a native son_wright

Cover by HarperPerennial Olive Edition

 EDISI SPESIAL

Saya membaca Native Son pertama kali di usia 21 tahun sebagai tugas kuliah yang membahas tentang perkembangan sastra Afrika-Amerika. Saat itu, buku setebal 500+ halaman bukanlah bacaan langka, malah bisa dibilang sebagian besar bacaan mahasiswa di kampus tempat saya menuntut ilmu dulu memiliki ketebalan yang kurang-lebih sama. Makalah yang harus ditulis untuk mengkaji bacaan-bacaan tersebut juga tidak sedikit, di mana kami diminta mencari benang merah antara tulisan yang kami baca dengan kondisi dunia yang terus berkembang, serta kaitannya dengan evolusi sejarah.

Banyak di antara kami yang terpaksa bersandar pada CliffsNotes berupa pamflet — dengan sampul kuning bergaris-garis hitam yang mengingatkan saya akan warna lebah atau warna pita pembatas TKP dari pihak kepolisian — yang berisi catatan bimbingan studi untuk tiap-tiap materi bacaan sastra. Saya pun menggunakannya untuk menyelesaikan makalah tentang Native Son. Alhasil, pemahaman saya terhadap buku tersebut sangatlah minim. Di luar siapa-apa-kenapa, saya sama sekali tidak mengerti konteks besar novel karya Richard Wright yang selama bertahun-tahun selalu jadi bahan diskusi kontroversial di beragam institusi pendidikan yang tersebar di seluruh negara Amerika Serikat. Dan, terus terang, saat itu, saya tidak terlalu peduli. Saya merasa novel tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan saya; dan pesan yang terkandung di dalamnya sangat generik, tentang seorang warga kulit hitam yang diperlakukan tidak adil oleh masyarakat kulit putih. Berapa banyak karya tulis yang mengangkat tema senada? Ratusan, ribuan, mungkin jutaan!

Lalu, saya tumbuh dewasa. Waktu bergulir … dan tiga belas tahun kemudian saya menemukan edisi terbaru novel yang sama di rak utama sebuah toko buku lokal. Tampilannya sangat sederhana. Kavernya berwarna cokelat polos dengan siluet kepala plontos seorang pemuda yang dibubuhi ikon api kuning di bagian sentral. Di bawah kepala itu hanya ada teks singkat judul novel dan nama penulis. Namun di kaver belakang, kamu akan menemukan sebuah kutipan yang asalnya dari narasi cerita dalam buku, berbunyi, “Manusia bisa kelaparan karena tidak memiliki realisasi diri, sama seperti dia bisa kelaparan karena tidak memiliki roti.”

Saya ingat pernah menulis esai tentang kutipan tersebut dengan hasil pas-pasan. Di usia 21 tahun, realisasi diri memiliki potensi manifestasi yang tak berbatas baik itu dari segi relijius, psikologis, ataupun spiritualitas. Pendeknya, pada saat itu, saya berpikir bahwa terminologi tersebut tak lebih dari sekadar jargon ilmiah yang digunakan para ilmuwan untuk mengkategorikan elemen-elemen kehidupan yang tak terlihat, tak terjamah dan tak terukur. So, who cares?

Anehnya, beberapa waktu lalu, ketika saya membaca kutipan yang sama di usia 34 tahun, efek yang saya rasakan sangat jauh berbeda. Saya sangat memahami arti dari kutipan tersebut hingga tanpa sadar saya menganggukkan kepala berkali-kali sambil memandangi punggung buku. Kemudian saya jadi ikut bertanya-tanya: bila satu kutipan saja sudah memberikan sensasi yang jauh berbeda, bagaimana dengan seisi buku?

Saya bawa buku tersebut ke kasir. Untuk versi limited edition, harga buku ini tak lebih dari IDR 100.000. Tebalnya 545 halaman, terbagi ke dalam tiga episode: Buku Satu, Buku Dua, Buku Tiga. Fear, Flight, Fate. Tidak ada hitungan bab. Tidak ada catatan kaki.

Teman saya meringis, “Tebal sekali. Kapan selesai?”

Saya mengedikkan pundak. Saya adalah pembaca yang sangat lamban. “Tahun depan, kali,” seloroh saya seenaknya.

arichard

Richard Wright

Perkiraan saya salah. Saya hanya butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikannya — di antara tugas mengajar dan penerjemahan yang menumpuk. Di antara proyek-proyek kecil saya sendiri. Dua minggu. Buat saya, itu sebuah pencapaian. Karena saya hampir tidak pernah menyelesaikan buku setebal ini dalam kurun waktu kurang dari hitungan bulan. Dan, untuk pertama kalinya, saya juga berhasil menahan diri untuk mencuri-curi pandang ke beberapa halaman terakhir (seperti yang terkadang saya lakukan saat bosan menunggu perkembangan plot).

Setelah menutup buku, saya hanya punya satu komentar: “Holy crap.”

Native Son bercerita tentang seorang pemuda kulit hitam bernama Bigger Thomas yang hidup di ujung selatan kota Chicago yang sarat akan kemiskinan dan kekerasan di tahun 1930an bersama keluarga dan teman-temannya.

Native Son mengangkat tema segregasi ras dan dengan lantang mengajukan serangkaian keberatan serta tuduhan tajam terhadap kaum kulit putih yang berlaku semena-mena terhadap kaum kulit hitam. Novel ini mengetengahkan isu antar kelas, antar kaum minoritas versus mayoritas, antar keberpihakan politik, dan antar manusia.

Sebagian besar, Native Son mengajak kita untuk berpikir lebih jauh tentang hubungan antar manusia. Penting untuk diingat bahwa novel ini terbit 15 tahun sebelum insiden Rosa Parks, wanita kulit hitam yang mengukir namanya dalam sejarah bangsa Amerika Serikat pada tanggal 1 Desember 1955 di Montgomery, Alabama dengan cara menduduki kursi yang telah disiapkan untuk penumpang kulit putih dan menolak untuk pindah meski telah diperintahkan oleh supir bus. Novel ini juga terbit 23 tahun sebelum aktivis Martin Luther King, Jr. memimpin sebuah parade kolosal di Tugu Lincoln Memorial, Washington D.C. pada tanggal 28 Agustus 1963 bersama lebih dari 250.000 pendukung gerakan hak-hak sipil; dan 75 tahun setelah praktik perbudakan dihapuskan di Amerika Serikat lewat pemberlakuan Proklamasi Emansipasi yang ditandatangani oleh Presiden Abraham Lincoln.

Para kritikus sastra di Amerika Serikat menobatkan Native Son sebagai karya yang berhasil mengubah cara pikir masyarakat tentang hubungan antar ras, baik di masa penerbitannya di tahun 1940 maupun sekarang. Dalam waktu tiga minggu sejak pertama kali diterbitkan, novel itu telah mendulang penjualan tak kurang dari 250.000 eksemplar dan menjadikan sang novelis sebagai penulis fiksi berkulit hitam terkaya di Amerika Serikat — pada masa itu.

Sampai hari ini, Native Son masih terus dibaca, dicekal dan dibedah — meninggalkan remah-remah diskusi yang tak pernah ada habisnya.

Sedikit-banyak, kita semua tahu tentang praktik perbudakan yang berlangsung selama ratusan tahun di Amerika Serikat dan di negara-negara lainnya, tentang nasib mereka yang diperlakukan seperti binatang oleh para majikan, yang diperjual-belikan seperti barang dan disiksa secara biadab. Ratusan, ribuan memoar juga telah diterbitkan oleh mantan budak, keturunan budak, atau mantan pemilik budak tentang praktik perbudakan yang merupakan sejarah kelam dalam perkembangan sosial dan ekonomi bangsa Amerika Serikat. Kita juga sedikit-banyak telah mengenal tokoh-tokoh pembela emansipasi yang tak segan mengorbankan nyawa, reputasi dan penghidupan mereka demi memperjuangkan kesetaraan hak antara kaum kulit hitam dan kulit putih, contohnya Nelson Mandela, Malcolm X, sampai figur modern seperti Oprah Winfrey.

Lantas apa kaitan antara Native Son dan pembaca di luar Amerika Serikat?

Getty Images

Getty Images

Perbudakan ada di mana-mana dalam berbagai bentuk dan kapasitas. Suatu kali, saya pernah berada di sebuah kelas yang dihadiri oleh belasan partisipan dari berbagai negara dan kami membahas soal perbudakan. Hampir semua partisipan mengecam praktik perbudakan dan membela konsep kesetaraan hak antar manusia terlepas dari ras, suku, agama dan adat. Lantas sang instruktur balik bertanya berapa di antara kami yang masih menggunakan jasa pembantu inap di negara masing-masing. Dan lebih dari separuh kelas — partisipan yang berasal dari Asia, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Selatan — terdiam. Sesederhana itu. Kami tidak punya pembelaan. Bukan berarti menggunakan tenaga pembantu inap termasuk memperbudak, karena semua tergantung situasi dan kondisi; tapi kasus pembantu rumah tangga inap yang dibayar jauh di bawah upah minimum atau diperlakukan sebagai warga kelas dua masih sangat marak di negara-negara berkembang. Dan masih banyak bentuk perbudakan modern lain yang jauh lebih berat dan kompleks sifatnya — buruh anak, pekerja seks, dll. — namun bisa dikatakan sangat dekat dengan keseharian kita.

Karakter Bigger Thomas dalam Native Son sangat sulit untuk disukai. Perilakunya kasar, cara pikirnya dangkal dan motivasinya jauh dari terpuji. Selama dua minggu saat saya membaca kisah hidupnya, tak terhitung berapa kali saya mengatupkan rahang rapat-rapat menahan kesal yang datangnya dari kumpulan prasangka. Namun, di saat bersamaan, ada perdebatan hebat yang berkecamuk di dalam kepala saya. Saya mengutuk perbuatan Bigger Thomas, tapi saya juga memaklumi keadaannya. Posisi ini selalu berubah-ubah di setiap halaman. Saya ingin dia dihukum, saya ingin dia diberi kesempatan. Saya ingin dia ditangkap, saya ingin dia bebas. Di sinilah kekuatan Native Son. James Baldwin, seorang sastrawan kulit hitam yang bersahabat baik dengan Richard Wright, pernah berkata, “Di dalam kepala setiap pemuda kulit hitam di Amerika Serikat ada sosok Bigger Thomas.” Komentar ini sangat mengena terutama mengingat kasus penembakan Michael Brown, seorang pemuda kulit hitam, di Ferguson, Missouri yang sedang mendominasi media di Amerika Serikat. Tapi komentar itu juga berlaku bagi semua kaum minoritas di dunia yang keberadaannya dibatasi oleh aturan-aturan tak kasat mata yang ditetapkan oleh kelompok mayoritas. Termasuk di Indonesia.

Saya bukan seorang aktivis, tapi saya rasa kita tidak perlu jadi aktivis untuk mengenali ketidakadilan yang hadir di depan mata. Apapun bentuknya. Sekecil apapun kapasitasnya.

Saya percaya dan bangga terhadap motto bangsa kita yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “Berbeda-beda tapi tetap satu.” Tapi saya pikir hanya mengenal motto itu saja tidak cukup. Untuk mengamini perbedaan, kita harus mengakui kesetaraannya dulu. Dan perbedaan kita tidak hanya terbatas pada SARA (suku, ras, agama dan adat) — tapi juga sudah meluas mencakupi jender, orientasi seksual, kelas dan status sosial.

Perihal inilah yang jadi roda penggerak cerita dalam Native Son — bahwa isu perbedaan ras, agama, adat, suku, atau kasta sangat besar kaitannya dengan jender, kelas dan status sosial. Bahwa kebebasan manusia untuk berpikir, untuk merealisasikan potensi hidupnya, untuk menjadi mahluk independen sangat bergantung pada kebebasannya untuk berpindah kelas serta mengubah status sosialnya lewat proses emansipasi yang bulat dan menyeluruh.

Oleh sebab itu, nasib Bigger Thomas adalah nasib kita semua; prasangka buruk kita terhadap Bigger Thomas adalah cermin kemanusiaan kita yang bercelah; dan kecenderungan kita untuk mengabaikan garis demarkasi antara mana yang benar dan mana yang salah (selama garis itu tidak mempengaruhi gelembung individual yang kita diami) adalah bentuk kegilaan massal yang kita dukung tanpa banyak bertanya.

Saya sempat berdiskusi dengan seorang sahabat tentang potensi menerjemahkan Native Son untuk pembaca Indonesia, dan argumen yang beliau sampaikan adalah: “Akan sulit bertahan di pasaran. Karena novel semacam ini baru bisa dinikmati bila pembacanya mengerti betul tentang sejarah perbudakan di Amerika Serikat, contohnya 12 Years A Slave. Film itu bagus sekali dan menang Piala Oscar, tapi sedikit sekali orang Indonesia yang bisa mengapresiasi ceritanya.”

Kemudian saya berjanji kepadanya untuk menghadirkan cuplikan singkat novel Native Son di Fiksi Lotus.

Cuplikan yang saya hadirkan tidak dimaksudkan sebagai usaha pembuktian terhadap sahabat saya, bukan juga sebagai argumen perlawanan — menurut saya argumen beliau sangat masuk akal, karena elemen sejarah biasanya hanya menarik bagi mereka yang menjadi bagian dari sejarah tersebut.

Cuplikan Native Son saya hadirkan hanya sebagai bahan pertimbangan. Menurut saya pribadi, perang antar ras dan antar kelas yang diangkat dalam buku ini adalah perang yang dialami setiap negara dan setiap warga negara di mana pun mereka berada. Kontemplasi Bigger Thomas yang berbunyi —

Dalam diam, Bigger menjauhkan suara-suara mereka dari pikirannya. Ia benci keluarganya karena dia tahu mereka menderita dan ia tak kuasa menolong mereka. Ia sadar bahwa begitu ia membiarkan dirinya merasakan penderitaan mereka, betapa rendah dan menyedihkan hidup mereka sekeluarga, ia akan dirundungi rasa takut dan putus asa. Maka ia memilih untuk bersikap dingin dan keras terhadap mereka; meski ia tinggal seatap dengan keluarganya, namun di saat bersamaan ia bersembunyi di balik dinding besi yang memisahkan kenyataannya dengan kenyataan hidup mereka. Hal yang sama juga dia berlakukan terhadap dirinya sendiri. Bigger sadar bahwa bila ia mulai memikirkan hidupnya, maka ia akan bunuh diri atau membunuh orang lain. Oleh sebab itu, ia memilih untuk menyangkal apa-apa yang menjadi bagian hidupnya dan bersikap seolah tak ada satu hal pun yang bisa menyentuhnya.

—bukanlah sesuatu yang asing, atau eksklusif terhadap masyarakat Amerika Serikat saja. Siapa di antara kita yang tidak pernah merasa terperangkap dalam realita perang antar kelas dan antar ras seperti yang dialami Bigger Thomas? Tentu, reaksi kita mungkin tidak identik dengan reaksi Bigger Thomas; tapi kemanusiaan kita pada dasarnya adalah sama. Bila ditusuk, kita semua akan mengeluh sakit. Bila diikat, kita akan berusaha untuk lepas. Dan bila dirajam, kita akan lari. Secepat-cepatnya. Sejauh-jauhnya. Dan itulah inti seisi buku ini.

Anyway, bila kamu berkesempatan mendapati novel tersebut di toko buku terdekat, mungkin kamu akan lebih tertarik membacanya.

Satu kata rekomendasi saya untuk Native Son: eksplosif.

Salam,

Maggie Tiojakin

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

7 Comment on “Di Balik Cuplikan ‘Native Son’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: