Steve Almond

Aku sedang dalam perjalanan menemui Wilkes. Kami sudah janji untuk sarapan bersama. Wilkes adalah seseorang yang kukenal sejak masa kuliah dulu. Ia merupakan pemain nomor satu dalam cabang olah raga squash di kampus. Aku pernah menantangnya sekali, saat sedang iseng-iseng main squash, dan dia mengalahkanku dengan pukulan-pukulan telak. Tak lama setelah ia mengalahkanku, Wilkes membuka rahasianya kepadaku di kamar ganti.

“Visi,” katanya. “Kau harus bisa memprediksikan apa yang akan terjadi.”

Sekarang lima tahun sudah berlalu sejak saat itu, namun aku masih merasa seolah aku berhutang budi padanya. Aku sadar ini perbuatan bodoh, tapi aku tidak bisa menolak ajakannya. Aku terus mengingat pukulan-pukulan jitu yang ia lemparkan dulu—indah dan elegan seperti putaran payung parasol.

Ketika aku tiba di restoran, Wilkes sudah duduk di salah satu booth di bagian belakang. Kami saling menyapa dan Wilkes mengangkat menu yang ada di atas meja, lalu menurunkannya lagi.

“Kita sudah lama berteman kan, Jim?”

“Tentu saja,” kataku.

“Sekitar delapan tahunan ya.”

“Kira-kira segitu.”

“Kau takkan berpikir yang macam-macam tentangku kalau kuceritakan sebuah rahasia penting kepadamu, kan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Sebenarnya yang ada di kepalaku sekarang hanyalah pertanyaan mengenai harga sarapan di restoran ini dan apakah aku harus membayar bon makan kami nanti.

“Di kepalaku tertanam sebuah alat perekam,” kata Wilkes.

Matanya berkedut dan menerawang, sama seperti yang sering terjadi pada sejumlah bintang film ternama. Wilkes mengenakan sepotong blazer biru dengan kancing yang terselip di balik sulaman kain. Ia tampak seperti seorang pialang saham. Itu pekerjaannya sekarang: jual-beli saham.

“Sebuah alat perekam ditanam di dalam kepalaku untuk memata-matai kegiatanku. Alat itu ditanamkan di kepalaku sekitar beberapa tahun lalu, oleh mahluk luar angkasa. Aku tidak yakin kau tahu banyak soal peristiwa penculikan oleh mahluk luar angkasa, Jim. Apakah kau pernah mendengarnya?”

“Tunggu dulu,” kataku.

“Sebuah peristiwa penculikan bisa dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama—kau tidak perlu tahu terminologi teknisnya—tapi cara yang pertama dilakukan murni hanya untuk tujuan riset. Penuaian sel-sel manusia, semacam itulah. Sedangkan cara yang kedua melibatkan implan, Jim—seperti yang ada di otakku sekarang.”

Wilkes berasal dari area Chesapeake Bay di negara bagian Maryland. Ia berbicara dengan penuh kepastian seolah ia sudah melatihnya berhari-hari. Aku selalu berpikir ia akan jadi seorang pengacara korporat, dengan kantor di sebuah menara tinggi berdinding kaca dan seorang sekertaris yang sangat cantik.

“Maksudmu kau pernah diculik?” tanyaku.

Wilkes mengangguk. Ia mengangkat sebentuk garpu dan menyeimbangkannya di atas jempol. “Alat perekam di kepalaku fungsinya seperti kamera video. Tujuannya adalah agar para penjaga luar angkasa bisa mengamati kegiatan manusia tanpa menarik perhatian orang banyak.”

“Penjaga luar angkasa,” kataku.

“Mereka bisa melihat apapun yang kulihat.” Wilkes menatapku lama sekali. Rasanya lumayan menyeramkan, aku seperti menatap ke dalam ruang gelap di mana seseorang tengah mengamatiku. Lalu, Wilkes mengangkat wajahnya dan setengah bangkit dari kursi tempat ia duduk. “Ibu,” katanya. “Ayah. Hey, itu mereka. Kalian masih ingat kan dengan Jim?”

“Tentu saja,” ujar ibunya. Beliau adalah seorang wanita anggun dengan jabatan tangan lembut.

“Senang berjumpa denganmu,” kata Mr. Wilkes. “Tak disangka akan bertemu di sini. Tidak usah repot, please. Santai saja. Bagaimana kabarmu, Jim? Apa pekerjaanmu sekarang?”

“Aku bekerja di bidang riset,” kataku.

Wajah Mr. Wilkes serta-merta bersinar mendengar jawabanku. “Riset, ya? Kau senang meriset. Dalam bidang apa—bioteknologi?”

“Yea, semacam itu.”

Sejujurnya aku tidak pernah melakukan riset ilmiah. Tapi aku suka antusiasmenya, seolah pekerjaanku segitu pentingnya hingga tak bisa diganggu-gugat oleh siapapun.

“Bagaimana kabar orangtuamu?” tanya Mr. Wilkes.

“Kuharap kau akan menyampaikan salam kami untuk mereka,” sambut Mrs. Wilkes.

Seingatku orangtuaku tak pernah bertemu dengan Mr. dan Mrs. Wilkes.

“Jadi sedang apa kalian berdua di sini?” tanya Mr. Wilkes. Beliau berasal dari negara bagian Connecticut, tapi sesekali ia senang berbicara dengan logat Texas.

Wilkes mendempetkan tubuhnya di samping ayahnya dan mendadak suaranya berubah misterius layaknya seseorang yang sedang dirundungi banyak masalah keluarga. “Kami sedang ngobrol,” ujarnya. “Aku baru saja bilang pada Jim tentang alat perekam di kepalaku.”

Mr. Wilkes menatap putranya lama-lama, dan untuk sesaat aku teringat akan lukisan karya Francisco Goya di mana Dewa Saturnus melahap anak-anaknya seakan mereka tak ubahnya potongan ayam goreng. Mrs. Wilkes mulai memainkan botol kecil berisi garam dan lada dengan jemarinya yang lentik.

“Hmmm,” gumam Mr. Wilkes. “Bagaimana menurutmu, Jim?”

“Menarik,” kataku.

Menarik? Cuma itu? Ayolah. Kita sedang membicarakan alat perekam di dalam kepala manusia. Ini kasus implan yang sudah lama merebak di dunia.”

Pada saat itu aku lantas teringat akan sebuah kelas yang kuambil di tahun kedua di masa kuliah: Anatomi Keagamaan. Profesor yang mengajar kelas itu adalah seorang pria muda yang sedang melakukan riset di universitas kedokteran. Ia menjelaskan kepada kami bahwa kepercayaan terhadap kekuatan supernatural atau spiritual merupakan panggilan biologis yang ada dalam diri setiap manusia—seperti kelenjar. Topik ini membuat profesor itu sangat bersemangat.

Mr. Wilkes berkata: “Kau tahu kenapa mereka melakukannya, Jim?”

“Maaf?”

Mr. Wilkes menoleh ke arah putranya. “Apa kau sudah menjelaskan tentang fase-fase integrasi kepadanya? Tentang hybrid? Mahluk abu-abu dan lainnya?”

“Jim baru saja tiba sebelum kalian datang,” kilah Wilkes.

Mr. Wilkes duduk di hadapanku. Beliau adalah seorang pria kaya yang mendukung partai politik Republikan. Wajahnya agak merah dan beliau selalu mengenakan blazer biru. Penampilan dan tingkah-lakunya mencerminkan uang yang berlimpah.

“Kau pernah belajar tentang cerita rakyat di kampusmu yang bergengsi itu? Peri, goblin, dybbuk, arwah? Ingat, Jim? Ini adalah nama-nama yang digunakan masyarakat kuno untuk menggambarkan para penjaga luar angkasa. ‘Penampilan mereka seperti batu bara yang terbakar, seperti lampu yang bersinar terang: Mereka naik-turun di antara mahluk hidup dan cahaya mereka begitu membutakan hingga dari bara api yang mereka pancarkan timbullah petir.’ Itu ayat dari dalam Alkitab, bagian Ezekiel. Apa itu mengigatkanmu akan sesuatu, Jim? Apa kau teringat akan Tuhan yang berkuasa di atas sana, di singgasa-Nya?”

“Tidak,” kataku. “Tidak juga.”

“Ada sebabnya kenapa negeri ini meluncurkan Proyek Buku Biru untuk menelaah segala macam penampakkan piring terbang (UFO),” kata Mr. Wilkes. “Pemerintah harus melakukannya, Jim. Tanpa respon yang jelas, maka kita tidak akan bisa mencegah merebaknya panik. Coba kutanya padamu—apa kau tahu seberapa banyak orang mengaku melihat UFO dan melaporkannya ke Departemen Pertahanan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir? Tebak. Dua setengah juta orang. Penculikan? Tujuh ratus ribu orang lebih. Mahluk-mahluk luar angkasa itu ada di tengah-tengah kita, Jim.”

Pelayan kami tiba.

“Kalian menyajikan telur kocok di sini?” tanya Mr. Wilkes. Pelayan itu menggeleng.

“Kalau begitu roti panggang saja,” kata Mrs. Wilkes. “Sebaiknya kau makan roti panggang saja, dear.”

Wilkes tampak risih dan sama sekali tidak bersemangat seperti sebelumnya.

“Bagaimana dengan putih telur?” tanya Mr. Wilkes. “Bisakah kalian menyajikan omelet hanya dengan menggunakan putih telur?”

Si pelayan berdiri sambil menumpukan berat badannya dari satu kaki ke kaki yang lain. Pelayan itu lumayan cantik, meskipun tidak begitu menarik mengingat kondisi hidup yang harus dia jalani. “Omelet dengan apa?” tanya si pelayan.

“Bagian putih telur, yang tidak dibarengi oleh kuning telur,” ujar Mr. Wilkes dengan tidak sabar, seraya memperagakan gerakan mengocok telur dengan sebentuk garpu.

“Yang saya tanyakan Anda ingin makan omelet dengan sajian apa lagi,” tutur si pelayan dengan nada setengah jengkel.

“Oh, begitu. Oke. Bagaimana kalau ditambah jamur, keju Swiss dan daging bacon?”

Bacon?” tanya Mrs. Wilkes.

Aku tidak tahu harus memesan apa.

Si pelayan pergi dan Mr. Wilkes kembali menatapku. Beliau sudah pernah menggalang dana untuk partai Republikan dan aku bisa membayangkan betapa besar perannya dalam hal-hal seperti itu. “Mrs. Wilkes dan aku juga ditanami dengan implan. Ini bukan rahasia. Para mahluk luar angkasa itu memang biasanya menanamkan implan di kepala seluruh anggota keluarga. Apakah Jonathon sempat menjelaskan hal ini padamu?”

“Aku tidak menjelaskan apa-apa,” kata Wilkes. “Kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya, Yah.”

“Betul,” sambut Mrs. Wilkes. “Kau jangan mendominasi pembicaraan mereka dong, Warren.”

“Kau ingat terhadap Briggs?” tanya Wilkes kepadaku.

“Siapa?”

“Briggs. Ron Briggs. Ia pemain nomor dua di tim kampus. Dia juga memiliki implan di kepalanya. Dia tinggal di Sedona sekarang.”

“Apa kami kenal dengan dia?” tanya Mrs. Wilkes.

Mr. Wilkes menggoyangkan tangannya di udara dengan tak sabar. “Aku tidak akan membuatmu bosan dengan cerita penculikan keluarga kami, Jim. Lagipula mana mungkin? Kau datang kemari dengan tujuan untuk menyantap sarapan, namun nyatanya kau malah dibombardir dengan cerita macam ini. Yang penting untuk kau ketahui hanyalah peran yang dilakoni oleh mahluk luar angkasa ini. Jika mereka berniat menghancurkan bumi, jika itu tujuan mereka—tidak mungkin kita bisa ada di sini sekarang. Mereka itu penjaga manusia, Jim. Aku tidak mengatakan bahwa implan yang mereka tanamkan tidak punya konsekuensi, karena cepat atau lambat kau harus membiasakan diri terhadap gelombang beta yang berkeliaran dan membuat telingamu berdering keras. Val bahkan memiliki luka yang cukup besar di kepala karenanya.”

Kontan pipi Mrs. Wilkes merona merah karena malu. Rambut beliau ditata oleh penata rambut mahal dan kulitnya tampak sedikit pucat. “Sekarang Jim pasti berpikir kita sudah gila,” ujarnya.

“Tidak sama sekali,” kataku dengan nada rendah.

“Ah, biar saja. Kita memang gila,” kata Mr. Wilkes. “Semua spesies yang ada di dunia memang gila. Hanya orang bodoh yang berani menyangkal.”

Aku menunggu sampai pembicaraan mereka menemukan jeda sebelum bangkit dan pamit ke kamar kecil. Aku perlu menuangkan air dingin di telingaku. Maka kupenuhi wastafel dengan air kran dan cepat-cepat mencelupkan wajahku di sana sebelum mengangkatnya lagi untuk menatap bayanganku sendiri dalam cermin. Aku menatap wajahku sendiri dengan saksama hingga mataku membesar dan mulutku menganga lebar.

Ketika aku kembali ke meja makan kami, pesanan telah tiba dan keluarga Wilkes tengah menikmati santapan mereka dengan penuh kesopanan. Aku pernah mengunjungi rumah keluarga mereka sekali, saat mengantar Wilkes pulang dari pertandingan squash di Pennsylvania. Satu-satunya hal yang kuingat dari kunjungan itu hanyalah karpet-karpet yang mengalasi lantai rumah. Mungkin jumlah karpet itu ada ribuan, dengan pola cantik dan tampilan kaku—jenis karpet yang membuatku enggan untuk menginjaknya. Aku tidak bisa membayangkan apa rasanya tumbuh dewasa di rumah macam itu.

Roti panggang pesananku duduk di atas meja bersama potongan stroberi. Namun aku tidak lapar.

Mrs. Wilkes mengerutkan dahinya. “Ada yang salah dengan makananmu, Jim? Kami bisa memesankan menu yang lain kalau kau mau.”

“Aneh juga,” kataku akhirnya. “Kalian benar-benar berhasil mengecohku. Kalian memang keluarga humoris.”

Mendadak ketiganya menatapku dengan tajam. Pandangan mereka sama seperti kaum fanatik yang sedang berhadapan dengan seseorang yang meragukan kepercayaan mereka.

Aku kembali membayangkan profesor biologiku. Di akhir kelas, tepatnya sebelum aku memutuskan untuk tidak lagi mengikuti kelas tersebut, beliau memberikan pidato tentang sebuah zat kimia yang dilepaskan oleh kelenjar pineal. Ia menyebutnya sebagai molekul jiwa, karena zat ini memicu segala macam pemikiran mistis. Dosis paling kecil dari zat ini sanggup membuat otak manusia berpikir tentang para malaikat di alam yang berbeda dan berbicara dengan mereka. Zat ini biasanya dilepaskan menjelang kematian, saat roh dalam tubuh manusia dikatakan tengah bersiap untuk bangkit dan menguap pergi.

Mr. Wilkes tengah berbicara tentang sistem perbintangan Zeta Reticuli serta ajaran Tao dan efek Oz. Namun aku tidak tahu apakah beliau membicarakan hal-hal yang ingin dia bicarakan karena wajahnya merah dan sarat akan kekecewaan.

Si pelayan kembali menghampiri meja kami untuk mengangkat piring-piring sajian.

Wilkes mulai mengungkit nama beberapa teman yang kami kenal semasa kuliah, para pemuda yang membuatku berpikir tentang cologne berbau mencolok dan urinal di WC kampus.

Mrs. Wilkes pamit sebentar dan kembali dengan make-up yang sudah ditambahkan beberapa menit kemudian.

Mr. Wilkes meletakkan selembar uang bernilai lima puluh dolar di atas meja. Ini adalah kebiasaan beliau; dan seperti ritual pada umumnya, kebiasaan ini memberinya kesempatan untuk tampil berkuasa.

“Aku tidak tahu rencana pastinya, Jim. Jika ada orang yang bilang kepadamu bahwa mereka tahu rencana pastinya, kusarankan kau cepat-cepat menjauh dari orang itu. Tapi aku tahu benar bahwa mahluk-mahluk luar angkasa ini, yang berwarna abu-abu, tidak berniat buruk. Kalau mereka berniat buruk, tidak mungkin mereka mau repot-repot bepergian sejauh tiga-puluh-tujuh-tahun-cahaya hanya untuk menyelamatkan manusia. Misi inilah yang menyentuh hatiku,” kata Mr. Wilkes. “Baik aku, istriku maupun putraku merasa kami adalah bagian dari rencana yang lebih besar.” Beliau menatap ke arah istri dan putranya seraya melemparkan senyuman tulus. “Aku tahu bagimu hal ini terlihat aneh. Tapi kami tidak punya semua jawabannya. Semua manusia pasti pernah berbuat salah.” Beliau berusaha untuk mengatakan hal lain, namun suaranya yang berat mendadak bergetar.

Mrs. Wilkes meletakkan sebelah tangan di atas tangan suaminya.

“Apa yang kutahu?” tanya Mr. Wilkes.

“Kita semua pasti pernah berbuat salah,” ujar istriya.

“Aku bukan orang sempurna.”

“Tidak ada orang yang sempurna, sayang.”

Banyak hal yang saling terucap di antara mereka. Wajah Wilkes merona merah. Ayahnya seolah hendak menyentuh pipinya. “Mereka hanya ingin menyelamatkan manusia dari kesalahan-kesalahan fatal agar kita tidak merusak segalanya,” ujar Mr. Wilkes.

Si pelayan meninggalkan kembalian di atas meja. Di sekeliling kami, para pelanggan restoran sibuk menjalankan pagi mereka dengan penuh semangat, entah untuk tujuan apa.

Keluarga Wilkes duduk di meja yang sama dalam setelan pakaian mahal, tapi kini aku melihat sesuatu yang berbeda dari mereka. Aku melihat cahaya putih di pusat tubuh mereka. Aku melihat jiwa mereka. Aku tidak takut. Semua orang punya potensi untuk jadi orang suci jika dinilai dari jiwa mereka. Hal-hal lainnya tumbuh menutupi jiwa manusia layaknya rumput yang menjalar.

Aku terus teringat pada profesor gila itu. Suatu hari Thanksgiving ia memanggilku ke dalam ruangannya untuk menyampaikan perihal nilaiku yang buruk. Ia sangat terpukul, seakan nilaiku mencerminkan pengkhianatannya sebagai seorang pengajar. Ia tanya apakah aku sempat belajar sesuatu dalam kelasnya. Aku bilang tentu saja aku sempat belajar sesuatu dalam kelasnya, bahkan lebih dari itu. Namun ketika ia memintaku untuk menyebutkan satu, dua hal yang telah kupelajari dari kelasnya—mendadak kepalaku kosong. Sebelum aku pergi meninggalkan kelasnya, ia menghampiriku dan meletakkan tangannya di pundakku seraya berkata, Kita semua membutuhkan seseorang untuk menjaga kita, James.

“Kau percaya itu?” tanya Mr. Wilkes.

Aku yakin aku takkan melihat ketiga orang ini lagi dan hal tersebut membuatku merasa agak sedih, agak enggan untuk pergi.

Wilkes mengusap lengan jasnya. Mrs. Wilkes mengulas senyuman manis; sementara Mr. Wilkes perlahan-lahan, dengan penuh kelembutan, mulai menangis. Jiwanya tampak seperti sapu tangan kecil yang diselipkan di saku depan jas birunya.

“Kurasa kita akan baik-baik saja,” kataku. “Itu perasaanku.” Ini bukan rekaan semata. Sebaliknya, aku seperti sedang diberi inspirasi yang tulus oleh dunia. Semua yang akan terjadi seolah diperlihatkan kepadaku dengan jelas.

Di luar restoran, di atas langit, bahkan jauh di atas kumpulan satelit luar angkasa yang berderik mencatat data, suatu kelompok masyarakat penjaga dengan jiwa besar mungkin tengah menatapku dengan mata hitam yang memantulkan cahaya. Aku mulai melambai ke arah langit di luar sana. Si pelayan berjalan melewati meja makan yang kami tempati dan meniupkan sebuah kecupan ke arah kami. Wilkes meletakkan selembar uang senilai lima puluh dolar juga di atas meja seraya mengedipkan sebelah mata. Sinar matahari menembus gugusan awan dan menyinari jalur arteri kota yang diramaikan oleh kendaraan layaknya bohlam lampu yang bersinar di atas kerumunan kaleng kosong. Aku terus melambai dengan sekuat tenaga.

2012 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Steve Almond. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

—————————

# CATATAN:

> Ceria ini berjudul “The Soul Molecule” karya Steve Almond. Pertama kali diterbitkan di publikasi The Evil B.B. Chow pada tahun 2005.

>> STEVE ALMOND adalah seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia bekerja selama tujuh tahun sebagai reporter sebelum beralih menulis fiksi. Karyanya telah diterbitkan oleh berbagai majalah dan jurnal sastra di AS, seperti Tin House, Ploughshares dan Playboy—serta beberapa juga telah memenangkan penghargaan bergengsi, Pushcart Prize.

# POIN DISKUSI:

  1. Cerita ini mengambil setting tunggal dalam sebuah restoran. Tidak semua cerita dapat dipadatkan hanya dalam satu setting saja. Menurut kamu, apakah teknik ini efektif bagi cerita karangan Steve Almond di atas? Kenapa?
  2. Sepanjang cerita, pembahasan mengenai ‘alat perekam’ yang ‘ditanam’ di dalam kepala Wilkes cukup ekstensif. Kira-kira apa yang sedang diumpamakan oleh si penulis lewat benda asing tersebut?
  3. Apa yang bisa kamu interpretasikan tentang “molekul jiwa” yang diusulkan oleh profesor biologi di kampus Jim?
  4. Adegan terakhir dari cerpen ini, di mana Jim melambai ke arah langit di luar, membungkus cerita dengan ending simbolis. Apa pendapat kamu tentang ending ini?

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

10 Comment on “Pesan Dari Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: