Primo Levi

Dalam banyak hal, Monowitz*, bagian dari Auschwitz, bukanlah kamp biasa. Pembatas yang memisahkan kami dari dunia luar — diwakili oleh pagar kawat berduri yang direntangkan setebal dua lapis — tidak kedap udara, seperti pada kamp-kamp lainnya. Pekerjaan kami memberikan kami kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang “bebas” setiap hari, atau setidaknya orang-orang yang tidak berstatus budak seperti kami: para teknisi; insinyur dan mandor asal Jerman; para pekerja asal Rusia dan Polandia; atau tahanan perang dari Inggris, Amerika, Prancis dan Italia. Lumrahnya, mereka dilarang berbicara dengan kami, para paria dari KZ [Kamp Konsentrasi], namun larangan  itu sering sekali diabaikan, dan berita dari dunia luar bisa dengan mudah kami dapatkan dengan banyak cara.

Kami tak jarang menemukan satu-dua eksemplar surat kabar harian di dalam tong sampah (sesekali, kami menemukan mereka dalam keadaan basah kuyup oleh hujan setelah terlantar selama dua-tiga hari) dan dari situlah kami membaca soal segala macam berita asal Jerman yang telah habis dipotong di sana-sini, disensor, penuh akan eufemisme, namun tetap mengesankan. Para POWs [Prisoners of War: tahanan perang] dari Pasukan Sekutu juga diam-diam sibuk mendengarkan siaran Radio London; lalu mereka dengan penuh kerahasiaan menyampaikan berita yang mereka dengar kepada kami. Nah, setiap kali hal itu terjadi, kami merasa luar biasa riang. Pada bulan Desember 1944, pasukan Rusia telah memasuki Hongaria dan Polandia, sementara pasukan Inggris ada di Romagna, dan pasukan Amerika Serikat sedang bertempur di Ardennes. Tapi, dengar-dengar, pasukan AS juga telah memenangkan pertempuran melawan Jepang di daerah Pasifik.

Walau begitu, kami tidak perlu mendengar berita dari jauh untuk mengetahui situasi perang yang terus berkembang di sekitar kami. Di malam hari, saat semua suara-suara dari Kamp berangsur senyap, kami mendengar dentum senjata artileri semakin mendekat.

Garis depan medan perang jaraknya tak lebih dari 100 kilometer dari tempat kami ditahan; ada rumor bahwa Tentara Merah telah tiba di bagian barat Pegunungan Carpathian. Pabrik raksasa di mana kami bekerja telah dibom dari udara beberapa kali dengan cara yang sangat keji dan akurat: hanya butuh satu bom saja, cukup satu, di pusat pembangkit listrik, untuk meliburkan seluruh fasilitas selama dua minggu; begitu semua kerusakan telah diperbaiki dan jajaran cerobong asap kembali mengepul, maka bom lain akan dilontarkan, dan begitu seterusnya. Jelas sekali bahwa pasukan Rusia, atau pasukan Sekutu yang bekerja sama dengan pasukan Rusia, berusaha untuk menghentikan segala kegiatan produksi di dalam pabrik tanpa menghancurkan pabrik itu sendiri.

Mereka justru ingin mendapatkan pabrik-pabrik ini dalam keadaan utuh saat perang berakhir nanti, dan itulah yang mereka lakukan; sekarang, pabrik tempat kami bekerja sudah jadi pabrik penghasil karet sintetis terbesar di Polandia. Perangkat anti-serangan-udara tak lagi aktif, dan tak ada pesawat yang mengejar para pelontar bom; di atap pabrik ada sejumlah senjata, namun tak ada satu pun yang ditembakkan. Mungkin mereka kehabisan amunisi.

Singkatnya, Jerman sudah sekarat, namun bangsa Jerman sendiri tidak mengetahuinya. Setelah kejadian di bulan Juli yang melibatkan usaha pembunuhan Hitler oleh sejumlah anggota pemerintahan [Operasi Valkyrie], bangsa tersebut hidup dalam tekanan teror: aksi pengkhianatan, telat masuk kerja, atau salah ucap bukan tidak mungkin akan mengantarmu ke tangan Gestapo dan dituduh sebagai warga yang tak setia terhadap negara. Oleh sebab itu, baik para prajurit maupun warga sipil sama-sama hidup dan melakukan tugas keseharian mereka seperti biasa, didorong oleh rasa takut dan bawaan disiplin. Pemerintah Jerman yang fanatik dan punya kecenderungan untuk melakukan aksi bunuh diri itu meneror semua warga Jerman yang, pada titik ini, tak lagi bersemangat dan sudah merasa kalah.

Tidak lama sebelumnya, sekitar di akhir bulan Oktober, kami dapat kesempatan untuk mengamati dari dekat sebuah sekolah fanatisme, semacam lembaga pelatihan Nazi. Di atas hamparan tanah tak bertuan yang letaknya tepat di samping kamp kami, sebuah perkemahan Hitlerjugend — muda-mudi Hitler — telah dibangun. Di dalamnya ada sekitar 200 anak remaja yang masih sangat belia.

Di pagi hari, mereka dilatih untuk menaikkan bendera, menanyikan himne-himne perang, dan, dipersenjatai dengan senapan antik, dibiasakan baris-berbaris, serta menembak sasaran latihan. Lama-lama kami pun paham bahwa para remaja itu sedang disiapkan untuk bergabung dengan Volkssturm, pasukan tentara jadi-jadian yang terdiri dari laki-laki tua dan anak-anak, atau orang-orang buangan masyarakat yang —  menurut rencana gila Sang Führer — nantinya akan diminta untuk melakukan perlawanan terakhir terhadap pasukan Rusia yang semakin mendekat. Namun, sesekali, di sore hari, para instruktur pasukan tentara jadi-jadian tersebut, yang tak lain adalah para veteran Tentara SS**, akan membawa mereka ke tempat kami, dan menunjukkan kepada mereka bagaimana kami bekerja keras memindahkan puing-puing bangunan sisa ledakan, atau membangun tembok-tembok pelindung yang tak ada gunanya menggunakan tumpukkan batu bata serta gundukkan karung pasir.

Para instruktur membimbing “anak asuh” mereka melintasi kamp kami seolah mereka sedang diajak tur jalan-jalan, dan memberikan wejangan dengan suara kencang, seakan kami tak bisa mendengar, atau tak punya telinga, atau kurang cerdas untuk menangkap pembicaraan mereka.

“Orang-orang ini adalah musuh Kekaisaran Jerman,” kata para instruktur. “Musuh-musuh kalian. Coba lihat mereka baik-baik: apakah kalian sudi menyebut mereka sebagai manusia? Mereka adalah Untermenschen, kelasnya di bawah manusia! Badan mereka bau karena tak pernah mandi; pakaian mereka compang-camping karena mereka tidak tahu caranya mengurus diri sendiri. Lebih dari itu, banyak dari mereka yang tak bisa berbahasa Jerman. Mereka ini kaum subversif, bandit, copet jalanan yang datang dari empat penjuru mata angin di seluruh Eropa, namun kami telah menjinakkan mereka; sekarang mereka kerja untuk kita. Walau begitu, mereka cuma bisa mengerjakan pekerjaan yang paling primitif. Tentu saja mereka bertanggung-jawab memperbaiki segala kerusakan yang disebabkan oleh perang; mereka adalah orang-orang yang menginginkan perang: kaum Yahudi, Komunis, dan agen-agen plutokrasi.”

Para prajurit remaja itu mendengarkan dengan penuh kekaguman, penuh pengabdian. Bila dilihat dari dekat, mereka memicu perasaan horor dan kesakitan. Pipi mereka cekung, tubuh mereka kurus, namun mereka menatap kami dengan kebencian luar biasa. Maka otomatis, di mata mereka, kami jadi orang-orang yang bertanggung-jawab atas segala kejahatan di dunia, alasan kota-kota hancur berantakan, sebab terjadinya kelaparan, dan kenapa ayah mereka mati di garis depan medan perang Rusia. Bagi mereka, Sang Führer adalah pemimpin yang keras, namun adil; dan bila mereka hidup untuk melayani beliau, maka mereka anggap itu sesuatu yang baik.

Pada waktu itu, aku bekerja sebagai seorang “spesialis” di sebuah laboratorium kimia di dalam pabrik: hal-hal yang kusebut di atas sudah pernah kutulis di tempat lain, namun, anehnya, dengan berlalunya waktu, ingatanku akan hal-hal tersebut tidak memudar, ataupun menipis. Ingatanku justru semakin kaya akan detil yang tadinya kupikir telah lama kulupakan, yang terkadang mendapat pengartian baru setelah disandingkan dengan ingatan orang lain, dari surat-surat yang kuterima atau buku-buku yang kubaca.

Saat itu salju turun, dan udara terasa sangat dingin. Bekerja di dalam laboratorium itu bukanlah hal yang mudah. Terkadang, alat pemanas tidak bekerja dan, di malam hari, segala macam cairan dalam laboratorium akan membeku dan meretakkan botol-botol kecil tempat cairan kimia disimpan, termasuk sebuah botol besar yang berisi air endapan. Tak jarang kami juga kekurangan material mentah atau zat reagen yang diperlukan untuk proses analisis, dan kalau sudah begitu kami terpaksa mengimprovisasi situasi di laboratorium atau entah bagaimana mencari solusi untuk mengadakan bahan yang tidak ada.

Suatu kali, kami membutuhkan zat etil asetat untuk pengukuran kolorimetris. Kepala laboratorium memintaku untuk menyiapkan satu liter etil asetat dan memberikanku sejumlah asam asetat dan etil alkohol yang dibutuhkan untuk membuat campuran zat etil asetat. Prosedurnya sederhana; aku sudah pernah melakukannya di Turin saat aku mengambil kursus perparasi organik di tahun 1941. Meski itu baru tiga tahun lalu, rasanya lebih mirip tiga ribu tahun lalu … Semua berjalan lancar hingga kami tiba di tahap pengendapan terakhir, dan pada saat itu, mendadak air berhenti mengalir.

Kejadian ini bisa saja berakhir dengan bencana kecil, karena aku sedang menggunakan kulkas kaca. Bila air itu kembali mengalir, maka tabung kaca yang berfungsi mendinginkannya, yang dihangatkan dari dalam oleh uap zat, pasti akan pecah berkeping-keping begitu menyentuh air dingin. Aku matikan keran, mencari sebentuk sekop kecil, mengisi sekop itu dengan air endapan, lalu memasukkannya ke dalam pompa kecil pada termostat Höppler. Pompa tersebut mendorong air tadi ke dalam kulkas, dan begitu keluar dalam keadaan panas, air itu langsung jatuh ke permukaan sekop. Selama beberapa menit, semua berada dalam kendali, hingga aku menemui bahwa zat etil asetat tak lagi mengembun; hampir semuanya terbuang keluar dari pipa dalam bentuk uap. Aku hanya bisa menemukan sejumlah kecil air endapan (tak ada zat lain) dan pada saat itu, air tersebut sudah terasa hangat.

Apa yang harus kulakukan? Ada banyak salju di tepian jendela, maka aku membuat bola-bola salju dan meletakkannya di atas sekop satu per satu. Lalu ketika aku sibuk memilin bola-bola salju itu, Dr. Pannwitz, sang ahli kimia asal Jerman yang memintaku untuk mengikuti “ujian negara” seorang diri demi menentukan apakah pengetahuanku cukup memadai, masuk ke dalam laboratorium. Dokter itu adalah anggota Nazi yang fanatik. Ia menatap penuh curiga ke arah instalasi jadi-jadian di dekatku, juga air keruh yang dapat merusak pompa mahal tersebut, namun tak berkata apa-apa dan melangkah pergi.

Beberapa hari kemudian, mendekati pertengahan bulan Desember, baskom penadah salah satu kap penyedot tersumbat dan si kepala laboratorium memintaku untuk mengatasi situasi tersebut. Nampaknya sugguh natural sekali baginya untuk menyuruhku, dan bukannya si ahli teknisi laboratorium, seorang gadis bernama Frau Mayer, untuk melakukan pekerjaan kotor tersebut. Tapi, anehnya, hal itu juga terkesan natural bagiku. Hanya aku yang rela meratakan tubuh di atas lantai tanpa takut pakaianku atau tubuhku kotor; lagipula baju bergaris yang kukenakan sudah terlanjur kotor …

Aku bangkit berdiri setelah menyekrup kembali alat penyedot yang sebelumnya tersumbat; pada saat itulah kutemui Frau Mayer tengah berdiri tak jauh dariku. Dia berbicara padaku dengan nada bersalah; dia satu-satunya orang dari delapan atau sepuluh gadis yang bekerja di laboratorium — yang berasal dari Jerman, Polandia dan Ukrania — yang tidak menunjukkan rasa benci terhadapku. Dan karena tanganku sudah terlanjur kotor, dia bertanya apakah aku bisa membetulkan sepedanya (ban kempes)? Tentunya, dia menambahkan, aku akan dikompensasi untuk itu.

Permintaan normal tersebut nyatanya sarat akan implikasi sosiologi. Gadis itu dengan hati-hati menggunakan kata “tolong” saat meminta bantuanku, yang mana merupakan sebuah pelanggaran kode hirarki kekuasaan pada hubungan sosial antara kami dan bangsa Jerman. Gadis itu juga berbicara padaku soal sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan; dia telah membuat kontrak denganku, dan sebuah kontrak hanya bisa dibuat di antara dua pihak yang posisinya setara; dan dia juga telah menunjukkan, atau setidaknya mengimplikasikan, rasa terima kasih atas kerelaanku melakukan pekerjaan yang seharusnya jadi tanggung-jawab dia.

Walau begitu, gadis itu juga, di saat bersamaan, mendorongku untuk melanggar peraturan, sesuatu yang sangat berbahaya bagiku, karena aku ada di laboratorium tersebut sebagai seorang ahli kimia, maka bila aku menggunakan waktuku untuk mereparasi sepedanya, aku mengorbankan waktu kerjaku. Dalam kata lain, gadis itu mengusulkan sebuah bentuk kerjasama yang beresiko, tapi berpotensi menguntungkan. Memupuk persahabatan dengan seseorang “dari sisi lawan” melibatkan bahaya, kenaikan kelas sosial, serta lebih banyak jatah makanan hari ini, dan hari berikutnya. Dalam waktu sangat singkat, aku melakukan kalkulasi cepat terhadap ketiga faktor tersebut: kelaparan selalu jadi pemenang, maka aku terima tawarannya.

Frau Mayer menyodorkan kunci untuk membuka gembok, sembari berkata bahwa aku harus segera pergi dan mengambil sepedanya yang ia tinggal di halaman depan. Itu tidak mungkin; aku menjelaskan sebaik mungkin kepadanya bahwa dia harus mengambil sepedanya sendiri, atau meminta orang lain untuk melaukannya. Aku dan para tahanan lainnya pada dasarnya dianggap sebagai pencuri dan pembohong; maka bila ada orang yang melihatku memboyong sebentuk sepeda, aku takkan bisa mengelak tuduhan-tuduhan yang nanti menghujaniku.

Masalah lain muncul ketika pandanganku beralih ke sepeda yang dimaksud. Di dalam tas peralatan yang tersangkut di tubuh sepeda hanya tersedia beberapa potong karet, semen karet, dan sejumlah tungkai besi kecil untuk melepas ban; namun tidak ada pompa, dan tanpa pompa, mustahil bagiku untuk menemukan letak lubang di lapisan ban dalam. Perlu untuk kujelaskan sedikit bahwa di masa itu, hampir setiap orang Eropa tahu cara menambal ban sepeda karena kasus sepeda rusak atau ban kempes sangat sering terjadi [dan sepeda adalah mode transportasi favorit waktu itu]. Pompa? Tak masalah, kata Frau Mayer; saya hanya perlu memanggil Meister Grubach, rekan kerja yang juga tetangganya, untuk meminjamkan alat itu. Namun hal tersebut juga tidak sesederhana yang kami pikir. Dengan rasa malu, aku harus meminta Frau Meyer untuk menulis dan menandatangani selembar kecil catatan: “Bitte um die Fahrradpumpe.” [Tolong pinjamkan sebuah pompa ban sepeda]

Aku segera memperbaiki kerusakan pada sepeda, dan Frau Mayer, secara diam-diam, membayarku dengan sebutir telur matang dan empat bongkah gula. Jangan salah paham; mengingat situasi dan harga pasokan makanan di masa itu, harga yang dibayar Frau Mayer untuk jerih payahku tergolong lebih dari cukup. Begitu dia menyelipkan paket berisi telur dan gula ke tanganku, ia membisikkan sesuatu di telingaku yang membuatku banyak berpikir: “Natal akan segera tiba.” Kata-kata yang lazim sebenarnya; namun sedikit absurd mengingat bahwa dia mengatakan hal itu kepada seorang tahanan Yahudi — aku yakin dia menggunakan kata-kata itu sebagai kode, yang memiliki arti berbeda, sesuatu yang tidak mau diakui oleh bangsa Jerman saat itu.

Menceritakan ulang hal ini 40 tahun kemudian, aku sama sekali tidak berusaha untuk memberi pembenaran bagi kaum Nazi Jerman. Satu orang berkebangsaan Jerman yang manusiawi tidak bisa begitu saja menghapus dosa jutaan orang lain dari bangsa yang sama yang telah berlaku begitu keji, atau bahkan yang tidak peduli [di masa-masa pendudukan Jerman]. Tapi satu orang saja cukup untuk memecah ilusi stereotip.

Bagi dunia yang tengah tenggelam dalam perang, Natal tahun itu sangat berkesan; terutama bagiku, karena aku mendapat sebuah keajaiban. Di Auschwitz, ada beragam kategori tahanan (politik, kriminal biasa, mereka yang tidak mengikuti aturan-aturan sosial, homoseksual, dll.) yang dibolehkan menerima paket kiriman dari rumah, kecuali tahanan Yahudi. Lagipula, siapa yang akan mengirimkan hadiah pagi para tahanan Yahudi? Dari keluarga yang telah dibunuh atau yang tengah bertahan hidup di tengah ghetto [kampung Yahudi]? Atau dari mereka yang berhasil kabur dari penangkapan kaum Nazi Jerman, yang disembunyikan di gudang, di loteng, dan diselubungi oleh rasa takut, serta sama sekali tak beruang? Dan siapa juga yang tahu alamat kami? Sepengetahuan dunia, kami sudah mati.

Namun sebuah paket tetap datang untukku melalui serentetan teman, yang dikirim oleh adik perempuanku dan juga ibuku, yang tengah bersembunyi di Italia. Mata rantai terakhir dari jaringan teman-temanku itu adalah Lorenzo Perrone, seorang tukang batu asal Fossano, yang pernah aku ceritakan di buku Survival in Auschwitz, dan yang membuatku sedih di hari kematiannya, serta yang kuceritakan lagi di buku ini pada tulisan berjudul Lorenzo’s Return. Paket itu berisi bahan pengganti coklat [karena coklat asli sangat mahal dan sulit didapatkan di masa perang], kue kering, dan susu bubuk. Tapi besar nilai barang-barang ini sesungguhnya, serta pengaruhnya bagiku dan bagi sahabatku, Alberto, tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Di Kamp itu, terminologi umum seperti makan, makanan dan kelaparan memiliki arti yang sangat beda dengan biasanya. Paket yang datangnya tak diduga, dan nyaris mustahil, seperti meteor, atau benda surgawi, yang ditandai dengan simbol-simbol, sangat berharga, dan dikirim dengan momentum besar.

Kami tidak lagi sendirian: jalur hubungan dengan dunia luar telah ditetapkan, dan ada banyak sekali makanan lezat untuk kami nikmati selama berhari-hari ke depan. Tapi biar begitu masih ada beberapa masalah praktis yang cukup serius, yang harus segera kami pecahkan: kami seperti seorang pejalan kaki yang tiba-tiba dihibahkan emas lantak di hadapan semua orang. Di mana kami harus sembunyikan makanan itu? Bagaimana cara menyimpannya? Bagaimana melindunginya dari keserakahan orang lain? Bagaimana cara menginvestasikannya dengan bijaksana? Rasa lapar kami, yang telah dipupuk selama setahun penuh, seolah mendorong kami untuk mengambil solusi terburuk: makan semuanya pada saat itu juga. Namun kami harus melawan godaan itu. Perut kami yang lemah tidak mungkin bisa bertahan terhadap penyiksaan tersebut; dalam satu jam, kami pasti mengalami masalah pencernaan, atau sesuatu yang lebih parah dari itu.

Kami tidak memiliki tempat persembunyian yang aman, maka kami mendistribusikan makanan itu di dalam semua saku pada pakaian kami, juga menjahit saku-saku rahasia di balik jaket kami sehingga bila kami diperiksa, kami masih bisa menikmati jatah lainnya. Tapi karena kami harus membawa semua makanan itu di badan kami, ke tempat kerja, ke kamar mandi, ke WC, rasanya sangat tidak nyaman dan aneh. Aku dan Alberto sempat membahas hal tersebut di malam hari setelah jam malam diumumkan. Kami berdua sudah membuat perjanjian: remah-remah atau makanan apapun yang berhasil kami kumpulkan, di luar jatah pribadi kami, akan kami bagi rata berdua. Alberto selalu lebih sukses dariku dalam hal-hal seperti ini, dan aku sering bertanya padanya kenapa dia mau mempunyai rekan seperti aku yang kurang efisien dalam mengumpulkan makanan. Mendengar itu, Alberto selalu menjawab: “Kita tidak pernah tahu, kan? Aku lebih cepat, tapi kau lebih beruntung.” Untuk pertama kalinya, dia benar.

Alberto mengusulkan ide menarik. Kue-kue kering jadi masalah terbesar. Kami harus menyimpan mereka, sedikit di sini, sedikit di sana. Aku bahkan sempat menyembunyikannya di balik sulaman topi, dan harus berhati-hati saat melepas topi terlalu cepat di hadapan seorang perwira SS, agar tidak menghancurkan kepingan kue kering. Jujur, kue-kue kering itu memang tidak terlalu enak, tapi tampilan mereka cukup mengesankan. Alberto mengusulkan agar kami membagi jatah kue-kue kering tersebut ke dalam dua paket, dan menghadiahkan paket-paket tersebut kepada Kapo [tahanan yang diangkat sebagai fungsionaris oleh perwira SS untuk mengawasi tahanan lain] dan Pimpinan barak. Menurut Alberto, ini adalah investasi terbaik untuk kami. Pertama, kami akan mendapatkan status baru yang lebih bergengsi; kedua, baik Kapo maupun Pimpinan barak, meski tanpa persetujuan formal, akan membalas budi kami dengan beragam bantuan. Kami bisa menyantap sisa makanan sesuai dengan jatah harian yang kecil dan masuk akal, dan tentunya dengan selalu berhati-hati.

Namun kondisi di dalam Kamp yang penuh sesak serta tanpa privasi, gosip dan ketidakteraturan begitu mendominasi hingga rahasia kami dengan cepat terkuak lebar. Dalam waktu beberapa hari, kami menemukan bahwa teman-teman tahanan lain, juga para Kapos menatap kami dengan pandangan berbeda. Itu intinya: mereka menatapi kami, sama seperti kau menatap sesuatu atau seseorang yang kau anggap tidak normal, yang tak lagi bisa berbaur dengan sekeliling mereka, tapi justru menonjol. Mengingat kecintaan mereka terhadap “dua orang Italia”, mereka menatap kami dengan rasa iri, dengan pengertian, kepuasan, juga hasrat terbuka. Mendi, seorang teman asal Slowakia yang juga merupakan seorang rabbi, mengedipkan sebelah mata ke arahku seraya berkata, “Mazel tov” — suatu frasa Yiddish dan Hebrew yang biasa digunakan untuk memberikan selamat kepada seseorang di acara yang berbahagia. Beberapa orang tahu, atau setidaknya telah menduga, bahwa kami menyembunyikan sesuatu, yang mana membuat kami senang sekaligus tidak nyaman; kami harus selalu berjaga-jaga. Oleh sebab itu, kami memutuskan bersama untuk mempercepat proses konsumsi: karena apa yang telah dimakan tidak bisa dicuri.

Di Hari Natal, kami bekerja seperti biasa. Bahkan, karena laboratorium ditutup, aku dan tahanan lain dikirim ke suatu lokasi di mana kami dipekerjakan untuk memindahkan puing-puing dan menggotong karung-karung berisi produk kimia dari sebuah gudang yang belum lama dibom ke gudang lain yang masih utuh. Ketika aku kembali ke kamp di malam harinya, aku pergi ke kamar mandi. Aku masih menyimpan banyak coklat dan susu bubuk di dalam saku-saku kecilku, maka aku tunggu sampai ada tempat kosong di sudut ruangan yang paling jauh letaknya dari pintu masuk. Kugantung jaketku di ujung paku yang tertancap di dinding di belakangku; tak ada seorang pun yang mungkin mendekatiku tanpa sepengetahuanku. Lantas aku mulai membilas tubuh, ketika sekonyong-konyong dari sudut mataku kulihat jaketku diangkat di udara. Aku segera membalikkan tubuh, namun terlambat. Jaket itu, dengan segala isinya, dengan nomor registrasiku yang terjahit di bagian dada, sudah tak dapat kugapai lagi. Seseorang telah menurunkan sebentuk benang yang disambung dengan kaitan dari jendela kecil di atas paku tempatku menggantung jaket.

Aku berlari keluar kamar mandi, meski belum berpakaian penuh, namun tak ada siapa-siapa di luar. Tak ada seorang pun yang mengaku melihat kejadian tersebut, atau mengetahui apa-apa tentangnya. Seiring dengan benda-benda lain yang kusimpan di saku-saku jaket, kini aku tidak lagi memiliki jaket. Aku harus pergi menemui pimpinan persediaan barang di barak untuk mengakui “kejahatan”-ku, karena di Kamp kami adalah suatu kejahatan apabila kita jadi korban pencurian. Ia memberikan jaket lain kepadaku, namun kemudian memerintahku untuk mencari sebilah jarum dan segulung benang, entah bagaimana caranya, lalu segera menyobek nomor registrasi yang tersulam di celanaku dan menjahitnya ke jaket baruku secepat mungkin. Atau kalau tidak, maka “bekommst du fünfundzwanzig“: aku akan dipecut sebanyak 25 kali dengan sebilah tongkat.

Kami membagi isi saku-saku dalam jaket Alberto. Bagiannya belum disentuh sama sekali, dan dengan gamblang ia berfilosofi di hadapanku. Kami berdua sudah makan lebih dari separuh jatah makanan yang kami terima dari dunia luar, dan masih ada sisanya. Kini sebagian dari sisa makanan itu sedang dinikmati orang lain, yang tengah merayakan Natal dengan menyantap makanan kami — mudah-mudahan orang itu juga ikut memberkati kami. Anyway, setidaknya kami bisa memastikan satu hal: ini adalah Natal terakhir di masa perang dan penjajahan. FL

Desember 2015 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Primo Levi. Tidak untuk digandakan, dijual, atau ditukar.


# KETERANGAN:

(*) Monowitz pada awalnya ditetapkan sebagai sub-kamp Auschwitz di area kekuasaan Nazi Jerman. Nantinya, kamp itu dikenal sebagai satu dari tiga kamp konsentrasi utama di Auschwitz, dan dikelilingi oleh 45 sub-kamp. Monowitz juga dibangun sebagai arbeitslager atau kamp kerja, yang dilengkapi dengan arbeitsausbildungslager atau kamp pendidikan kerja bagi tahanan non-Yahudi.

(**) Tentara SS atau Schutzstaffel adalah pasukan paramiliter yang dibentuk Adolf Hitler dan berfungsi di bawah asuhan Partai Nasionalis Kelas Pekerja Jerman.

# CATATAN:

> Esai ini berjudul O Último Natal de Guerra karya PRIMO LEVI dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1981.

>> PRIMO LEVI adalah seorang ahli kimia dan penulis berkebangsaan Yahudi-Italia. Semasa hidupnya, ia termasuk salah satu penulis yang paling aktif berbicara tentang kekejaman Kamp Konsentrasi di bawah kekuasaan Hitler. Ia juga telah menulis sejumlah esai, memoir, novel, cerita pendek, serta puisi.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: