Joan Smith

Tobias Wolff adalah pengarang buku memoar bertajuk “This Boy’s Life” dan “In Pharoah’s Army” serta sejumlah kumpulan fiksi pendek. Berikut adalah cuplikan wawancara antara Joan Smith dan Tobias Wolff seperti yang diterbitkan oleh Salon.com

Apakah menurut Anda menulis adalah suatu kemampuan yang bisa diajarkan?

Tidak.

Lalu apa yang Anda ajarkan di seminar Anda di Syracuse?

Saya hanya mencoba untuk membantu para penulis agar bisa menjadi editor terbaik bagi karya mereka sendiri, agar mereka sadar akan kemampuan mereka, dan sadar akan hal-hal yang perlu mereka perbaiki, serta mengetahui dengan jelas apabila mereka belum menggali sedalam yang mereka bisa saat menulis sebuah cerita. Saya mengajarkan mereka untuk selalu menuntut lebih dari diri mereka sendiri, dari setiap kalimat yang mereka tulis di atas kertas. Menurut saya, inilah nilai dari sebuah workshop penulisan — untuk membentuk pola pikir siswa-siswi saya, dan bukannya membagikan informasi. Di workshop macam ini, informasi tak ada gunanya.

Siapakah murid-murid Anda?

Saya hanya mengajar satu semester dalam setahun, dan semester ini saya membuka kelas untuk siswa-siswi dengan margin usia di akhir 20’an dan awal 30’an — pada dasarnya mereka yang telah mengikuti program master dan ingin menyelesaikan naskah mereka. Biasanya saya tidak mengambil siswa-siswi dari universitas, melainkan mereka yang sudah bekerja dan masih gigih mencoba menulis. Bagi saya, itu yang paling penting bagi seorang penulis muda, sebuah tes untuk menguji komitmen mereka terhadap dunia tulis-menulis ini. Saya mengajar enam orang di bidang fiksi, dan saya bekerja cukup intens dengan mereka. Kadang-kadang saya juga mengajari mereka tentang sastra. Tahun lalu, saya mengangkat topik fiksi pendek Rusia — saya sangat menikmatinya.

Anda adalah seorang pengagum berat Chekhov. Apa yang membuat Anda begitu mengaguminya?

Rasa kemanusiaan dia dan bagaimana dia bisa mengangkat masalah kemanusiaan dengan hati dingin.  Chekhov itu laksana dokter yang sangat handal — seorang ahli medis yang jago mendiagnosa penyakit, namun berjiwa kemanusiaan tinggi. Tapi bukan berarti dia berperangai halus dan sensitif, lho. Pokoknya dia tahu bagaimana cara melibatkan manusia dalam situasi-situasi besar dan kecil. Contohnya, ada sebuah cerita dia yang mengisahkan seorang prajurit yang baru saja kembali dari Manchuria dan kini sekarat di atas kapal Angkatan Laut, namun terlalu cuek untuk menyadari bahwa dia sedang sekarat. Prajurit itu kasar, tapi ia juga punya sisi lembut. Maka di cerita ini, si prajurit mati dalam kondisi cuek dan penuh harapan akan hidup baru setelah perang. Sebagian besar cerita pendek akan berhenti sampai di situ. Tapi Chekhov melanjutkan ceritanya dengan menggambarkan pemakaman si prajurit di tengah laut. Lalu, dia ikuti mayat si prajurit yang terombang-ambing di perairan laut, semakin lama semakin dalam tenggelam. Kemudian, seekor ikan hiu berenang menghampiri onggokan mayat si prajurit, menyentuhnya dengan hidung, dan berenang pergi. Setelah itu Chekhov kembali membawa kita ke permukaan laut, dan sinar matahari tengah memecah konsentrasi gumpalan awan, lalu ia menjabarkan bagaimana sinar matahari menari di atas permukaan air dengan begitu riangnya hingga tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan momen tersebut dengan sempurna. Maka, kalau Anda lihat, cerita ini memiliki beberapa elemen: hal tragis yang terjadi pada si prajurit, yang meninggal tanpa tahu waktunya telah tiba, yang meninggal tanpa pernah mengenali sisi baiknya sendiri, hingga pembaca terfokus pada si individu. Lalu tiba-tiba Chekhov membuka setting ceritanya agar lebih luas dan menempatkan si individu di tengah-tengah lautan luas — dan membuat aspek individualitas kita menjadi begitu kerdil. Memang semua itu tidak membuat pembaca hilang simpati terhadap karakter si prajurit; tapi Chekhov dengan sukses memberikan pembacanya suatu perbandingan bahwa kematian seseorang, betapapun tragisnya, tak lebih dari bagian kecil di dunia yang penuh kematian, kelahiran, dan segala macam masalah. Dia adalah penulis yang luar biasa. Saya sangat mengagumi Chekhov. Saya bisa membicarakan dia selama berjam-jam.

Benarkah bahwa novel lebih mudah dibaca daripada fiksi pendek?

Pembaca lebih mudah menempatkan emosinya ke dalam novel. Dan mereka juga tidak perlu menginvestasikan terlalu banyak perhatian ke dalam novel. Orang sering bertanya pada saya kenapa tidak banyak pembaca yang suka membaca fiksi pendek, padahal sekarang orang lebih sibuk dalam kesehariannya dan tidak punya banyak waktu untuk membaca novel yang panjangnya bisa sampai ratusan halaman. Dari segi budaya, tampaknya memang lebih logis bagi kita untuk beralih ke fiksi pendek. Tapi alasan kenapa orang tidak memilih fiksi pendek mungkin sama dengan alasan kenapa mereka tidak membaca puisi. Fiksi pendek adalah bacaan yang penuh tuntutan. Pembaca harus diberi petunjuk untuk mengerti pesan yang terkandung di dalamnya. Ada dunia yang terbungkus dalam dunia lain di sebuah fiksi pendek. Dan sebagian besar pembaca justru kecewa mendapati struktur fiksi pendek yang tak sekonklusif novel. Tapi fiksi pendek yang terbaik tidak memiliki ‘akhir’ yang jelas, ia juga tidak akan menjelaskan semuanya, cara kerja fiksi pendek adalah melalui ‘implikasi’. Karena itu banyak orang membaca karya Chekhov, Maupassant, Raymond Carver, Alice Munro, atau Mavis Gallant — dan mereka akan bertanya, “Terus bagaimana akhirnya?” Pembaca umum menginginkan semua karya fiksi untuk ditutup rapat-rapat di akhir cerita seperti novel. Tapi penulis fiksi pendek yang terbaik di luar sana tidak pernah mengadopsi struktur macam itu.

Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk menulis sebuah fiksi pendek?

Paling cepat 6 minggu. Saya selalu membiarkan cerita itu mengembara di dalam pikiran saya untuk waktu yang lama. Biasanya saya butuh waktu setidaknya 2-3 minggu bahkan untuk tahu cerita apa yang ingin saya sampaikan.

Tampaknya menulis itu pekerjaan yang sangat menyusahkan.

Memang menulis adalah pekerjaan yang amat sulit. Saat orang lain pergi ‘kerja’, mereka duduk di belakang meja sebentar, mengecek pesan telepon dan email, membalas telepon dan email, lalu mereka membaca laporan, bangkit dari kursi untuk menghampiri seseorang di ruang kerja sebelah, ngobrol ngalor ngidul soal bisnis dan lainnya, kembali ke meja, duduk, baca-baca sedikit, mengetik surat memo, berjalan ke ruang meeting, pergi makan siang, dan kembali ke kantor untuk melakukan apa yang mereka lakukan di pagi hari. Bagi kebanyakan orang ‘kerja’ itu adalah proses yang sangat sosial, dan proses pemikiran mereka dilakukan secara berembuk, ramai-ramai. Hanya ada beberapa profesi di dunia yang menempatkan si pekerja di meja yang sama selama 5-6 jam untuk berpikir keras. Dan tentunya ini salah satu alasan kenapa saya ingin menjadi penulis — tapi setelah saya mendapat kebebasan untuk melakukan hal ini, saya juga terus dituntut untuk selalu melakukan hal ini.

Untuk membaca lanjutan wawancara ini, silakan kunjungi http://www.salon.com/dec96/interview2961216.html

Hak Cipta © Joan Smith, Salon.com 2010. Tidak untuk dijual, digandakan, atau ditukarkan.

Maggie Tiojakin adalah seorang penulis, editor dan translator asal Indonesia. Dia telah menulis dua kumpulan cerita pendek dan satu novel. Dia tinggal di Jakarta.

2 Comment on “Tobias Wolff: “Menulis adalah Pekerjaan yang Amat Sulit”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: