John Steinbeck

Sligo dan pemuda itu mengambil cuti selama empat-puluh-delapan jam tanpa bersemangat. Semua bar di Algeria tutup pada pukul delapan malam; tapi tak apa, karena sebelum itu mereka sudah mabuk gara-gara minum anggur. Melihat kondisi jalanan yang sepi di malam hari, keduanya pun memutuskan untuk melanjutkan sesi minum-minum mereka di pantai. Langit di atas menampakkan kegelapan yang tak berujung, sementara udara yang berembus terasa cukup hangat. Setelah mereka menghabisi botol anggur yang kedua, mereka melepas pakaian dan berjalan ke arah tepian laut. Di sana mereka berjongkok hingga hanya kepala mereka saja yang masih menyemul di atas permukaan air.

“Asyik juga kan di sini,” kata Sligo. “Dulu para tentara harus bayar kalau mau berendam di laut, dan kita bebas melakukannya tanpa biaya.”

Pemuda itu lantas menyahut: “Aku sih lebih senang ada di rumah, di Tenth Avenue. Aku kangen istriku. Aku ingin nonton pertandingan baseball tahun ini.”

“Mungkin kau minta ditonjok di bibir,” kata Sligo.

“Aku ingin pergi ke Coney Island* dan memesan minuman coklat kocok dengan enam butir telur dicampur ke dalamnya**,” ujar si pemuda sambil mengantuk-antukkan kepalanya di permukaan agar tidak tersedak air laut. “Tempat ini membuatku kesepian. Aku lebih suka berada di Coney Island.”

“Terlalu banyak orang di Coney Island,” kata Sligo.

“Tempat ini membuatku depresi,” kata si pemuda.

“Omong-omong soal baseball, aku juga ingin nonton pertandingannya tahun ini,” ujar Sligo. “Pada saat-saat seperti sekarang aku ingin sekali melintasi bukit yang mengelilingi kita.”

“Misalnya kau bisa melintasi bukit itu—kau mau ke mana? Tak ada tempat yang bisa kau kunjungi di padang gurun seperti ini.”

“Aku akan pulang, tentunya,” ujar Sligo. “Aku akan pergi nonton pertandingan baseball dan duduk di bangku paling depan, seperti di tahun 1940an dulu.”

“Kau tidak bisa pulang,” sahut si pemuda. “Tak ada jalan pulang dari sini.”

Anggur yang diminumnya tadi membuat wajah dan tubuh Sligo menghangat dan air laut yang menahan bobot tubuhnya juga terasa menenangkan. “Aku punya uang, maka aku bisa pulang,” katanya santai.

“Berapa banyak uang yang kau punya?”

“Dua puluh dollar.”

“Kau takkan bisa pulang,” putus si pemuda.

“Kau mau taruhan?”

“Baiklah, aku berani taruhan denganmu. Kapan kau akan bayar?”

“Aku takkan membayarmu; kau yang akan membayarku. Ayo, kita ke pantai dan istirahat sebentar…”

Di samping dermaga sejumlah kapal laut bersandar. Kapal-kapal itu datang membawa kendaraan perang serta tank dan pasukan; sekarang mereka memenuhi dok kapal dengan perangkat-perangkat yang rusak dari medan perang di Afrika Utara. Nantinya, perangkat-perangkat yang telah rusak akan didaur ulang untuk membuat lebih banyak tank dan kendaraan perang lainnya. Sligo dan temannya duduk di atas tumpukkan kotak-kotak ransum dan menatap ke arah deretan kapal laut.

Di kaki bukit ada sejumlah prajurit yang tengah menggiring seratus tawanan perang asal Italia yang akan segera dikirim ke New York. Beberapa tawanan mengenakan pakaian compang-camping, dan sejumlah lainnya mengenakan celana kain buatan Amerika karena pakaian asli mereka telah robek di tempat-tempat yang tidak senonoh. Tak ada dari para tawanan itu yang tampak sedih karena hendak dikirim ke Amerika. Mereka jalan berbaris menuju geledak kapal, lalu berdiri bergerombol menunggu perintah naik kapal.

“Lihat mereka,” kata si pemuda. “Mereka bisa pulang ke kampung halaman kita sementara kita harus tinggal di sini. Hey, apa yang sedang kau lakukan, Sligo? Kenapa kau melumuri minyak di atas celanamu?”

“Dua puluh dollar,” ujar Sligo. “Dan aku pasti menemukanmu untuk menagihnya.” Ia bangkit berdiri, melepas topi tentara yang ia kenakan dan melemparnya ke arah si pemuda. “Ini hadiah buatmu.”

“Apa yang akan kau lakukan, Sligo?”

“Kau jangan coba-coba mengikuti aku, karena kau terlalu bodoh. Jangan lupa taruhan kita besarnya dua puluh dollar. Sampai jumpa di Tenth Avenue.”

Pemuda itu memandangi kawannya pergi tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Dengan celana kotor dan pakaian robek, Sligo kini bergerak ke arah kumpulan tawanan yang tak sabar hendak segera naik ke kapal. Tak lama, ia pun didesak bersama para tawanan. Sligo berdiri dengan kepala pelontos, menoleh ke belakang, ke arah pemuda yang masih menatapnya penuh tanda tanya.

Seseorang meneriakkan perintah kepada para penjaga, dan para penjaga segera menggiring para tawanan menuju geledak kapal. Suara Sligo terdengar memelas ketika dia berkata: “Aku tidak seharusnya berada di sini. Tolong jangan naikkan aku ke kapal ini.”

“Diam, brengsek,” bentak seorang penjaga. “Aku tidak perduli jika nanti tiba di New York kau dipenjara. Sekarang segera naik ke atas kapal.” Ia pun mendorong Sligo agar segera berjalan ke atas geladak kapal.

Di atas tumpukkan kotak ransum, pemuda itu menatap kejadian tersebut dengan penuh rasa takjub. Ia melihat Sligo berdiri di dek kapal, di belakang pagar besi. Ia melihat Sligo beraksi untuk membebaskan diri serta meluncurkan protes ini-itu agar para penjaga sudi menurunkannya dari kapal. Ia mendengar Sligo berteriak: “Hey, aku ini orang Amerika. Americano, mengerti? Kau tidak bisa menahanku di sini.”

Pemuda itu memandangi gerak-gerik Sligo saat bergulat dengan para penjaga; dan ia juga melihat Sligo mendapatkan kemenangannya. Sligo melayangkan tinjunya ke arah seorang penjaga dan membuat penjaga itu mengangkat pentungan tinggi-tinggi di udara hingga jatuh menghantam kepala Sligo.

Pemuda itu menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Sligo rubuh dan diseret pergi dari atas dek kapal, ke dalam kabin penumpang.

“Sial,” gerutu pemuda itu pada dirinya sendiri. “Hebat juga dia. Sekarang mereka tak bisa mengembalikannya ke medan perang dan dia punya saksi mata. Well, hebat sekali dia. Wah, tak rugi aku membayarnya dua puluh dollar nanti.”

Pemuda itu duduk di atas tumpukkan kotak ransum untuk waktu yang lama. Ia tidak meninggalkan tempat duduknya sampai kapal di hadapannya menarik jangkar dari dasar laut dan berlayar pergi, menjauh dari jebakan jaring-jaring kapal selam yang mengawasi dari kedalaman. Diperhatikannya kapal itu bergabung dengan kapal-kapal lain di tengah laut; dan di kejauhan ia melihat beberapa kapal tempur ikut bergerak membelah cakrawala malam guna melindungi kapal-kapal pembawa perlengkapan.

Pemuda itu berjalan kembali ke tengah kota dengan sedih. Ia membeli sebotol anggur khas Algeria dan melangkah lagi ke arah pantai untuk menghabiskan masa cutinya selama empat-puluh-delapan jam ke depan dengan minum-minum di atas pasir—lalu tidur. FL

2012 © Fiksi Lotus dan John Steinbeck. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

——————————-

# CATATAN:

> Kisah ini diterjemahkan dari sebuah cerita pendek bertajuk “Over The Hill” karya JOHN STEINBECK dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1930an.

>> JOHN STEINBECK adalah seorang novelis dan penulis cerita pendek asal California, Amerika Serikat. Novelnya yang bertajuk “The Grapes of Wrath” memenangkan penghargaan Pulitzer Prize pada tahun 1939; meskipun karyanya yang paling terkenal adalah novella yang ditulisnya pada tahun 1937, berjudul “Of Mice And Men.” Selama masa hidupnya (1902-1968), John Steinbeck telah menghasilkan dua puluh tujuh karya, 16 di antaranya dalam bentuk novel dan 5 di antaranya dalam bentuk kumpulan cerita pendek. Di tahun 1962, John Steinbeck mendapatkan penghargaan Nobel Sastra.

# PENJELASAN:

* Coney Island – Yang dimaksud di sini bukan peninsula bernama sama, melainkan rumah makan cepat saji bertema Greek-American yang sangat populer di Amerika Serikat sejak dibuka pada tahun 1914.

** Minuman coklat kocok dengan enam butir telur merupakan racikan milkshake yang pertama, saat milkshake belum populer seperti sekarang dan masih disebut sebagai chocolate malt (1880-1930).

# POIN DISKUSI:

  1. Interaksi antara Sligo dan temannya menunjukkan bahwa Sligo berusia lebih tua dari si pemuda. Apakah kamu melihat korelasi antara tindakan Sligo menurut pandangan si pemuda dan perbedaan usia di antara keduanya?
  2. Cerita ini ditulis dengan latar belakang Perang Dunia II saat terjadi perebutan kedudukan di Algeria. Sligo dan temannya adalah orang Amerika. Kesan apa yang kamu tangkap dari cerita ini mengenai pergolakan politik di masa itu?
  3. Apa pendapat kamu tentang ending cerita ini?
  4. Karakter macam apa yang kamu lihat dari masing-masing tokoh dalam cerita ini?

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

2 Comment on “Pertaruhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: