

“Apa kau tidak pernah mengenakan topi mandi?” tanya si pemuda.

“Jangan lepaskan aku,” perintah Sybil. “Pegang aku erat-erat sekarang.”

“Miss Carpenter. Please. Aku tahu apa yang kulakukan,” ujar pemuda itu. “Kau buka saja matamu dan awasi keberadaan ikan pisang. Ini adalah hari yang sempurna untuk menangkap ikan pisang.”

“Aku tidak lihat seekor pun ikan pisang,” kata Sybil.

“Itu bisa dimengerti. Mereka punya kebiasaan yang sangat unik.” Pemuda itu terus mendorong ban karet lebih jauh ke tengah laut. Air itu belum sampai pada kedalaman sampai batas dada si pemuda. “Hidup mereka sangat tragis,” katanya. “Kau tahu apa yang mereka lakukan, Sybil?”

Gadis kecil itu menggeleng.

Well, mereka berenang ke dalam sebuah lubang di mana terdapat tumpukkan pisang. Mereka tampak seperti ikan biasa saat masuk ke dalam lubang itu. Tapi begitu mereka ada di dalamnya, mereka berperilaku seperti babi. Aku bahkan pernah lihat ikan pisang yang berenang masuk ke dalam lubang pisang dan menghabiskan tak kurang dari tujuh-puluh-delapan buah pisang.” Pemuda itu mendorong ban karet sedikit lebih dekat ke arah garis cakrawala. “Tentunya, setelah menyantap pisang-pisang itu, perut mereka menggendut dan mereka tak bisa keluar dari lubang itu lagi. Perut mereka terlalu besar.”

“Jangan jauh-jauh mendorongku,” kata Sybil. “Apa yang lantas terjadi pada mereka?”

“Mereka siapa?”

“Ikan-ikan pisang itu.”

“Oh, maksudmu setelah mereka makan terlalu banyak pisang hingga mereka tak bisa keluar dari lubang pisang?”

“Ya,” kata Sybil.

Well, aku tidak mau mengatakan ini padamu, Sybil. Tapi setelah itu mereka mati.”

“Kenapa?” tanya Sybil.

Well, mereka demam pisang setelah itu. Penyakit yang mematikan.”

“Ada ombak yang mengarah kemari,” kata Sybil dengan nada tegang.

“Kita abaikan saja. Kita akan melewatinya,” kata pemuda itu. “Dua gelombang.” Ia memegang pergelangan kaki Sybil dengan kedua tangan dan menekannya ke bawah dan ke depan. Ban karet itu mendongak ke puncak gulungan ombak. Cipratan air membasahi rambut pirang gadis kecil tersebut, namun teriakan yang keluar dari tenggorokannya terdengar penuh sukacita.

Dengan satu tangan, saat ban karet itu kembali berada dalam posisi datar di atas permukaan air, Sybil menyeka untaian rambut basah yang menutupi matanya dan berkata, “Aku baru saja melihat satu.”

“Melihat apa, sayangku?”

“Seekor ikan bisang.”

“Ya ampun, tidak!” kata pemuda itu. “Apa ada pisang di mulutnya?”

“Ya,” kata Sybil. “Enam buah pisang.”

Pemuda itu mendadak memegang salah satu kaki Sybil yang basah oleh air laut, yang mulai menggantung di pinggir ban karet, dan mengecup telapaknya.

Hey!” hardik si empunya kaki seraya memutar badan.

Hey apa? Kita kembali ke pantai sekarang. Sudah cukup berenangnya?”

“Belum!”

“Sori,” kata pemuda itu, seraya mendorong ban karet yang menopang tubuh Sybil kembali ke arah pantai. Belum tiba di pantai, Sybil sudah turun dari ban karet tersebut. Pemuda itu menenteng ban tadi sampai di pantai.

“Selamat tinggal,” kata Sybil, seraya berlari pergi tanpa penyesalan ke arah bangunan hotel tempat mereka menginap.

Pemuda itu mengenakan mantelnya, menutup kerahnya serapat mungkin, dan menjejalkan handuk kecilnya ke dalam saku mantel. Ia mengambil ban karet yang licin dan basah, serta cukup berat, dan mengganjalnya di bawah ketiak. Lalu ia melangkah lesu melintasi tumpukkan pasir yang lembut dan panas ke arah bangunan hotel.

Di lantai utama tambahan di gedung hotel, yang diarahkan oleh pihak manajemen sebagai pintu masuk para penghuni hotel dari arah pantai, seorang wanita yang mengenakan krim pelembab di hidung masuk ke dalam lift bersama dengan pemuda tadi.

“Aku lihat kau memandangi kakiku,” kata pemuda itu pada wanita tersebut saat kotak lift mulai bergerak.

“Maaf?” kata wanita itu.

“Kataku, aku lihat kau memandangi kakiku.”

Berani sekali kau. Aku tadi melihat lantai,” kata wanita itu seraya menatap pintu lift.

“Kalau mau lihat kakiku, mengaku saja,” kata pemuda itu. “Tapi tidak usah sembunyi-sembunyi segala.”

“Keluarkan aku dari sini, please,” kata wanita itu dengan nada terburu-buru pada seorang gadis yang sedang mengoperasikan lift tersebut.

Pintu lift terbuka dan wanita itu segera keluar tanpa menoleh ke belakang.

“Kedua kakiku terlihat normal dan aku tidak mengerti kenapa ada orang yang mau memandangi mereka,” kata pemuda itu. “Tolong bawa aku ke lantai lima.” Ia mengambil kunci kamar dari saku mantelnya.

Pemuda itu turun di lantai lima, berjalan menyusuri koridor hotel, dan masuk ke dalam kamar 507. Harum koper berbahan kulit tercium jelas di seisi kamar, berbaur dengan bau larutan pembersih pernis kuku.

Ia menatap ke arah wanita muda yang sedang berbaring di salah satu ranjang kembar, tertidur. Lalu ia beranjak mendekati salah satu koper bawaan mereka, membukanya, dan dari bawah tumpukkan celana pendek dan pakaian dalam, ia mengambil sebentuk pistol Ortgies semi-otomatis berkaliber 7.65. Ia melepas sarung peluru dari tubuh pistol, menatapnya lama-lama, dan memasangnya lagi pada tempat semula. Ia mengokang pistol itu. Kemudian ia beranjak dan duduk di salah satu ranjang kembar yang kosong. Sambil menatap wanita muda itu, ia membidik pistolnya dan melontarkan sebuah peluru hingga menembus pelipis kanan kepalanya sendiri. FL

Januari 2016 © Hak cipta Fiksi Lotus dan J.D. Salinger. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.


# KETERANGAN:

(*) Rok balerina adalah jenis rok wanita yang memanjang sampai pertengahan betis atau sedikit di atas pergelangan kaki dan biasanya terbuat dari bahan berlapis. Di tahun 1950an rok model ini sangat populer.

(**) The Story of Little Black Sambo adalah buku anak-anak yang ditulis dan diilustrasikan oleh Helen Bannerman dan terbit pada tahun 1899.

# CATATAN:

> Cerita pendek ini bertajuk A Perfect Day for Bananafish karya J.D. SALINGER dan pertama kali terbit di bulan Januari 1948 di The New Yorker, juga disertakan dalam antologi 55 Short Stories from the New Yorker terbitan 1949, dan kumpulan cerpen karya J.D. Salinger yang berjudul Nine Stories (1953).

>> J.D. SALINGER adalah seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat yang memiliki karier singkat dalam menulis, namun berhasil menghasilkan karya-karya yang bertahan sampai puluhan tahun. Karyanya yang paling dikenal berjudul The Catcher in the Rye yang terbit pada tahun 1951.

# POIN DISKUSI:

1. Salah satu teknik yang diadopsi J.D. Salinger dalam cerita ini adalah dengan menggunakan dialog sebagai pengganti narasi untuk membuka psikologi karakter. Apa kesanmu terhadap penggunaan dialog di sini?

2. Kira-kira apa arti dari simbol ‘ikan pisang’ atau bananafish dalam cerita ini?

3. Kesan apa yang kalian dapatkan dari keseluruhan cerita?

4. Apakah ending cerita sesuai dengan ekspektasi kalian? Kenapa?

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

2 Comment on “Suatu Hari di Tepi Pantai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: