Amy Tan

Aku bukan seorang ahli dalam bidang sastra ataupun Bahasa Inggris. Aku tidak bisa menyampaikan lebih dari pendapat pribadiku mengenai hal-hal yang menyangkut Bahasa Inggris serta variasinya di negara ini (Amerika Serikat) ataupun di negara-negara lain.

Aku adalah seorang penulis. Dan sesuai dengan definisi tersebut, aku adalah orang yang selalu mencintai bahasa. Aku terkesima oleh bahasa dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Aku menghabiskan cukup banyak waktu memikirkan kekuatan bahasa — bagaimana bahasa bisa memicu emosi, menghadirkan gambaran detil, menjelaskan sebuah ide rumit, atau menawarkan suatu kebenaran yang sederhana. Bahasa adalah alat yang kugunakan untuk bekerja. Dan aku menggunakan semuanya — semua jenis Bahasa Inggris yang kukenal sejak lahir.

Joy-Luck-Club1Belum lama ini, aku tersadar akan bermacam jenis Bahasa Inggris yang kugunakan sehari-hari. Saat itu aku tengah memberikan ceramah di depan banyak orang, ceramah yang seringkali kuberikan pada kelompok-kelompok pendengar lainnya. Di dalam ceramah itu, aku berbicara tentang tulisan-tulisanku, tentang hidupku, dan tentang buku yang kutulis, The Joy Luck Club.

Ceramah itu berlangsung lancar, sampai aku tiba pada titik di mana aku teringat akan perbedaan besar yang membuat seluruh isi ceramah tersebut terdengar salah. Ibuku ada di aula tempat aku memberikan ceramah. Dan itu mungkin pertama kalinya beliau mendengarku memberikan ceramah panjang, dan menggunakan jenis Bahasa Inggris yang tidak pernah kugunakan saat aku berbicara dengan beliau.  Aku melontarkan kalimat seperti “Titik singgung antara memori dan imajinasi” serta “Ada satu aspek dari karya fiksi saya yang terkait dengan de-es-te” — pidato yang sarat akan frasa-frasa gramatikal, yang dibebani oleh format penggantian kata kerja menjadi kata benda, tensis past perfect, frasa ketergantungan, dan bentuk-bentuk standar Bahasa Inggris yang aku pelajari di sekolah formal serta lewat buku bacaan, atau singkatnya … bentuk Bahasa Inggris yang tak pernah kugunakan di rumah dengan ibuku.

Minggu lalu, aku berjalan kaki dengan ibuku dan saat kami menyusuri tepi jalan bersama, aku tersadar akan Bahasa Inggris yang kugunakan, Bahasa Inggris yang biasa kugunakan dengan beliau.

Kami tengah membahas perbedaan harga antara perabotan baru dan perabotan bekas, dan ini bahasa yang kugunakan: “Not waste money that way.” (Tak usahlah buang-buang uang seperti itu) Suamiku juga ada di dekatku, namun ia tak menyadari pergantian struktur dalam Bahasa Inggris yang kugunakan dengan ibuku. Lantas aku tahu sebabnya. Kami sudah jadi pasangan selama 20 tahun dan aku tak jarang menggunakan struktur Bahasa Inggris yang sama dengan suamiku, bahkan dia juga sesekali melakukan hal yang sama saat bicara denganku.

Struktur kalimat yang tak jelas itu jadi bahasa intim di keluarga kami, bentuk Bahasa Inggris yang diasosiasikan dengan pembicaraan keluarga, bahasa yang jadi alat komunikasi utama saat aku tumbuh dewasa.

Agar kalian bisa membayangkan seperti apa bentuk pembicaraan dalam keluarga kami, aku akan mengutip apa yang dikatakan oleh ibuku di salah satu pembicaraan kami belum lama ini, yang kebetulan aku rekam dengan video, lalu aku salin.

Selama pembicaraan tersebut, ibuku berbicara tentang seorang gangster politik di Shanghai yang memiliki nama belakang sama dengan nama keluarga beliau, Du, dan bagaimana si gangster tersebut ingin sekali diadopsi oleh keluarga ibuku saat ia masih sangat muda karena keluarga ibuku sangat kaya. Setelah beberapa tahun berlalu, si gangster politik pun tumbuh dewasa dan menjadi salah satu penguasa besar, jauh lebih kaya dari siapapun di keluarga ibuku, dan suatu hari ia muncul di pernikahan orangtuaku untuk menyampaikan salam.

Sebagian pembicaraan ibuku berbunyi seperti ini:

“Du Yusong having business like fruit stand. Like off the street kind. He is Du like Du Zong — but not Tsung-ming Island people. The local people call putong, the river east side, he belong to that side local people. That man want to ask Du Zong father take him in like become own family. Du Zong father wasn’t look down on him, but didn’t take seriously, until that man big like become a mafia. Now important person, very hard to inviting him. Chinese way, came only to show respect, don’t stay for dinner. Chinese custom. Chinese social life that way. If too important won’t have to stay too long. He come to my wedding. I didn’t see, I heard it. I gone to boy’s side, they have YMCA dinner. Chinese age I was nineteen.”

(Du Yusong punya bisnis seperti gerobak buah. Bisnis jalanan. Namanya Du, seperti Du Zong — tapi bukan orang Tsung-ming Island. Orang lokal memanggilnya putong, dari sisi timur sungai, ia datang dari orang-orang sana. Orang itu mau minta ayahku, Du Zong, untuk mengambilnya seperti keluarga sendiri. Ayahku tidak remehkan dia, tapi tidak juga ambil pusing, sampai orang itu akhirnya jadi orang besar, mafia. Sekarang orang penting sekali, susah sekali untuk undang-undang dia. Seperti biasa, orang Tionghoa datang cuma untuk beri salam, tak pakai makan malam. Dia hormat karena kita sudah buat acara besar-besaran, dia sempat-sempat datang. Itu artinya dia hormat. Adat Tionghoa begitu. Hidup sosial di budaya Tionghoa ya begitu. Orang penting tak usah lama-lama di acara. Dia datang ke pernikahan Ibu. Ibu tidak lihat, cuma dengar. Ibu sudah berbaur ke keluarga suami. Mereka makan-makan di YMCA. Sesuai kalender bangsa Tionghoa, usia Ibu baru 19 tahun)

Omong-omong, kemampuan ibuku untuk mengekspresikan dirinya dalam Bahasa Inggris tidak berbanding lurus dengan daya paham beliau terhadap Bahasa Inggris yang menurutku jauh lebih superior. Beliau rajin membaca laporan-laporan Majalah Forbes, rajin mendengarkan siaran berita Wall Street Week, rajin berkomunikasi dengan makelar saham yang beliau percayai dengan investasinya, serta membaca semua buku-buku karya Shirley MacLaine tanpa kesulitan yang berarti — segala hal yang aku sendiri kesulitan memahami.

Namun sebagian teman-temanku mengaku bahwa mereka hanya mengerti sekitar 50 persen dari apa yang dikatakan ibuku. Sebagian lain mengatakan mereka bisa menangkap sekitar 80-90 persen dari perkataan ibuku. Tapi bagiku, Bahasa Inggris yang beliau gunakan sangat jelas, dan natural. Itulah bahasa ibuku, my mother’s tongue. Bahasa yang beliau gunakan, dalam pendengaranku, terasa jelas, langsung, sarat akan observasi dan juga imajinasi. Itulah bahasa yang membentuk caraku melihat sekelilingku, mengekspresikan diriku, dan memahami dunia.

Belakangan ini, aku semakin sering berpikir tentang jenis Bahasa Inggris yang digunakan ibuku. Seperti orang lain pada umumnya, aku mendefinisikan bahasa ibuku sebagai Bahasa Inggris yang “tidak sempurna” atau “asal-asalan”. Tapi setiap kali aku mengatakan itu, aku meringis. Aku terganggu dengan istilah “tidak sempurna”, seolah bahasa ibuku adalah bahasa yang rusak, harus dibetulkan, seolah bahasa itu tidak cukup kaya, atau tidak cukup kokoh sebagai metode komunikasi.

Aku sering mendengar orang menggunakan istilah lain, seperti “Bahasa Inggris terbatas”. Namun itu juga terminologi yang sama buruknya dengan “tidak sempurna” dan “asal-asalan”, seolah bahasa ibuku terbatas, belum lagi kalau memikirkan persepsi umum terhadap orang yang berbicara dengan bahasa yang terbatas tersebut.

Hal ini jadi masalah yang nyata bagiku. Karena ketika aku tumbuh dewasa, “keterbatasan” Bahasa Inggris yang digunakan ibuku juga ujung-ujungnya membatasi persepsi-ku terhadap ibuku. Dulu, aku malu mendengar Bahasa Inggris yang beliau gunakan. Aku berasumsi bahwa Bahasa Inggris yang beliau gunakan berbanding lurus dengan kemampuan berpikirnya. Maksudku, bila beliau menggunakan bahasa yang tidak sempurna, maka artinya beliau tidak bisa berpikir dengan sempurna. Dan aku punya banyak bukti empiris untuk mendukung teoriku: fakta bahwa para pekerja di mall, bank, dan restoran tidak pernah menanggapi ucapan ibuku dengan serius, tidak pernah memberi beliau layanan baik, dan selalu pura-pura tidak mengerti apa yang beliau katakan. Sesekali, mereka bahkan pura-pura tidak bisa mendengar ucapan ibuku.

Ibuku sudah lama menyadari keterbatasannya dalam berbahasa Inggris. Ketika aku berusia 15 tahun, beliau sering memintaku untuk menelepon orang dan pura-pura mewakilinya. Dalam sandiwara ini, aku diminta untuk mencari informasi atau mengajukan keluhan atau meneriaki orang-orang yang telah berlaku kasar terhadapnya.

Suatu kali, aku diminta menghubungi makelar sahamnya di New York. Ibuku sudah menguangkan sebagian kecil portfolio saham yang beliau miliki, dan kebetulan minggu depannya kami sekeluarga berencana mengunjungi New York — pertama kalinya kami bepergian keluar dari negara bagian California. Aku diminta mengangkat telepon dan menghubungi si makelar saham dan — dengan suaraku yang masih remaja dan sama sekali tidak meyakinkan — berkata, “Ini Mrs. Tan.”

Sementara itu, ibuku berdiri persis di belakangku seraya berbisik keras, “Why he don’t send me check, already two weeks late. So mad he lie to me, losing me money.” (Kenapa dia belum kirim cek, sudah dua minggu telat. Marah sekali dia bohong padaku, bikin aku rugi.)

Lalu aku berkata dalam Bahasa Inggris yang sempurna, “Yes, I’m getting rather concerned. You had agreed to send the check two weeks ago, but it hasn’t arrived.” (Ya, saya sedikit khawatir. Dua minggu lalu, Anda janji akan mengirimkan cek kepada saya, tapi sampai sekarang cek itu belum datang juga.)

Setelah itu, ibuku mulai mengeraskan volume suaranya. “What he want, I come to New York tell him front of his boss, you cheating me?” (Apa mau dia, aku datang ke New York lapor di depan bosnya, kau menipuku?) Pada saat itu, aku berusaha menenangkan beliau dan membuatnya diam, sambil berkata pada si makelar saham, “I can’t tolerate any more excuses. If I don’t receive the check immediately, I am going to have to speak to your manager when I’m in New York next week.” (Saya tidak bisa mentolerir alasan-alasan Anda. Bila saya tidak terima cek-nya dalam waktu dekat, saya terpaksa akan menceritakan semuanya kepada manajer Anda saat saya ada di New York minggu depan).

Benar saja, seminggu setelah itu, kami berdiri menghadap si makelar saham, yang terkejut melihat kehadiran kami. Aku hanya duduk diam dengan wajah memerah, sementara ibuku, Mrs. Tan yang asli, berteriak-teriak kepada atasan si makelar saham dalam Bahasa Inggris-nya yang tidak sempurna.

Lima hari lalu, kami dihadapkan pada rutinitas yang serupa, untuk situasi yang jauh lebih menegangkan. Ibuku harus pergi ke rumah sakit untuk menemui seorang dokter, karena sebulan sebelumnya ia didiagnosa mengidap tumor otak.

Hasil CAT scan kepalanya menunjukkan adanya tumor jinak di sana. Ibuku mengaku bahwa beliau sudah berbicara menggunakan Bahasa Inggris yang sangat baik, yang terbaik yang pernah dia tahu, yang menurutnya tak ada salah sama sekali. Namun, tetap saja, lapor ibuku, pihak rumah sakit tidak mau minta maaf saat mereka memulangkannya setelah mengakui bahwa hasil CAT scan ibuku hilang. Entah bagaimana bisa hilang. Itu artinya kedatangan ibuku ke rumah sakit sungguh sia-sia.

Ibuku juga bilang bahwa pihak rumah sakit sama sekali tak bersimpati padanya ketika beliau menceritakan soal kekhawatirannya perihal diagnosa tumor di otaknya, terutama mengingat suami dan anak laki-lakinya meninggal karena mengidap tumor otak.

Ibuku mengadu padaku bahwa pihak rumah sakit terus menolak memberikan informasi lebih lanjut sampai nanti waktunya tiba untuk jadwal kedatangan beliau berikutnya. Maka ibuku memaksa. Beliau menyatakan bahwa ia takkan pergi dari rumah sakit itu sampai dokter yang bersangkutan menghubungi putrinya (aku). Dia menolak pergi.

Ketika sang dokter akhirnya meneleponku, yang berbicara dalam Bahasa Inggris sempurna — coba tebak — kami diyakinkan bahwa hasil CAT scan ibuku akan segera ditemukan, dan pihak rumah sakit janji untuk melakukan telekonferens via telepon di hari Senin, serta meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami ibuku gara-gara kesalahan mereka.

Kurasa Bahasa Inggris ibuku hampir membatasi pelbagai kesempatan yang bisa kuambil dalam hidupku. Para ahli sosiologi dan linguistik akan mengatakan bahwa kemampuan berbahasa seseorang dipengaruhi oleh kelompok sosialnya. Namun, menurutku bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam keluarga, terutama keluarga pendatang (imigran) yang ruang lingkupnya sedikit lebih insular, memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan berbahasa si anak.

Aku juga percaya hal tersebut mempengaruhi hasil ujian pelajaranku di sekolah, termasuk hasil tes IQ-ku, juga hasil tes SAT-ku*. Walau nilai Bahasa Inggrisku tidak tergolong jelek, namun apabila dibandingkan dengan kemampuan matematikaku, Bahasa Inggris otomatis jadi salah satu mata pelajaran yang kurang aku kuasai.

Di masa SD, nilai pejalaran Bahasa Inggris-ku cukup baik, sesekali aku mendapat nilai B, terkadang B-plus. Tapi nilai itu jauh dari cukup. Gara-gara nilai Bahasa Inggrisku yang pas-pasan, kemampuanku di bidang matematika dan IPA, dua pelajaran di mana aku selalu mendapat nilai A, jadi cenderung dianggap biasa saja karena nilai rata-rataku yang kurang spektakuler.

Hal ini bisa dimengerti. Matematika adalah ilmu pasti; hanya ada satu jawaban benar. Sementara bagiku, pilihan jawaban dalam tes Bahasa Inggris selalu bergantung pada penilaian pribadiku sendiri, yang ditentukan oleh opini dan pengalaman.

Ujian Bahasa Inggris biasanya mengandung soal-soal di mana si peserta ujian harus melakukan perbandingan antara dua kalimat dalam format fill-in-the-blank (isi titik-titik), contohnya:

Meskipun Tom _______, Mary berpikir dia _________

Dan jawaban yang benar nampaknya selalu berkisar pada kombinasi pemikiran yang paling membosankan, seperti:

Meskipun Tom pemalu, Mary berpikir dia penuh karisma

dengan struktur gramar yang menggunakan kata “meskipun” sebagai penunjuk antara dua situasi yang saling bertolak-belakang. Tujuannya agar peserta ujian tidak menjawab dengan persamaan, seperti ini:

Meskipun Tom bertindak bodoh, Mary berpikir dia konyol.

Nah, menurut definisi ibuku, Tom bisa berlaku apa saja yang dia mau dan Mary bisa berpikir bagaimana saja dia mau. Mengikuti logika tersebut, sulit sekali bagiku untuk mendapat nilai bagus dalam ujian Bahasa Inggris.

Logika ala ibuku juga berlaku untuk analogi, konsep di mana kita diminta mencari pola logis dan semantik di antara dua pasang kata yang berbeda, contohnya:

Hubungan matahari terbenam dan senja sama seperti hubungan antara ______ dan ______

Dan di sini kita akan diberikan empat pasang kata sebagai pilihan jawaban, salah satunya menunjukkan hubungan yang sama:

lampu merah dan lampu perhentian, bus dan ketibaan, menggigil dan demam, serta menguap dan bosan.

Masalahnya, otakku tidak terbiasa berpikir dengan cara itu. Aku tahu apa yang diminta oleh instruksi pada lembar ujianku, namun aku tidak bisa menyingkirkan bayangan yang diciptakan oleh pasangan frasa di kalimat pertama, “matahari terbenam dan senja” — mendadak aku membayangkan luapan warna di langit gelap, serta bulan yang merangkak naik, serta selimut berbintang yang menutupi bumi.

Lantas pasangan kata lainnya — merah, bus, lampu perhentian, bosan — menghadirkan bayangan lain yang justru membingungkanku, membuat tugas untuk memilah-milah mereka sesuai dengan kesamaan pola jadi mustahil.

Aku tidak bisa melihat logika persamaan di balik perbandingan dua kalimat ini:

Matahari yang terbenam mendahului senja” dan “kondisi tubuh menggigil mendahului demam.”

Satu-satunya cara aku bisa memilih jawaban yang benar pada soal ujian tersebut adalah dengan cara membayangkan situasi yang saling terkait. Misalnya, kenakalanku untuk terus bermain di luar rumah setelah matahari terbenam membuat tubuhku menggigil di malam hari, sehingga aku menderita gejala radang paru-paru dan demam tinggi sebagai ganjarannya. Sialnya, hal itu benar-benar terjadi padaku.

Belakangan aku sering sekali memikirkan hal ini, tentang Bahasa Inggris ibuku, tentang ujian-ujian yang harus kulalui dulu semasa sekolah. Karena belum lama ini aku sering ditanya, sebagai seorang penulis, kenapa tidak banyak penulis Asia-Amerika yang ikut berperan dalam pergerakan sastra Amerika? Kenapa sedikit sekali warga Asia-Amerika yang terlibat dalam program kepenulisan kreatif? Kenapa banyak sekali orang Asia (atau Tionghoa pada umumnya) yang lebih memilih lulus sebagai seorang insinyur?

Semua itu adalah pertanyaan sosiologi yang tak bisa kujawab.

Tapi aku sering memperhatikan survei — minggu lalu, contohnya — di mana hasilnya menyatakan bahwa siswa-siswi dari Asia menunjukkan kemampuan lebih tinggi di bidang matematika daripada bidang Bahasa Inggris. Dan hal tersebut membuatku berpikir bahwa masih banyak warga Asia di luar sana yang mempraktikkan hal yang sama sepertiku, di mana mereka berbicara menggunakan Bahasa Inggris yang “tidak sempurna” atau “asal-asalan” dalam lingkungan keluarga mereka. Bahkan bukan tidak mungkin guru sekolah mereka justru menjauhkan mereka dari bidang menulis dan mendorong mereka untuk lebih aktif dalam bidang-bidang matematika dan IPA — karena hal yang sama terjadi padaku.

Untungnya, aku anak yang suka berontak dan senang menanggapi tantangan di mana aku bisa membuktikan pandangan orang salah terhadapku.

Di tahun pertamaku di universitas, aku mengambil jurusan Bahasa Inggris, meski sebelumnya aku mendaftarkan diri ke jurusan medis. Aku juga mulai giat menulis artikel dan esai sebagai seorang penulis lepas (freelancer) seminggu setelah bos lamaku menyatakan bahwa kemampuan terburukku ada di bidang menulis, dan bahwa aku sebaiknya mengasah kemampuan di bidang manajemen akuntansi.

Meski begitu, aku baru mulai menulis fiksi di tahun 1985. Dan di awal-awal aku menulis dengan bahasa yang kuanggap cerdas, disusun oleh rangkaian kalimat yang membuktikan kepiawaianku dalam berbahasa Inggris. Ini adalah contoh dari draf pertama sebuah cerita yang kutulis, yang nantinya kusertakan ke dalam buku The Joy Luck Club, meski tanpa kalimat berikut: “That was my mental quandary in its nascent state.” (Itu adalah situasi mental yang membingungkan di kondisi awal) Kalimat yang buruk sekali, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara melafalkannya.

Tapi aku masih beruntung. Untuk alasan yang takkan kusebutkan di sini, nantinya aku memutuskan untuk membayangkan seorang pembaca bagi setiap cerita yang kutulis. Dan pembaca yang kubayangkan adalah ibuku, karena hampir semua cerita yang kutulis adalah cerita tentang para ibu.

Maka dengan bayangan ibuku sebagai pembacaku — sejujurnya, ibuku memang membaca draf-draf awal yang kutulis — aku mulai menulis cerita demi cerita menggunakan segala jenis Bahasa Inggris yang kugunakan sejak kecil: Bahasa Inggris yang kugunakan untuk berkomunikasi dengan ibuku, yang bisa dibilang “sederhana”; Bahasa Inggris yang digunakan ibuku untuk berkomunikasi denganku, yang bisa dibilang “tidak sempurna”; terjemahanku terhadap Bahasa Mandarin yang beliau gunakan, yang bisa dikategorikan sebagai “terjemahan lepas”; dan terjemahan ibuku terhadap Bahasa Mandarin yang beliau gunakan sendiri ke dalam Bahasa Inggris yang paling sempurna versi ibuku, atau bahasa internal beliau.

Oleh sebab itu, aku selalu berusaha untuk mempertahankan inti dari kalimat-kalimat beliau, meski pada akhirnya aku selalu melanggar struktur Bahasa Mandarin dan juga Bahasa Inggris yang baik dan benar.

Aku ingin menangkap apa-apa saja yang terkait dengan kemampuan berbahasa seseorang yang tak bisa diukur dengan soal ujian: tujuan mereka berkomunikasi, hasrat mereka, imajinasi mereka, ritme bicara mereka dan pola pikir mereka.

Terlepas dari apa yang dikatakan para kritikus tentang caraku menulis, aku tahu aku telah berhasil ketika ibuku selesai membaca bukuku dan menyampaikan keputusannya: “So easy to read.” (Mudah sekali dibaca) FL

Desember 2015 © Hak cipta Fiksi Lotus dan Amy Tan. Tidak untuk dijual, ditukar ataupun digandakan.

————–

# KETERANGAN:

* SAT adalah singkatan dari Scholastic Aptitude, Assessment and Reasoning Test dan merupakan tes standar bagi setiap orang yang ingin mendaftarkan diri ke universitas di Amerika Serikat. Tes ini mencakupi bidang pemahaman bacaan, matematika, menulis dan kemampuan berlogika.

 # CATATAN:

> Esai ini bertajuk “Mother Tongue” oleh AMY TAN dan pertama kali diterbitkan di jurnal The Threepenny Review pada tahun 1990. Esai ini juga sering digunakan sebagai bahan bacaan kurikulum di bidang Kepenulisan Kreatif di berbagai universitas di AS.

>> AMY TAN adalah seorang penulis asal Amerika Serikat yang telah menulis banyak karya best-seller, seperti The Joy Luck Club, The Kitchen God’s Wife, The Hundred Secret Senses, The Bonesetter’s Daughter dan masih banyak lainnya. Ia adalah salah satu penulis Asia-Amerika paling ternama di Amerika Serikat dan karyanya telah sering dinominasikan untuk berbagai penghargaan bergengsi.

# POIN DISKUSI:

1. Mengapa Amy Tan memulai tulisan ini dengan sebuah sangkalan, “Aku bukan seorang ahli dalam bidang sastra ataupun Bahasa Inggris. Aku tidak bisa menyampaikan lebih dari pendapat pribadiku…”? Apa keuntungan dari pernyataan ini bagi si penulis?

2. Apa signifikansi dari setiap “jenis” Bahasa Inggris yang dimaksud si penulis dalam esai ini?

3. Apa inti dari pesan si penulis tentang konsep “bahasa ibu”?

4. Menurut kalian, apakah ada korelasi jelas antara bahasa dan identitas? Jelaskan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

One Comment on “Esai: Bahasa Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: