Selama 75 tahun sejak pertama kali diterbitkan, Het Achterhuis atau yang lebih dikenal dengan “The Diary of A Young Girl” telah menuai banyak simpati dari pembaca sastra dan non-sastra, serta penyangkalan dan penghargaan yang tak ada habisnya.

Ditulis oleh seorang gadis remaja yang hidup dalam persembunyian selama masa penjajahan Nazi Jerman di periode Perang Dunia II, buku harian ini adalah saksi kekejaman pemerintahan Adolf Hitler serta sumber pembelajaran para ahli sejarah terhadap nasib kaum Yahudi pasca pendudukan Jerman di negara-negara tetangga (Eropa).

Kisah di bawah ini bukan cerita fiksi yang dipintal oleh seorang penulis handal, bukan juga imajinasi seorang penulis amatir yang mencari ketenaran—melainkan buah pena seorang remaja berusia 13 tahun yang mau tak mau terpaksa berteman dengan “buku tulis” di tengah tragedi yang melanda Eropa di masa itu. Anne Frank dan keluarga disembunyikan di loteng rumah tempat Otto Frank (Ayah) bekerja, yang disebut sebagai SECRET ANNEXE.

Ini adalah cuplikan kecil dari sebuah otobiografi yang berisi pengakuan, harapan, keputus-asaan, serta observasi seorang remaja bernama Anne Frank yang hidup dalam keterbatasan. Namun di kalangan masyarakat pembaca dunia: ini adalah sebuah masterpiece.

Selamat membaca!

~ Fiksi Lotus

————————

Kiri-kanan: Margot, Otto, Anne, Edith

SABTU, 20 JUNI 1942

Menulis buku harian adalah suatu pengalaman yang aneh bagi seseorang sepertiku. Bukan hanya karena aku belum pernah menulis secara kreatif sebelumnya, tapi juga karena rasanya takkan ada orang yang tertarik membaca racauan seorang gadis berusia 13 tahun. Ach ja, itu tak penting. Aku suka menulis, dan yang paling penting adalah aku perlu mengeluarkan uneg-uneg yang menyesakkan dada ke dalam buku ini.

“Kertas lebih sabar dari manusia.” Setiap kali aku merasa tertekan, aku selalu ingat kalimat itu, terutama saat aku berada di rumah sambil berpangku tangan, bosan tanpa kegiatan, berpikir apakah sebaiknya aku diam di rumah atau main ke luar. Akhirnya, aku diam di rumah, merenung. Benar, kertas memang lebih sabar dari manusia, dan karena aku takkan pernah membiarkan seorang pun membaca isi buku tulis yang disebut “buku harian” ini, kecuali aku menemukan seorang teman sejati, maka tak ada bedanya apakah aku menulis atau tidak.

Sekarang aku kembali ke poin utama yang mendorongku untuk menulis buku harian: aku tak punya teman.

Biar kujelaskan dulu, karena takkan ada orang yang percaya bahwa seorang anak gadis berusia 13 tahun hidup sendirian di dunia ini. Memang aku tidak sendirian. Aku punya dua orangtua yang saling menyayangi dan seorang kakak perempuan berusia 16 tahun, serta sekitar tiga puluh orang yang biasa kusebut sebagai teman. Aku juga punya banyak pengagum yang tak pernah bosan menatapiku, yang sering mencuri-curi pandang di kelas menggunakan pecahan cermin yang mereka simpan dalam saku. Aku punya keluarga, kerabat yang menyayangiku dan rumah yang nyaman. Memang, di permukaan aku memiliki semua yang kubutuhkan, kecuali sahabat sejati. Setiap kali aku berkumpul dengan teman-temanku, yang kupikirkan hanya bermain. Aku tidak bisa membicarakan apa-apa kecuali kegiatan sehari-hariku dengan mereka. Kami seolah tidak bisa menjalin hubungan yang lebih dekat, dan di situ letak masalahnya. Mungkin akulah penyebab hubungan kami tidak seharmonis yang kuinginkan; tapi memang sudah begini keadaannya dan kurasa takkan berubah dalam waktu dekat. Ini alasan aku menulis buku harian.

Demi menguatkan “tali persahabatan” antara aku dan buku harian ini, maka aku takkan menulis di dalamnya seperti kebanyakan orang. Aku ingin buku ini jadi sahabatku, dan oleh sebab itu aku akan memanggilnya dengan nama Kitty.

Agar cerita yang kutulis terkesan mulus, sebaiknya aku mulai dari awal. Meski aku enggan bercerita panjang lebar, namun aku akan memberikan sketsa singkat kehidupanku.

Ayahku, yang sangat kusayangi, tidak menikahi Ibu sampai ia berusia 36 tahun dan ibuku berusia 25 tahun. Kakakku, Margot, lahir di Frankfurt am Main di Jerman pada tahun 1926. Aku lahir pada tanggal 12 Juni, 1929. Aku tinggal di Frankfurt sampai usia 4 tahun. Karena kami beragama Yahudi, ayahku memutuskan untuk beremigrasi ke Belanda di tahun 1933, di mana ia bekerja sebagai Managing Director di perusahaan Dutch Opekta, menghasilkan produk yang digunakan untuk membuat selai. Ibuku, Edith Holländer Frank, menyusul Ayah ke Belanda di bulan September, sementara aku dan Margot dikirim ke Aachen untuk tinggal bersama Nenek. Margot pergi ke Belanda di bulan Desember, dan aku menyusul di bulan Februari (sebagai kejutan bagi Margot di hari ulang tahunnya).

Aku segera didaftarkan untuk belajar di TK Montessori sampai ulang tahunku yang ke-6. Setelah itu aku didaftarkan ke Sekolah Dasar. Di kelas enam, aku punya guru bernama Frau Kuperus, yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah. Di akhir tahun ajaran, kami berdua menangis sambil berpamitan, karena aku diterima di sekolah menengah Jewish Lyceum (khusus untuk siswa beragama Yahudi) di mana Margot juga belajar.

Namun kehidupan kami sekeluarga tidak setenang yang kami harapkan, karena kerabat kami di Jerman menderita di bawah pemerintahan Hitler yang mengesahkan peraturan anti-Yahudi. Setelah pogrom (keributan massa) di tahun 1938, kedua pamanku (kakak-kakak ibuku) pergi meninggalkan Jerman dan menjadi pengungsi di Amerika Serikat. Nenekku yang sudah renta tinggal bersama kami. Usianya saat itu 73 tahun.

Setelah bulan Mei 1940 kesenangan yang kami alami bisa dihitung dengan jari. Pertama, gara-gara timbulnya perang; kedua, Belanda menyerah terhadap Jerman. Kedatangan Jerman ke negara ini adalah awal dari berbagai permasalahan bagi kaum Yahudi. Kebebasan kami sangat dikekang oleh serentetan pasal-pasal hukum baru yang sengaja diciptakan untuk mendiskriminasi kaum Yahudi, misalnya: orang Yahudi diharuskan membalut lengan dengan kain berlambangkan bintang kuning; orang Yahudi diharuskan menyerahkan sepeda yang mereka miliki kepada pemerintahan Jerman; orang Yahudi dilarang menggunakan transportasi umum; orang Yahudi tidak boleh naik mobil, meskipun itu mobil pribadi; orang Yahudi hanya boleh belanja di supermarket dari jam 3-5 sore; orang Yahudi hanya boleh mendatangi salon dan tempat cukur rambut milik orang Yahudi; orang Yahudi dilarang keluar rumah dari jam 8 malam sampai 6 pagi; orang Yahudi dilarang memasuki bioskop, teater, atau tempat-tempat hiburan lainnya; orang Yahudi dilarang menggunakan kolam renang, lapangan tenis, lapangan hoki atau tempat-tempat olahraga lainnya; orang Yahudi dilarang mengayuh kapal; orang Yahudi dilarang mengikuti kegiatan atletik di depan umum; orang Yahudi dilarang duduk-duduk di taman pekarangan rumah tetangga ataupun rumah sendiri lewat jam 8 malam; orang Yahudi harus pergi belajar di sekolah milik kaum Yahudi; dll. Banyak sekali larangan yang ditetapkan—tapi hidup terus berjalan. Jacque selalu berkata: “Aku tidak berani melakukan apa-apa, karena takut melanggar peraturan.”

Di musim panas tahun 1941, Nenek jatuh sakit dan harus dioperasi; maka ulang tahunku terasa sangat hambar tanpa perayaan. Di musim panas tahun sebelumnya, 1940, ulang tahunku juga tidak dirayakan karena pertempuran baru saja berakhir di Belanda. Nenek meninggal di bulan Januari 1942. Tak ada orang yang tahu betapa sering aku memikirkannya, dan betapa aku mencintainya. Perayaan ulang tahunku di tahun 1942 direncanakan sedikit meriah untuk menebus tahun-tahun sebelumnya, dan kami tetap menyulut lilin Nenek seperti tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, keluarga kami baik-baik saja. Sekarang tanggal 20 Juni, 1942—dan aku mendedikasikan hari ini sebagai hari jadi buku harianku.

SABTU, 20 JUNI, 1942

Dearest Kitty!

Aku tak sabar ingin menulis kepadamu; mumpung keadaan di dalam rumah sedikit lebih tenang dan menyenangkan. Ayah dan Ibu sedang pergi keluar; sementara Margot sedang main Ping-Pong bersama para remaja lainnya di rumah Trees, temannya. Belakangan ini aku juga jadi sering main Ping-Pong. Saking seringnya, aku dan keempat teman-temanku sampai membentuk sebuah klub khusus. Nama klubnya adalah “Little Dipper Minus Dua”. Nama yang konyol sebenarnya, tapi nama itu terpilih karena suatu kesalahan. Tadinya kami berniat memberikan nama spesial untuk klub kecil kami ini; dan karena kami berlima, kami memutuskan untuk mengambil nama rasi bintang Little Dipper. Tapi perkiraan kami salah. Ternyata Little Dipper tidak terdiri dari lima bintang, melainkan tujuh bintang, seperti rasi Big Dipper—makanya kami tambahkan kalimat “Minus Dua”. Ilse Wagner punya meja Ping-Pong di rumahnya, dan keluarganya mengijinkan kami untuk bermain di sana kapanpun kami mau. Kemudian karena kami semua suka es krim, terutama di musim panas, dan karena biasanya kami kepanasan sehabis main Ping-Pong, maka permainan kami sering diakhiri dengan kunjungan ke toko es krim terdekat yang diijinkan melayani kaum Yahudi: Oasis atau Delphi. Sudah lama kami tidak membayar pesanan es krim kami sendiri, karena biasanya setiap kali kami ke sana, suasana pasti sedang ramai pelanggan, dan remaja pria kenalan kami yang kebetulan ada di sana selalu menawarkan untuk membelikan es krim sebanyak yang kami mau.

Rumah persembunyian keluarga Frank (ditandai warna biru)

Kau pasti bingung mendengar celotehanku tentang para remaja pria yang mengagumiku di usia segini. Entah berkah atau kutukan, sebagian besar remaja perempuan seusiaku menggunakan daya tarik mereka untuk mengambil keuntungan dari para remaja pria yang mengagumi mereka. Menurut pengalaman pribadiku, begitu seorang remaja pria menawarkan untuk bersepeda bersama dan mengantarku pulang sampai rumah, bisa dipastikan mereka takkan melepaskanku dari pandangan mereka bahkan untuk sedetik pun. Tapi lama-kelamaan semangat mereka akan luntur, terlebih jika aku tidak membalas pandangan curian mereka dan dengan santai bersepeda sendirian. Terkadang ada juga yang terlalu berani sampai membicarakan “minta ijin Ayah”—kalau sudah begitu, biasanya aku akan menukik di atas sepeda sampai tasku terjatuh, hingga remaja itu terpaksa berhenti dan memungut tas itu dari tanah untuk dikembalikan kepadaku. Lalu aku akan mengganti topik pembicaraan. Ini tipe-tipe yang lugu. Masih ada lagi remaja pria lain yang lebih agresif: meniupkan ciuman dari jauh atau berusaha menggenggam tanganku—tapi mereka tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Kepada remaja-remaja itu, aku biasa menolak ditemani bersepeda sampai rumah atau bertingkah seolah aku tersinggung dan mengusir mereka jauh-jauh.

Nah, sekarang kita sudah membangun dasar persahabatan. Sampai besok.

Yours,

Anne

 

RABU, 8 JULI, 1942

Dearest Kitty,

Rasanya tahunan sudah berlalu sejak Minggu pagi, terakhir aku menulis kepadamu. Banyak sekali yang terjadi sejak hari itu dan rasanya duniaku berbalik. Tapi seperti yang bisa kau lihat, Kitty, aku masih hidup, dan menurut Ayah, itu adalah hal yang terpenting. Aku memang masih hidup, tapi jangan tanya kenapa aku masih hidup atau di mana aku berada sekarang. Kau mungkin tak mengerti apa yang sedang kukatakan hari ini, jadi aku akan menjelaskan apa yang terjadi di Minggu sore.

Tempat persembunyian keluarga Frank dari 1942-1944

Pada pukul tiga sore (Hello* sudah pergi tapi seharusnya kembali agak sore), bel pintu rumah berdentang. Aku tidak mendengar suara bel itu, karena aku sedang ada di balkon, sambil malas-malasan membaca buku di bawah terik sinar matahari. Tak lama kemudian, Margot muncul di ambang pintu dapur dengan wajah tegang.

“Ayah menerima panggilan dari SS**,” bisik Margot. “Ibu sedang pergi menemui Herrn van Daan.” Herrn van Daan adalah rekan bisnis Ayah sekaligus teman baik keluarga.

Aku terkejut. Panggilan: semua orang tahu apa artinya. Bayangan kamp konsentrasi dan sel tahanan yang sunyi dan sepi melintasi pikiranku. Bagaimana mungkin kita membiarkan Ayah mengalami siksaan itu? “Tentu saja dia takkan memenuhi panggilan itu,” celetuk Margot, ketika kami tengah menunggu Ibu di ruang tamu. “Ibu sedang pergi ke rumah Herrn van Daan untuk menanyakan apakah kita bisa pindah ke tempat persembunyian kita besok. Keluarga van Daan juga akan ikut bersama kita. Jadi totalnya ada 7 orang.”

Sunyi. Kami tak bisa bicara banyak. Membayangkan Ayah yang sedang mengunjungi seseorang di Rumah Sakit khusus warga Yahudi, sama sekali tak sadar akan bencana yang mengancam, serta lamanya waktu berlalu selagi kami menunggu Ibu, dibarengi oleh udara panas dan perasaan gundah—semua itu membuat aku dan Margot tercenung.

Tiba-tiba bel pintu berdentang lagi. “Itu Hello,” kataku.

“Jangan buka pintu!” teriak Margot seraya menahanku. Namun tak lama kemudian kami mendengar suara Ibu dan Herrn van Daan di bawah berbicara kepada Hello sebelum keduanya masuk ke dalam dan menutup pintu. Setiap kali bel pintu berdentang, aku atau Margot harus berjingkat menuruni tangga untuk melihat apakah Ayah yang datang atau bukan. Karena kalau bukan Ayah, kami dilarang membukakan pintu. Lalu aku dan Margot diminta keluar dari kamar karena Herrn van Daan ingin bicara dengan Ibu berdua saja.

Ketika aku dan Margot duduk di kamar tidur kami, Margot mengatakan bahwa panggilan itu sebenarnya bukan datang untuk Ayah, melainkan untuk dia. Aku terkejut bukan kepalang dan mulai menangis tersedu-sedu. Usia Margot baru 16 tahun—nampaknya pemerintah Jerman ingin mengirim gadis-gadis muda seusianya untuk pergi meninggalkan keluarga mereka. Tapi Ibu sudah bilang bahwa Margot takkan diijinkan pergi, mungkin itu maksud Ayah ketika menyampaikan kabar bahwa tak lama lagi kami harus pergi ke tempat persembunyian. Tapi…sembunyi di mana? Di dalam kota? Di daerah pedesaan? Di rumah? Di gubuk? Kapan, di mana, bagaimana…? Aku dilarang mempertanyakan semua itu, namun tetap saja pertanyaan tersebut menghantui pikiranku.

Aku dan Margot mulai mengepak barang-barang yang kami butuhkan ke dalam tas sekolah masing-masing. Hal pertama yang kusertakan adalah buku harian ini, lalu rol rambut, sapu tangan, buku sekolah, sisir dan beberapa pucuk surat. Pikiranku sibuk membayangkan tempat persembunyian kami nanti, dan karenanya aku jadi memasukkan barang-barang aneh ke dalam tas sekolahku—tapi aku tidak menyesal. Kenangan lebih berarti daripada pakaian.

Suasana kamp di Belsen saat musim dingin

Ayah akhirnya pulang pukul lima sore, dan kami memanggil Herrn Kleiman untuk menanyakan apakah dia bisa mampir ke rumah malam itu. Herrn van Daan sudah pergi untuk menjemput Miep. Miep datang dan berjanji untuk kembali malam itu juga, dan dia pergi sambil membawa sekantung besar berisi sepatu, pakaian, jaket, pakaian dalam, dan stoking. Setelah itu rumah kami jadi sunyi; kami bahkan tak merasakan lapar. Cuaca masih terlalu panas, dan semua berlangsung dengan sangat aneh.

Kami telah menyewakan kamar besar di lantai atas kepada Herrn Goldschmidt, seorang duda yang berusia 30an, yang nampaknya tidak punya kegiatan malam itu, karena meski sudah ‘disindir’ secara sopan ia tetap tidak mau pergi sampai pukul 10 malam.

Miep dan Jan Gies*** tiba pada pukul sebelas malam. Miep yang sudah bekerja di perusahaan Ayah sejak tahun 1933 kini telah jadi teman dekat keluarga, dan begitu juga dengan suaminya, Jan. Sekali lagi, sepatu, stoking, buku dan pakaian dalam hilang ke dalam tas Miep dan kantung jaket Jan. Pada pukul sebelas-tiga-puluh malam, mereka juga pergi.

Aku merasa lelah, dan meskipun aku sadar malam itu adalah malam terakhir aku akan melihat ranjang tidurku, aku segera jatuh tertidur dan baru terbangun saat Ibu memanggilku pukul setengah enam keesokan paginya. Untung cuaca tidak sepanas hari Minggu; seharian itu hujan turun rintik-rintik membasahi kota. Kami berempat membungkus tubuh kami dengan berlapis-lapis pakaian seolah kami mau menginap di dalam kulkas; dan kami melakukan itu agar kami bisa membawa lebih banyak pakaian ke tempat persembunyian kami. Tak ada orang Yahudi yang akan meninggalkan rumahnya dalam keadaan ini dengan membawa koper penuh pakaian. Aku mengenakan dua lembar pakaian dalam, tiga pasang celana dalam, sebuah gaun, dan di atas itu ada selembar rok, jaket, jas hujan, dua pasang stoking, sepatu yang berat, topi, syal dan masih banyak lagi. Aku merasa sesak bahkan sebelum kami keluar dari rumah, tapi tak ada yang menanyakan keadaanku.

Margot menjejalkan tas sekolahnya dengan buku-buku teks, kemudian ia pergi mengambil sepedanya dan, bersama Miep sebagai penunjuk jalan, berkendara ke tempat asing. Setidaknya, itu yang kurasakan—karena aku tidak tahu di mana kami hendak bersembunyi.

Pada pukul tujuh-tiga-puluh pagi, kami juga menutup pintu rumah. Moortje, kucingku, adalah satu-satunya mahluk hidup yang kupamitkan. Menurut surat kecil yang kami tinggalkan untuk Herrn Goldschmidt, Moortje akan diadopsi oleh tetangga rumah kami yang telah berjanji untuk merawatnya.

Ranjang yang tak berseprai, meja makan yang masih dipenuhi makanan, serta setengah kilo daging untuk kucing piaraan kami di dapur—semua itu menciptakan kesan seolah kami pergi terburu-buru. Namun kami tidak tertarik meninggalkan kesan apapun. Kami hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana, sejauh mungkin, dan tiba di tujuan kami dengan selamat. Tak ada yang lebih penting dari itu.

Sampai besok.

Yours,

Anne

2012 © Klub Lotus dan Anne Frank. Tidak untuk dijual, digandakan atau ditukar.

——————–

#KETERANGAN:

* Helmuth “Hello” Silberberg adalah seorang teman yang sempat ikut bersembunyi bersama keluarga Anne Frank di SECRET ANNEXE. Akhirnya, ia kembali ke orangtuanya di Belgia dan selamat setelah Pasukan Amerika Serikat membebaskan kota tempat mereka tinggal pada tanggal 3 September 1944, di hari yang sama keluarga Anne Frank ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi di Auschwitz.

** SS (singkatan dari Schutzstaffel) adalah pasukan tentara Nazi Jerman yang bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama berlangsungnya Perang Dunia II.

*** Miep dan Jan Gies adalah pasangan Belanda yang terlibat dalam pergerakan pemberontakan terhadap penjajahan Jerman, dan yang menyembunyikan keluarga Anne Frank hingga akhirnya ditangkap oleh pasukan kepolisian Orpo, di bawah perintah Nazi Jerman. Miep adalah orang yang menemukan buku harian Anne Frank dan menyimpannya sampai ayah Anne, Otto Frank, kembali dari kamp konsentrasi.

#CATATAN:

> Tulisan ini bukan fiksi, melainkan sebuah otobiografi yang ditulis oleh seorang remaja perempuan Yahudi bernama ANNE FRANK, yang meninggal di kamp konsentrasi di Belsen, Jerman bersama kakak dan ibunya.

>> Buku harian Anne Frank diterbitkan pada tahun 1947, dua tahun setelah ia meninggal—dan dianggap sebagai salah satu “catatan sejarah penting” yang terkait dengan praktik kekejaman pasukan Nazi Jerman di masa Perang Dunia II. Terbit dengan judul “Het Achterhuis” atau The Diary of A Young Girl, buku harian ini ditulis saat Anne Frank berusia 13-15 tahun, di mana ia menceritakan masa-masa persembunyian keluarganya (di loteng kecil) dari pemerintah Nazi Jerman, sebelum akhirnya mereka dikhianati, ditangkap dan digiring ke kamp konsentrasi. Untuk kepentingan publikasi, buku ini diedit oleh Ayah Anne sendiri, Otto Frank, yang selamat dari deraan kamp konsentrasi.

>>> ANNE FRANK lahir pada tahun 1929 dan meninggal di kamp konsentrasi pada tahun 1945 (di usia 15 tahun). Ia dan kakaknya, Margot, diduga meninggal karena wabah tipus yang merebak saat itu di antara para tahanan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

24 Comment on “Buku Harian Anne Frank

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: